Edinburgh

Edinburgh
Heart Choice



Blaire menatap dalam-dalam iris mata biru milik Aaron. Pria itu masih tetap terlihat tampan meskipun dalam keadaan babak belur. “Aku juga meminta maaf padamu, Aaron. Mungkin sikapku sering membuatmu kecewa,” ucapnya beberapa saat kemudian.


“Apa kau dan Christian … selama kalian berdua ….” Aaron menjeda ucapannya yang terbata-bata. Dia seakan tak sanggup untuk mengatakan apa yang ada di dalam pikiran, sehingga memilih untuk tak melanjutkan kalimatnya.


“Kenapa kau bisa berpikir seperti itu tentangku? Ainsley sedang dalam keadaan sakit. Dia terluka dan terbaring tak berdaya. Bagaimana mungkin aku memikirkan hal yang lain, Aaron?” Blaire menggeleng tak percaya.


“Karena aku sempat melihat kalian begitu akrab. Kukira kalian akan berbuat yang lebih dari itu di belakangku,” ungkap Aaron yang telah menyadari kebodohannya.


“Astaga.” Blaire berdecak pelan. “Aku benar-benar lelah menghadapi semuanya. Inikah sisi lain dirimu, Aaron? Sedikit kekanak-kanakan dan mudah lepas kendali?”


“Blaire, kau harus paham kenapa aku bersikap demikian. Aku sangat mencintaimu. Kau tak pernah tahu bagaimana rasanya menunggu tanpa lelah selama bertahun-tahun lamanya. Lalu setelah apa yang kuinginkan berhasil kudapatkan, tiba-tiba datang sosok lain yang seakan dengan mudah dapat merebutmu dariku,” beber Aaron mengungkapkan isi hatinya.


“Kau tak akan tahu bagaimana rasanya menjadi diriku, Blaire. Aku tak pernah merasa selemah ini menghadapi siapa pun. Namun, di hadapanmu ... hanya kau ….” Aaron menghentikan kata-katanya. Dia memandang wajah cantik Blaire dengan sorot penuh arti.


“Maafkan aku, Blaire. Aku sepenuhnya mengerti. Akan kuturuti semua keinginanmu, termasuk menunda acara pernikahan kita,” ucap Aaron pada akhirnya dengan raut yang tampak begitu sendu. “Namun, bisakah aku memegang kata-katamu bahwa kau benar-benar akan menikah denganku?”


“Aku tidak sejahat itu, Aaron. Kalimat yang sudah terucap dari mulutku, pantang untuk ditarik kembali. Aku juga tidak akan pernah melupakan semua kebaikanmu, yang tak sedetik pun menjauh bahkan di saat paling buruk dalam hidupku.” Blaire tersenyum getir. Ditangkupnya wajah tampan yang penuh luka lebam tersebut, lalu diciumnya dengan lembut.


“Terima kasih, Blaire. Kalau begini, aku bisa berangkat ke kantor dengan tenang.” Aaron menarik telapak tangan calon istrinya yang masih menempel di pipi, lalu mengecupnya dengan penuh perasaan. “Sampai jumpa nanti sore," pamitnya. "Apa kau ingin kubelikan sesuatu?" tawarnya sebelum benar-benar pergi.


“Terserah kau," jawab Blaire, "see you.” Blaire tersenyum seraya melambaikan tangan. Dia terus memandangi tubuh tegap dan jangkung yang berjalan cepat, hingga menghilang di balik pintu lift. Gadis itu mengempaskan napas pelan sebelum berbalik menuju kamar.


Namun, langkahnya terhenti saat dia mendapati sang ibu yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. “Ada apa, Bu? Apa kau akan kembali ke Edinburgh sekarang juga?” tanya Blaire heran.


“Tidak. Aku berencana libur hari ini, dan akan kembali ke Edinburgh bersama Aaron nanti sore. Aku hanya ingin mencari teh hangat di cafetaria,” jawab Viktorija. Namun, dia tak juga beranjak dari tempatnya berdiri.


“Ada apa, Bu? Apakah ada sesuatu?” Blaire semakin keheranan melihat raut wajah sang ibu yang tampak sangat berbeda.


“Ah, aku tadi … maksudku ... um ….” Viktorija tergagap dan tampak kebingungan akan berkata apa di depan putrinya.


“Ayolah, jangan membuatku penasaran,” desak Blaire begitu berharap.


“Tadi Aaron sempat bercerita bahwa kau ingin menunda pernikahan kalian,” jawab Viktorija pada akhirnya.


“Ya, itu benar. Aku ingin fokus dulu pada penyembuhan Ainsley, Bu. Bagiku, dialah yang terpenting,” tegas Blaire.


“Aku sepenuhnya mengerti akan hal itu, Blaire.” Viktorija menyentuh lengan putri satu-satunya itu lalu mengusap perlahan. “Aku tak akan lagi memaksakan kehendak padamu.” ucapnya kemudian.


“Apa maksudmu, Bu?” Blaire semakin tak mengerti dengan ucapan sang ibu.


“Aku menyadari satu hal bahwa kau juga berhak bahagia. Kemarin-kemarin aku dikuasai rasa marah terhadap Christian, sehingga tak mengharapkannya untuk mendekati kau dan Ainsley. Namun, makin ke sini aku semakin berpikir. Seorang anak akan jauh lebih baik tumbuh kembangnya, jika bersama orang tua kandung mereka yang saling mencintai," tutur Viktorija diiringi helaan napas pelan dan dalam.


"Jangan katakan jika kali ini kau tak menghendakiku untuk menikah dengan Aaron," ucap Blaire mencoba menerka arah dari perkataan sang ibu.


Desir angin segar menerpa kehidupan Blaire yang muram dan sendu. Sebuah restu telah datang baginya. Entah apa yang memengaruhi seorang Viktorija, sehingga wanita itu tiba-tiba saja berkata demikian.


Sementara Blaire justru merasa bimbang. Satu sisi hatinya melonjak kegirangan, karena dia bisa menikmati kehangatan cinta seorang Christian dalam tatapannya yang misterius. Blaire bisa tertawa serta bermanja-manja dengan pria itu tanpa merasa takut akan menyakiti siapa pun. Namun, sudut hati yang lain melarang dan mengingatkan dia akan satu hal. Pantang bagi Blaire untuk menarik kembali kata-kata yang sudah terucap dari bibirnya.


"Apa kau bertemu dengan nyonya Shuterland di luar?" tanya Christian, ketika Blaire telah kembali ke dalam kamar.


"Ya. Ibuku sedang ke cafetaria untuk mencari teh," jawab Blaire pelan, sembari berjalan ke dekat ranjang. "Apa kau ingin makan sesuatu, Sayang?" tawarnya kepada Ainsley yang tengah asyik memainkan dinosaurus buatan Christian dulu.


"Ayah sudah menyuapiku, Bu," jawab Ainsley tanpa menoleh.


"Kupikir kau ikut dengan nyonya Shuterland. Jadi, aku berinisiatif untuk menyuapinya," ucap Christian saat melihat Blaire terdiam di sebelah ranjang putra mereka.


"Tak apa-apa, Chris. Terima kasih." Blaire menoleh, lalu tersenyum. Sebuah senyuman yang teramat dia paksakan.


Lagi-lagi, Christian merasakan sesuatu yang aneh pada sikap Blaire. Dia lalu berjalan mendekat, hingga dirinya berdiri tepat di hadapan ibunda Ainsley tersebut. "Ada apa lagi, Blaire? Apa calon suamimu kembali berulah?" tanya pria bermata abu-abu itu sambil menatap lekat si pemilik rambut pirang.


Namun, Blaire tak segera menjawab. Ibu satu anak tersebut hanya menunduk, tak berani melawan tatapan dari si pria Meksiko yang teramat dia cintai. Blaire pun merasa semakin bimbang, untuk menentukan kata hatinya yang terus saling berlawanan.


"Ada apa, Blaire?" tanya Christian lagi semakin penasaran.


"Chris ...." Blaire tak juga mengangkat wajahnya. "Ibu memberikanku kebebasan untuk menentukan pilihan dan jalan hidup," ucap Blaire lirih.


"Bukankah itu bagus?" sahut Christian menanggapi.


"Ya. Aku bisa memilih siapa yang kucintai," balas Blaire. Perlahan dia mengangkat wajahnya, kemudian membalas tatapan Christian dengan penuh arti.


"Lalu, kenapa kau masih terlihat bimbang?" tanya Christian lagi. Dia mencoba menelaah makna dari sorot mata yang Blaire layangkan padanya. Namun, pria itu tak mampu untuk berkonsentrasi. Wangi aroma tubuh yang menguar dan mengisi indera penciumannya, telah membuat akal sehat Christian menjadi goyah.


"Blaire ...." Suara berat dan dalam Christian saat menyebut namanya, telah mengusik keteguhan hati seorang Blaire Shuterland. Gadis cantik tersebut ingin melawan prinsip yang selama ini dia pegang.


"Christian, aku ...." Blaire tak kuasa melanjutkan kata-katanya, ketika paras tampan pria yang sangat dia cintai telah begitu dekat dan hampir menciumnya.


Untuk beberapa saat, mereka saling bermain-main. Keraguan hadir dan melawan rasa ingin memiliki yang teramat besar di dalam hati dua sejoli itu. Blaire pun tak tahu harus bagaimana, ketika hangat napas Christian sudah menyapu paras cantiknya. Dia begitu menikmati hal tersebut, meski nyatanya Christian tak jua menciumnya. Pria itu seakan ingin menyiksa Blaire dalam rasa penasaran.


Sementara Christian sendiri hanya terpaku, menatap paras cantik si pemilik mata hijau di hadapannya. Wajah dan bibir itu, semua pernah dia sentuh dan nikmati tanpa terkecuali. Betapa hal tersebut telah membuat dirinya merasa menjadi seorang pria yang teramat beruntung.


"Blaire ...."


"Aku akan menikah dengan Aaron."