Edinburgh

Edinburgh
Mr. Awesome



"Kau salah alamat jika bertanya tentang hal itu padaku. Seharusnya tanyakan sendiri terhadap gadis impianmu tersebut, karena aku tak merasa tebar pesona di hadapannya," ujar Christian. Sejenak, perhatian pria tampan berkulit eksotis tadi kembali tertuju pada layar ponsel yang menyala. Dia tampak mengetik sesuatu, mungkin sedang membalas sebuah pesan.


"Aku tak mungkin menanyakan hal bodoh seperti itu kepada Blaire. Dia pasti akan langsung menjitak kepalaku," sahut Adam yang masih memegang gagang sapu dengan kedua tangannya. Pemuda itu tampak berpikir sambil terus memperhatikan Christian. Dia mengamati pria tampan tersebut mulai dari potongan rambut, ekspresi wajah, cara berpakaian, bahkan hingga hal terkecil sekalipun yang ada dalam diri pria bermata abu-abu di hadapannya.


Adam pun mulai melakukan hal sama seperti yang telah berhasil dia amati barusan. Pemuda itu memasang raut datar dan dingin, sama persis dengan raut wajah Christian. Akan tetapi, dirinya hanya merasa semakin konyol.


Christian yang sudah bisa merasakan bahwa dirinya sedang diawasi, segera mengalihkan perhatian dari layar ponsel. "Ada apa? Jangan membayangkanku sebagai Blaire," sergahnya.


"Oh, tentu saja tidak. Kau terlalu gagah untuk menjadi seorang wanita," sahut Adam. Dia kembali memperhatikan Christian dengan lekat. "Boleh kutahu dari mana asalmu, Tuan?" tanyanya kemudian.


"Panggil saja Chris." Christian menutup layar ponselnya. Dia lalu menoleh kepada Adam. "Kenapa semua orang begitu penasaran terhadap diriku?"


“Karena kau sangat menarik. Ada sesuatu dalam dirimu yang membuat Blaire begitu terpesona,” jawab Adam dengan yakin. Lagi-lagi, hal itu yang dia katakan.


“Aku sendiri tak merasa bahwa diriku istimewa,” sahut Christian.


Namun, percakapan mereka saat itu harus terjeda, karena ada pasangan muda yang masuk ke dalam toko. Mereka berdua sepertinya hendak memilih sesuatu. Tak lama kemudian, mereka mengambil satu set lampu duduk beserta nakas kecil yang menjadi pasangannya.


“Kami ingin ini,” ujar si pria dengan raut ceria, sambip menunjuk pada benda yang dimaksud.


“Ini suamiku. Dia penyuka benda-benda antik dan klasik. Sudah sejak lama dia ingin mengajakku kemari, tapi baru kali ini baru bisa terlaksana,” celoteh si wanita tanpa ditanya.


“Semuanya dua belas poundsterling,” ucap Christian yang sama sekali tak menanggapi perkataan pembelinya.


“Baiklah." Si wanita mengeluarkan kartu kredit dan menyodorkannya pada Christian. Pria rupawan berwajah dingin itu dengan cekatan menggesek benda tipis tersebut, lalu mengembalikannya pada wanita tadi.


“Terima kasih,” ucapnya datar. Dia lalu mengemas barang belanjaan pasangan suami istri itu ke dalam sebuah kardus besar. Christian kemudian menyerahkannya pada mereka berdua.


Tak ada hal sekecil apapun dari gerak-gerik Christian yang luput dari perhatian Adam. Mulai dari caranya berinteraksi sampai bahasa tubuh yang terlihat begitu gagah dan juga garang. Benar-benar terlihat maskulin.


Adam mulai menegakkan tubuhnya, mengikuti sikap Christian. Dia ikut mengangguk saat Christian mengangguk. Akan tetapi, pemuda itu segera membeku ketika pria dengan kesan misterius tadi menoleh dan memandang tajam kepadanya.


“Bukan begitu caranya menarik perhatian gadis yang kau suka,” tegur Christian dengan intonasi yang penuh penekanan. "Jadilah dirimu sendiri. Kurasa kau sudah cukup menarik,” imbuhnya.


“Benarkah?” Adam tertawa getir. “Selama ini aku selalu menjadi diriku sendiri. Namun, Blaire tak juga tertarik padaku," sesalnya.


“Jangan terlalu memaksakan diri. Segala sesuatu yang dipaksakan tak akan berakhir dengan baik,” saran Christian masih dengan raut tak acuh. Lagi-lagi, dia asyik mengoperasikan ponsel. Mimik wajahnya kembali terlihat begitu serius.


“Siapa yang kau hubungi?” tanya Adam lagi.


“Apakah itu penting? Tak baik jika laki-laki terlalu ingin tahu urusan orang lain,” sahut Christian dengan segera.


“Tidak ada. Cukup duduklah di sini sambil menunggu pelanggan datang,” jawab Christian. Kali ini dia tersenyum kecil dengan sorot mata mengarah pada layar ponsel.


“Baiklah,” balas Adam sambil menarik sebuah kursi, lalu menggesernya ke samping Christian. Pemuda itu duduk di sebelahnya. Cukup lama dia terdiam sambil mengedarkan pandangan ke setiap benda yang terpajang di sana. Setelah bosan, Adam menguap lebar-lebar. Dia menutup mulut saat itu juga, ketika Christian menoleh kepadanya. “Apa kau tidak lelah atau bosan?” tanya Adam keheranan.


“Tidak. Kenapa harus bosan? Aku menyukai suasana tenang dan sepi seperti ini,” jawab Christian.


“Ya, ampun." Adam menggeleng, lalu menunduk. Tak sampai setengah hari, dia sudah merasa tidak betah dengan situasi seperti itu.


“Pulang saja jika kau mau. Aku tidak memaksamu untuk terus berada di sini,” ujar Christian yang seakan tahu apa yang dirasakan oleh Adam.


“Aku belum mendapatkan ilmu apapun darimu,” tolak Adam lesu.


“Aku bukan guru maupun orang bijak. Kau tidak akan mendapatkan apapun dariku.” Christian tersenyum kelu. Walaupun tak seberapa, tapi merupakan hal yang jarang dia lakukan.


“Kau belum mengajarkan bagaimana caranya supaya Blaire tertarik padaku,” sahut Adam.


“Tidak ada caranya untuk itu. Seperti yang kukatakan tadi, segala sesuatu yang dipaksakan tak akan baik hasilnya. Apalagi jika berhubungan dengan masalah perasaan. Kau tak bisa memaksa Blaire untuk menyukaimu. Kurasa, ada saatnya kau harus melepaskan dan tak mengharapkan apapun,” ujar Christian. Tutur katanya terdengar begitu menenangkan.


“Begitu, ya? Baiklah.” Adam terpekur dengan tatapan mata lurus mengarah ke lantai, sampai ponsel yang dia simpan di saku celana berdering. Dengan segera, Adam merogohnya lalu membaca nama yang tertera di sana. “Ayahku,” bisiknya pada Christian meskipun tak ditanya.


“Ada apa, Dad?” tanya Adam menjawab panggilan itu. “Astaga, benarkah? Baiklah. Aku akan segera pulang.” Pemuda tampan itu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Dia beranjak dari sisi Christian. “Aku harus pergi. Ada sedikit masalah di rumah,” pamitnya.


“Apakah ayahmu baik-baik saja?” tanya Christian dengan sorot mata yang sulit diartikan.


“Ya. Ayahku baik-baik saja.” Adam tersenyum hangat pada pria rupawan tadi, sebelum benar-benar meninggalkan toko barang antik itu.


Namun, apa yang diucapkan oleh Adam saat itu, berbanding terbalik dengan apa yang terjadi beberapa jam kemudian. Saat Christian menutup tokonya lebih awal dan berjalan pulang menuju rumah, langkahnya terhenti pada sebuah toko elektronik yang memajang berbagai macam ukuran televisi layar datar.


Televisi-televisi itu berada dalam keadaan menyala dan tengah menyiarkan sebuah berita dari stasiun tv nasional. Christian memusatkan perhatian sepenuhnya pada siaran yang mengabarkan tewasnya salah seorang pemilik firma hukum yang terkenal di kota itu. Pria itu bernama Andrew Dalton Fraser, yang tak lain adalah ayah dari Adam.


“Ya, Tuhan.” Christian terdiam sejenak sembari meletakkan tangan di dada sebagai simbol penghormatan terakhir. Dia kembali berjalan beberapa saat kemudian dengan ekspresi wajah yang terlihat penuh beban.


Langkah kaki Christian saat itu tak segagah biasanya. Dia lebih banyak menunduk dan seakan tengah berpikir dalam-dalam. Christian mengangkat wajah ketika dirinya sudah tiba di depan rumah. Namun, bukanlah tempat yang tinggali. Pelan, pria tampan tersebut mengetuk pintu di hadapannya. Tak berselang lama, pintu itu terbuka, kemudian menampakkan wajah cantik Blaire yang terlihat amat terkejut.


🍒🍒🍒


Yuk, jangan lupa untuk mampir dan ikut meramaikan novel ini.