
Setibanya di rumah sakit, para petugas medis segera membawa Blaire ke ruang tindakan. Sementara Christian menunggu di luar. Pria itu duduk dengan posisi setengah membungkukkan badan. Entah dirinya merasa cemas atau tidak, karena ekspresi yang muncul dari wajah tampan tapi datar itu terlihat sama saja.
Helaan napas berat, sesekali meluncur dari bibirnya yang dihiasi kumis tipis. Berulang-ulang pria itu melihat arloji yang melingkar di pergelangan kiri. Saat itu, malam sudah semakin larut. Christian pun mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak. Namun, tak lama kemudian pria tampan tersebut memilih untuk bersandar. Perlahan, Christian memejamkan kedua matanya. Dia pun mulai terhanyut dalam rasa lelah yang kian menyergap dengan erat.
Seharusnya, malam itu dia sudah beristirahat dengan nyaman di dalam kamar yang hangat. Namun, ketenangan yang dirinya rasakan tiba-tiba terusik. Pendengaran pria itu yang tajam, menangkap suara-suara mencurigakan di luar rumah. Christian pun memutuskan untuk memeriksa ke luar. Untunglah dirinya datang tepat waktu, meskipun Blaire tetap harus dilarikan ke rumah sakit.
“Tuan, apakah Anda kerabat dekat pasien?” suara seorang pria membuat Christian seketika terjaga. Pria itu mengerjap dan langsung terduduk dengan tegak dalam sikap waspada. Namun, setelah beberapa saat dan benar-benar tersadar, Christian pun dapat mengendalikan sikapnya. Pria itu menjadi jauh lebih tenang, dengan helaan napas yang mulai teratur.
Dilihatnya seorang dokter sudah berada di sana, dengan ditemani perawat yang berdiri sedikit di belakang sang dokter tadi. “Apakah Anda kerabat pasien?” tanya dokter itu lagi.
“Iya,” jawab Christian dengan segera.
“Baiklah. Kondisi pasien sudah cukup stabil. Beruntung karena luka tusuknya tidak terlalu dalam. Akan tetapi, pisau itu mengenai pembuluh darah besar, sehingga darah yang keluar cukup banyak,” terangnya.
“Lalu, bagaimana selanjutnya, Dokter?” tanya Christian dengan intonasi yang sama seperti yang dia gunakan untuk berbicara kepada siapa pun.
“Kami sudah melakukan tindakan medis yang diperlukan. Pendarahan juga telah berhasil kami hentikan, dan hanya perlu melakukan sedikit perawatan saja,” jawab dokter itu kembali menjelaskan.
“Jadi ... nona itu, uhm ... maksudku Blaire, harus dirawat di sini?” tanya Christian lagi dengan ragu-ragu.
“Tadi kami hanya mellakukan operasi kecil. Namun, melihat kondisinya yang masih lemah dan shock, kami sarankan agar kerabat Anda beristirahat dulu untuk semalam di sini,” jelas sang dokter lagi.
“Baiklah,” balas Christian seraya mengangguk bersamaan dengan dokter tadi yang berpamitan, kemudian berlalu dari hadapannya.
Bimbang, pria tampan berambut gelap itu memijit tengkuknya. Dia harus memilih antara pulang, ataukah menunggu Blaire hingga siuman. Untuk beberapa saat lamanya Christian terpaku di tempat dia berdiri, sampai hati kecil pria itu memaksa kakinya agar melangkah masuk ke ruang perawatan.
Di dalam sana, Christian melihat Blaire terlelap sambil sesekali mengigau. Gadis itu seperti tengah bermimpi buruk. Gerak tubuhnya tampak gelisah. Perlahan, Christian menarik satu kursi yang berada tak jauh dari ranjang, lalu duduk di sebelah Blaire yang terbaring tak berdaya.
“Jangan ....” racau gadis berambut pirang itu. “Jangan katakan apapun pada ibuku,” gumamnya dengan mata terpejam. “Nanti dia akan khawatir,” racaunya lagi. Tangan kanan gadis itu tampak meraba-raba permukaan ranjang, seperti tengah mencari sesuatu.
“Tenang saja, aku tak akan mengatakannya pada siapa pun,” balas Christian pelan dan datar. Tatap matanya intens tertuju pada wajah cantik yang belakangan kerap mengganggu hari-harinya.
Seketika Blaire membuka mata saat mendengar suara pria itu. Gadis cantik tersebut seketika terbelalak dan menoleh ke samping. “Ka-kau ....” desisnya lemah.
Sudut bibir Christian tampak bergerak samar. Namun, tak satu pun kata dia ucapkan untuk menanggapi Blaire.
“Di mana ini?” tanya Blaire, masih dengan intonasi yang pelan.
“Rumah sakit. Dokter sudah menangani luka-lukamu. Beristirahatlah. Ini sudah malam,” jawab Christian datar, seperti biasa tanpa ekspresi yang berlebihan.
“Apa?” Blaire semakin terkejut mendengar jawaban pria tampan itu. Dengan gerakan yang cukup kasar, Blaire terduduk dan berusaha turun dari ranjang. Akan tetapi, seketika dia meringis kesakitan sambil memegangi pinggangnya. “Aduh! Sakit sekali!”
“Aku harus pulang! Aku tidak ingin jika ibu sampai mengkhawatirkanku. Dia sudah melalui banyak hal. Aku tidak ingin menambah bebannya lagi,” ujar Blaire di sela-sela rintihannya.
“Biar aku yang memberitahukan ini pada ibumu. Katakan berapa nomor teleponnya.” Christian merogoh ponsel dari dalam saku celana. Jemarinya sudah siap menyentuh layar, ketika tangan kanan Blaire terulur dan mencengkeram erat pergelangan pria tampan itu sampai-sampai ponselnya hampir terjatuh.
“Jangan! Kumohon! Ibuku masih di luar kota. Dia tidak tahu bahwa aku belum pulang ke rumah,” cegah Blaire dengan raut mengiba.
“Astaga.” Christian berdecak pelan, lalu duduk kembali. “Cepat atau lambat, ibumu pasti mengetahui kejadian ini.”
“Ya, aku tahu itu. Dia boleh saja mengetahuinya, tapi kuharap itu nanti setelah lukaku sembuh,” sahut Blaire dengan lugu.
“Ya ampun." Christian menggeleng pelan. Sepertinya pria itu baru kali ini menemui seorang gadis yang keras kepala seperti Blaire. Pada akhirnya, dia menyimpan kembali ponsel tadi.
“Terima kasih atas pengertian dan bantuanmu, Chris. Dari awal aku sudah yakin, bahwa kau adalah pria yang baik,” ucap Blaire seraya tersenyum lembut, lalu menggigit bibirnya. Gadis itu berusaha menahan rasa perih yang mendera.
“Pulanglah, Chris. Aku sudah tidak apa-apa. Besok pagi akan kuusahakan untuk berbicara dengan dokter, agar aku boleh keluar dari sini secepatnya,” ucap Blaire.
“Tidurlah dulu. Kau harus beristirahat,” sahut Christian tanpa menanggapi ucapan Blaire.
Gadis berambut pirang itu pun mengangguk tanpa bersuara, kemudian memejamkan matanya. Tak membutuhkan waktu lama sampai dia terbuai di alam mimpi.
Sementara Christian tampaknya enggan untuk beranjak dari sana, meskipun Blaire sudah menyuruhnya untuk pulang. Dia malah menatap paras gadis cantik yang telah tertidur di hadapannya itu untuk beberapa saat. Mungkin Christian harus bersyukur karena dalam beberapa waktu ke depan, Blaire sepertinya tidak akan mengganggu dirinya.
Pria rupawan dengan raut wajah dingin itu pun beranjak dari duduknya. Dia bermaksud hendak keluar dari ruang perawatan. Christian memutuskan untuk pulang dan beristirahat. Namun, setibanya di ambang pintu, lagi-lagi terdengar suara Blaire yang tengah mengigau.
Christian berbalik. Dia memperhatikan gadis yang tengah bergerak gelisah itu. Pria itu juga sempat menangkap kata-kata yang kurang jelas dari bibir Blaire.
“Sakit sekali, bu,” rintih Blaire dengan mata yang masih tetap terpejam. “Perih sekali, ayah. Tolong jangan pergi.”
Kalimat terakhir dari gadis yang tengah berada dalam keadaan tidak sadar itu, membuat Christian mengurungkan niatnya. Dia segera berbalik dan kembali mendekat kepada Blaire yang terus bergerak gelisah dalam tidurnya.
Christian menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ragu, dia semakin mendekat ke arah ranjang, lalu duduk di kursi yang tadi dia tempati. “Ayahmu tidak pergi. Dia ada di dekatmu.” Entah mengapa, Christian berkata demikian. Dia juga sama sekali tak mengerti.
Tanpa sadar, tangannya terulur dan menyentuh punggung tangan Blaire. Dia menyentuh permukaan kulit gadis berambut pirang itu dengan lembut. Begitu halus terasa olehnya. Tak berhenti di situ, diam-diam Christian menggenggam erat jemari lentik si gadis. “Tidurlah. Jangan khawatirkan apapun,” ucapnya lirih.
Kehangatan yang dialirkan Christian, membuat Blaire jauh lebih tenang. Dia tak lagi gelisah dalam tidur. Racauannya pun seketika berhenti, sampai malam berganti pagi. Setelah itu, gadis bermata hijau tersebut membuka matanya.
Blaire mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, sambil mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Dia lalu memusatkan perhatian pada baju pasien yang dirinya kenakan sembari meraba pinggang yang sudah terlilit perban. “Astaga. Aku tak percaya bahwa diriku baru saja mengalami kejadian mengerikan seperti ini.” Blaire memijit kepalanya sambil menoleh ke samping kiri dan kanan. Tak ada siapa pun di ruangan itu Dia sendirian.