
Pagi yang mendung membuka hari di kota Edinburgh. Rintik-rintik hujan kembali turun tak lama setelah itu. Viktorija telah siap untuk pergi ke kedai. Wanita yang masih terlihat awet muda tersebut, selalu bangun lebih awal dari matahari yang hari ini seperti tak berniat menampakkan sinarnya.
Viktorija kemudian menoleh pada jam dinding yang menemani beberapa bingkai foto di ruang tamu. Penunjuk waktu itu telah berada di angka tujuh tiga puluh. Viktorija sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumah, termasuk menyiapkan sarapan. Namun, wanita berambut pendek tersebut yakin jika Blaire pasti belum bangun apalagi bersiap-siap. Padahal, dia harus membuka kedai, pukul sembilan tepat.
Akan tetapi, apa yang Viktorija pikirkan ternyata keliru. Blaire tampak berjalan menuruni anak tangga. Seperti biasa, dengan midi dress selutut dan legging hitam yang dilengkapi sepasang sepatu brogue kesayangan. "Selamat pagi, Bu," sapa gadis yang akhir-akhir ini lebih senang menggerai rambut panjangnya. Blaire tersenyum manis, saat melihat sang ibu yang terpaku, menatap heran sekaligus tak percaya.
"Selamat pagi, Nona Shuterland. Ini sangat luar biasa, karena aku tak perlu berteriak memanggilmu agar bangun," balas Viktoria seraya berdecak tak percaya.
"Aku berjanji, mulai hari ini kau tidak perlu lagi mengeluarkan terlalu banyak energi untuk membangunkanku. Simpan kekuatan Ibu untuk hal yang lain," ujar Blaire. Dia lalu mengajak Viktorija menuju ke meja makan. Mereka berdua pun memulai sarapan sebelum berangkat ke kedai.
Setengah jam kemudian, Blaire dan Viktorija telah siap dengan mantel mereka masing-masing. "Kau ingin membawa payung sendiri atau berdua denganku, Blaire?" tanya Viktorija sambil membuka payung hitam yang akan dia pakai, berhubung gerimis di luar cukup lebat.
"Kita sepayung berdua saja, Bu," sahut Blaire diiringi senyuman manis, yang terus dia tunjukkan di hadapan sang ibu. Gadis itu tengah berusaha untuk menepiskan segala kegundahan yang tengah menderanya kini, karena cinta menyebalkan dari seorang Christian.
Viktorija bukan tak dapat memahami sikap yang ditunjukkan oleh putri semata wayangnya. Namun, dia pun ikut berpura-pura, karena tak ingin semakin menambah beban perasaan yang tengah dialami Blaire saat ini. "Baiklah. Kita harus segera berangkat," sahutnya membalas senyuman sang putri. "Cuaca seperti ini memang membuat orang malas untuk keluar rumah, tapi mereka pasti akan merindukan kopi panas sebagai penghangat tubuh," ucap Viktorija sambil menunggu Blaire yang tengah mengunci pintu. Setelah selesai, mereka berdua pun berjalan keluar dari halaman rumahnya yang asri.
Dari kejauhan, tampak sebuah truk ekspedisi yang terparkir di jalan depan rumah Christian. Beberapa orang pria sibuk memindahkan barang-barang ke dalam rumah. Blaire dan Viktorija pun tertegun untuk sejenak, saat melihat wanita paruh baya yang sibuk memberi arahan kepada mereka yang tengah mengangkut barang-barang tadi. Wanita berambut pirang dan ikal sebahu itu, berdiri di teras. Sesaat kemudian, dia menoleh kepada Blaire dan juga Viktorija yang berdiri menatap ke arah rumah Christian.
"Hai," sapa wanita itu ramah seraya melambaikan tangan. Sedangkan Blaire dan Viktorija pun membalasnya dengan mengangguk sopan sambil tersenyum. Sesaat kemudian, si wanita tadi mengambil payung kemudian berjalan melewati pekarangan untuk menghampiri ibu dan anak tadi. "Hai. Perkenalkan namaku Anette Walsh. Apa kalian adalah warga di sini?" sapanya berbasa-basi.
"Oh ya. Benar sekali," balas Viktorija ramah. "Namaku Viktorija Shuterland, dan ini putriku Blaire," tunjuk Viktorija. Blaire pun mengulurkan tangan untuk mengajak bersalaman.
"Putrimu sangat cantik, Nyonya Shuterland. Kebetulan aku juga pindah kemari membawa ketiga anakku. Salah satunya adalah gadis yang mungkin seusia denganmu Blaire." Anette mengarahkan perhatian kepada Blaire yang seketika tertegun saat mendengar ucapannya. Namun, Blaire memilih tak berkata apa-apa.
Viktorija yang dapat membaca gelagat itu dari bahasa tubuh putrinya, segera tersenyum kemudian mewakili apa yang ingin Blaire tanyakan. "Oh, jadi Anda penghuni baru rumah ini?"
"Ya. Aku dan pemilik lama rumah ini memang sudah menyelesaikan segala urusan jual-beli sejak beberapa waktu yang lalu. Namun, tuan Aguila meminta waktu untuk membereskan barang-barangnya. Kebetulan, dia baru pindah semalam. Aku sangat bersimpatik kepada pria itu. Dia memutuskan untuk pindah dari sini karena ingin melepaskan kenangan tentang mendiang istrinya," tutur Anette menerangkan.
"Oh ya. Kebetulan kami tidak terlalu mengenal tuan yang menempati rumah ini sebelumnya, karena dia jarang sekali bersosialisasi dengan para tetangga. Begitulah seorang pria yang hidup sendiri," ujar Viktorija menanggapi.
"Apa Anda mengetahui ke mana tuan itu pindah?" tanya Blaire yang sejak tadi hanya terdiam.
"Entahlah. Setahuku tuan Aguila merupakan warga Spanyol. Mungkin saja dia kembali ke sana," sahut Anette masih terlihat ramah. "Aku tidak terlalu banyak berbincang dengannya, karena dia sosok yang sangat pendiam dan ... misterius." Anette meringis kecil kemudian tertawa renyah.
"Bu! Aku membutuhkan bantuanmu!" seru seorang pria muda dari dalam rumah. Adalah pria bertubuh tegap dengan rambut pirang seperti Anette. Dia berdiri menatap pada tiga wanita yang tengah mengobrol di bawah gerimis pagi.
"Ow itu putra pertamaku, Aaron," tunjuk Anette pada si pria muda dengan t-shirt merah hati yang masih berdiri di ambang pintu. "Kapan-kapan mampirlah untuk makan malam di tempatku, Nyonya Shuterland," undang Anette dengan bahasa tubuhnya yang tetap terlihat ramah.
"Tentu, Nyonya Walsh. Kediaman kami hanya berjarak dua rumah dari sini. Namun, sekarang kami harus pergi ke kedai. Ini sudah terlalu siang," balas Viktorija. Dia pun berpamitan kepada tetangga barunya tersebut.
Gerimis turun dengan semakin lebat. Akan tetapi, hal itu tak membuat jalanan menjadi lengang. Mereka yang memiliki kewajiban dengan aktivitasnya, tetap memaksakan diri menerobos udara dingin dan cuaca tak bersahabat pagi itu.
Sementara Blaire tak bicara sedikit pun selama dalam perjalanan. Tatapan gadis cantik tadi kosong tertuju ke depan. Christian bukan hanya membohongi dirinya. Pria itu juga pergi tanpa pamit dengan membawa semua rahasia besar, yang tak pernah Blaire ketahui selain statusnya yang ternyata telah beristri.
Astaga! Betapa bodohnya dirimu, Blaire! Kau kehilangan akal sehat karena dibutakan oleh cinta yang tak jelas.
Sisi hati gadis itu tertawa dan mencemooh dengan puas. Blaire tak akan menyalahkan siapa pun termasuk Christian. Pria tersebut sudah sering menolak untuk dekat dengannya. Namun, kenapa harus ada ciuman yang begitu menghanyutkan di antara mereka berdua? Blaire sama sekali tak habis pikir karenanya.
"Jangan ditangisi. Sudah kukatakan jika ada yang tak beres dengan pria itu," ucap Viktorija dingin. Dia menahan segala amarah atas apa yang telah Christian perbuat. Si pemilik toko barang antik tersebut begitu tega mempermainkan Blaire dengan sesuka hati.
Setelah tiba di depan kedai, Viktorija segera membuka kunci. Sementara Blaire berdiri sambil memayunginya. Sesekali, pandangan gadis itu tertuju pada toko sebelah yang terlihat sepi. Tentu saja, pemiliknya telah pergi entah ke mana, meninggalkan sepenggal kisah tak terlupakan bagi seorang Blaire Shuterland. Di dalam toko itulah semua bermula. Segala harapan indah dan mimpi-mimpi manis yang Christian persembahkan. Namun, ternyata kini hanya sebuah rasa sakit yang Blaire dapatkan darinya.