Edinburgh

Edinburgh
Confession



"Kami tidak akan melarangmu untuk memberikan perhatian kepada Ainsley. Akan tetapi, jangan pernah mencoba untuk kembali masuk dan mengacaukan segala hal yang selama ini telah tertata dengan baik," sela Viktorija. Dia sudah berdiri di ambang pintu antara dapur dan ruang utama kedai.


Viktorija kemudian berjalan mendekat. Dia berdiri di sebelah Blaire yang hanya terdiam sambil menundukkan wajahnya. "Aku tidak tahu kenapa kau harus kembali. Kota ini memang bukan milikku, sehingga siapa pun berhak untuk datang dan pergi. Akan tetapi, apa kau tahu seperti apa penderitaan putriku saat kau menghilang dengan begitu saja dan meninggalkannya dalam keadaan hamil?" Tatap mata serta nada bicara wanita paruh baya tersebut begitu tajam, dia layangkan kepada Christian.


"Aku tidak tahu jika Blaire sedang hamil. Jika tahu, maka ...."


"Maka apa?" sela Viktorija sinis.


"Bu, sudahlah. Jangan ungkit lagi sesuatu yang telah lama kulupakan. Aku sudah melewati fase itu dengan susah payah. Diriku bahkan telah berjanji untuk tidak menangis apalagi meratap." Blaire terdiam sejenak, seraya mengempaskan napas pelan. "Pergilah, Chris. Bawa saja ini. Kau tak perlu merepotkan dirimu." Blaire kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Ainsley.


Sementara Christian tak ingin berdebat dengan kedua wanita di hadapannya. Dia meraih kembali kartu kredit yang tadi disodorkan kepada Blaire. Setelah meletakkan uang pembayaran kopi, pria itu pun membalikkan badan.


"Paman," panggil Ainsley. Anak itu berdiri dari duduknya, kemudian berlari menghampiri Christian yang tertegun dan menoleh. "Apa kau mau membuatkanku dinosaurus lagi? Kasihan sekali punyaku hanya sendirian." Mata abu-abu milik Ainsley yang polos terlihat sangat bersinar. Lagi-lagi, itu telah membuat Christian tersenyum lembut sembari menurunkan tubuh.


"Akan kubuatkan berikut teman-temannya. Hidup sendirian itu rasanya tidak nyaman, Ainsley. Jika bukan karena terpaksa, maka akan jauh lebih baik untuk mencari sahabat sebanyak mungkin." Christian menyentuh pucuk kepala Ainsley. Dia merapikan rambut pirang anak tersebut yang sedikit acak-acakan. Setelah itu, Christian kembali menegakkan tubuh.


"Terima kasih, Paman," seru Ainsley lagi, ketika Christian hampir keluar dari pintu. Pria itu sempat menoleh, lalu mengangguk pelan.


Sementara Viktorija tak bisa berkata apa-apa setelah menyaksikan adegan tadi. "Aku tahu jika ikatan darah tak akan bisa diputus walau dengan pedang paling tajam sekalipun." Dia lalu mengempaskan sebuah keluhan pendek. "Kuharap kau tidak terpengaruh dengan semua ini, Blaire. Ingatlah jika sekarang di sisimu sudah ada Aaron. Dia adalah pria yang setia dan telah melakukan banyak hal untuk kau serta Ainsley."


"Tidak perlu mengingatkanku, Bu," sahut Blaire pelan. "Ainsley, waktunya makan siang. Ayo buka bekalmu, Sayang." Blaire segera mengalihkan perhatiannya kepada sang anak yang asyik berdiri di dekat pintu masuk.


......................


Malam datang menghadirkan rasa sepi, yang memang telah menjadi teman setia bagi seorang Christian. Entah sampai kapan dia akan menjalani kehidupan yang seakan tanpa tujuan jelas, seperti yang selama ini dia jalani.


Christian duduk menghadapi setumpuk clay yang dia beli tadi sore. Lihai tangannya membentuk mainan tersebut menjadi berbagai bentuk. Setelah itu, dia tata dengan sedemikian rupa.


Rasa sesal yang teramat besar tengah mendera seorang Christian kini. Dia sudah menjadi seorang ayah, tapi tak bisa mencurahkan segenap kasih sayang yang penuh untuk darah dagingnya sendiri. Lagi-lagi, pria itu harus menjalani hari-harinya dalam kesepian.


Christian kemudian menyandarkan tubuh pada dinding penyekat ruangan toko. Dia terpejam untuk sejenak. Bayangan paras cantik Blaire muncul dan menari-nari di pelupuk mata. Namun, angannya akan semakin jauh dari kenyataan.


Merasa semakin suntuk, Christian pun memilih untuk bangkit dari tempat duduknya. Dia lalu memasukkan beberapa clay yang sudah dirinya bentuk menjadi beberapa dinosaurus dengan berbagai jenis ke dalam paper bag berwarna coklat. Christian kemudian meraih jaket kulit hitam dan topi baseball dengan warna senada dari gantungan kayu. Pria itu pun keluar dari dalam toko dan berjalan seorang diri.


Dengan langkah cepat, Christian berjalan menuju perumahan tempat Blaire berada sambil membawa paper bag berisi clay.


Dia dapat melihat separuh badan Blaire di sana. Gadis itu terbelalak melihat kehadirannya. Dengan segera, dia menutup jendela dan menghilang di baliknya. Seutas senyuman getir tersungging dari bibir Christian. Ragu-ragu, pria itu berniat membalikkan badan dan hendak meninggalkan kediaman Blaire.


Namun, seketika tubuh tegap pria tampan tersebut membeku, ketika suara lembut nan merdu itu memanggil namanya.


“Ada perlu apa kau kemari malam-malam begini?” tanya Blaire dingin sambil mencengkeram tepian pagar rumahnya.


“Ini.” Bukannya menjawab, Christian malah menyerahkan paper bag coklat yang sedari tadi dia bawa.


“Apa ini?” Blaire membuka pagar lebar-lebar, lalu maju dan meraih paper bag tadi. Dia tersenyum hangat melihat berbagai bentuk dinosaurus di dalam sana.


“Aku sudah berjanji kepada Ainsley,” ucap Christian.


“Terima kasih,” balas Blaire tersenyum begitu manis. Senyum itu lalu memudar saat Christian berjalan semakin mendekat.


“Aku sungguh ingin menebus lima tahun waktu yang telah hilang, Blaire. Katakan padaku, apa yang harus kulakukan untuk memperbaiki semuanya?” Pelan dan dalam nada bicara Christian, seolah menghipnotis gadis cantik itu.


“Aku … kau … tidak perlu melakukan apapun,” sahut Blaire menunduk dalam-dalam. “Aku sudah bisa mencukupi kebutuhan Ainsley selama ini,” sambungnya lirih.


“Apa kau juga bisa menggantikan sosok seorang ayah untuknya, ataukah kau wakilkan sosok itu pada tuan Aaron Walsh?” tanya Christian datar.


Blaire pun mendongak dan melotot tanda tak terima dengan ucapan Christian. “Menurutmu, apa yang harus kulakukan, Chris? Apa kau mau jika diriku terus meratapi kepergianmu dan selalu menunggu kau datang kembali? Aku tidak sebodoh itu!” geram Blaire.


“Kau sudah menghancurkan hatiku berkali-kali, Christian!” Blaire mengusap kasar pipinya yang telah basah oleh air mata. “Patah hati pertama adalah ketika aku mendatangi rumahmu dan disambut oleh perempuan cantik bernama Pandora yang ternyata adalah istrimu! Lalu, besoknya kau menghilang entah ke mana!” lanjut gadis cantik berambut pirang itu.


“Puncak penderitaanku adalah di saat aku harus melahirkan Ainsley seorang diri! Kau tak akan pernah bisa membayangkan betapa sakitnya hal itu. Rasanya seperti jiwa dan ragaku dikoyak paksa secara bersamaan,” ucap Blaire terisak pelan, “dan kau tahu siapa yang menemaniku saat itu, Chris? Ya, dialah Aaron. Dia yang menemani persalinanku ketika kau tak ada. Aaron tak peduli meskipun aku meneriakkan namamu berkali-kali. Dia tetap berada di sampingku hingga detik ini,” pungkas Blaire. Dia tak hendak berkata-kata lagi, sebab semua ganjalan di dalam dada sudah dia luapkan seluruhnya malam itu di hadapan Christian.


“Maafkan aku," ucap Christian pelan. Bibirnya hanya dapat mengucapkan dua kata tadi.


“Maaf." Blaire tersenyum kelu. "Kau bahkan tak bersedia memberitahukan siapa dirimu yang sebenarnya." Blaire berbalik meninggalkan pria tampan yang berhasil mencuri hati dan segenap cinta dalam dirinya.


“Namaku adalah Christian Alvarez Teixeira. Aku seorang mantan pembunuh bayaran,” jawab pria itu ketika langkah Blaire sudah tiba di depan teras rumahnya.