
“Apa? Jangan bicara sembarangan, Nona! Putraku akan melangsungkan upacara pemberkatan beberapa saat lagi bersama calon pengantinnya!” Anette yang tak terima dengan ucapan Cathy, segera maju dan mendekat ke arah gadis itu.
Sorot mata tajam, dia layangkan kepada gadis cantik berambut pirang, yang tak terpengaruh dengan nada bicara keras ibunda Aaron tersebut. Namun, tak lama kemudian Anette pun terdiam. Wanita paruh baya tersebut mengalihkan pandangan kepada putra sulungnya yang masih duduk terpekur. “Aaron?” Suara Anette terdengar bergetar.
“Aku tak akan memintamu untuk menikahiku, Aaron. Aku kemari hanya untuk memberitahu bahwa kau akan menjadi ayah. Kau tak perlu merasa terbebani akan hal itu. Silakan lanjutkan rencana pernikahanmu dengan Blaire.” Cathy beranjak dari tempatnya. Tanpa banyak bicara lagi, gadis itu kemudian membalikkan badan. Dia bermaksud untuk melangkah ke dekat pagar.
“Cathy,” panggil Aaron pelan. Suara beratnya berhasil menghentikan gerak gadis cantik tadi. Namun, Cathy tak menoleh. Posisi gadis yang mengaku tengah mengandung itu masih berdiri membelakangi Aaron yang berjalan ke arahnya. Calon suami Blaire tersebut kemudian meraih tangan Cathy. Tanpa diduga, Aaron menuntun si gadis keluar rumah.
Merasa penasaran dengan apa yang akan Aaron lakukan, Anette pun segera menyusulnya. Dia menaikkan bagian bawah gaun panjang yang dirinya kenakan, agar tak menjadi penghambat dalam melangkah. Namun, gerak kaki wanita paruh baya tersebut seketika terhenti, saat melihat Aaron membawa Cathy ke rumah Keluarga Shuterland. Anette pun menarik napas dalam-dalam. Dia harus menenangkan diri, sebelum melanjutkan langkahnya memasuki halaman asri kediaman Viktorija.
Di dalam sana, Blaire sudah berdiri dengan gaun putih yang indah. Baju pengantin itu didesain dengan sangat sederhana, tanpa ada aksen dan hiasan apapun. Namun, ia masih terlihat cantik dan sangat elegant, saat dikenakan oleh ibunda Ainsley tersebut.
Sedangkan Viktorija berdiri tepat di sebelah sang putri yang akan segera melepas masa lajang. Kedua wanita berambut pirang tadi terpaku memandang Aaron, yang masuk ke rumah dengan membawa seorang gadis cantik. Gadis yang Blaire ketahui sebagai sahabat dari calon suaminya.
“Cathy,” sapa Blaire dengan hangat. Dia melemparkan senyuman ramah kepada gadis yang pernah ditemuinya sekali, saat berada di Glasgow. “Kau ada di sini?”
Cathy membalas senyuman ramah yang dilayangkan Blaire terhadap dirinya. Gadis cantik yang berprofesi sebagai bartender tersebut, pada awalnya terlihat agak kikuk. Perhatian Cathy kemudian tertuju kepada Viktorija yang memandang dengan raut penuh selidik. Sesaat kemudian, tatap mata gadis bertubuh langsing tadi beralih pada Ainsley yang sedang duduk di sofa. “Apa itu putramu, Blaire?” tanya Cathy.
“Ya. Namanya Ainsley,” sahut Blaire dengan segera.
“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Cathy lagi. Gadis itu mulai terlihat tenang dan biasa saja.
“Sudah semakin membaik,” jawab Blaire. Dia merasa ada sesuatu yang aneh. Namun, Blaire masih menerka-nerka. “Apa kau baik-baik saja, Aaron? Seharusnya kau tak datang kemari pada saat sekarang,” ujar Blaire dengan senyuman aneh di wajahnya.
“Seharusnya aku menunggumu di hadapan pendeta, tapi ….” Aaron menjeda kata-katanya sejenak.
“Tapi apa?” tanya Blaire. Perhatiannya seketika teralihkan pada Anette yang baru masuk dan berdiri di dekat pintu. Pertanyaan dari rasa heran dan penasaran Blaire kian bertambah, saat menatap raut wajah Anette yang terlihat tak biasa.
“Tapi aku harus menemuimu sebelum menghadap pendeta ….”
“Aaron ….” Suara Anette terdengar begitu lirih, menyela ucapan sang anak. Anette tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi, andai Aaron mengungkapkan kebenaran yang baru mereka ketahui.
“Blaire, maafkan aku karena harus membatalkan pernikahan kita,” ucap Aaron dengan lugas, tanpa basa-basi terlebih dulu.
“Lelucon yang tidak lucu, Aaron,” tegur Viktorija. Dia tak suka dengan ucapan calon menantunya.
“Ini bukan lelucon, Nyonya Shuterland. Aku akan membebaskan Blaire kali ini. Benar-benar merelakan dia, karena ada seseorang yang jauh lebih membutuhkan kehadiranku di dekatnya.” Aaron melirik Cathy yang saat itu sedang beradu pandang dengan Blaire. Kedua gadis cantik berambut pirang tersebut seakan tengah saling membaca pikiran masing-masing.
“Jadi, wangi parfume itu milikmu, Cathy?” tanya Blaire dengan tiba-tiba, setelah beberapa saat mereka saling terdiam.
Sebuah jawaban yang terdengar menyesakkan bagi Blaire dan juga Viktorija. Sementara Anette berusaha sekuat tenaga agar tetap berdiri. Wanita paruh baya tersebut segera bersandar pada dinding.
“Jadi, inikah pembalasan yang kau berikan padaku, Aaron?” tanya Blaire dengan suaranya yang pelan dan bergetar.
“Aku tidak ....”
“Semua rasa sakit yang kau terima dariku, kau kembalikan lagi dengab berkali-kali lipat lebih sakit,” sahut Blaire memotong kalimat Aaron begitu saja.
“Aku sama sekali tidak bermaksud demikian, Blaire. Aku juga tidak mengira bahwa ....” Aaron mendekat pada Blaire sambil mengulurkan tangan. Dia hendak menyentuh pipi calon istri yang mulai basah oleh air mata.
“Hentikan!” cegah Blaire. “Kau laki-laki keji! Kuharap kau puas menghancurkanku!” Gadis bergaun pengantin putih itu mulai lepas kendali. Dia menepis tangan Aaron begitu keras seraya mendorong tubuh jangkung tersebut.
“Ibu!" Melihat Blaire diliputi emosi, Ainsley mulai ketakutan dan menangis.
“Ayo. Kita ke kamar, Nak. Biarkan ibumu berbincang dulu dengan paman,” ucap Viktorija yang merasa bahwa suasana semakin tak terkendali. Dia segera membawa bocah berusia lima tahun itu ke kamarnya.
“Kau tidak tahu betapa bahagianya aku beberapa hari terakhir ini, Aaron. Dari awal aku sudah memantapkan pilihan padamu. Kujalani semuanya dengan sepenuh hati. Aku mengorbankan cinta, rasa bahagia, dan angan-anganku agar bisa bersamamu. Aku sudah membayangkan berdiri di altar yang seharusnya akan terjadi beberapa saat lagi.” Blaire terengah saat melontarkan kata-kata. Dadanya terasa begitu sesak ketika harus kenyataan menyakitkan.
“Maafkan aku, Blaire. Kita telah saling menyakiti satu sama lain. Apa yang Cathy ucapkan benar bahwa aku terlalu memaksakan diri. Aku berharap terlalu banyak darimu.” Aaron menunduk lesu, kemudian bersimpuh begitu saja di depan kaki Blaire.
“Aaron,” bisik Cathy lirih. Kedua tangannya berusaha merengkuh pundak pria yang selama ini menganggap dirinya sebagai seorang sahabat.
“Aku benar-benar merasa bahagia mengenakan gaun pengantin ini, Aaron. Aku sudah membayangkan akan dimiliki oleh pria sebaik dirimu.” Suara Blaire terdengar semakin bergetar. Seketika Aaron mendongakkan wajah dan menatap Blaire dengan tatapan pilu.
“Ternyata, pria yang kuanggap baik telah mencampakkanku tepat beberapa saat menjelang pernikahan.” Blaire tertawa penuh kegetiran. Entah apa yang lucu. Namun, dia sudah tak sanggup lagi berpikir. Apakah Blaire harus bersedih atau justru merasa bahagia.
“Pembalasanmu benar-benar sempurna,” desis Blaire. Dia lalu mengangkat bagian bawah gaun putihnya. Blaire kemudian berjalan melewati Aaron, yang masih berada dalam posisi bersimpuh. Gadis itu juga tak memedulikan Anette yang menyandarkan tubuhnya di ambang pintu. Tanpa menoleh lagi, Blaire bergegas keluar dari pintu depan dan berlari menuju jalan perumahan.
“Blaire!” seru Aaron dengan nyaring. Dia berlari mengejar gadis itu. “Blaire, tunggu!” Langkah Aaron yang panjang, berhasil menyusul Blaire dengan mudah. Terlebih karena gadis itu kesusahan memegang bagian bawah gaunnya.
“Blaire! Aku tak memiliki pilihan lain.” Tangan kanan Aaron meraih pergelangan tangan Blaire. Namun, gadis itu segera menepiskannya. Dia bahkan menampar pipi calon suaminya. Hal itu membuat Aaron diam terpaku.
“Jangan mengikutiku! Jika kau memang tak ingin menyakitiku lebih jauh lagi, maka berhentilah menampakkan wajahmu di hadapanku!” Pelan dan penuh penekanan, ucapan Blaire terhadap Aaron.
Selesai berkata demikian, Blaire berbalik meninggalkan Aaron yang masih terpaku di tempatnya. Dia berjalan tak tentu arah. Riasannya pun sudah luntur. Maskara hitam juga mengotori bagian bawah mata. Blaire tak peduli lagi saat beberapa pasang mata melihatnya dengan sorot keheranan.
Dia terus berjalan dengan kaki terseok, bahkan bagian bawah gaun putihnya sudah kotor dan juga terlihat lusuh. Tanpa Blaire sadari, langkah kakinya membawa dia hingga ke depan toko barang antik milik Christian.