Edinburgh

Edinburgh
A Cup of Coffee



Viktorija terpaku untuk sejenak, sebelum kembali mendekat lalu duduk di tepian tempat tidur Blaire. Dia melayangkan tatapan yang dipenuhi rasa penasaran besar, atas pengakuan putri semata wayangnya tersebut. Namun, semua itu segera terjawab, ketika Blaire menaikkan ujung t-shirt yang dia kenakan.


Seketika Viktorija menutupi mulut dengan telapak tangannya, saat melihat pinggang sebelah kanan gadis itu yang masih dibebat perban. "Blaire, Sayang ...." Viktorija tak mampu berkata-kata, ketika melihat kondisi anak gadisnya.


"Saat ibu menelepon tadi, aku masih berada di rumah sakit. Aku memaksakan diri untuk pulang. Itu juga atas bantuan dari Christian yang membujuk dokter agar mengizinkanku keluar lebih cepat dari yang seharusnya," tutur Blaire. Dia tak berani menatap sang ibu dalam waktu yang lebih lama.


"Kau berniat untuk merahasiakan hal sebesar ini dariku, Nona Shuterland?" protes Viktorija dengan nada tak suka. Wanita itu menggeleng pelan seraya berdecak karena tak habis pikir.


"Aku bisa merawat luka ini sendiri, Bu. Aku tak ingin membuatmu khawatir. Karena itulah kupikir ...."


"Wajar jika menyembunyikan apa yang terjadi dariku? Ck! Sungguh keterlaluan! Itu jauh lebih buruk dari semua sikap tegasku yang selalu kau sebut sebagai 'rantai tak terlihat'. Aku tak menyukainya, Blaire!" Viktorija kembali melayangkan protes dengan tegas terhadap gadis berambut pirang yang saat itu hanya tertunduk.


Seperti itulah sikap yang selalu Blaire tunjukkan, setiap kali sang ibu menegurnya dengan keras. Seberapa nakal seorang Blaire, dia tetap anak tunggal yang tak jarang memperlihatkan sisi manja. Melihat Blaire yang memilih untuk diam dan tertunduk begitu, Viktorija pun akhirnya hanya dapat mendengus pelan. Rasa tak tega selau saja muncul. Kemarahan dan rasa kecewa atas segala tingkah anak gadisnya, pasti akan langsung menguap dan tertutupi oleh sisi kelembutan seorang ibu yang dia miliki.


"Blaire ...." Viktorija semakin mendekat, kemudian menangkup paras cantik putrinya yang tadi sempat mengangkat wajah. "Aku tidak menyalahkan apa yang terjadi padamu. Aku hanya merasa kecewa karena kau berniat untuk merahasiakan hal sebesar ini dariku," ucapnya menjelaskan.


"Dengarkan aku, Sayang. Bagaimanapun juga, aku adalah ibumu. Sudah seharusnya diriku merasa cemas, takut, dan juga khawatir atas segala hal yang menimpa terhadap dirimu. Apalagi kau putri semata wayangku. Dengan selalu mengetahui segala hal yang kau alami, maka aku bisa jauh lebih memperhatikanmu." Viktorija kemudian mengecup lembut kening Blaire. Setelah itu, dia kembali berdiri. "Kapan kau harus minum obat lagi?" tanyanya kemudian.


"Nanti siang," sahut Blaire. "Aku benar-benar minta maaf, Bu. Hingga usia seperti ini, aku masih saja selalu menyusahkanmu," sesal gadis berambut pirang tersebut.


"Aku akan selalu menikmati saat-saat seperti sekarang," ucap Viktorija menatap lembut Blaire. Seutas senyuman muncul di wajahnya yang masih tampak awet muda. "Suatu hari nanti, kau akan berjalan dalam balutan gaun putih menuju altar. Di sana ada seorang pria tampan mengenakan setelan tuksedo yang rapi. Dia menatap dan tersenyum bahagia saat kau datang menghampirinya." Tiba-tiba, sepasang mata wanita berambut pendek itu menjadi berkaca-kaca.


Sementara Blaire tak dapat berkata apa-apa selain menatap haru kepada sang ibu. Wanita paruh baya tersebut begitu tangguh. Dia yang selama ini berjuang demi kelangsungan hidup mereka berdua, tanpa adanya kehadiran seorang pemimpin keluarga.


"Ah sudahlah. Aku yakin kau tak akan memutuskan untuk menikah secepat itu, lalu pergi meninggalkanku seorang diri." Viktorija memaksakan tersenyum, di antara perasaan haru yang tiba-tiba menyeruak dalam hati. "Aku akan menyiapkan makan siang. Istirahat dan buatlah dirimu senyaman mungkin," ucapnya kemudian seraya berlalu keluar dari dalam kamar.


Sedangkan Blaire lagi-lagi hanya terdiam. Itulah yang membuatnya berniat untuk merahasiakan apa yang telah terjadi dari sang ibu tercinta, karena wanita itu pasti akan berubah menjadi teramat melankolis.


......................


Keesokan harinya, Viktorija membuka kedai tanpa ditemani oleh Blaire. Viktorija menyuruh gadis itu untuk tetap di rumah, meninggalkan dia dengan ditemani beberapa makanan berat serta camilan kesukaannya. Blaire pun begitu nyaman duduk di sofa bersama buku, dan setumpuk snack yang memanjakan dia layaknya seperti seorang putri raja.


Sementara Viktorija yang telah selesai mempersiapkan segala sesuatu di kedai setelah seharian kemarin tutup, tak langsung mengganti tulisan yang menggantung pada kaca pintu kedainya. Wanita paruh baya tersebut memilih untuk bertandang ke toko barang antik sebelah, sambil membawa sebuah reusable cup khas kedainya yang berisi kopi kesukaan sang pemilik toko tadi.


"Maaf mengganggu waktumu sebentar, Tuan ...." Viktorija mencoba berbasa-basi hangat.


"Alvarez," sahut Christian datar.


"Oh ya, Tuan Alvarez." Viktorija tersenyum seraya mengangguk ramah.


"Christian. Baiklah." Sebelum melanjutkan perbincangan yang entah akan seperti apa, mengingat sikap Christian yang teramat datar dalam menghadapi keramahan Viktorija. Ibunda Blaire tersebut sebenarnya merasa agak kikuk, tapi dia berusaha untuk terlihat biasa saja. "Kopi gratis untukmu, Christian," ucapnya sambil menyodorkan apa yang dia bawa.


Christian pada awalnya tak segera menerima apa yang Viktorija sodorkan. Dia hanya memandang aneh kepada wanita berambut sebahu itu. Entah apa yang tengah dipikirkan oleh pria berpostur tinggi dan tegap tersebut.


"Anggap ini sebagai ucapan terima kasihku, atas semua yang telah kau lakukan untuk Blaire," ujar Viktorija tanpa mengubah mimik wajahnya.


Setelah mendengar kata-kata seperti itu dari wanita di hadapannya, barulah Christian bersedia menerima kopi tadi. "Terima kasih," ucap pria tampan tapi dingin tersebut dengan singkat. "Jadi, Blaire sudah memberitahu Anda tentang apa yang menimpa dirinya?"


"Ya," jawab Viktorija. "Putriku bukanlah tipe orang yang pintar menyembunyikan apa yang tengah dia rasakan. Blaire merupakan gadis yang sangat ekpsresif," terang wanita itu sambil sesekali mengulum senyumnya.


"Aku tahu itu. Dia juga sangat cerewet," timpal Christian terlihat biasa saja setelah berkata demikian.


"Ah ya, kau benar. Blaire memang tak akan berhenti bicara. Dia selalu seperti itu. Blaire adalah putri kesayanganku. Kami hidup berdua sejak ayahnya tiada," terang Viktorija. "Aku dan dia tak hanya menjadi ibu dengan anaknya, tapi kami juga seperti sahabat. Karena itu Blaire tak merasa sungkan untuk bercerita apapun padaku ...." Viktorija terdiam. Dia tak melanjutkan penuturannya. Wanita itu sadar bahwa dirinya sudah terlalu banyak bicara. Apalagi setelah Viktorija melihat sikap Christian yang masih tampak biasa saja.


"Maaf, aku ...." Ibunda Blaire tersebut kembali tersenyum simpul. "Sekali lagi terima kasih untuk semua yang telah kau lakukan terhadap putriku. Permisi." Viktorija mengangguk pelan, lalu membalikkan badan. Dia bermaksud untuk pergi dari toko itu.


"Bagaimana keadaannya saat ini?" tanya Christian yang seketika menghentikan langkah wanita berambut pirang tadi.


Viktorija menoleh. "Aku menyuruh Blaire untuk istirahat di rumah. Kau boleh datang ke sana jika ingin melihat kondisinya," sahut wanita paruh baya itu. Dia kembali menggangguk sebagai tanda berpamitan. Viktorija pun benar-benar keluar dari sana, dan kembali ke kedai. Sudah waktunya bagi janda satu anak tersebut untuk kembali memulai pekerjaan.


Sementara Christian masih terpaku di tempat dia berdiri. Pria itu baru tersadar, ketika mendengar dering ponsel. Meskipun volumenya terbilang kecil, tapi Christian dapat langsung menangkap suara tersebut. Dia pun segera memeriksanya, dan kembali terpaku menatap layar telepon genggam itu.


Setelah beberapa saat, Christian mengambil jaket yang digantungkan pada tempat khusus. Dia lalu berjalan keluar toko, kemudian menguncinya.Padahal hari masih terlalu siang dan belum waktunya tutup. Namun, Christian telah memutuskan untuk pulang.


Pria itu melangkah gagah, di antara deretan bangunan tinggi dengan arsitektur yang sangat indah khas era Victoria. Suasana kota dalam musim gugur pun semakin membuat atmosfir yang terasa menjadi kian syahdu. Cukup menempuh lima belas menit saja dengan berjalan kaki, Christian telah tiba di depan rumahnya. Setelah melewati pintu pagar yang terbuat dari kayu, dia langsung masuk ke dalam bangunan dengan beberapa jendela kaca berukuran tidak terlalu besar.


Untuk beberapa saat, pria berambut gelap tadi berada di dalam. Entah apa yang tengah Christan lakukan di sana. Suasana pun begitu hening. Sesaat kemudian, tampaklah pria itu keluar lagi sambil merapikan jaket yang dirinya kenakan. Christian bermaksud untuk kembali ke toko, tapi pandangan tajam mata abu-abunya malah mengarah ke rumah milik keluarga Shuterland.


Entah angin apa yang membuat Christian tiba-tiba memutuskan untuk melangkah ke sana, hingga dirinya tiba di depan pintu. Tanpa ragu, dia langsung mengetuk dengan pelan. Tak berselang lama, tampaklah pegangan pintu yang berputar. Setelah terbuka, wajah Adam pun muncul di baliknya.


🍒🍒🍒


Satu rekomendasi novel keren untuk semua. Yuk, baca dan favoritkan.