Edinburgh

Edinburgh
Fireflies



Dengan sangat mudah, lengan kekar Christian memindahkan tubuh semampai Blaire ke atas pangkuannya. Udara dingin pada petang tersebut tak mereka hiraukan sama sekali, karena adanya kehangatan yang terjalin di antara dua sejoli tersebut. Christian ataupun Blaire sudah tak peduli lagi di mana kini mereka tengah berada.


Cinta yang terasa panas, telah membuat sepasang insan itu tak sadar dan begitu terhanyut dalam lautan asmara penuh gelora. Debaran jantung pun kian memacu, ketika tangan Christian kembali menjamah setiap jengkal tubuh indah Blaire. Sedangkan gadis itu masih dalam balutan midi dress berlapis chesterfield coat cokelat kesayangan.


"Chris ...." Ucapan Blaire tertahan, saat menangkup paras tampan berhiaskan bulu-bulu halus yang sudah tercukur rapi. Walaupun sedikit tajam, tapi hal itu tak akan membuat Blaire terluka. Gadis cantik tersebut justru langsung terbuai, saat merasakannya menyentuh leher jenjang berhiaskan kalung perak kecil hadiah dari sang ibu.


Blaire memejamkan mata. Dia ingin meresapi setiap detik dari moment kebersamaannya bersama si pemilik rambut gelap itu. Christian adalah pria Amerika Latin yang teramat menggoda. Di balik sikap dingin dan ketusnya selama ini, ternyata dia masih memiliki sisi hangat dan manis. Pria tersebut paham bagaimana cara memperlakukan seorang wanita.


Langit kian gelap. Ia telah menarik seluruh cahaya dari dirinya. Suasana pun menjadi semakin temaram. Untuk sesaat, Blaire mengedarkan pandangan pada sekeliling tempat di mana keduanya berada. Dalam keremangan, sepasang mata indahnya hanya dapat menangkap gerak pepohonan yang tertiup angin. "Kau yakin teman-temanmu tidak sedang mengawasi kita saat ini?" tanya Blaire yang menghentikan sejenak ciuman panas di antara mereka.


"Tidak," jawab Christian singkat. Tangannya menelusup masuk ke dalam bagian depan dress yang Blaire kenakan, membuat gadis itu tak berkata apa-apa lagi selain membenamkan wajah pada pundak kokohnya.


Segala perlakuan yang gadis itu terima sangatlah manis. Blaire menyukainya, meski Christian harus merobek bagian bawah legging hitam yang dia kenakan. Apa yang Christian lakukan, tentu saja membuat Blaire terkejut bukan main. Namun, si pelaku hanya menyunggingkan sebuah senyuman samar, setelah memamerkan tenaganya yang luar biasa besar hingga dapat merobek kain lentur tadi.


"Kau harus menggantinya," bisik Blaire.


"Akan kuganti sekarang juga," sahut Christian, yang membuat gadis bermata hijau itu seketika menggigit bibir bawahnya. Blaire meringis kecil untuk sesaat, sebelum akhirnya menikmati sebuah tarian di atas pangkuan Christian.


Gadis cantik itu memejamkan mata. Blaire berusaha untuk mengosongkan pikiran, agar dapar meresapi setiap belaian angin yang menerbangkan hasratnya jauh ke angkasa. Dalam keremangan petang dan di antara ratusan daun maple yang berguguran ke tanah, kembali dia reguk kenikmatan bersama Christian yang sejak tadi tak melepaskan rangkulan mesranya.


"Mendekatlah." Sambil berkata demikian, tangan Christian mendorong tubuh Blaire hingga lebih merapat. Mereka pun menyatukan debaran jantung dalam satu irama syahdu bertaburkan helaan napas berat yang memburu. Christian terus melayangkan tatapan mesra kepada gadis yang tengah berusaha menghalau udara dingin, dengan terus menggerakkan tubuh di atas pangkuannya.


Pria tampan asal Amerika Latin tersebut tak mampu berkata apapun. Blaire gadis muda yang sangat energik. Senyuman manis masih terlukis di bibirnya yang beraroma strawberry, dan telah berkali-kali Christian nikmati pada petang itu.


Namun, untuk kali ini Christian harus mengaku kalah. Dia tak kuasa menahan lebih lama lagi, ketika Blaire membenamkan dirinya dengan semakin dalam. Christian pun memejamkan mata sambil meringis kecil. Sementara napasnya terengah dan terdengar tak beraturan.


"Apa kau baik-baik saja?" bisik Blaire disertai tawa pelan yang terkesan meledek.


Christian yang tengah mengatur laju napas agar jauh lebih teratur, hanya menggeleng pelan. Dia lalu mencubit pangkal hidung Blaire dengan gemas. Sementara gadis itu belum beranjak dari atas pangkuannya.


"Apa kau tak akan melepaskan dirimu?" Christian menatap nakal gadis itu.


"Kau sudah kalah telak, Chris," ledek Blaire seraya turun dari pangkuan pria yang sudah dua kali bercinta dengannya. "Itu sebagai balasan karena kau merobek celana leggingku," cibir gadis itu lagi puas. Dia lalu berdiri dan tak peduli dengan Christian yang masih terduduk di kursi.


Dengan celana yang robek pada bagian bawahnya, Blaire berjalan ke dekat sebuah pohon. Dia melihat sesuatu yang menarik perhatian, yaitu seekor kunang-kunang. Sudah lama dan jarang sekali dirinya menemukan hewan tersebut. Entah mengapa, malam itu hewan bercahaya tadi menampakkan diri terhadapnya.


Belum sempat Blaire mengatakan sesuatu, pria asal Meksiko itu memposisikan dia agar berpegangan pada pohon. Gerakannya begitu cepat dan juga gesit. Dalam satu helaan napas, Christian membuat Blaire tak berkutik sama sekali.


Beberapa saat telah berlalu. Penunjuk waktu pada ponsel milik Christian sudah menunjukkan pukul delapan malam. Suasana di sekitar tempat keduanya berada kini sudah begitu sepi.


Setelah menutup permainan panas mereka l dengan sebuah ciuman lembut, Christian pun akhirnya mengajak Blaire untuk pulang. Dalam perjalanan, keduanya sempat membeli roti yang kemudian mereka nikmati sambil berjalan menyusiri suasana kota Edinburgh di malam hari.


Selama dalam perjalanan pulang yang ditempuh tanpa menaiki kendaraan, tak jarang Blaire melontarkan candaan-candaan yang hanya ditanggapi biasa oleh Christian. Namun, sesekali pria itu tersenyum meski tidak terlalu lebar.


"Kau sangat membosankan, Chris. Seharusnya kau mengikuti kursus tertawa," sindir Blaire ketika mereka sudah tiba di kawasan perumahan yang keduanya tinggali.


"Tawa tidak selamanya melukiskan sebuah kebahagiaan. Ada banyak orang yang menyembunyikan kesedihan di balik sebuah tawa," sahut Christian menanggapi.


"Itu hanya berlaku bagi orang-orang yang senang bersandiwara. Namun, tidak bagiku. Aku selalu bersikap apa adanya. Aku tak ingin berpura-pura," balas Blaire dengan penuh percaya diri.


"Kuharap kau akan selalu seperti ini," ucap Christian yang terkesan menyiratkan banyak makna.


"Tetaplah di dekatku, agar kau bisa membuktikan bahwa diriku tidak berkata bohong." Gadis itu tertegun, kemudian menoleh kepada Christian. Dia menatap dengan penuh keyakinan dan juga harapan.


"Itu yang kuinginkan, Blaire," balas Christian. Dia balas menatap gadis yang baru saja bersenang-senang dengannya.


"Kau harus mengganti celanaku yang robek," ujar Blaire lagi sambil tersenyum geli.


"Ingatkan aku akan hal itu." Christian tersenyum simpul. Dia bergerak mendekat. Tak bosan dirinya untuk kembali menikmati pertautan manis bersama Blaire. Kemesraan tersebut berlangsung hingga beberapa saat. Mereka baru berhenti, ketika ponsel milik Blaire berdering pelan.


"Ini pasti ibuku," ucap Blaire ketika sudah mengakhiri ciumannya. Setelah diperiksa, apa yang dia perkirakan memang tidaklah keliru. Blaire pun menjawab panggilan tersebut untuk sesaat. Dengan tergesa-gesa, dia kembali memasukkan telepon selulernya ke dalam saku mantel. "Aku harus segera pulang. Kau tak perlu mengantar, karena rumahku sudah terlihat dari sini."


"Sungguh?" Christian menaikkan sebelah alisnya.


"Ya, tapi coba katakan sesuatu padaku," pinta Blaire.


"Terima kasih, Blaire."