Edinburgh

Edinburgh
Caught Up



Selama dalam perjalanan menuju pulang, Blaire dan Christian tak banyak bicara. Pria tersebut menatap lurus ke depan, dan terkadang melihat ke luar jendela kaca mobil yang sedang melaju. Sementara Blaire pun saat itu tengah merasa resah. Dia takut jika Viktorija sampai mengetahui apa yang terjadi pada dirinya.


Helaan napas berat meluncur dari bibir gadis berambut pirang tadi. Dia lalu melirik ke arah Christian yang masih dan sepertinya akan selalu memasang wajah datar, bahkan hingga musim gugur tahun depan. "Ssst!" Blaire mengeluarkan suara, berharap agar pria berambut gelap itu menoleh padanya.


Akan tetapi, Christian ternyata tak menggubris. Blaire hanya melihat ekor mata pria itu melirik sejenak, lalu kembali tertuju ke depan. Sungguh merupakan sikap yang sangat menyebalkan bagi Blaire. Di saat pria lain berusaha untuk mengejar dan mendapatkan perhatiannya, maka Christian justru berbeda.


"Ssstt!" Blaire kembali mengeluarkan suara. Untuk kali ini, Christian menoleh padanya. Namun, sebelum gadis itu sempat mengucapkan sesuatu, taksi yang mereka tumpangi telah terlebih dahulu tiba di tempat tujuan. Akhirnya, Blaire pun mengurungkan niat untuk berbicara kepada pria yang masih tetap misterius itu, meski kini dia telah bersedia menyebutkan nama.


Dengan hati-hati, Christian membantu Blaire untuk turun. Entah saat itu ada tetangga yang melihat atau tidak, tapi mereka berdua tak punya pilihan lain. Christian bahkan ikut masuk, dan memastikan gadis itu tak apa-apa.


"Apa ongkos taksi juga akan masuk ke dalam tagihanku?" tanya Blaire polos.


"Akan kuhitung ulang nanti," jawab Christian sambil meletakkan obat yang telah diberikan oleh dokter. "Kau masih ingat jadwal meminum obat ini, kan?" tanyanya.


"Ya, jangan khawatir. Aku ...." Blaire terdiam sejenak. "Bisakah kau membuatkan alarm di ponselku? Aku agak pelupa. Jadi, untuk segala sesuatunya selalu kubuat sebuah catatan penting di sini." Blaire menyodorkan ponsel miliknya kepada Christian.


Sementara pria itu tak menjawab. Dia hanya menatap aneh kepada Blaire untuk sesaat, sebelum menerima alat komunikasi canggih tadi. Pria berkulit eksotis itu tampak mengetikkan sesuatu di sana. Sedangkan Blaire asyik memperhatikannya dengan saksama dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Pria itu terlihat amat sempurna. Blaire mencari celah kekurangan dari fisiknya yang tampak tegap dan begitu kokoh, kuat serta begitu atletis dalam balutan turtleneck hitam lengan panjang. Namun, makin diperhatikan, Blaire justru semakin banyak mendapat sesuatu yang membuatnya harus tersenyum penuh kekaguman.


"Dari mana asalmu, Chris?" tanya Blaire kemudian, setelah pria itu mengembalikan ponsel miliknya.


"Apa itu penting?" Christian balik bertanya.


"Astaga, kau ini. Apa yang menjadi alasanmu hingga harus bersikap sangat tertutup dari setiap orang. Kau bahkan membiarkan semuanya berpikir macam-macam tentang dirimu," ujar Blaire yang seakan memprotes sikap pria berambut gelap itu.


"Semua orang?" ulang Christian sambil memicingkan matanya yang tajam.


"Ya ... um ... anggap saja begitu." Blaire mengempaskan sebuah keluhan pendek. "Baiklah, hanya aku dan teman-temanku," ralatnya kemudian.


Namun, Christian tak menanggapi. Dia sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang tengah dia lakukan dengan benda tersebut.


"Aku harus pulang. Apa kau akan baik-baik saja jika kutinggal sendiri?" tanyanya. Terbersit rasa khawatir dalam diri pria itu.


"Aku rasa diriku akan baik-baik saja, meskipun belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya," sahut Blaire. "Aku akan ke kamar sekarang untuk segera berganti pakaian," ucap gadis itu lagi sambil berusaha untuk berdiri. Pengaruh obat yang tadi disuntikkan terhadap dirinya memang belum habis, sehingga Blaire tak terlalu kesakitan atau merasa sulit saat bergerak.


"Di mana kamarmu?" tanya Christian.


"Mari kubantu." Christian meraih obat-obatan yang tadi dirinya letakkan di atas meja. Pria dengan postur tinggi tersebut, kemudian memegangi lengan gadis itu dan membantunya meniti satu per satu undakan anak tangga.


"Ya, Tuhan. Biasanya aku berlari saat turun-naik tangga itu," keluh Blaire ketika dia telah tiba di depan kamarnya. Tanpa diminta, Christian kembali membantu membukakan pintu. Dia memastikan Blaire aman hingga si pemilik rambut pirang tadi duduk nyaman di atas tempat tidurnya.


"Bisakah kau sembunyikan obat-obatan itu di dalam laci?" pinta Blaire seraya menunjuk pada meja di dekat tempat tidur, dengan beberapa susu laci. "Simpan di laci kedua saja," suruh Blaire lagi dengan enteng. Puas rasa hati gadis itu bisa melakukan hal demikian terhadap pria sedingin Christian. Di saat yang lain tak mampu untuk menembus dinding pertahanan pria tersebut, sedangkan dia bisa memerintah si pria dengan seenaknya.


Tanpa memberikan jawaban, Christian pun melakukan apa yang Blaire perintahkan. Untuk sejenak, dia terpaku menatap foto seorang pria yang tersimpan di dalam laci itu. "Apa ini foto ayahmu?" tanyanya. Sulit dipercaya, seorang Christian berbasa-basi terhadap Blaire.


"Ya," sahut si pemilik rambut pirang tadi sambil menatap layar ponsel. Dia sedang sibuk membalas pesan dari Adam. Pemuda itu menanyakan kondisi terkini dari Blaire. "Aku sengaja tidak memajang fotonya, karena selalu membuatku tidak bisa tidur," ucap Blaire kemudian. Namun, Christian tak menyahut. Dia kembali memeriksa ponselnya dan tampak serius dengan benda tersebut.


Tak berselang lama, terdengar suara dering ponsel milik Blaire. Nama Adam tertera di layar sebagai pemanggil. Awalnya, Blaire merasa ragu untuk menjawab panggilan tersebut. Namun, pada akhirnya gadis itu menerima juga telepon dari pemuda yang sudah lima kali dia tolak tersebut.


"Hai, Blaire. Aku hanya ingin memastikan keadaanmu." Suara Adam terdengar di ujung telepon. Dia begitu mengkhawatirkan gadis cantik pujaan hatinya.


"Bukankah tadi sudah kukatakan padamu. Aku bahkan sekarang telah berada di rumah. Kau tidak perlu terlalu khawatir secara berlebihan," sahut Blaire dengan tak acuh. Dia memang tak terkesan atau akan tiba-tiba luluh dan menerima cinta Adam, hanya dengan sebuah perhatian kecil seperti itu.


"Syukurlah jika lukamu tidak terlalu parah. Aku juga sudah menyelesaikan segala urusan dengan pihak yang berwajib. Mereka mengurung Kenneth untuk pemeriksaan lebih lanjut. Mantan kekasihmu itu ternyata seorang berandalan, Blaire," tutur Adam.


"Karena itulah aku meninggalkannya. Aku ingin seseorang yang dewasa dan tentu saja bisa membimbingku menuju pada kedewasaan yang sesungguhnya," sahut Blaire seraya menoleh ke arah Christian berdiri. Lagi-lagi, rasa kagum terhadap sosok tampan nan misterius tersebut kembali hadir dalam diri gadis itu.


"Ya sudah, Adam. Aku ingin beristirahat dulu," tutup Blaire. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia mengakhiri sambungan telepon. Blaire tak peduli meskipun pemuda itu masih ingin berbincang dengannya.


Sementara Christian pun baru selesai dengan ponsel yang sejak tadi menjadi fokus utamanya. Setelah itu, dia lalu menoleh kepada Blaire yang ternyata sedang memandang dengan tatapan aneh. Namun, Christian sudah tak merasa terganggu lagi dengan sikap gadis berambut pirang tersebut. "Aku pulang dulu. Lagi pula, aku harus segera ke toko." Christian menaikkan lengan t-shirt turtleneck yang dia kenakan. Pria itu bersiap untuk pergi.


"Terima kasih untuk semuanya, Chris," ucap Blaire. Gadis itu tersenyum lembut.


"Sama-sama," balas Christian. "Jangan lupa untuk minum obat. Aku sudah memasang alarm di ponselmu." Dia berjalan ke dekat pintu. Tanpa banyak bicara lagi, pria itu segera membukanya. Namun, seketika Christian terkejut, karena Viktorija telah berdiri di luar kamar.


🍒🍒🍒


Hai, ceuceu punya rekomendasi novel lagi yang tak kalah keren.