Edinburgh

Edinburgh
Handsome As Hell



Blaire mengempaskan napas pelan. Dia menoleh pada meja di sebelah ranjang perawatan. Ponsel miliknya terus berdering sejak beberapa saat yang lalu. Dia yakin bahwa itu merupakan sebuah panggilan dari sang ibu. Namun, sayangnya Blaire tak bisa meraih benda tersebut. Gadis itu pun terdengar mengeluh pelan sembari memejamkan mata.


"Ibumu menelepon. Apa kau ingin menjawabnya?" Suara Christian tiba-tiba terdengar dan membuat Blaire terkejut bukan main. Gadis cantik itu segera menoleh.


"Kau? Di sini?" Blaire membelalakan mata karena tak percaya dengan kehadiran pria itu.


"Aku di sini sejak semalam," jawab Christian. Dia meletakkan kopi yang dirinya bawa di atas meja. "Di sini tak ada yang menjual kopi seperti di kedai milikmu," ucapnya. Pria itu kemudian menyodorkan ponsel milik Blaire. "Ibumu pasti cemas. Setidaknya katakan sesuatu agar dia tidak berpikir yang macam-macam," saran pria itu sambil duduk di kursi dekat ranjang.


"Ibuku kembali dari Glasgow pagi ini. Dia pasti akan menceramahiku hingga salju benar-benar turun di Edinburgh," ucap Blaire yang terlihat resah.


"Tanyakan pada ibumu, kira-kira kapan dia akan tiba di rumah," suruh Christian sambil meneguk kopinya. Pria itu terlihat sangat tenang, seakan tak ada beban yang terlalu berat dalam hidup yang dia jalani.


Sikap tenang yang ditunjukkan oleh Chistian tadi, rupanya membawa pengaruh yang sangat besar bagi Blaire. Gadis itu tersenyum kecil di antara ringisan rasa sakitnya. Dia lalu memilih nomor kontak Viktorija, kemudian menghubungi sang ibu yang sekarang entah sedang berada di mana tepatnya.


"Hello." Terdengar suara Viktorija dari seberang sana.


"Selamat pagi, bu," sapa Blaire pelan. "Maaf, tadi aku ... aku ...." Gadis cantik itu menatap Christian. "Aku bangun kesiangan," lanjutnya dengan segera.


"Ya, sudah kuduga. Alarm di ponsel tak akan berani membangunkanmu," sahut Viktorija seraya berdecak pelan.


"Maaf. Suatu saat nanti aku pasti akan berubah. Aku rasa mungkin setelah ... setelah menikah dan punya anak ...." Blaire seketika terdiam sembari mengulum bibirnya. "Ya, itu rencana jangka panjang ... jadi ... jadi ... ah sudahlah. Kira-kira, jam berapa ibu akan tiba di rumah?" Blaire terlihat gugup. Gadis itu tak terbiasa berbohong kepada sang ibu.


"Aku baru selesai sarapan. Beruntung sekali rasanya memiliki teman lama yang sangat baik. Aku merasa seperti berada di rumah sendiri," sahut Viktorija dengan suaranya yang terdengar begitu tenang.


"Kalau begitu ... bersantailah dulu di sana, bu. Kau tidak perlu cepat-cepat pulang," celoteh Blaire tanpa sadar. Namun, lagi-lagi gadis itu kembali mengulum bibirnya. Andai bisa, dia juga akan menarik kata-kata yang terdengar konyol tadi.


“Astaga, kau ini! Kata-katamu malah membuatku curiga. Apakah ada masalah di kedai?” terka Viktorija.


“Oh, tentu saja tidak. Tak ada masalah apapun dengan kedai. Semua baik-baik saja.” Blaire mencoba bersikap tenang, meskipun dirinya tengah dilanda rasa gugup yang luar biasa.


“Teman-temanmu tidak sedang mengacau dan membujukmu agar tidak berangkat ke kedai, ‘kan?” tukas Viktorija lagi semakin curiga.


“Astaga, bu. Tolong jangan berpikiran buruk tentang teman-temanku. Mereka adalah gadis-gadis yang baik meskipun sedikit berisik,” ujar Blaire membela para sahabatnya.


“Hm, baiklah. Selesai sarapan, aku akan pulang secepatnya. Sekarang bangun dan bersiaplah. Tunggu aku di kedai. Alright!” titah Viktorija. Hal itu bagaikan puluhan macan dewasa yang dikeluarkan dari kandangnya, kemudian berusaha mengejar untuk memangsa Blaire.


“Yes, Ma’am! Aku akan bersiap-siap dalam sepuluh menit!” sahut Blaire yang akan disesalinya sebentar lagi. Setelah itu, perbincangan pun berakhir, meninggalkan rasa bingung bagi Blaire.


“Ya, ampun. Bagaimana caranya aku bersiap-siap dalam sepuluh menit?” Gadis cantik itu mulai panik. Dia bahkan berusaha untuk bangkit dari pembaringan yang tentu saja berakhir dengan kegagalan. Blaire belum dapat duduk secara normal, sebab pengaruh obat bius pasca operasinya sudah mulai menghilang.


“Aku harus pulang, Chris. Ibuku tak boleh tahu jika aku berada di rumah sakit, apalagi sampai melihatku ada dalam kondisi yang seperti ini.” Raut wajah Blaire begitu memelas, mengingatkan Christian akan anak anjing yang dia lihat beberapa hari yang lalu di seberang toko barang antik miliknya.


“Memangnya kenapa ibumu tidak boleh mengetahui kejadian ini?” Christian mengangkat sebelah alisnya.


“I-itu karena … karena ….” Blaire mengempaskan napasnya pelan. “Sejak ayahku meninggal, ibu menjadi sedikit depresi. Dia … mengidap gangguan kecemasan. Dia akan ketakutan melihatku terluka atau menangis. Dia trauma … trauma ditinggal pergi oleh orang terdekatnya,” jelas Blaire pilu.


“Hm, begitu rupanya.” Christian mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya pada cup kopi yang dia genggam. Pria tampan itu tampak sedang berpikir. Sesaat kemudian, dia menatap tajam kepada Blaire, membuat gadis itu salah tingkah. Blaire bahkan dapat merasakan jantungnya seakan berhenti berdetak. “Tunggulah di sini. Aku akan berbicara dengan dokter,” suruh Christian seraya berdiri dari tempatnya, lalu bergegas keluar ruangan begitu saja.


Tak berselang lama, dia masuk kembali ke dalam ruang perawatan Blaire bersama seorang dokter dan dua perawat yang kemarin menanganinya. “Dia akan dipecat kalau tidak bisa masuk kerja hari ini juga, Dokter,” dalih Christian dengan raut wajah yang terlihat amat serius.


“Mudah sekali, Tuan. Anda tinggal menunjukkan laporan kesehatan nona Shuterland, yang menggambarkan kondisinya saat ini,” sahut sang dokter.


“Mereka tidak akan bisa menerimanya. Apalagi jika membaca bahwa operasi ini termasuk operasi kecil. Anda tahu, kerabatku ini memiliki utang yang sangat besar pada manajer perusahaan tersebut. Dia akan dituntut ke pengadilan kalau tidak bisa hadir di tempat kerja sekarang juga. Anda tentu tidak akan tega jika gadis yang tak berdaya seperti dirinya harus dipenjara,” terang Christian lagi.


Sedangkan Blaire hanya terheran-heran, menyaksikan kemampuan Christian untuk memanipulasi dokter yang sepertinya kini benar-benar percaya dengan penjelasan bohongnya tersebut.


“Baiklah. Akan kuresepkan obat penghilang rasa nyeri untuk tiga hari ke depan. Kusarankan juga agar nona Shuterland mengganti perban sesering mungkin, agar luka bekas operasinya dapat cepat mengering,” pesan sang dokter.


“Baiklah, akan kucatat itu. Namun, adakah cara bagi kerabatku ini agar bisa berjalan dengan normal? Mengingat dia kesulitan hanya untuk duduk sekalipun,” tanya Christian seraya tersenyum penuh arti.


Dokter paruh baya itu terdiam sejenak, kemudian menoleh pada dua orang perawat yang berdiri di sampingnya. Dia membisikkan sesuatu yang segera ditanggapi oleh anggukan kepala. Salah seorang perawat berlalu keluar ruangan. Sedangkan satu perawat lainnya menghampiri Blaire dan mulai memeriksa kondisi vital tubuhnya. Perawat itu juga melepas selang infus serta berbagai peralatan medis yang menempel di tubuh gadis tersebut.


Tak berapa lama, datanglah satu perawat lain sambil membawa nampan berisi jarum suntik, dan sebuah botol kaca kecil berisi cairan bening. “Kami akan menyuntikkan obat anti nyeri. Efeknya akan berlangsung sekitar dua puluh empat jam. Setelah itu, Anda bisa melanjutkan dengan meminumkan obat berbentuk tablet,” jelas sang dokter.


Christian tersenyum samar, lalu menoleh kepada Blaire yang tak bisa berkata-kata. Namun, gadis itu berusaha mengikuti sandiwara tetangganya yang menawan. Setelah seorang perawat menyuntikkan obat penghilang nyeri, Blaire merasa jauh lebih baik. Gadis itu dapat duduk dan berdiri tanpa merasa sakit. Ditambah karena Christian juga membantu memakaikannya mantel, sesaat setelah gadis itu berganti pakaian di kamar mandi. Christian pula yang menyelesaikan seluruh biaya pengobatan rumah sakit, serta menebus resep obat untuk Blaire.


“Tak kusangka, ternyata kau adalah pria yang begitu baik dan juga luar biasa. Selain sangat tampan tentunya,” puji Blaire tanpa henti ketika mereka sudah berada di depan area rumah sakit.


“Akan kuhitung total tagihan dan akan segera kukirimkan catatannya kepadamu. Kuharap kau bisa membayar lunas semuanya dalam jangka waktu tidak lebih dari seminggu,” sahut Christian dengan datar dan dingin, sembari melambaikan tangan untuk menghentikan taksi yang lewat.


🍒🍒🍒


Satu rekomendasi novel keren, kembali ceuceu hadirkan untuk semua. Cek 😉