Edinburgh

Edinburgh
Weird Guy



Blaire kembali menjalankan tugasnya pada hari itu. Dia ingin agar segala hal kembali normal, sama seperti dulu saat yang menjadi tetangga kedainya masih merupakan seorang pria tua bernama Alan MacKenzie. Namun, rasanya memang begitu sulit untuk melupakan seorang Christian dengan begitu saja. Sambil duduk di dekat meja pemesanan, Blaire terus saja termenung.


"Ceritakan sesuatu padaku, Blaire," pinta Viktorija dengan tiba-tiba. Suaranya telah berhasil membuyarkan seluruh lamunan dari gadis cantik tersebut.


"Tentang apa, Bu?" tanya Blaire dengan agak kelabakan, karena rasa terkejut.


"Kau dan Christian Alvarez," sahut Viktorija


"Teixeira," imbuh Blaire. Secercah senyuman penuh semangat, tiba-tiba muncul ketika dirinya menyebutkan nama itu.


"Oh, Christian Alvarez Teixeira," ulang Viktorija. Janda cantik berambut pirang itu berdiri dengan sedikit bersandar pada tepian meja. Sedangkan tangannya terlipat di dada. "Apakah dia berasal dari Spanyol, Meksiko, atau ...."


"Meksiko," jawab Blaire menegaskan. Gerak matanya terlihat penuh semangat.


"Baiklah. Jauh sekali dia terbang kemari," pikir janda cantik berambut sebahu itu.


"Aku juga bisa terbang ke Antartika, Bu," balas Blaire enteng.


"Ya, kita bisa pergi ke manapun yang kita inginkan. Jadi, kemarin malam kalian ...." Viktorija tak melanjutkan kata-katanya.


Sementara Blaire tak segera menanggapi. Dia tahu jika sang ibu merupakan orang yang sangat kritis. Wanita itu memiliki rasa penasaran yang teramat tinggi, sebuah karakter yang hampir sama dengan dirinya. Namun, tentu saja Viktorija jauh lebih tenang dan juga lembut. Mungkin karena kematangan usia juga yang telah memengaruhinya.


"Seperti yang kau tahu, Bu." Blaire sepertinya akan mengawali cerita malam panjang yang dia lalui bersama Christian. "Malam itu aku berniat pergi ke pub bersama teman-teman. Aku sama sekali tidak mengira bahwa Christian akan datang juga ke sana. Tiba-tiba dia membawaku pergi ke sebuah motel ...." Blaire terdiam sejenak saat melihat raut wajah serta tatap sang ibu yang tampak semakin aneh.


"Aku tidak tahu kenapa dia membawaku ke sana, tapi satu yang pasti bahwa tak terjadi apapun di antara kami berdua," tegas Blaire membantah praduga tak terucap dari ibunya.


"Kalian berada di dalam kamar yang sama, berdua saja, semalam suntuk." Viktorija menaikkan alisnya sebagai tanda kurang yakin. "Namun, tak terjadi apapun di antara kau dengan Christian," lanjutnya. Dia lalu mengempaskan napas pelan. "Begini, Blaire. Aku tahu bahwa itu merupakan sesuatu yang sangat privasi dan mungkin sedikit menakutkan. Akan tetapi, hal tersebut adalah momen luar biasa bagi seluruh gadis di belahan dunia manapun."


"Maksudmu, Bu?" Blaire menatap tak mengerti kepada wanita paruh baya di hadapannya. Namun, sesaat kemudian gadis itu dapat menangkap makna dari ucapan sang ibu. "Tidak, Bu. Kau salah sangka," bantah Blaire dengan segera. "Kutegaskan bahwa tak terjadi apapun malam itu antara diriku dengan Christian. Kami memang berada dalam satu kamar dan tempat tidur yang sama ... ah maksudku ... aku ...." Blaire kebingungan menjelaskan kepada Viktorija tentang kejadian yang sebenarnya.


"Kalian tidur di atas ranjang yang sama dan tidak terjadi apapun? Ow, betapa baiknya Christian. Aku jadi berpikir sesuatu." Viktorija mengubah posisi tangan yang tadinya bersedekap. Kini, siku kanan wanita paruh baya tersebut dia letakkan di atas tangan kiri yang melintang di dada dan menjadi penopangnya. Viktorija tampak berpikir.


"Ah tidak, Bu. Aku yakin bahwa Christian adalah pria yang normal, karena kami sudah berciuman sebanyak dua kali dan dia sangat pandai ... astaga mulutku." Blaire mengeluh pelan, kemudian mengulum bibirnya yang tak bisa berhenti jika sudah bercerita.


"Baiklah, Blaire. Lalu, alasan apa yang mendasari Christian sehingga membawamu pergi dari pub menuju motel. Kalian bahkan sampai harus menginap di sana?" tanya Viktorija lagi penuh selidik.


"Itu ... itu karena ...." Blaire tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena dia melihat ada seorang pengunjung yang datang ke kedai. Namun, si pengunjung tadi justru membuat Blaire seketika membeku.


Adalah seorang pria dengan mantel dan topi fedora hitam. Posturnya tak jauh lebih tinggi dari Christian. Pria itu berjalan gagah, kemudian berdiri tepat di depan meja pemesanan. Sementara Viktorija bergegas ke dalam dapur untuk menyiapkan pesanan.


Pria dengan topi fedora tadi berdiri tegap sambil meletakkan kedua telapak tangan di atas meja. Tatapannya lurus tertuju pada sederet menu dalam papan tulis putih, yang menempel pada dinding sebelah atas tepat di belakang Blaire. Dia melakukan hal tersebut hingga beberapa saat lamanya.


Blaire seketika memicingkan mata saat melihat simbol dalam bentuk tato tadi. Dia seperti pernah melihatnya tapi entah di mana. Satu yang pasti, Blaire merasa tak asing lagi dengan gambar tersebut. "Jadi, Anda ingin memesan apa, Tuan?" tanya gadis cantik itu setelah beberapa saat berlalu.


"Apakah di sini tidak menyediakan Cafè de olla?" tanya si pria bermantel, dengan bahasa Inggris yang terdengar kaku. Cafè de olla merupakan minuman kopi tradisional khas Meksiko.


"Maaf. Kami tidak menyediakan minuman yang Anda maksud, Tuan. Jika Anda mau, silakan pilih saja salah satu dari menu yang sudah tertera." Blaire mengarahkan tangan kanan pada papan tulis putih di belakangnya.


"Ah baiklah. Kalau begitu, tolong buatkan aku kopi hitam. Pure black. No sugar," putus si pria, yang membuat Blaire sedikit tertegun.


"Tentu," balas gadis itu, "silakan tunggu sebentar di sana," tunjuk Blaire pada bangku panjang berlapis busa yang ada di pinggir ruangan.


Pria dengan mantel dan topi fedora tadi mengangguk pelan. Dia pun berlalu dari hadapan Blaire yang segera memberitahukan pesanan pria tadi kepada Viktorija. Sambil menunggu, gadis itu sesekali mengarahkan pandangan kepada pria asing yang tengah duduk dengan tenang.


“Anda mengingatkanku pada seseorang,” ucap Blaire begitu saja, membuat pria yang tadinya awas memperhatikan pemandangan di luar jendela kedai, kini beralih kepada gadis berambut pirang tersebut.


“Oh ya?” Pria itu tersenyum penuh arti, lalu berdiri mendekati Blaire. “Aku mengingatkanmu pada siapa?” tanyanya dengan nada datar.


“Pada … uhm, aku tidak tahu namanya,” kilah Blaire. Rasanya terlalu berbahaya jika dia menyebutkan nama Christian, mengingat hal-hal tak masuk akal yang dia alami beberapa hari terakhir ini.


“Apakah dia yang memiliki toko barang antik di sebelah kedaimu, Nona?” Pria itu menanyakan sesuatu yang membuat Blaire terbelalak. “Menurutmu, kesamaan apa yang kami miliki?” pancingnya.


“Aku tidak mengerti maksudmu.” Blaire menggeleng dan berniat untuk menyusul sang ibu. Namun, ternyata Viktorija sudah keluar dari bagian dalam kedai sambil membawa satu cup kopi pesanan si pria misterius.


“Ah pesanannya sudah siap.” Blaire segera mengambil cup kopi itu, lalu menyerahkannya kepada si pria.


“Hm.” Pria misterius tadi memicingkan mata seraya mengangkat cup kopinya. Dia memutar-mutar cup berbahan plastik tahan panas itu, lalu kembali melayangkan tatapan kepada Blaire, juga terhadap Viktorija yang berdiri tak jauh dari putrinya.


“Apakah ada yang salah dengan kemasan kami?” tanya Viktorija yang mulai curiga atas sikap aneh pria di hadapannya itu.


“Tidak ada.” Pria itu meletakkan cup kopinya di atas meja kasir, lalu merogoh sesuatu dari saku mantel. Dia kemudian menyerahkan selembar uang senilai satu poundsterling pada Blaire. “Ambil saja kembaliannya,” ucap pria tadi sambil berjalan ke luar kedai.


Akan tetapi, ketika dia sudah berada di depan pintu dan hendak membukanya, pria asing itu kembali berbalik pada Blaire dan Viktorija. “Sampaikan salamku pada pemilik toko barang antik itu jika dia datang. Katakan padanya, Black Rifle menunggu di tempat biasa. Satu bulan dari sekarang,” pesannya. Setelah itu, dia melangkah gagah dan menyeberang jalan besar yang berada di depan kedai.


🍒🍒🍒


Rekomendasi terakhir dari ceuceu untuk semua. Ayo buruan masukkan favorit.