Edinburgh

Edinburgh
Getting Closer



Segera saja, Blaire memaksakan diri untuk tersenyum. Gadis itu pun menggeleng dengan yakin. "Apa kita akan pergi sekarang?" tanya Blaire yang berusaha mengalihkan perhatian Aaron.


"Masuklah dulu. Ainsley sedang menyantap kue buatan ibuku. Kau juga pasti ingin mencicipinya juga, kan?" Aaron melayangkan tatapan lembut penuh cinta kepada gadis yang saat ini telah menjadi kekasihnya. Sorot mata itu sarat dengan rayuan dan tak bisa Blaire tolak sama sekali.


"Baiklah," sahut gadis itu setuju. Dia pun masuk dan bergabung bersama yang lainnya.


Ada banyak kehangatan di sana. Keakraban yang terjalin antara Viktorija dengan Anette, semakin menegaskan restu akan jalinan asmara Blaire dan juga Aaron. Viktorija yang biasanya tak terlalu senang bergaul, kini mendapatkan sahabat berbagi cerita. Jika sudah berbincang dan membahas segala hal, maka mereka pasti akan terlupa dengan semua urusan yang telah direncanakan.


Menjelang pukul empat sore, Aaron baru mengeluarkan mobilnya. Rencana untuk membeli gaun pesta, terus diundur karena Viktorija dan Anette yang keasyikan. berbincang bahkan hingga Ainsley tertidur lelap. Alhasil, mereka harus menunggu anak itu untuk bangun terlebih dahulu.


Keceriaan begitu tampak di wajah-wajah mereka. Terlebih Araon yang membantu memilihkan gaun untuk Blaire. "Aku tidak ingin kau memakai gaun yang terlalu terbuka," ujarnya. Dia lalu meminta pada karyawan butik, agar memberikan gaun yang sedikit tertutup.


"Astaga, Aaron. Kau sangat posesif," goda Viktorija diiringi tawa renyah.


"Dia sangat berlebihan," timpal Blaire yang merasa kesal, karena semua gaun pilihannya ditolak oleh Aaron.


Beberapa saat kemudian, karyawan butik tadi datang dengan sebuah gaun berlengan panjang. Aaron tampaknya setuju dengan gaun terakhir yang disodorkan padanya. Dia pun menyuruh Blaire untuk kembali mencoba.


Dengan malas-malasan, Blaire masuk ke ruang ganti. Dia mencoba pakaian tadi di depan cermin setinggi dirinya. Baju itu memang terlihat sangat indah dan juga cocok dengan bentuk tubuhnya. Selain itu, gaun tadi juga tidak terlalu mengekspos bagian-bagian penting Blaire, selain punggung.


Aaron pun menepuk kening sambil menggeleng pelan. "Kenapa pakaian wanita semuanya seperti ini?" pikir pria tampan itu seraya bergumam pelan.


Hingga menjelang malam, Aaron baru mengantarkan mereka kembali ke rumah. Viktorija terlihat begitu bahagia membawa dua buah paper bag di tangan kanan dan kiri. Begitu juga dengan Blaire yang keluar sambil menggendong Ainsley. Anak itu sudah tertidur lelap karena kelelahan dan juga kekenyangan. Pasalnya, sehabis belanja tadi mereka ditraktir makan oleh Aaron. Hari itu, pria tampan tersebut memanjakan Blaire dan juga keluarga kecilnya.


"Terima kasih untuk hari ini," ucap Blaire setelah dirinya menidurkan Ainsley, lalu kembali mengantar Aaron ke dekat mobil.


"Aku senang sekali. Tolong jangan marah karena tadi aku membelikan Ainsley mainan baru. Kau lihat sendiri bahwa dia sangat bahagia." Aaron lagi-lagi memamerkan senyuman menawannya.


"Bagaimana aku bisa marah?" Blaire mengedarkan pandangan ke segala arah. Dia merasa tak nyaman karena Aaron terus memandangnya dengan lekat.


"Kau tahu, Blaire?" tanya pria itu kemudian. "Aku sudah menyukaimu dari semenjak pertama kita bertemu. Kau gadis yang sangat cantik dan juga unik. Sejujurnya, diriku belum pernah dibuat menunggu dengan begitu lama oleh gadis manapun. Ya, kau memang berbeda. Karena itulah kebahagiaanku tak akan pernah habis, ketika dirimu memberikan kesempatan ini," ungkap Aaron. Dia tampak begitu bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


Akan tetapi, perkataan pria berambut pirang tersebut justru teramat membebani hati seorang Blaire. Kenyataannya, selama ini hanya Christian lah yang mampu membuat dadanya bergemuruh dengan detakan jantung memacu cepat. Blaire belum merasakan getaran serupa ketika dia berdekatan dengan Aaron, bahkan saat pria itu menciumnya seperti saat ini.


"Selamat malam, Blaire." Dengan terpaksa, Aaron harus menghentikan adegan yang teramat dia sukai. "Segeralah beristirahat," ucapnya lagi.


Blaire mengangguk seraya tersenyum. "Kau juga," balasnya. Dia melambaikan tangan ketika Aaron telah masuk ke dalam mobil dan mulai melajukannya. Sementara gadis itu masih berdiri di tempat dia berada sambil melipat kedua tangan di dada.


Malam di musim semi yang begitu indah. Entah ini menjadi musim keberapa baginya, ketika Blaire harus berpura-pura merasa nyaman dengan kehidupan yang dia jalani. Seperti sebuah mimpi, karena saat ini dirinya menjadi seorang ibu tanpa ada sebuah pernikahan atau suami. Betapa luar biasa hidup yang telah Blaire jalani.


Sebuah hempasan napas pelan, meluncur begitu saja dari bibir gadis cantik tersebut. Blaire akhirnya membalikkan badan. Dia bermaksud untuk kembali masuk. Namun, tanpa sengaja ekor matanya menangkap sesosok tubuh tegap dengan jaket kulit hitam, dilengkapi topi base ball warna senada.


Seketika, dadanya kembali berdebar dengan kencang, ketika sosok jangkung itu berjalan mendekat. Dengan segera, Blaire pun melanjutkan niat untuk masuk.


"Blaire Shuterland!" panggil pria yang tak lain adalah Christian. Mendengar suaranya saja, telah membuat gadis cantik bermata hijau tadi langsung membeku. Dia tertegun bahkan sampai terpaku di tempatnya berdiri. "Aku ingin bicara denganmu," ucap Christian lagi.


"Ibu melarangku untuk ini," tolak Blaire dengan segera.


"Kau sudah dewasa, bahkan telah memiliki seorang anak. Tidak bisakah dirimu mengambil keputusan sendiri?" protes Christian datar.


"Aku tidak berani memutuskan apapun lagi, karena nyatanya apa yang telah kuambil merupakan sebuah kekeliruan yang menyebalkan," sahut Blaire tanpa menoleh sama sekali.


"Jadi, pria itu bukan suamimu?" tanya Christian tanpa menanggapi ucapan Blaire barusan.


"Apa urusanmu, Chris?" Gadis itu balik bertanya.


"Aku tak akan ikut campur dengan urusan pribadimu, Blaire. Namun, tolong katakan sesuatu padaku," pinta Christian sambil berjalan semakin mendekat. Dia kini hanya berjarak sekitar dua langkah saja dari Blaire, yang masih dalam posisi membelakanginya.


"Katakan, apakah Ainsley adalah anakku?" Tanpa banyak berbasa-basi, Christian langsung saja menanyakan hal itu.


Akan tetapi, Blaire tak segera menjawab. Gadis cantik tersebut merasa gamang dalam memberikan pernyataan kepada Christian. Andai Blaire berkata bohong, maka dia akan merasa berdosa karena telah memisahkan seorang anak dari ayahnya. Namun, jika dirinya mengatakan sebuah kejujuran, maka bukan tak mungkin bahwa Christian akan kembali mencoba untuk masuk ke dalam kehidupannya.


"Untuk apa kau menanyakan hal itu?" Pertanyaan Blaire terdengar dingin di telinga Christian. Dia seperti bukan gadis yang Christian kenal.


"Kau tinggal jawab saja, apakah Ainsley merupakan anakku atau bukan," desak Christian lagi sambil berjalan mendekat, kemudian berdiri tepat di belakang Blaire.