
Kedua pria lintas usia tadi saling pandang untuk sejenak, sebelum akhirnya salah satu mengalah. Adam tersenyum ramah seraya mengangguk pelan.
"Siapa yang datang, Adam?" seru Blaire dari dalam rumah.
"Tetanggamu, Blaire," sahut Adam dengan setengah berseru.
"Nyonya Clarkson?" tanya Blaire lagi tanpa turun dari atas sofa panjang tempatnya berada.
"Aku," jawab suara berat yang mulai akrab di telinga Blaire. Seketika, gadis itu terkejut hingga menjatuhkan kemasan camilan yang sedang dia genggam dan nikmati isinya. Sebagian dari makanan ringan itu pun tumpah di atas pangkuan. "Ah, sial!" gerutu Blaire.
"Kau ceroboh sekali, Blaire," tegur Adam yang bermaksud hendak membantu gadis itu membersihkan sisa-sisa makanan yang tumpah. Akan tetapi, dengan segera Blaire mencegahnya. Adam pun mengurungkan niat dan hanya berdiri tak jauh dari gadis itu.
Sementara Christian juga masih terpaku di tempatnya. Dia menatap Adam untuk sesaat, kemudian beralih kepada Blaire yang telah selesai membersihkan sisa-sisa makanan tumpah tadi. "Silakan duduk, Chris," ucap Blaire sambil tersenyum hangat.
"Aku kemari hanya untuk melihat kondisimu," ujar pria tampan berambut gelap itu. "Syukurlah jika kau sudah membaik." Tatap mata dingin Christian, masih tertuju kepada Blaire yang memandang dengan sebaliknya terhadap dia.
"Aku minum obat secara teratur. Ibu juga sangat perhatian. Tak kukira jika dia justru bersikap seperti itu ... um ... maksudku ... tadinya aku benar-benar takut atas respon yang akan diberikan karena kejadian ini, tapi ternyata ...." Blaire menjeda ocehannya yang ternyata tidak ditanggapi oleh Christian. Pria itu hanya menatap lekat kepadanya, kemudian menoleh sesaat ke arah di mana Adam berada.
Pemuda berambut pirang tadi menjadi terlihat salah tingkah dengan kehadiran Christian di sana. Dia merasa tak nyaman, terlebih saat melihat bahasa tubuh Blaire yang tiba-tiba berubah setelah Christian datang. "Baiklah, Blaire. Aku masih ada acara hari ini. Sebaiknya aku pergi dulu. Cepat sembuh. Aku akan mampir lagi nanti," pamitnya. Setelah itu, Adam pun beranjak keluar meninggalkan mereka berdua.
"Aku juga harus kembali ke toko," ucap Christian datar setelah beberapa saat kemudian. "Permisi." Dia membalikkan badan, kemudian berjalan gagah.
Akan tetapi, baru saja sekitar dua langkah menjauh dari tempat Blaire berada, gadis cantik bermata hijau tadi terdengar sedikit berseru. "Kau kemari hanya untuk itu, Christian?" tanya Blaire dengan perhatian yang tertuju langsung ke arah di mana si pria berada.
Christian tertegun. Dia memasukkan tangan kanan ke dalam saku jaketnya. Pria tampan tersebut kemudian menoleh. "Kau tenang saja. Masih ada sisa waktu beberapa hari untuk melunasi semua tagihan rumah sakit yang telah kubayar kemarin," ujarnya masih tanpa ekspresi yang berlebihan. Tangan kiri si pria berjaket kulit hitam itu kemudian memegang gagang pintu. Dia bermaksud untuk memutar benda tersebut.
"Padahal aku ingin membicarakan masalah lain denganmu," balas Blaire sedikit berharap agar si pemilik mata abu-abu tadi mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Tentang apa?" Christian kembali menoleh. Pria itu berdecak pelan dan terlihat sedikit terganggu.
"Kebetulan sekali kau datang kemari. Itu artinya aku tidak perlu menunggu hingga lusa untuk bisa bertemu denganmu." Blaire tampak membetulkan sikap duduknya menjadi lebih tegak. Dia menyangga punggung dengan menggunakan bantal sofa. "Bisakah kau kembali kemari, Chris?"
Mendengar pertanyaan demikian, Chriatian tiba-tiba menyunggingkan sebuah senyuman sinis di sudut bibirnya. "Sejak kapan kau menjadi sok akrab denganku? Jangan karena aku sudah membantu membawa serta melunasi semua biaya rumah sakit kemarin, lantas kau menganggap itu sebagai sebuah perlakuan istimewa yang kuberikan terhadapmu," tegurnya. Sebuah kalimat yang terdengar begitu sinis dan amat menyakitkan.
Namun, tidak masalah bagi seorang Blaire. Gadis yang selalu mengikat rambut panjangnya tersebut justru menanggapi hal tadi dengan sebuah senyuman hangat. "Kau tidak perlu berkata seperti itu padaku, Chris. Tenang saja, aku masih memiliki banyak teman di kota ini. Justru kupikir bahwa kaulah yang membutuhkannya. Maka dari itu, aku ingin menegaskan kembali dengan rencana pesta ...."
"Jika kalian tak mampu untuk membayar biaya reservasinya, maka batalkan saja rencana pesta itu. Kenapa harus melibatkanku? Biar kutegaskan satu hal padamu. Aku bukanlah penyuka pesta," tolak Christian dengan yakin. Nada bicara pria itu teramat kuat, tegas, dan menggambarkan karakter dari orangnya.
"Ayolah, Chris. Tak bisakah kau membantuku sekali lagi? Jika kau tak ingin melakukan ini demi aku, maka lakukan atas nama persahabatan yang telah kujalin selama ini dengan Eileen dan Sandra," pinta Blaire setengah membujuk.
"Aku tak peduli. Lagi pula, diriku tak mengenal kedua gadis yang kau sebutkan tadi. Jadi, aku tak memiliki kewajiban untuk melakukan apa yang kalian inginkan," tolak Christian lagi. Kali ini dia benar-benar memutar gagang pintu tadi hingga terbuka.
"Kau sangat keterlaluan. Kalau begitu, aku tak akan membayar utangku padamu. Lagi pula, aku tak pernah meminta agar kau melunasi semua itu," balas Blaire tak mau kalah.
"Terserah," balas Christian sembari melangkah keluar, lalu menghilang di balik pintu yang kembali dia tutup rapat.
Melihat sikap dingin yang disertai kata-kata ketus dari Christian tadi, tentu saja membuat rasa jengkel dalam diri Blaire menjadi terbangkitkan. "Kenapa pria itu sombong sekali? Padahal kukira kemarin dia sudah berubah pikiran terhadapku." Blaire mendengus pelan. Namun, kekesalannya teralihkan sejenak pada layar ponsel yang menyala.
Sementara itu, Adam yang tadi sempat berpamitan ternyata belum pergi ke manapun. Pemuda tampan tersebut masih berada di sekitar sana, dan tampaknya menunggu Christian hingga muncul. Benar saja, setelah pria tampan tadi terlihat keluar dari halaman rumah Blaire, Adam pun bergegas menghampirinya. "Tuan!" panggil pemuda yang berusia sama dengan Blaire tersebut. Setengah berseru dia mencoba menghentikan langkah Christian yang tak menoleh sama sekali.
Awalnya, Christian tak menggubris panggilan dari Adam. Dia tak mengira bahwa seruan yang terdengar tadi bukanlah ditujukan untuknya, berhubung saat itu muncul juga seorang pria paruh baya berambut cokelat tembaga yang berpapasan dengannya.
"Tuan berambut gelap!" panggil Adam lagi. Dia setengah berlari menyusul langkah Christian yang dirasa begitu cepat, jika dibandingkan dengan orang-orang kebanyakan. "Langkahmu cepat sekali. Kau pun sangat gesit dalam bergerak. Sepertinya kau bukan orang sembarangan," celoteh Adam sambil terengah-engah. Kini, dia sudah berada di sebelah pria yang tadi berusaha untuk dirinya susul.
"Ada perlu apa?" tanya Christian tanpa menoleh. Seperti biasa, selalu dengan raut dan nada bicara yang teramat datar.
"Sebelumnya, perkenalkan dulu. Namaku Adam Phillips Fraser. Aku sahabat dekat Blaire. Kami sangat akrab, dan ini sudah terjalin sejak lama. Cukup lama. Aku rasa mungkin ...."
"Apa maumu?" sela Christian. Adam tak tahu bahwa pria itu merupakan sosok anti sosial. Dia tak senang berbasa-basi.
"Oh ya." pemuda tampan berambut pirang itu menggaruk tengkuk kepalanya. "Aku hanya ingin berterima kasih atas semua bantuan yang telah kau lakukan terhadap Blaire," ucapnya kemudian.
"Sama-sama. Namun, kenapa kau harus ikut berterima kasih?" Christian melirik sejenak kepada pemuda dengan postur yang tak lebih tinggi dari dirinya.
"Tentu saja aku harus berterima kasih kepadamu, karena gadis yang kucintai bisa kembali ke rumah dalam keadaan selamat. Ya, meskipun dia mengalami cedera. Namun, setidaknya aku masih bisa melihat Blaire tertawa hari ini," sahut Adam apa adanya. Dengan tanpa beban dia mengakui perasaan terhadap Blaire, di hadapan Christian yang notabenennya merupakan orang asing.
Namun, Christian tak menyahut. Pria itu hanya menanggapi dengan sebuah gumaman pelan. Dia juga tak mengurangi kecepatan langkahnya, meski hal tersebut membuat Adam tampak kesulitan untuk dapat mengimbangi. "Jadi, kalian memiliki hubungan istimewa rupanya," gumam Christian beberapa saat kemudian.
"Tidak juga. Aku yang menyukai Blaire. Namun, dia sudah menolak cintaku sebanyak lima kali. Ah, sebenarnya enam kali dengan yang kemarin malam sebelum ada tragedi mengerikan itu," ungkap Adam begitu polos. Sikap yang ditunjukkan pemuda tersebut, tak ubahnya dengan Blaire.
"Aku turut bersedih," sahut Christian menanggapi. Sebuah ucapan baik, tapi tak sesuai dengan raut wajah yang ditunjukkannya. Namun, tampaknya Adam tak terlalu memusingkan hal itu. Pemuda tampan tersebut masih melenggang dengan tenang di sebelah Christian. Hal itu membuat pria dengan jaket kulit hitam tadi menjadi heran. Christian pun menghentikan langkahnya, kemudian menoleh. "Apa maumu?"
Adam menoleh. "Bisakah kau membantuku?" tanyanya dengan raut penuh harap.
"Membantu dalam hal apa?" Christian balik bertanya. "Aku tak sadar jika diriku sekarang telah menjadi seorang petugas sosial," gumam pria itu menaikkan sebelah alisnya.
Mendengar hal itu, Adam langsung tergelak. "Begini, Tuan. Kulihat kau bisa menarik perhatian Blaire," ujarnya.
"Maksudnya?" Christian mengernyitkan kening karena tak mengerti.
"Sangat jelas jika Blaire sepertinya sangat kagum terhadapmu. Entah apa yang dia lihat. Namun, itu pasti sesuatu yang istimewa," jelas Adam membuat Christian makin tak mengerti.
"Lalu?"
"Tolong ajari aku agar bisa terlihat sepertimu? Bantu juga meyakinkan Blaire supaya bersedia menerimaku. Sebagai imbalannya, aku akan bekerja di tokomu tanpa upah," pinta Adam.
🍒🍒🍒
Satu lagi novel keren yang wajib dimasukkan ke daftar favorit.