
Hampir dua bulan telah berlalu. Blaire terdiam memandangi kalender yang sudah dirinya tandai. Jantung gadis itu berdetak dengan lebih cepat, ketika Blaire menyadari bahwa dia belum mendapatkan menstruasi. "Tidak," gumamnya sembari menggeleng pelan. Namun, rasa penasaran tetap ada dalam hatinya.
Hari itu seperti biasanya, Blaire harus pergi ke kedai. Dia tak memedulikan udara dingin yang teramat menusuk. Dalam hitungan hari saja, musim gugur akan segera berakhir dan berganti dengan musim dingin. Tanpa terasa, waktu berlalu dengan begitu saja. Akan tetapi, penantiannya atas diri seorang Christian tak akan pernah gadis itu sudahi.
Biarlah musim terus berganti, cuaca pun berubah. Namun, perasaan indah terhadap pria yang entah berada di mana kini, akan tetap Blaire simpan dan jaga dengan baik. Satu keyakinannya, suatu hari nanti Christian pasti akan kembali. Walaupun tak tahu kapan, tapi perasaan tersebut seakan menjadi sebuah kekuatan tersendiri bagi gadis dua puluh tiga tahun tersebut.
"Hai, Blaire," sapa Aaron. Dia tiba-tiba saja sudah berada di samping gadis itu dan menemani langkahnya. "Hhh ... dingin sekali." Aaron melipat kedua tangan di dada. Sementara sebelah dari tali ransel hitam berukuran sedang, berada di atas pundak sebelah kanan.
"Apa kau akan berangkat kerja?" tanya Blaire. Dalam rentang waktu beberapa hari saja, Aaron telah berhasil mengakrabkan diri dengan gadis itu dan juga Viktorija tentunya. Apalagi karena karakter Blaire yang hangat dan mudah bersahabat dengan siapa saja.
"Ya, Blaire. Sebenarnya ini adalah hari yang membuatku merasa malas berangkat ke kantor," keluh Aaron sambil terus berjalan.
"Kenapa?" tanya Blaire menoleh sejenak pada pria tampan berambut pirang di sebelahnya.
"Biasalah. Pekerjaan menumpuk dan harus segera diselesaikan dalam waktu singkat," jawab Aaron. Selama ini, pria tampan pemilik mata biru tersebut bekerja di salah satu perusahaan pengolahan limbah organik dan anorganik. Hal itulah yang membuatnya dapat langsung akrab dengan Viktorija, yang juga merupakan seorang aktivis pemerhati lingkungan.
"Itulah mengapa aku lebih memilih mengelola kedai bersama ibu. Rasanya terlalu malas jika harus bekerja di perusahaan milik orang lain, dengan jadwal dan peraturan yang ketat. Oh, aku bisa mati berdiri karenanya." Blaire tertawa renyah.
"Ya, kau benar. Seharusnya aku juga mulai memikirkan untuk membuka usaha sendiri," sahut Aaron menimpali. "Aku sedang menabung. Kuharap akhir tahun depan semua rencana bisa segera terealisasikan."
"Kau pasti bisa," sahut Blaire sambil menonjok pelan lengan pria itu. Mereka pun tertawa bersamaan.
Tanpa terasa, Blaire telah tiba di depan kedai. Hari ini dia akan bekerja sendiri, karena Viktorija harus menghadiri seminar di luar kota dan baru akan pulang petang nanti. Namun, tak masalah bagi Blaire, meskipun setiap hari dia tak bisa untuk tidak memandangi toko barang antik di sebelah yang selalu tertutup rapat.
Hari itu, Blaire lalui dengan biasa saja. Dia sudah mulai dapat mengobati sedikit demi sedikit, sambil menata hatinya yang hancur dan terasa sakit. Blaire hanya berpegangan pada satu keyakinan yang membuatnya bisa tetap berdiri, yaitu kembalinya seorang Christian meskipun tak pasti apakah itu akan terjadi atau tidak.
Setelah menutup kedai, Blaire tak langsung pulang. Dia berjalan sendiri menyusuri trotoar, melawan udara dingin yang teramat menusuk. Gadis itu melangkah sambil sesekali menunduk, menatap jalanan yang dia lewati.
Beberapa saat kemudian, langkah kaki Blaire berhenti di depan sebuah apotik. Gadis itu masuk ke sana untuk membeli sesuatu. Tak berselang lama, dia keluar lagi sambil memasukkan benda yang dirinya beli ke dalam saku mantel. Blaire pun melanjutkan langkah menuju jalan pulang. Saat itu, ponsel miliknya terasa bergetar. Blaire tertegun sejenak untuk memeriksa.
Adalah sebuah panggilan masuk dari Aaron. Dia mengajak Blaire bertemu di sebuah cafe, yang biasa mereka datangi untuk sekadar berbincang santai sambil mengisi waktu. Blaire pun setuju. Dia yang tadi berniat untuk pulang, akhirnya memutuskan berbelok ke arah lain.
Ternyata Aaron telah menunggu di sana, pada meja tempat biasa mereka tempati setiap ke sana. "Kupikir kau belum pulang," ujar Blaire sambil duduk di hadapan pria tampan berambut pirang itu.
"Terima kasih. Kau memang sangat baik. Kuharap kau segera memiliki seorang kekasih yang sebaik dirimu." Blaire tertawa pelan sembari memeriksa ponselnya. Sebuah pesan masuk dari Viktorija, yang mengabarkan bahwa dia sedang dalam perjalanan pulang.
"Aku tidak memikirkan gadis lain selain dirimu, Blaire," balas Aaron dengan tatapan lekat kepada gadis cantik di hadapannya. Setelah itu, dia pun tertawa renyah. "Tidak perlu dijawab, karena aku hanya bercanda," ralat pria itu dengan segera.
"Jangan khawatir, aku tak akan pernah menganggapnya dengan serius," balas Blaire. Obrolan mereka terhenti sejenak, ketika seorang pelayan datang dan menyuguhkan dua cangkir kopi pesanan Aaron tadi.
Untuk beberapa saat, kebisuan menghiasi kebersamaan mereka berdua. Blaire mengarahkan pandangan ke luar jendela kaca, pada kesibukan orang-orang yang berlalu-lalang dalam cuaca sedingin ini.
"Kulihat sepertinya pria itu menyukaimu, Blaire," ucap Aaron kembali membuka percakapan.
"Siapa?" tanya Blaire mengalihkan perhatiannya kepada Aaron.
"Temanmu itu. Siapa? Adam," jawab Aaron setelah meneguk minumannya. Dia tampak memasang wajah yang cukup serius.
Namun, lain halnya dengan Blaire. Gadis itu justru menanggapi dengan sebuah tawa renyah. "Astaga." Blaire berdecak pelan. "Aku dan Adam sudah berteman sejak lama. Kami selalu menjaga hubungan baik. Adam sahabat yang sangat pengertian. Namun, meski begitu aku tak berminat untuk menjalin hubungan yang lebih dengan dia ," tuturnya menjelaskan.
"Aku yakin pasti banyak pria yang menyukaimu, Blaire," ujar Aaron lagi.
"Aku tidak memikirkan hal itu," sahut Blaire. Dia terlalu malas untuk membahas masalah perasaan dengan siapa pun. Blaire pun mengalihkan perbincangan pada pembahasan lain, yang dapat membuat dia merasa jauh lebih rileks. Setidaknya, Aaron bisa menghadirkan sedikit tawa menghibur dari apa yang tengah mereka bicarakan saat itu.
Tanpa terasa, petang pun menjelang. Mereka memutuskan untuk pulang. Keduanya berjalan berdampingan sambil melanjutkan percakapan tadi. Keakraban itu terlihat sangat indah, begitu hangat. Perasaan berbeda bagi Blaire, ketika dirinya menyusuri jalanan bersama Christian yang lebih banyak diam. Tanpa canda, apalagi tawa lebar.
"Tidak perlu mengantar, karena rumahku sudah terlihat dari sini," ucap Blaire saat mereka berada tepat di jalan depan kediaman keluarga Walsh. Setelah itu, Blaire segera mengulum bibirnya. Hal sama yang pernah dia katakan kepada Christian dulu. Gadis itu pun tersenyum kelu.
"Baiklah. Aku akan mengawasimu dari sini," balas Aaron meskipun Blaire sudah berlalu dari hadapannya. Dia melambaikan tangan, meski Blaire terus melangkah dan tak mendengar atau menoleh lagi. Sementara Aaron masih berdiri mematung, hingga Blaire berbelok ke pekarangan rumahnya. Setelah memastikan Blaire tak terlihat lagi, barulah Aaron membuka pintu pagar halaman.
......................
Pagi-pagi sekali, Blaire telah bangun. Gadis itu segera masuk ke kamar mandi, kemudian duduk di atas closet. Dia menampung urine pertamanya pada sebuah wadah plastik kecil. Setelah itu, Blaire mulai menggunakan alat pendeteksi kehamilan yang kemarin dia beli dari apotik. Resah rasa hati gadis itu menunggu hingga beberapa saat. Pada akhirnya Blaire pun terdiam, ketika mendapati dua garis merah pada alat tersebut.