Edinburgh

Edinburgh
It's Never Too Late



Setelah mengirimkan pesan tadi kepada Cathy, Aaron segera menonaktifkan ponselnya. Dia lalu menghampiri Blaire, kemudian memeluk gadis itu dari belakang. Aaron juga mencium pundak, kemudian berpindah ke leher Blaire yang jenjang. Sesuatu yang tak biasa pria itu lakukan terhadap ibunda Ainsley tersebut. "Aku merindukanmu, Sayang," bisik Aaron. Desah napasnya menghangat di telinga gadis cantik berambut pirang tersebut.


Semenjak kerap menuntaskan hasrat biologisnya bersama Cathy, Aaron terlihat jauh lebih bergairah. Hal itu membuat dia tak merasa canggung lagi untuk menyentuh Blaire. Entah Aaron melakukan itu karena merasa bahwa gadis yang sedang drinya hadapi adalah Cathy, atau memang naluri kelelakiannya sudah terbangkitkan.


"Aaron ...." Blaire yang tak pernah mendapat perlakuan seperti tadi, merasa risih dan juga tak nyaman. Terlebih karena saat itu dia kembali mencium aroma parfum yang sama, seperti waktu kembali dari rumah sakit kemarin.


Blaire baru saja akan mengatakan sesuatu kepada calon suaminya. Akan tetapi, Christian tiba-tiba sudah berada di dalam dapur. "Maaf," ucap pria asal Meksiko itu. Dia meletakkan sesuatu di atas meja makan. "Aku melihat pintunya agak terbuka. Jadi, kuputuskan untuk langsung masuk saja." Christian yang tak suka melihat keintiman antara Blaire dengan Aaron, segera berlalu ke dalam kamar yang berada di dekat dapur. Niatnya adalah untuk melihat keadaan Ainsley. Namun, anak itu ternyata masih tertidur dengan lelap.


Christian pun kembali ke tempat di mana Blaire berada tadi. Saat itu, gadis cantik tersebut sudah selesai dengan aktivitasnya. Sedangkan Aaron berdiri tak jauh dari Blaire, dengan tatapan yang segera teralihkan sejak Christian muncul di sana. "Aku membawakanmu makan siang, Blaire. Untuk Ainsley juga," ucap Christian tanpa ekspresi yang terlalu berlebihan.


"Terima kasih, Chris. Sebenarnya aku sudah makan siang. Akan tetapi, tak apa. Siapa nanti perutku lapar lagi." Blaire tesenyum kecil kepada ayah dari putranya, kemudian melirik Aaron yang saat itu sedang beradu pandang dengan Christian.


“Apakah kau akan kembali ke tokomu?” tanya Aaron berbasa-basi.


“Apakah kau keberatan jika aku tetap tinggal di sini?” Christian malah balik bertanya.


“Tidak. Tentu saja tidak," jawab Aaron tenang.


"Lagi pula, aku tidak punya hak untuk mengusirmu, karena ini bukan rumahku,” kelakar pria berambut pirang itu sambil tertawa pelan.


Akan tetapi, Christian hanya menanggapinya dengan wajah datar. Dia seperti tak berniat untuk tersenyum sama sekali. “Kalau begitu aku akan beristirahat dan makan siang di sini,” sahutnya. Christian mendekat ke meja makan, lalu membuka kotak berisi makanan yang rencananya akan dia berikan kepada Blaire. Dengan tenang, pria itu menyantap isi kotak tadi sambil sesekali melirik Aaron.


“Astaga.” Aaron berdecak pelan, lalu menoleh pada calon istrinya. “Kau harus bersabar, Blaire. Untuk saat ini, kita belum bisa memiliki privasi,” sindir pria tampan berambut pirang itu, yang sejatinya dia tujukan pada Christian.


“Namun, tenang saja. Semua akan berubah jika kita sudah menjadi sepasang suami istri dan tinggal di rumah sendiri. Kita bisa berbuat apapun tanpa terganggu oleh siapa pun,” imbuhnya sambil tertawa.


“Sekarang pun kalian bisa berbuat apa pun yang kalian inginkan. Anggap saja aku tidak ada di sini,” sahut Christian dengan tak acuh. Dia masih asyik mengunyah makanannya.


“Ya ampun.” Blaire mende•sah pelan. Entah kenapa dia merasa begitu lelah menghadapi kedua pria itu, sehingga dirinya tak bisa berkata-kata. Blaire pun hanya menggaruk kening yang tak gatal.


“Baiklah, Blaire. Nanti kita lanjutkan lagi semua yang sempat tertunda. Sebaiknya aku pergi dulu. Lagi pula, aku belum menemui ibuku karena tadi langsung kemari. Kudengar kau menghubunginya." Aaron mengalihkan perhatian sepenuhnya kepada Blaire yang ternyata tengah memandang kepada Christian.


"Ah ya." Blaire segera mengalihkan tatapan kepada calon suaminya. "Aku menanyakan keberadaanmu, tapi nyonya Walsh mengatakan bahwa kau pergi ke Glasgow sejak semalam dan menginap di sana," sahut gadis itu menerangkan.


"Oh begitu." Aaron manggut-manggut. Dia bergerak semakin mendekat kepada Blaire, lalu mencium bibir ibunda Ainsley tersebut. Sebuah ciuman yang dirasa berbeda oleh gadis itu. Tak biasanya, apa yang Aaron lakukan terasa begitu panas dan penuh gairah. Putra sulung Anette Walsh tersebut, tak sungkan untuk berbuat demikian meski di hadapan Christian.


“Aku akan menghubungi wedding planner kita, untuk memberitahukan pada mereka agar mempercepat persiapan pernikahan,” ujar Aaron setelah melepaskan tautannya.


“Terserah kau. Aku menurut saja, Aaron. Lakukan apapun yang menurutmu merupakan keputusan terbaik,” sahut Blaire. Dia memaksakan untuk tersenyum. Ada rasa pilu yang mendera di sudut hatinya, ketika melihat perubahan pada wajah Christian yang tampak begitu terluka.


“Very well, Love. Aku pulang dulu. Sejak semalam aku tidak mengintip kamarku,” kelakar Aaron lagi. Dia sempat mengangguk pada Christian sebelum berlalu dari hadapan Blaire dan juga Christian yang sempat tertegun.


Suasana sempat hening, setelah pria tampan bermata biru itu meninggalkan Christian dan Blaire berdua saja di dalam dapur. Blaire menjadi salah tingkah saat menghadapi tatapan Christian yang tajam, tapi terlihat kecewa.


“Jadi, seperti inikah akhirnya?” Christian tersenyum simpuk, lalu meletakkan sendok yang sedari tadi dia pegang. Makanan di kotak itu masih tersisa lebih dari separuh. Akan tetapi, pria rupawan itu seakan kehilangan selera untuk melanjutkannya.


“Siapa yang memaksamu, Blaire?” tanya Christian dengan nada bicara yang terdengar sedikit ketus. “Bukankah nyonya Sutherland sudah membebaskanmu untuk mengambil keputusan sesuai dengan yang kau inginkan?" Tatap mata pria asal Meksiko itu, masih terarah sepenuhnya kepada gadis cantik yang telah mengubah dunianya.


“Chris, aku ….”


“Bagaimana rasanya saat dia menciummu? Apakah kau menyukainya?” sela Christian memotong kata-kata Blaire begitu saja.


“Aku tidak akan menjawab pertanyaan konyolmu!” sentak Blaire yang merasa tersinggung atas apa yang Christian ucapkan padanya. Namun, sesaat kemudian gadis cantik tersebut segera menyesali sikapnya tadi. “Maafkan aku,” ucap Blaire kemudian dengan pelan.


“Aku sungguh-sungguh mengkhawatirkanmu, Blaire. Aku tidak tahu akan berakhir seperti apa, pernikahan yang hanya didasari oleh rasa ingin membalas budi.” Christian menggeleng pelan, lalu memijat pelipisnya.


“Aku yakin akan dapat melalui semua ini dengan baik. Aku yakin … dengan cinta tulus Aaron, kami dapat membangun rumah tangga yang bahagia,” sahut Blaire menanggapi keraguan pria di hadapannya. Dia kembali memaksakan diri untuk tersenyum, walaupun hatinya bagaikan teriris sembilu saat mengucapkan kata-kata itu.


“Kau membuatku ingin melakukan sesuatu yang gila,” geram Christian. Dia memukul meja makan dengan pelan, sebelum berdiri dan mendekat kepada Blaire. “Di upacara pemberkatan pernikahan kalian nanti, aku akan berdiri dan berteriak paling lantang untuk menyatakan keberatan atas penyatuan kalian,” ancamnya.


“Tolonglah, Chris. Jangan membuat hidupku semakin sengsara,” pinta Blaire dengan raut memohon. Dia sampai harus mencengkeram bagian depan kemeja Christian untuk menghalau segala kegusaran yang mengelayuti kini.


“Berhentilah bersikap bodoh dan menyusahkan diri sendir. Jika aku diam saja, itu sama artinya dengan membiarkan kau hidup sengsara, Blaire. Aku mencintaimu dan aku akan berjuang untuk itu!” tanpa sadar, Christian mencengkeram erat kedua lengan ibunda dari Ainsley tersebut.


“Dulu aku melakukan kesalahan dengan meninggalkanmu. Akan tetapi, sekarang tidak lagi. Aku tidak akan pergi dari sisimu, meskipun kau memaksa dan seluruh dunia menentangku. Aku tidak akan mundur lagi, Blaire. Aku tak akan lagi menghilang!” tegas Christian.


“Semua sudah terlambat, Chris.” Blaire menggeleng lemah untuk menyanggah ucapan pria tampan asli Meksiko tersebut.


“Tak pernah ada kata terlambat bagiku. Kita lihat saja nanti.” Christian melepaskan cengkeramannya dari lengan Blaire. Sorot mata yang dingin dia layangkan pada gadis yang teramat dirinya cintai. “Aku kembali ke toko. Nanti malam, aku akan menginap di sini,” ujarnya, sambil melangkah masuk ke kamar Ainsley. Dia menciumi pipi putra semata wayangnya yang masih terlelap, sebelum meninggalkan kediaman Blaire.


Sementara itu di dalam kamar, Aaron terlihat begitu gelisah saat menyalakan kembali ponsel yang tadi sempat dia matikan. Tiga buah pesan masuk berturut-turut, dan semuanya berasal dari Cathy. Dia menarik napas panjang lebih dulu, sebelum membuka pesan tersebut satu per satu.


Kau benar-benar akan menikahinya? Kau pasti sadar bukan, jika dirimu akan selalu menjadi yang kedua di hati gadis itu.


Aku tak akan memaksamu untuk menerima segala saran yang telah kuberikan dulu. Akan tetapi, jika kau membutuhkan sesuatu, maka datang saja kapanpun dirimu menginginkannya.


Kita masih memiliki waktu untuk bersenang-senang, sebelum kalian berdua benar-benar terikat dalam sumpah pernikahan.


Aaron terdiam beberapa saat setelah membaca ketiga pesan tadi. Kata-kata terakhir yang Cathy kirimkan, benar-benar telah menggelitik naluri kelelakiannya. Pria tampan itu kemudian mengempaskan tubuh ke atas kasur. Dia pun memejamkan mata. Rasa kantuk dan lelah, mendera pria berambut pirang tersebut. Dia baru tertidur sekitar pukul tiga dini hari, setelah melakoni malam yang penuh gairah bersama Cathy.


Harus Aaron akui, bahwa bartender cantik tersebut sudah menjadi sebuah candu baginya. Namun, sisa-sisa perasaan cinta dan penasaran terhadap Blaire tak kalah besar. Aaron pun kembali membuka mata, kemudian mengempaskan napas pelan.


"Kau sudah pulang, Aaron?" Suara Anette telah berhasil membuyarkan segala lamunan sulung dari tiga bersaudara itu.


Aaron segera bangkit dan kembali duduk di ujung tempat tidur. Dia menoleh kepada sang ibu, yang saat itu hanya menyembulkan kepalanya sedikit dari balik pintu. "Masuklah, Bu." Aaron tersenyum lembut. Seperti biasa, pria itu selalu terlihat manis.


Setelah mendapat izin dari sang anak, Anette pun membuka pintu dengan tidak terlalu lebar. Wanita paruh baya itu berjalan masuk, untuk menghampiri Aaron. Anette kemudian duduk di sebelah putranya. "Apa kau baik-baik saja, Nak?" Pertanyaan sederhana, tapi terdengar berbeda di telinga Aaron saat itu.