Edinburgh

Edinburgh
A Glass of Tequila



Seperti yang sudah direncanakan oleh gadis-gadis itu sebelum pergi ke pub milik Bridget, mereka mampir sebentar ke kediaman keluarga Fraser. Namun, Blaire dan yang lainnya tak bisa berlama-lama di sana. Selain karena masih banyak tamu yang berdatangan, Adam pun tampak begitu sibuk. Posisinya sekarang adalah kepala keluarga, menggantikan sang ayah yang telah berpulang.


Di sana, Blaire juga bertemu dengan Sylvester Mason, pengacara keluarga Sheldon yang terpandang. Pria itu terus memperhatikan gadis cantik tersebut dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Beruntung, saat itu Blaire segera berpamitan dan bergegas meninggalkan kediaman keluarga Fraser.


Eileen yang mengendarai mobilnya, seakan tak sabar untuk tiba di tempat pesta. Gadis itu melajukan kendaraan dengan kecepatan yang cukup tinggi. Ketika hampir tiba di lokasi, Eileen tiba-tiba menginjak rem, sampai-sampai penumpang di dalamnya terlonjak ke depan.


"Yang benar saja Lee!" protes Blaire dengan cukup keras, sehingga pinggangnya seketika terasa nyeri.


"O-orang itu," tunjuk Eileen. Sandra dan Blaire pun mengikuti arah jari telunjuk sahabatnya. Tepat di depan mobil yang mereka kendarai, seorang pria tinggi besar berbaju serba hitam, menyeringai dan melambai kepada mereka.


"Apa kau mengenalnya?" tanya Eileen pada Sandra.


"Tidak," jawab Sandra dengan pandangan yang lurus mengarah ke depan.


"Bagaimana denganmu, Blaire?" Eileen lalu menoleh kepada Blaire. Gadis itu juga tengah memperhatikan orang yang sama.


"Sepertinya dia bukan penduduk sekitar sini. Aku tak pernah melihatnya. Lagi pula wajahnya tak menggambarkan orang Inggris kebanyakan," sahut Blaire.


"Lalu, untuk apa dia menghalangi laju mobil kita dengan sengaja seperti itu?" Eileen menautkan alisnya karena merasa heran.


"Biar aku yang turun dan berbicara padanya," ujar Blaie seraya membuka pintu mobil.


"Jangan!" cegah Sandra dan Eileen secara bersamaan.


"Kudengar ini adalah salah satu modus kejahatan yang baru. Pelaku pura-pura menghalangi jalan kita, agar si pengendara keluar. Lalu, saat kita turun maka dia akan langsung menyergap dan merampok kita, semua," jelas Sandra dengan mata terbelalak.


"Kalau begitu, putar kemudimu. Kita bisa lewat di sebelahnya," saran Blaire. "Jika dia tetap menghalangi, tabrak saja," cetus Blaire asal. Sementara kedua temannya hanya menanggapi dengan sebuah keluhan pendek.


"Bagaimana jika dia ikut bergeser dan mengikuti arah mobil kita?" pikir Eileen was-was.


"Lakukan saranku tadi," sahut Blaire.


"Kau gila. Aku akan segera berangkat ke London. Jadi, aku tidak mau dan tak akan pernah mengikuti saran konyol seperti itu," tolak Eileen dengan tegas.


"Kalau begitu, kau coba saja pelan-pelan. Bergeserlah," saran Sandra yang kemudian dituruti oleh Eileen. Gadis itu memutar kemudinya dan melintas di sisi pria tadi. Anehnya, si pria ternyata hanya bergeming dan terus memperhatikan kendaraan yang ditumpangi oleh ketiga gadis tersebut.


"Ya, ampun. Banyak sekali drama yang harus kita lalui agar bisa tiba di sini," keluh Eileen seraya melepas sabuk pengamannya setelah mereka berhenti di area parkir pub milik Bridget.


"Setelah ini, semuanya akan berganti dengan keceriaan," ujar Sandra sambil tertawa dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.


Sit and Drink. Itulah pub yang terkenal milik seorang janda kaya bernama Bridget Baker. Pub dengan suasana hangat dengan nuansa cokelat. Semua ornamen yang ada di dalam sana terbuat dari kayu. Suasana hangat kian terasa, dengan adanya lampu gantung antik yang bercahaya kuning temaram.


Ketiga gadis itu sudah turun dari mobil. Mereka juga segera masuk secara bersamaan. Namun, Blaire terpaksa harus kembali ke mobil saat mereka sudah tiba di depan pintu masuk. "Sepertinya jepit rambutku terjatuh di lantai mobil," ucapnya pelan.


"Cepatlah ambil. Kutunggu kau di dalam." Eileen menyerahkan kunci mobil kepada Blaire, yang bergegas kembali ke tempat parkir. Dia mulai mencari hiasan rambut kesayangannya. Sesaat kemudian, benda kecil itu berhasil Blaire temukan di bawah kursi.


Dengan segera, dia meraih jepit rambutnya lalu menutup dan mengunci pintu mobil. Blaire kemudian berbalik dan berjalan masuk ke dalam pub. Namun, tak sampai tiga langkah, seseorang tiba-tiba mencekal lengannya erat dan memaksa dia untuk berbalik. Gadis itu hampir saja berteriak, jika saja tidak menyadari bahwa Christian lah yang melakukan itu.


"Chris?" Blaire terbelalak tak percaya ketika mendapati Christian ada di sana. "Ka-kau datang?" seru Blaire kegirangan. "Ayo masuk," ajaknya begitu antusias.


"Ternyata kau nakal sekali, Nona Shuterland," geram Christian. "Bukankah sudah kukatakan padamu agar kau tidak ke manapun. Dirimu akan lebih aman berada di dalam rumah untuk sementara waktu?" ucapnya penuh penekanan.


"Oh, ya? Lalu, kenapa aku harus menurut padamu? Kau saja tidak mau memberi tahu alasannya." Blaire masih saja mempertanyakan alasan Christian yang terus saja melarangnya.


"Kau ... ikut ke dalam?" ulang Blaire dengan pandangan tak percaya. Hatinya seketika berbunga-bunga. Dia mendapat dua keuntungan dengan kehadiran Christian di sana.


"Jangan berlebihan! Aku tak mempunyai pilihan lain!" sahut Christian dengan nada yang terdengar begitu ketus.


"Tentu! Apapun alasanmu akan kuterima dengan baik. Kau tak perlu menyatakan apapun padaku," sahut Blaire ceria. Gadis cantik bermata hijau tersebut, berusaha melepaskan cengkeraman tangan Christian dari lengannya. Setelah itu, dia ganti dengan melingkarkan tangan di lengan Christian. Blaire tak peduli meskipun pria rupawan tersebut tak menyukai apa yang dilakukannya. Bagi Blaire, yang terpenting adalah dirinya berhasil masuk ke dalam pub sambil menggandeng sang tetangga yang tampan.


Kehadiran Blaire yang menggandeng pria tampan di sebelahnya, tentu saja menjadi pusat perhatian gadis-gadis yang lain. Tak terkecuali Bridget yang berada di meja bar, di antara aneka macam botol minuman yang tersimpan rapi dalam sebuah rak kaca khusus.


"Hai, lihat siapa yang datang," tunjuk Bridget tersenyum nakal saat melihat sosok Christian. Sesaat kemudian, wanita yang berusia sama dengan Viktorija tersebut melirik kepada Eileen dan juga Sandra.


"Aku tidak tahu jika Christian berubah pikiran dan memutuskan untuk datang kemari," balas Sandra menanggapi ucapan si pemilik pub.


"Ah, itu artinya kami tak harus membayar sisa uang reservasi. Christian sudah ada di pub milikmu, Bridget," timpal Eileen tersenyum puas. Gadis itu kemudian mendekatkan bibir ke telinga Bridget, ketika Blaire dan Christian berjalan ke arah mereka. "Si tampan itu milikmu malam ini," bisiknya nakal. Seusai berkata demikian, Eileen pun berdiri untuk menyambut Blaire dan pria rupawan di sebelahnya.


"Kejutan sekali, Blaire," ucap Eileen seraya mengedipkan sebelah mata kepada gadis berambut pirang tadi.


"Ya. Ini sangat mengejutkan," timpal Sandra. "Hai, Chris. Bagaimana kabarmu?" sapanya dengan senyuman nakal kepada Christian.


"Biasa saja," jawab Christian dingin.


"Ayo duduklah, Chris," Eileen menyiapkan satu bangku bulat untuk pria dengan jaket kulit hitam itu. Tanpa harus diminta, Blaire pun menggiring Christian agar duduk dan berhadapan langsung dengan Bridget yang berada di balik meja sambil menopang dagu.


Sekilas, Christian melirik dada wanita berambut keriting di hadapannya. Meski sudah berumur, tetapi Bridget masih terlihat cantik, seksi, dan juga memiliki tubuh yang kencang. Bridget pun terus melayangkan senyuman penuh godaan kepada pria tampan yang masih terlihat dingin.


"Duduk yang manis, Chris. Aku dan yang lainnya akan berada di sana," tunjuk Blaire pada satu meja di mana terdapat beberapa orang gadis seusia dirinya. Tanpa menunggu jawaban dari Christian, gadis itu pun berlalu begitu saja dengan ditemani oleh Eileen dan Sandra.


"Apa kau ingin segelas Tequila, Tampan?" tawar Bridget dengan bahasa tubuh yang terlihat menggoda.


"Boleh," jawab Christian singkat. Sesekali, ekor matanya melirik kepada Blaire yang tengah bersenang-senang bersama para gadis lain. Mereka terdengar sangat berisik.


"Jadi, namamu adalah Christian?" tanya Bridget sambil menyodorkan minuman yang tadi dia tawarkan. Wanita paruh baya itu kembali membungkuk di atas meja kayu yang memisahkannya dengan Christian.


"Ya," jawab pria bermata abu-abu tadi setelah meneguk minumannya.


"Ow, aku suka tipe pria sepertimu," goda Bridget. "Sedikit bicara, tapi banyak kerja." Wanita itu tersenyum nakal.


"Dari mana kau tahu jika aku seperti itu?" Christian menoleh sejenak kepada wanita dengan penampilan seksi di hadapannya.


"Aku hanya menebak. Apakah tebakanku tepat?" Lagi-lagi, Bridget memperlihatkan bahasa tubuhnya yang menggoda. "Apa kau ingin menunjukkan seberapa gesitnya dirimu, Chris?" Sebuah pertanyaan yang menyiratkan sesuatu, meluncur dari bibir dengan berpoleskan lipstik merah itu.


"Tidak," jawab Christian singkat. Dia segera mengalihkan perhatian pada meja tempat Blaire berada, ketika gadis-gadis tadi mengatakan kata 'bersulang' dengan serempak.


Tanpa banyak bicara, Christian pun beranjak dari duduknya. Pria itu melangkah gagah dan cepat ke arah para gadis. Tepat di saat Blaire hendak meneguk minumannya, dengan segera Christian menahan. Si pemilik mata abu-abu tersebut mencekal pergelangan tangan Blaire dengan sangat erat. Sontak, Blaire dan yang lainnya tak jadi minum. Perhatian mereka semua tertuju pada sosok tegap di dekat gadis itu.


"Chris?" Blaire menatap pria tadi dengan tatapan protes. Namun, Christian tak peduli. Dia segera mengambil gelas yang tengah Blaire genggam, kemudian diletakkan di atas meja. Tanpa banyak bicara, Christian menarik tangan Blaire agar berdiri. Dia pun membawa gadis itu keluar dari sana.


🍒🍒🍒


Satu rekomendasi novel keren untuk semua. Yuk, segera masukkan favorit.