
"Apa kau tak ingin masuk, Blaire?" tanya Viktorija yang seketika membuyarkan lamunan gadis itu. Sedangkan Blaire hanya menoleh. Dia tak hendak menanggapi atau berkata apapun. Semua gairah hidup dalam dirinya seakan telah hilang tanpa tersisa sama sekali. "Dengan memandangi toko itu, tak akan membuat pemiliknya tiba-tiba datang dan bersujud padamu," ujar Viktorija lagi sambil berlalu ke dalam dapur.
Apa yang Viktorija katakan memang benar adanya. Seberapa kuat Blaire memikirkan seorang Christian, itu tak akan mengubah apapun juga. Kenyataannya pria tampan yang kemarin masih bersikap mesra dan begitu manis, dengan segala ucapan serta bahasa tubuh penuh godaan tersebut kini telah pergi dan menghilang tanpa jejak bagaikan asap yang membumbung tinggi ke angkasa.
Blaire sungguh tak bersemangat hari itu. Dia memaksakan diri untuk tetap tersenyum dan bersikap seramah mungkin pada setiap pembeli yang datang. Ucapan Viktorija memang benar. Walaupun cuacan sedang tak bersahabat, tetapi tak menyurutkan keinginan orang-orang untuk menikmati secangkir kopi panas di kedainya. Hari itu, semua meja justru hampir terisi.
Blaire pun memilih untuk membuka buku yang Christian berikan padanya beberapa waktu lalu. Dia begitu asyik membaca, sehingga tak menyadari bahwa ada seorang pembeli yang telah berdiri di hadapannya. "Latte," ucap seorang pria yang hendak memesan kopi kepada Blaire.
Seketika, gadis itu mengangkat wajah. "Tentu. Apa kau ingin minum di sini atau ...." Blaire tak melanjutkan ucapannya, karena si pria malah menatap lekat dan membuat gadis itu tak nyaman. "Permisi?" Blaire mencoba menegur pria berambut pirang dengan sepasang matanya yang berwarna biru.
"Ah ya, maafkan aku." Pria itu tersenyum kalem setelah menyadari sikapnya. "Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Si pemilik mata biru tadi mengangkat sebelah alis tanpa mengalihkan perhatian dari gadis cantik, yang terlihat malas dengan basa-basi khas seorang pria dengan niat merayu.
"Aku rasa kau salah orang," sahut Blaire sambil menulis pesanan si pria.
"Mungkin juga," balas pria itu. Dia lalu melihat apa yang Blaire tulis pada secarik kertas kecil. "Tolong tambahkan perisa vanilla," pintanya tanpa melepas senyuman kalem yang sejak tadi menghiasi paras tampannya. Namun, bagi Blaire tetap saja tak setampan Christian, meskipun pria itu adalah seorang penipu ulung.
Tanpa menjawab, Blaire mengikuti permintaan si pemesan. Setelah selesai menulis, dia lalu menoleh kepada pria tadi. "Ada lagi?" tanyanya.
"Sudah cukup. Aku akan minum di sini," jawab si pria. Dia lalu mengeluarkan selembar uang dari dalam dompet untuk membayar kopi pesanannya tadi. Setelah menerima uang kembalian dari Blaire, pria berperawakan hampir sama dengan Christian tersebut segera menuju meja yang masih kosong. Dia pun duduk di sana dengan tenang, lalu mengeluarkan ponsel.
Sementara Blaire kembali pada bukunya dan lanjut membaca, hingga pesanan tadi siap untuk dia antarkan kepada si pria berambut pirang. "Terima kasih," ucap pria yang sejak tadi kerap mencuri pandang ke arahnya.
"Selamat menikmati." Blaire membalas dengan diiringi seutas senyuman. Sebisa mungkin dia tak memperlihatkan dengan terlalu jelas bahwa itu merupakan senyuman yang dipakskan.
Tanpa berbasa-basi lagi, gadis cantik tersebut kembali ke meja pemesanan. Dia melanjutkan aktivitas yang tertunda dengan buku pemberian dari Christian. Setidaknya hanya benda itulah yang pria itu tinggalkan, selain sebuah perasaan sakit dan kecewa yang teramat besar dalam diri Blaire.
Halaman demi halaman gadis itu buka. Kini, tibalah dirinya pada pertengahan buku. Di sana, Blaire menemukan selembar foto yang tampak usang. Potret seorang remaja laki-laki yang persis dengan wajah Christian tengah menggandeng seorang gadis kecil.
Dengan tangan gemetar, Blaire mengambil foto itu dan membaliknya. Terdapat sesuatu di belakang foto tersebut. Tulisan tangan yang terlihat begitu indah dan rapi bertuliskan ‘Christian dan Pandora, 199x’. Air mata Blaire kembali meleleh.
Diremasnya foto itu kuat-kuat, kemudian Blaire lemparkan ke tempat sampah yang berada tak jauh dari tempatnya berada. Merasa tak puas, gadis itu meraih buku tebal yang tergeletak di atas meja, lalu dia buang pula ke tempat sampah seperti yang dirinya lakukan pada foto tadi.
Bunyi yang ditimbulkan pun cukup nyaring, ketika cover tebal buku tersebut beradu dengan tepian tempat sampah. Blaire menatap kosong pada benda itu selama beberapa saat, sebelum akhirnya dia menutuskan untuk kembali mengambil buku tadi. Saat itulah, bagian belakang buku terbuka, membuat sesuatu yang terselip di dalamnya, jatuh dan melayang tepat di dekat kaki Blaire.
Jantung gadis itu pun seakan berhenti berdetak, ketika dia memungut satu benda yang lagi-lagi berupa foto. Akan tetapi, bukanlah foto Christian bersama Pandora yang dia lihat, melainkan foto dirinya dari jarak yang cukup jauh.
Blaire pun kembali meremas foto dirinya di dalam genggaman. Sementara tangan kiri mencengkeram erat buku tebal milik Christian. Tak lama kemudian, Blaire kembali melemparkan buku itu sekencang mungkin ke tempat sampah, sampai-sampai membuat beberapa pengunjung yang berada di kedai menoleh ke arahnya. Akan tetapi, Blaire sudah tak peduli lagi. Tangis itu pun juga tak bisa dia tahan. Entah dengan cara apa, Blaire harus menghilangkan perasaan yang sangat tak nyaman ini.
“Apa kau baik-baik saja? Maukah kuambilkan sesuatu untukmu?” tawar seseorang. Dia yang tadi memesan latte, kini berdiri di hadapan Blaire dengan raut khawatir.
“Blaire? Ada apa ini?” Belum sempat gadis cantik itu menjawab, Viktorija sudah lebih dulu menegur sambil berjalan mendekat ke arahnya.
“Maafkan aku, Bu. Aku hanya sedikit lepas kendali," sahut Blaire seraya menyeka air matanya, saat melihat sosok sang ibu yang tampak sangat khawatir. Hal itu membuat gadis berambut pirang tersebut menjadi sadar akan sikapnya yang agak berlebihan.
“Apakah ada yang bisa kulakukan untuk kalian, Nyonya Sutherland?” Pria yang berdiri di depan Blaire tadi, menyapa Viktorija.
“Ah, hai," sapa Viktorija yang seketika memperlihatkan ekspresi penuh keramahan.
"Bukankah kau putra dari tetangga baru itu? Maafkan putriku, dia sedang tak enak badan. Karena itulah dirinya menjadi agak sensitif, tapi aku akan menyuruhnya untuk pulang sebentar lagi,” ucap Viktorija dengan nada yang terdengar begitu tenang, seakan tak ada yang serius sama sekali.
“Aku sama sekali tidak merasa terganggu, Nyonya. Jika Anda membutuhkan bantuan, maka katakan saja. Sebisa mungkin aku akan memberikannya. Bukankah kita bertetangga?” Wajah ramah itu tersenyum lebar pada Viktorija, kemudian beralih pada Blaire yang lebih banyak menunduk.
“Sepertinya itu ide yang bagus. Blaire sedang jenuh dan membutuhkan hiburan. Mungkin kau bisa mengajaknya berjalan-jalan nanti malam,” celetuk Viktorija begitu saja. Namun, sontak Blaire menoleh dan melotot tajam pada wanita yang telah melahirkannya tersebut.
“Kau pemuda yang baik dan sopan. Sesuatu yang jarang dimiliki oleh anak-anak muda zaman sekarang. Kau juga sangat tampan, dan itu mengingatkanku pada mendiang suamiku,” sanjung Viktorija tanpa henti, padahal dia belum mengenal pria muda itu sama sekali.
“Bu!” potong Blaire yang keberatan dengan sikap ibunya.
“Ah, siapa namamu tadi? Kenapa aku mendadak lupa?” Viktorija sama sekali tak menanggapi protes sang putri.
“Aaron, Nyonya. Akan tetapi, sepertinya aku tidak bisa mengajak jalan-jalan putri Anda nanti malam,” balas pria jangkung itu dengan kalem.
“Apakah kau sudah memiliki kekasih?” Viktorija mengernyitkan kening sambil memasang mimik serius.
“Tidak, bukan karena itu. Aku tidak bisa mengajak putri Anda berjalan-jalan, karena aku sendiri belum hafal daerah sekitar sini. Keluargaku baru pindah ke distrik ini pagi tadi,” jawab Aaron sambil memandang penuh arti kepada Blaire.
“Kalau begitu, biar putriku yang menjadi penunjuk jalannya,” putus Viktorija dengan setengah memaksa.