
Setelah menjalani serangkaian proses sebelum melaksanakan transfusi darah, Christian pun dinyatakan siap untuk melakukan hal itu. Berkantong-kantong darah telah disiapkan, sebelum tim dokter melakukan tindakan operasi terhadap anak malang yang hingga kini masih dalam keadaan kritis. Namun, Christian selalu menekankan pada dirinya untuk tetap berpikir positif. Apapun akan dia lakukan demi menyelamatkan nyawa Ainsley, putra semata wayangnya tersebut.
Setelah tim dokter siap, maka tindakan operasi pun segera dilangsungkan. Berjam-jam lamanya Christian dan yang lain menunggu. Sambil duduk, pria itu memejamkan mata. Tubuhnya terasa begitu lemas setelah menyumbangkan berliter-liter darah.
"Minumlah, Chris." Viktorija menyodorkan teh hangat dalam kemasan kepada Christian.
Seketika, pria bermata abu-abu itu pun terbangun. Dia lalu memandang tajam kepada ibunda Blaire tersebut. Setelah itu, tatapannya beralih pada cup berisi teh hangat tadi. "Terima kasih, Nyonya," balas Christian pelan dan datar.
"Aku akan pulang sebentar untuk membawa baju ganti dan juga barang-barang lainnya. Aaron yang akan mengantar. Jadi, kau berjaga di sini dengan Blaire," ucap Viktorija. Nada bicara wanita paruh baya tersebut kali ini terdengar jauh lebih halus, tak seketus biasanya.
Sementara Christian tak menjawab. Dia hanya mengangguk pelan. Dilihatnya Blaire yang belum berganti pakaian. Gadis itu masih mengenakan gaun pengantin yang sudah ternoda oleh darah. Blaire juga tampak sangat kacau. Ibunda Ainsley tersebut tak henti-henti menangis sejak tadi, meskipun hanya sebuah isakan pelan.
"Sebelum ke rumah, kita harus ke butik dulu. Aku meninggalkan barang-barang milik Blaire di sana. Gaun pengantin itu juga belum dibayar." Aaron melirik sejenak pada calon istrinya yang terlihat sangat menyedihkan. Setelah itu, dia menoleh kepada Viktorija. Aaron memberi isyarat sebagai pertanda bahwa sudah waktunya untuk pergi.
Viktorija pun mengangguk. Namun, sebelum pergi bersama Aaron, dia sempat menghampiri Blaire dan tampak mengatakan sesuatu kepada gadis itu. Sedangkan Blaire hanya menanggapi dengan sebuah anggukan pelan. Dia tak memiliki semangat, bahkan hanya sekadar untuk mengucapkan kata 'iya'. Setelah itu, Viktorija pun berlalu bersama Aaron.
Beberapa saat berlalu, di ruang tunggu itu hanya ada Christian bersama Blaire. Namun, tak ada tegur sapa apalagi percakapan di antara mereka berdua. Blaire terlarut dalam kesedihan serta penyesalan atas keteledorannya. Sedangkan Christian lebih memilih untuk beristirahat sambil kembali memejamkan mata, setelah dia menghabiskan teh hangat yang diberikan oleh Viktorija tadi.
Namun, baru saja pria itu akan terlarut dalam tidurnya, suara seorang pria terdengar berbicara kepada Blaire. Christian pun segera membuka mata. Dia melihat seorang dokter yang menangani operasi Ainsley, berdiri di hadapan Blaire. Karena merasa penasaran, Christian pun segera beranjak dari duduknya, kemudian menghampiri mereka berdua. Dia berdiri tepat di sebelah Blaire.
"Bagaimana keadaan putraku, Dokter?" tanyanya dengan intonasi yang dalam.
"Tidak ditemukan cedera yang serius di kepala putra anda berdua. Transfusi darah yang dilakukan pun sangat membantu. Namun, dengan berat hati kami harus mengatakan bahwa ada sedikit masalah dengan kaki pasien. Dapat dipastikan bahwa proses penyembuhan pasca operasi akan berlangsung cukup lama. Kami sarankan agar pasien selalu menjalani pengobatan dengan rutin." Dokter dengan usia yang sepertinya beberapa tahun di atas Viktorija tersebut, memandang kepada Blaire dan Christian secara bergantian.
“Kurasa itu tidak masalah, asalkan putra kami dapat pulih lagi seperti sediakala. Bukankah begitu, Blaire?” Christian mengarahkan tatapan tajam pada gadis cantik di sebelahnya. Namun, Blaire sama sekali tak menanggapi. Dia masih terlalu shock, sehingga lebih banyak diam dan hanya bisa menangis. Christian pun tak ingin ambil pusing. Dia kembali mengalihkan perhatian kepada sang dokter yang masih mengenakan pakaian operasi.
“Kuharap anda berdua bisa bekerja sama. Situasi seperti sekarang memang terasa berat, apalagi untuk anak seusia dia. Akan tetapi, dengan ketelatenan, maka semua ini pasti akan segera membaik. Peran dan perhatian orang tua sangat diperlukan. Aku yakin anda berdua bisa kompak ....” Dokter itu tak melanjutkan kata-katanya. Dia melihat ke arah Blaire yang masih mengenakan gaun pengantin, sementara Christian hanya mengenakan celana jeans beserta t-shirt yang dilapisi jaket kulit hitam. "Baiklah. Permisi." Dokter itu pun berlalu dari hadapan mereka berdua.
Sepeninggal dokter tadi, tak berselang lama keluarlah Ainsley yang akan dipindahkan ke ruang observasi. Anak itu masih dalam pengaruh obat bius. Blaire dan Christian hanya dapat melihatnya terbaring tak berdaya, dari balik jendela dengan kaca yang melapisinya.
"Apa cucuku sudah keluar dari ruang operasi?" tanya Viktorija yang baru datang bersama Aaron. Anette dan Sabrina pun bahkan ikut serta ke sana. Viktorija kemudian menyodorkan tas berisi pakaian ganti kepada Blaire.
Sementara Christian masih berdiri memandang ke dalam. Dia tak terganggu sama sekali dengan kehadiran Viktorija beserta keluarga Aaron. Namun, Sabrina sempat memandang heran ke arah pria itu. Dia lalu menghampiri Christian dan berdiri di sebelahnya, sambil ikut menatap ke dalam. "Kau juga ada di sini?" tanyanya berbasa-basi. Akan tetapi, Christian tak menanggapi sama sekali. Dia tetap fokus memperhatikan ke dalam ruang observasi. Pria itu bersikap seakan di sana hanya ada dirinya sendiri.
Christian menoleh. Dia menatap lekat kepada Blaire dengan sorot yang begitu dingin. Tanpa diduga, ayah kandung Ainsley tersebut meraih pergelangan Blaire, kemudian membawanya pergi dari sana. Christian berjalan cepat dan setengah menyeret gadis itu. Apa yang dia lakukan, tentu saja telah mengundang perhatian dari yang lainnya.
"Siapa pria itu?" tanya Anette kepada Viktorija.
Namun, calon besannya tersebut tak sempat menjawab, karena dia melihat Aaron yang segera berlari menyusul Christian serta Blaire. "Aku harus memastikan tak ada sesuatu yang terjadi ...." Viktorija membalikkan badan. Dia bermaksud untuk berlalu dari sana. Akan tetapi, tak lama kemudian wanita paruh baya itu kembali menoleh. "Tolong jaga cucuku sebentar," pesannya sebelum benar-benar meninggalkan Anette dan Sabrina yang tampak kebingungan.
Sementara itu, Christian membawa Blaire ke halaman belakang rumah sakit. Dia baru melepaskan genggaman tangannya di sana. Pria tampan tersebut tampak lain. Tatap matanya jauh lebih tajam dari biasa. Sedangkan Blaire mengusap-usap pergelangan yang memerah dan terasa sakit, karena tadi Christian mencengkeram dengan sangat kuat.
"Kenapa kau harus meminta maaf?" Nada bicara pria asal Meksiko itu terdengar sangat mengintimidasi.
"Karena musibah ini terjadi saat Ainsley sedang bersamaku," jawab Blaire.
"Lalu?" Christian tak mengubah sedikit pun nada bicara serta caranya menatap Blaire.
"Aku tahu kau pasti kecewa ...."
"Apa kau terlalu bahagia dengan rencana pernikahan ini sampai-sampai mengabaikan putramu sendiri?" Nada bicara Christian tiba-tiba meninggi, membuat Blaire seketika tersentak kaget. Belum pernah dia mendapati Christian bersikap seperti itu.
"Chris, aku ...." Blaire tak tahu harus berkata apa.
"Aku tidak akan menyalahkanmu, Nona Shuterland," ucap Christian kemudian. Nada bicaranya kembali rendah seperti biasa. "Seharusnya kau titipkan saja Ainsley padaku jika kau akan sesibuk itu!" Nada bicara pria asal Meksiko tersebut kembali meninggi, membuat Blaire kembali tersentak. "Kenapa, Blaire?" Christian mendengus kesal. "Kau dengar apa kata dokter tadi? Apa kau mendengarnya?"
"Hentikan, Chris!" sergah Aaron yang segera menghampiri mereka berdua. Namun, belum sempat pria bermata biru itu semakin mendekat, Christian lebih dulu merentangkan tangan sebagai isyarat agar Aaron tidak mendekat.
"Tetap di tempatmu, Tuan Walsh!" ucap Christian penuh penekanan. "Jangan ikut campur, karena ini bukan urusanmu!" tegasnya.
Aaron pun terpaku melihat aura yang sangat menakutkan dari seorang Christian. Dia tak menyangka jika pria yang selalu terlihat tenang dan tak pernah banyak bicara tersebut akan bersikap seperti saat ini. "Jangan menyalahkan Blaire, Chris," ujar Aaron berusaha membela calon istrinya.
"Sudah kukatakan agar tak ikut campur!" sergah Christian pelan tapi penuh penekanan.