Edinburgh

Edinburgh
Silhouette



"Pandora?" gumam Blaire pelan. Dia kembali menutup pintu rapat-rapat, kemudian menguncinya. "Siapa Pandora?" tanya gadis itu sambil terus berpikir. Blaire kembali menyibakkan tirai, kemudian melihat ke pekarangan. Christian sudah tak ada di tempatnya tadi. Pria itu pergi dengan begitu cepat. Namun, anehnya mobil mini cooper milik pria itu masih berada di jalan depan rumah Blaire.


Christian tak mungkin lupa dengan barang sebesar itu. Bisa jadi dia melakukan hal demikian untuk mengecoh para penguntit yang bisa datang kapan saja tanpa Blaire sadari. Gadis itu pun tak mau ambil pusing. Dia memilih untuk kembali ke sofa dan membuka pesan masuk dari sang ibu.


Seperti biasa, Viktorija mengingatkan anak gadisnya untuk makan siang serta menghabiskan sisa obat yang harus Blaire minum. Sesuai anjuran dari dokter, Blaire harus menghabiskan obat antibiotik yang telah diresepkan untuknya. Namun, gadis itu sudah terlalu bosan untuk meminum obat. Blaire pun memilih mengambil remote dari atas meja, kemudian menyalakan televisi. Dia asyik menonton, hingga tanpa sadar dirinya tertidur di sana.


Hampir seharian itu Blaire tertidur di atas sofa. Dia baru tersadar, ketika terdengar suara sang ibu yang telah berdiri tak jauh darinya. Viktorija memperhatikannya dengan tatapan aneh. "Kau belum berganti pakaian sejak kemarin malam." Wanita paruh baya berambut pirang sebahu itu mengangkat sebelah alisnya.


Dengan malu-malu, Blaire bangkit dari atas sofa. "Aku akan segera ke kamar," pamitnya. Gadis itu kemudian meraih sling bag yang tergeletak begitu saja di atas meja. Dia pun berbalik.


"Blaire," panggil Viktorija yang membuat gadis dua puluh tiga tahun tadi segera menghentikan langkahnya, ketika dia akan menaiki undakan anak tangga. Blaire pun menoleh. Dari raut wajah serta bahasa tubuh yang ditunjukkan oleh Viktorija, si pemilik rambut pirang tersebut yakin bahwa sang ibu akan bertanya macam-macam terhadap dirinya.


"Aku harus berganti pakaian dulu, Bu," sahut Blaire mencari alasan. Dia lalu kembali membalikkan badan dan bermaksud untuk melanjutkan langkah ke lantai atas. Namun, niat itu harus dirinya urungkan, ketika Viktorija terdengar kembali berbicara. "Apa lukamu sudah membaik saat ini?" tanyanya.


"Um ... ya, begitulah," sahut Blaire enteng.


"Kalau begitu, besok kembalilah ke kedai. Aku sangat kewalahan jika melakukan segalanya seorang diri," ujar Viktorija.


Blaire terdiam sejenak. Dia memperhatikan paras cantik ibunya yang seakan tak berubah, dari semenjak dirinya masih anak-anak hingga kini berusia dua puluh tiga tahun. “Astaga,” keluh gadis itu seraya kembali menuruni anak tangga. Dia lalu mendekat kepada Viktorija. “Maafkan aku karena terlalu sibuk dengan hal-hal tak penting di luar sana, sampai-sampai aku kurang memperhatikanmu, Bu," sesalnya.


Blaire memeluk sang ibu erat-erat. Dalam hati, dia bertekad untuk tidak lagi terobsesi dengan sang tetangga tampan, yang selalu saja berhasil mengacaukan hati dan pikirannya. Terlebih, Christian telah menyebut nama seorang wanita dalam perbincangannya tadi di telepon.


“Kau yang paling kusayangi di dunia ini, Bu,” bisik gadis itu tepat di telinga Viktorija


“Tak perlu berlebihan seperti itu, Blaire. Adalah hal yang wajar jika kau mulai merasakan jatuh cinta dengan seseorang. Namun, jangan terlalu berlebihan. Apalagi sampai merugikan dirimu sendiri. Mencintai lah dengan sewajarnya. Jika suatu saat nanti terjadi hal yang terburuk sekalipun, misalkan dia pergi meninggalkanmu, maka kau juga tak akan terlalu merasa terluka. Apa yang kau rasakan tak akan terlalu menyakitkan,” saran Viktorija sembari menepuk-nepuk lembut punggung putri semata wayangnya.


“Aku akan mengingatnya, Bu.” Blaire mengecup pipi sang ibu, sesaat sebelum dirinya kembali menaiki anak tangga menuju kamar. “Aku tidak akan terobsesi lagi padamu, Chris,” ucap gadis itu pelan ketika dia telah tiba di dalam kamar. Blaire kemudian membuka lemari pakaian dan berganti pakaian.


Niat awal yang semula hanya berganti baju, lalu turun membantu sang ibu di dapur, seketika bergeser ketika dia melihat jendela kamar yang terbuka. Blaire lalu menutupnya dengan terheran-heran. “Mungkin ibu tadi lupa tidak memeriksa jendela waktu hendak berangkat,” ujarnya pada diri sendiri.


Blaire sudah hendak membalikkan badan saat dirinya menangkap sekilas sorot lampu yang berasal dari luar rumah. Gadis itu mendekat lagi ke arah jendela sambil sedikit menyibakkan tirai. Diam-diam dia mengintip dan mendapati mobil Christian yang terparkir di halaman depan rumahnya. Mobil itu tampak melaju pelan. Entah akan dibawa ke mana kendaraan tersebut oleh sang pemilik.


“Blaire! Kenapa lama sekali? Apa kau tertidur lagi?” seru Viktorija dari lantai bawah, membuat Blaire harus menghentikan angan-angannya dan kembali pada kenyataan.


“I’m coming (aku datang)!” balas Blaire sembari bergegas menuruni tangga. Sudah menjadi kebiasaan bagi dia dan sang ibu untuk memasak makan malam berdua, lalu menikmatinya bersama-sama. Mereka pun menghabiskan malam itu sama seperti malam-malam sebelum kehadiran tetangga tampan yang membuat Blaire tergila-gila.


Keesokan paginya, Blaire yang sudah merasa jauh lebih baik, kembali membantu Viktorija di kedai. Sebisa mungkin dia menghilangkan bayangan berlebih atas sosok Christian. Blaire sudah memilih untuk menuruti nasihat sang ibu tercinta.


Saat berjalan melintasi depan rumah Christian, Blaire tanpa sengaja menoleh dan sekilas menangkap bayangan seseorang yang berdiri di balik jendela ruang tamu. Sosok itu langsung menghilang, ketika Blaire berhenti sejenak dan menghadapkan badan seluruhnya ke arah rumah pria tampan nan misterius tersebut.


“Blaire, kedai kita bukan di situ,” tegur Viktorija saat putrinya melangkah melewati jalan setapak yang membelah halaman rumah Christian, lalu berhenti di depan pintu depan.


“Blaire!” Viktorija mulai kesal melihat tingkah putrinya yang mengetuk pintu rumah Christian cukup kencang. “Tuan Alvarez sudah berangkat lebih awal. Aku melihatnya tadi saat pulang jogging!” seru janda cantik tersebut dengan suara tertahan.


“Benarkah?” Blaire langsung menoleh pada sang ibu. “Lalu kenapa aku merasa melihat bayangan seseorang di dekat jendela. Aku takut jika ada penjahat yang kembali menerobos masuk tanpa permisi ke dalam rumahnya," sambung gadis itu.


“Tidak ada siapa pun di sana, Blaire. Kau mungkin salah lihat. Sudahlah. Ayo berangkat. Ini sudah terlalu siang,” ajak Viktorija setengah memaksa.


“Baiklah.” Blaire mendengus pelan, lalu mengikuti langkah ibunya menuju kedai. Sepanjang jalan, gadis itu menunjukkan wajah murung. Tak seperti biasanya, Blaire yang selalu berjalan penuh percaya diri, kini lebih banyak menunduk sambil memperhatikan alas kakinya yang beradu dengan permukaan trotoar.


Tanpa terasa, mereka sudah tiba di depan kedai. Saat Viktorija mengangkat rolling door agar terbuka lalu membuka kunci pintu kedai, Blaire malah sibuk mengawasi toko barang antik milik Christian yang masih tutup. “Bu, bukankah ibu tadi mengatakan bahwa Chris sudah berangkat lebih dulu?” tanyanya, bersamaan dengan Viktorija yang berhasil membuka kunci.


“Iya. Dia bahkan sempat menyapaku tadi dari dalam mobilnya,” jawab Viktorija sambil membalik plakat sehingga memperlihatkan tulisan ‘open’.


“Uhm, kurasa Chris tidak menuju toko.” Blaire yang awalnya sudah berada di dalam kedai, keluar lagi ke depan toko Christian. Beberapa saat kemudian, dia kembali ke kedai. “Tokonya tutup, Bu. Kulihat dia juga tidak berada di dalam sana.” Wajah cantik itu bersungut-sungut. Asal-asalan dia meraih apron yang sudah tersedia di samping meja kasir, kemudian memakainya.


“Lalu apa masalahnya, Blaire? Bisa saja dia sedang ada keperluan ke luar kota. Lagi pula, itu bukan urusan kita,” tegas Viktorija.


“Ya, Ibu benar. Chris bukan urusan kita,” sahut Blaire. Mulutnya bisa saja mengiyakan kalimat sang ibu. Namun, dalam hati Blaire sadar bahwa dirinya amat mengkhawatirkan pria rupawan tersebut.