
Hari yang indah, meski udara terasa dingin. Blaire melakukan semua tugas di kedai dengan penuh semangat. Tak sabar rasa hati gadis itu, untuk menunggu waktu hingga sang ibu menutup tempat yang selama ini menjadi penopang bagi kehidupan mereka berdua.
Sesuai yang telah dijanjikan semalam. Setelah selesai dari toko, Christian tampak sudah menunggu di depan kedai. Pria itu berdiri gagah dengan kedua tangan di dalam saku jaket. Walaupun tanpa senyum penuh godaan, tapi pesona seorang Christian tetap terpancar dengan sangat jelas.
"Nyonya Shuterland. Aku ingin meminjam putri Anda untuk satu atau dua jam ke depan," ucapnya ketika Viktotija telah selesai mengunci pintu kedai.
"Oh tentu saja, Chris. Jangan lupa untuk mengembalikannya dengan utuh," sahut ibunda Blaire seraya tersenyum penuh arti.
"Tidak perlu khawatir. Putri Anda akan selalu aman bersamaku," balas Christian. Dia lalu mengalihkan perhatian kepada Blaire yang sedari tadi memandang ke arahnya dengan sorot mata yang memancarkan kekaguman. Entah itu yang dinamakan cinta atau hanya perasaan suka. Blaire sendiri masih belum dapat mengartikannya dengan lebih jelas. Satu hal yang pasti, rasa tertarik yang dia miliki untuk Christian telah membuat akal sehatnya menjadi tak berfungsi sama sekali.
Cukup lewat sebuah isyarat mata, Blaire sudah dapat memahami maksud tak terucap dari pria tampan bermata abu-abu tadi. Gadis cantik tersebut segera berpamitan kepada sang ibu. Sesaat kemudian, tangannya telah berada dalam genggaman seorang Christian.
Mereka berdua berjalan menyusuri jalanan kota Edinburgh. Di antara bangunan megah dan menjulang dengan gaya arsitektur luar biasa, romanasa manis itu kian terasa. Atmosfir kota yang teduh dan damai, begitu mendukung bagi dua sejoli tersebut dalam merajut kasih yang baru terjalin, meski tanpa adanya sebuah ikrar secara jelas lewat ucapan.
Sepanjang perjalanan, tak ada perbincangan di antara keduanya. Walaupun demikian, Christian tak sedetik pun melepaskan genggaman tangan dari Blaire. Pria itu memang menunjukkan sikap yang tak acuh bahkan cenderung dingin, tapi rasa hangat yang Blaire rasakan ternyata jauh lebih besar dari sekadar ungkapan atau sikap romantis khas pria-pria kebanyakan.
Langkah kaki kedua sejoli itu akhirnya tiba pada sebuah tempat di mana terdapat pepohonan rindang, dengan daun yang berguguran. Jauh di atas bukit, mereka dapat melihat bangunan megah berupa sebuah kastil bersejarah yang menjadi landmark kota Edinburgh.
"Apa kau pernah memasuki kastil itu, Blaire?" tanya Christian seraya mengajak gadis cantik tersebut untuk duduk pada sebuah kursi taman yang tersedia di sana.
"Pernah, tapi sudah lama sekali. Apa kau ingin ke sana? Sekarang sudah terlalu sore. Beruntung hari ini tidak hujan." Blaire tersenyum lembut seraya menatap pria tampan di sebelahnya.
Sesaat kemudian, Christian membalas tatapan gadis itu. Tanpa harus meminta izin terlebih dahulu, Christian telah merasa leluasa untuk dapat menikmati sebuah ciuman dari gadis yang sepertinya telah membuat dia terpikat.
"Kenapa kau suka sekali menciumku?" tanya Blaire polos.
"Karena aku menyukainya," jawab Christian singkat. Dia kembali melayangkan perhatian pada bangunan kastil di atas bukit. Pria dengan sejuta misteri tersebut tampak terdiam. Entah apa yang tengah dia pikirkan saat itu.
"Apa kau baik-baik saja? Jangan khawatir, aku tak akan menanyakan lagi hal-hal yang tak ingin kau jawab," ucap Blaire tanpa mengalihkan perhatiannya dari paras tampan si pemilik mata abu-abu itu. Blaire pun mengempaskan napas pelan seraya mengikuti arah tatapan Christian.
"Ibuku mengatakan bahwa orang yang benar-benar mencintaiku, maka akan rela berbagi sedikit rahasia dalam hidupnya. Namun, aku rasa ada juga sebagian orang yang lebih memilih menyimpan rapat-rapat rahasia agar tak menyakiti pasangannya," ujar Blaire lagi seakan tengah memancing reaksi dari pria yang selalu memilih untuk tak banyak bicara.
"Entahlah. Aku merasa kau terlalu takut untuk mengatakan sesuatu padaku. Namun, itu semua hakmu, Chris. Aku rasa, andai semua ini berlangsung hingga lama ... bukan tak mungkin bahwa aku akan dapat mengenalmu seiring dengan berjalannya waktu." Satu sisi kedewasaan dalam diri Blaire rupanya telah muncul.
"Aku tidak tahu ternyata kau bisa berpikir dewasa juga," celetuk Christian enteng.
"Kau pikir aku akan selamanya berpikir kenakak-kanakan? Tentu saja tidak, Tuan," protes Blaire dengan mata melotot. Namun, Christian tak memedulikannya sama sekali. Pria itu lagi-lagi mengarahkan pandangannya pada kastil di atas bukit.
"Usiaku sudah dua puluh tiga tahun. Aku juga telah ... tak perlu kujelaskan." Blaire menatap sepasang sepatu yang dia kenakan. Keheningan pun menggelayuti keduanya hingga beberapa saat.
"Jujur saja, apa yang ingin kau tanyakan padaku?" Suara berat Christian memecah kebisuan di antara mereka. Dia menoleh kepada Blaire, menatap gadis yang masih tertunduk itu dengan lekat. Christian lalu meraih jemari si gadis dan menggenggamnya erat.
"Namaku Christian Alvarez Teixeira. Kau sudah mengetahui hal itu beberapa waktu yang lalu," ucapnya mengawali sebuah cerita yang akan entah berakhir di mana. "Usiaku saat ini tiga puluh tahun. Apakah aku terlalu tua untukmu?"
Mendengar pertanyaan demikian, Blaire segera menoleh. Dia lalu tersenyum. "Aku suka pria yang berusia jauh lebih dewasa," sahutnya.
"Semoga itu benar," balas Christian.
"Apa aku terlihat seperti seorang pembohong?" protes Blaire.
"Entahlah. Satu yang kutahu bahwa kau sangat berisik dan senang mengganggu orang lain," sahut Christian tak acuh.
"Hey!" Blaire kembali melayangkan protes. Kali ini dia juga mencubit pinggang Christian, sehingga membuat pria itu tersenyum cukup lebar. "Kau pria yang tak memiliki rasa humor," ledek Blaire terus mengganggunya.
"Hentikan, Blaire!" pinta Christian yang tak terbiasa bercanda seperti tadi. Akan tetapi, Blaire tak menggubrisnya sama sekali. Gadis itu baru berhenti, ketika dengan gerakan sangat cepat Christian merengkuh pundak lalu menariknya ke dalam pelukan dengan tangan kiri. Sementara tangan kanan pria tersebut dia gunakan untuk mencekal pergelangan kiri Blaire yang tampak akan bergerak ke arahnya. "Jangan berani berbuat macam-macam padaku," ujar Christian dengan dalam.
Tatapan mata keduanya saling beradu. Meksiko bertemu Edinburgh dalam satu jalinan perasaan, yang terlihat tak seperti kisah cinta pada umumnya. Blaire kembali terhanyut dalam irama permainan dingin tapi menyenangkan pria misterius tersebut.
Alam meredup. Semilir angin dingin menerbangkan daun-daun maple yang membuat permukaan tanah menjadi lebih berwarna. Entah untuk keberapa kalinya, pertautan mesra itu kembali mereka lakukan. Sebuah sentuhan yang awalnya hanya sebagai sarana untuk menunjukkan rasa cinta, tapi makin lama berubah menjadi sebuah penanda terbangunnya hasrat yang jauh yang lebih besar dari itu.