Edinburgh

Edinburgh
Understanding Man



Seperti biasa, Blaire dan Viktorija selalu mengawali hari dengan segala persiapan sebelum mereka pergi ke kedai. Ainsley pun sudah terbangun, meski dia belum berganti pakaian. Namun, anak itu telah bersiap duduk di meja makan untuk mengikuti sarapan bersama.


"Apakah mulai sekarang aku harus memanggil paman tampan dengan sebutan 'ayah', Bu?" tanya Ainsley dengan begitu saja, membuat Blaire dan Viktorija seketika menghentikan aktivitas mereka.


"Iya, Sayang. Aku rasa dia akan lebih menyukai panggilan itu," sahut Blaire seraya tersenyum lembut, untuk menepiskan keresahan dalam hatinya.


"Kau lihat sendiri, Blaire," ucap Viktorija kemudian. Dia mengarahkan perhatian sepenuhnya kepada Blaire.


"Apa maksudmu, Bu?" tanya gadis itu pura-pura tak mengerti.


Viktorija mengempaskan napas pelan. Sementara tatapan wanita paruh baya tersebut masih terarah kepada Blaire. "Kusarankan sebaiknya kau menemui Aaron hari ini juga."


"Untuk apa?" Blaire terdengar begitu malas.


"Tentu saja untuk meminta maaf padanya atas kejadian semalam," sahut Viktorija dengan cukup tegas.


"Aaron mabuk dan dia sendiri yang membuat keributan," protes Blaire. Namun, sesaat kemudian gadis itu pun terdiam dan tampak merenung sambil memperhatikan Ainsley yang tengah menyantap menu sarapannya.


"Kumohon Blaire. Entah dengan cara apa lagi untuk menjelaskan padamu. Aku tahu bahwa kau sudah dewasa dan bisa menentukan jalan hidup sendiri. Akan tetapi, aku adalah ibumu. Hatiku terasa begitu sakit, ketika melihatmu harus melewati semua ini dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Aku benar-benar tidak menyukainya." Viktorija memasukkan satu suapan ke dalam mulut.


Setelah menelan makanannya, dia pun kembali berbicara. "Itu hanya harapanku sebagai wanita dan juga seorang ibu tentunya. Namun, semua kukembalikan lagi padamu. Ini hidupmu dan kau yang mengambil keputusan." Viktorija berkata dengan nada bicara yang terdengar kecewa, sehingga membuat Blaire seketika dilanda perasaan tak nyaman.


"Aku sama sekali tidak mengerti, kenapa kau bisa begitu tergila-gila kepada Christian. Kita berdua mengetahui dengan jelas apa yang telah dilakukannya selama ini. Aku sedih, Blaire. Rasanya terlalu menyakitkan, ketika melihat kau yang kurawat dan kubesarkan dengan penuh cinta, harus berada dalam situasi seperti itu. Mengapa diriku begitu marah kepada ayah dari putramu? Karena dia ... dia sudah membuatku kehilangan segala harapan indah untuk masa depanmu," tutur Viktorija. Wanita itu seakan ingin meluapkan segala unek-unek dalam hatinya.


"Aku masih bisa meneruskan hidupku, Bu. Seperti kau yang mampu bertahan tanpa kehadiran ayah di antara kita berdua, maka aku juga ...."


"Apa kau tidak sadar betapa beratnya menjalani hidup tanpa seorang pasangan? Kau tak mempunyai teman untuk berbagi. Entah itu tawa kebahagiaan atau keluh-kesah yang membuat dirimu merasa resah. Saat ini kau masih memiliki aku sebagai ibumu. Tentunya aku tak akan pernah membiarkan kau menghadapi segalanya sendiri. Namun, jika suatu saat nanti aku telah tiada .... Blaire ...." Viktorija kehilangan kata-kata. Setitik air mata terjatuh di sudut bibir yang segera dia hapus.


Sementara Blaire terdiam untuk beberapa saat. Gadis itu tertunduk. Dia bahkan belum menyentuh makanannya sedikit pun. Beribu kegundahan mengisi hati dan membuat dirinya merasa begitu terbebani.


"Aku jatuh cinta terhadap Christian. Aku mengetahui alasan kenapa dia harus pergi. Akan tetapi ...." Blaire terdiam. Dia tak akan mengungkapkan apapun kepada sang ibu.


"Kau tak ingin mengatakan apapun padaku?" tanya Viktorija yang terus menatap sang anak. "Baiklah, Blaire. Aku berusaha menghargai hal itu. Namun, cobalah juga untuk dapat menghargai pengorbanan Aaron selama ini. Dia memiliki perasaan yang sangat tulus padamu. Asal-usulnya pun jelas. Kita berdua mengetahui identitas dan juga keluarga yang dia miliki."


Seusai berkata demikian, Viktorija kemudian mengakhiri santap paginya. Setelah mengecup kening Ainsley yang masih menikmati makanan di dalam piring khusus, wanita paruh baya tersebut bergegas keluar dari rumah untuk menuju ke kedai. Sementara Blaire baru memulai sarapan sambil menemani sang anak.


Beberapa saat kemudian, Blaire telah selesai memandikan Ainsley. Anak itu sudah terlihat tampan dengan rambut serta pakaiannya yang rapi. Mereka bersiap untuk pergi.


"Bolehkah jika hari ini aku bermain di toko milik ayah, Bu?" tanya Ainsley sambil berjalan, dengan tangan dalam genggaman Blaire.


"Selamat pagi, Blaire," balas Anette. Sesaat kemudian, dia lalu mengalihkan perhatian kepada Ainsley. "Selamat pagi, Ains-ku yang tampan." Wanita paruh baya tersebut menurunkan tubuh, kemudian menciumi wajah Ainsley.


"No! Stop it!" Ainsley berusaha untuk berontak. "Aku sudah mandi!" tolaknya ketika Anette terus berusaha untuk menggoda anak itu. "Ibu, tolong singkirkan granny dariku!" pekik Ainsley.


Akan tetapi, Blaire malah tersenyum lebar saat melihat hal tersebut. Itu pulalah yang membuat dirinya menjadi kian berada dalam kegalauan teramat besar. Kasih sayang Anette kepada Ainsley tampak sangat jelas. Wanita tersebut sudah menganggap bahwa Ainsley merupakan cucu kandungnya sendiri.


"No, Granny! Hentikan!" Ainsley terus berusaha untuk melepaskan diri dari dekapan Anette. Namun, wanita paruh baya tadi justru semakin asyik menggoda putra semata wayang Blaire sambil terus tertawa geli.


Blaire pun tersenyum dengan semakin lebar. Akan tetapi, senyuman itu seketika memudar, ketika pandangannya menangkap sosok tampan berkaus putih yang baru turun dari lantai dua.


Aaron terlihat sangat kacau dengan rambut yang acak-acakan. Sepertinya dia baru bangun tidur, karena wajahnya pun masih tampak lusuh. Pria tampan bermata biru tadi memandang ke arah di mana Blaire berada.


Sesaat kemudian, Aaron tersenyum simpul. Apalagi setelah dirinya melihat sang ibu yang tengah menggoda Ainsley. Dengan langkah gagah, Aaron berjalan mendekat kepada mereka bertiga yang masih berada di depan pintu. "Selamat pagi semua," sapanya.


"Paman, tolong selamatkan aku," pinta Ainsley yang masih berusaha untuk melepaskan diri dari dalam dekapan Anette. Namun, ternyata tanggapan Aaron sama saja dengan Blaire. Dia juga malah tertawa.


"Selamat pagi, Aaron. Bagaimana keadaanmu hari ini?" sapa Blaire.


"Selamat pagi, Blaire," balas Aaron. Pria itu tersenyum kalem.


"Ayo, Ains. Semalam aku tidak bisa tidur. Jadi, kuputuskan untuk membuat kue," ajak Anette sambil menggendong Ainsley.


"Anda rajin sekali, Nyonya Walsh," sanjung Blaire berbasa-basi.


"Tidak juga. Aku terbangun ketika Aaron pulang semalam." Anette berdecak pelan seraya melirik putra sulungnya. Tanpa berkata apa-apa lagi, wanita paruh baya tersebut membawa Ainsley masuk meninggalkan kedua sejoli tadi.


"Apa kau hendak ke kedai?" tanya Aaron seraya mempersilakan Blaire untuk masuk. Dia lalu duduk sambil sesekali menyugar rambut pirangnya yang tadi acak-acakan. Walaupun dalam keadaan seperti itu, tapi putra sulung dari tiga bersaudara tersebut masih terlihat sangat tampan.


"Iya. Namun, aku ingin melihat dulu keadaanmu, sekadar memastikan apakah kau baik-baik saja atau tidak," sahut Blaire seraya tersenyum manis. Sebisa mungkin dia mengesampingkan perasaan tak nyaman yang berkecamuk di dalam dada.


"Terima kasih, Blaire. Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja." Aaron lalu terdiam, kemudian memutuskan berpindah posisi ke hadapan Blaire. Pria itu duduk bersimpuh sambil menggenggam kedua tangan ibunda Ainsley yang berada di atas pangkuan. "Maafkan aku, Blaire. Semalam diriku kehilangan kontrol, padahal aku hanya minum sedikit. Itu pasti sangat memalukan," sesalnya.


"Lupakan saja kejadian semalam. Aku bisa memahami kenapa kau bersikap demikian," balas Blaire menanggapi permintaan maaf sang kekasih. "Apa hari ini kau tidak ke kantor?" tanya Blaire.


"Tidak. Kepalaku sangat pusing. Lagi pula, aku baru bangun sesiang ini," ujar Aaron. Dia lalu mencium kedua tangan Blaire. Sesuatu yang membuat hati gadis cantik tersebut kian tak karuan


"Aaron, apa kau masih ingin menikah denganku?" tanya Blaire.