
Blaire dan Aaron mengakhiri perdebatannya ketika orang-orang berlarian keluar dari butik dengan wajah panik. “Apa yang terjadi?” tanya Aaron keheranan seraya mengikuti langkah orang-orang itu. Sementara Blaire segera menyadari bahwa Ainsley sudah tidak lagi berada di dekatnya.
“Ainsley? Ains? Kau di mana?” Blaire pun mulai panik, ketika dia mencari putra semata wayangnya ke setiap sudut ruangan butik. Perasaan tak karuan mulai menyelimuti hati dan pikiran gadis cantik itu, saat dirinya tak dapat menemuka keberadaan sang anak di manapun. Saat itulah Blaire mulai kalut, terlebih saat Aaron berbalik dan menghampirinya.
“Ada kecelakaan di depan,” ujar pria tampan bermata biru itu.
“Ainsley tak ada di tempatnya!” pekik Blaire tertahan. Ada sesuatu yang mendorong gadis cantik itu untuk berlari keluar dan mendekat pada keramaian orang-orang di luar. Dia bahkan masih mengenakan gaun pengantin yang sedang dirinya coba. Dengan agak memaksa, Blaire menyibak kerumunan tadi.
Setelah berhasil melihat ke arah jalan raya, seketika tubuh Blaire lemas seakan tak bertulang. Energinya menguap entah ke mana, ketika mendapati tubuh Ainsley tergeletak bersimbah darah di aspal. “Ainsley!” Blaire memekik kencang. Dengan segera, dia merengkuh tubuh mungil itu dan memangkunya.
Gaun pengantin berwarna putih bersih yang dia kenakan pun, kini penuh dengan noda darah. Tak berselang lama, Aaron datang menyusul Blaire. Pria itu tak kalah terkejut melihat hal mengerikan di depan matanya. “Apa yang terjadi!” teriak Aaron panik.
“Aku tak sengaja menabraknya. Dia tiba-tiba melintas di depan mobilku.” Seorang pria paruh baya yang merupakan pemilik mobil sedan tadi mendatanginya dengan tubuh gemetar. “Aku sudah menghubungi ambulans. Sebentar lagi mereka akan datang,” ujarnya lagi seraya memegangi lengan Aaron yang terlihat gusar. "Aku benar-benar tidak sengaja, Tuan. Ya, Tuhan ...." Pria paruh baya itu pun tak kalah gusar dari Aaron.
Namun, Aaron masih membeku saking terkejutnya. Dia tak segera menanggapi ucapan pria itu. Aaron tak mampu berkata-kata, saat melihat Ainsley tak berdaya. Kedua matanya terpejam dengan darah yang tak berhenti mengalir, membasahi gaun sang ibu. “Apa … apa dia baik-baik saja?” tanyanya terbata, lalu bersimpuh di belakang Blaire.
Sementara Blaire sama sekali tak menjawab. Dia terus menerus mendekap putra kecilnya yang sama sekali tak bergerak. Tangisan yang awalnya lirih berubah menjadi semakin nyaring, hingga terdengar suara sirene ambulans dari kejauhan.
Tak berselang lama, ambulans itu berhenti di depan Blaire. Dua orang petugas medis segera datang menghampiri sambil membawa brankar. Dengan hati-hati dan sangat teliti, mereka memeriksa tubuh kecil Ainsley. “Denyut nadinya melemah,” ujar salah seorang petugas tadi pada sang rekan.
Dengan segera, mereka memindahkan Ainsley dari pangkuan Blaire ke atas brankar, lalu mendorongnya masuk ke dalam ambulans. “Apakah Anda ibu dari anak ini?” tanya salah seorang petugas kepada Blaire.
Gadis itu tak mampu berkata-kata. Dia hanya mengangguk lemah sambil menyeka air mata.
“Kalau begitu, ikutlah ke dalam,” suruh petugas medis itu.
Tanpa berpikir panjang, Blaire langsung mmenaikkan bagian bawah gaunnya, lalu masuk ke dalam kendaraan. Dia sempat menoleh kepada Aaron dan berkata, “Tolong beritahu ibu dan Christian.”
Aaron yang masih terpaku di tempatnya, seperti tak mampu berkata-kata. Dia baru mengiyakan permintaan Blaire saat ambulans sudah melaju kencang menuju rumah sakit terdekat. Setelah tersadar, Aaron pun langsung menghubungi Viktorija.
Sesuai dugaan, Viktorija sama terkejutnya dengan Aaron. Wanita itu hampir menjatuhkan ponsel saat mendengar berita buruk tersebut. Tak dipedulikannya kedai yang dalam kondisi ramai, dia meninggalkan sumber penghidupannya itu begitu saja.
Viktorija berjalan keluar menuju toko milik Christian sampai salah seorang langganan memanggil namanya. “Hei, Nyonya Sutherland! Kau mau ke mana? Bill hendak membayar pesanan,” seru pria itu.
Kesadaran Viktorija sempat kembali untuk sesaat. Dia berbalik sambil menatap pria tersebut dengan sorot aneh. “Bisakah kau membantuku? Katakan pada semua pembeli bahwa aku menggratiskan semuanya,” ujar wanita paruh baya tersebut akibat rasa kalut yang luar biasa. Setelah itu, Viktorija kembali berbalik menuju toko Christian.
“Lalu, bagaimana dengan kedai ini? Apa kau akan membukanya begitu saja?” tanya pria itu lagi.
Akan tetapi, Christian langsung menghentikan kesibukannya, ketika melihat sosok Viktorija yang berdiri di dekat pintu sambil berlinangan air mata. “Ada apa, Nyonya Sutherland?” tanyanya.
“I-ini tentang Ainsley. Di-dia ….” Bukannya melanjutkan kata-kata, Viktorija malah menutup mulut rapat-rapat.
“Nyonya, katakan apa yang terjadi dengan Ainsley,” desis Christian. Raut wajahnya seketika berubah dingin. Namun, ibunda Blaire itu tak menjawab pertanyaannya. Sambil mengempaskan napas, Christian kembali fokus pada transaksi jual-beli di depannya sampai selesai. Setelah itu, dia mengunci laci kasir dan mematikan mesin EDC. “Kita berbicara sambil berjalan, Nyonya.” Tangan kekar pria itu memegang lengan Viktorija dan menuntunnya keluar dari toko.
Christian menutup dan mengunci pintu, lalu menuntun Viktorija kembali ke kedainya. Sementara wanita itu terus terisak. Viktorija membiarkan Christian mengambil kunci dan menutup kedai setelah pelanggan terakhir keluar dari sana. Dia juga menarik rolling door hingga tertutup dengan sempurna.
“Sekarang katakan padaku, Nyonya Sutherland. Di mana Ainsley? Apa dia masih di Glasgow?” tanya Christian penuh penekanan.
“Di rumah sakit pusat Glasgow,” jawab wanita itu pada akhirnya sambil menangis sesenggukan.
“Rumah sakit?” Mata abu-abu itu terbelalak sempurna. “Tolong katakan dengan jelas, apa yang terjadi sebenarnya?” desak pria rupawan itu sambil mengepalkan tangan.
“Ainsley mengalami kecelakaan. Dia tertabrak mobil. Ya, Tuhan, aku ….” Tangis Viktorija semakin nyaring. Sedangkan Christian langsung mere•mas rambutnya dengan kasar.
“Putraku ….” Christian menonjok rolling door dengan kencang, untuk melampiaskan kemarahannya. Dia sempat terdiam beberapa saat, kemudian merogoh ponselnya di saku celana. Pria itu tampak menghubungi seseorang.
Tak berselang lama, sebuah mobil mewah yang kemarin dia gunakan untuk membawa Ainsley berjalan-jalan datang dan berhenti di depannya. Seorang pria tua turun dari sana sambil memberikan remote mobil pada Christian. “Berhati-hatilah di jalan, Tuan,” ucap pria tua itu sopan. Christian mengangguk tanpa mengucapkan kata, lalu menuntun Viktorija untuk masuk ke dalam mobil.
Dengan kecepatan tinggi, Christian melajukan kendaraan. Tak sampai satu jam, dirinya sudah tiba di depan rumah sakit yang sudah disebutkan. Bersama Viktorija, dia begitu tergesa-gesa menuju meja resepsionis dan bertanya pada salah seorang pegawai rumah sakit. Pegawai itu mengarahkan Christian ke arah ruangan gawat darurat. Tanpa membuang waktu, dia dan Viktorija segera beranjak ke sana.
Dari kejauhan, Christian melihat Blaire yang histeris dan tengah dipeluk oleh Aaron. “Apa yang terjadi?” tanyanya setelah berdiri di hadapan sepasang calon pengantin tersebut. "Kenapa bisa begini?" geramnya pelan.
“Chris!” Blaire berdiri sambil mencengkeram lengan ayah kandung Ainsley itu dengan erat. “Ainsley kehabisan darah! Dokter mengatakan bahwa golongan darahnya langka. Mereka kehabisan stok, Chris! Anak kita akan mati jika tidak segera ditransfusi dan dioperasi!” racaunya seraya mengguncang-guncangkan tubuh tegap tersebut.
“Jangan bicara sembarangan, Blaire! Cucuku tidak akan mati!” sentak Viktorija. Semua orang di sana seperti sedang kehilangan akal sehatnya. Tak terkecuali Aaron yang duduk menunduk sambil menopang kepala dengan kedua tangan.
“Bagaimana dengan darahku?” cetus Christian. “Aku ayahnya. Kurasa kami memiliki golongan darah yang sama.”
Semua yang ada di sana segera mengalihkan pandangan kepada pria Meksiko itu. “Biar kupanggilkan dokternya.” Blaire dengan baju pengantin yang sudah tak berbentuk itu mengetuk ruang tindakan sampai salah seorang petugas medis keluar dari sana.
“Tolong periksa golongan darahnya, Dokter! Dia ayah dari putraku!” seru Blaire seraya mengarahkan telunjuknya tepat ke arah Christian.