Edinburgh

Edinburgh
Do Something



"Kau tak ingin berjuang untukku, Chris?" Sebuah pertanyaan yang terdengar sangat menakutkan bagi Christian. Namun, tak membuatnya menghindar apalagi hendak melarikan diri.


"Nyonya Shuterland sudah menegaskan bahwa aku harus menjauh dari hidupmu. Dia lebih berkenan jika kau bersama Aaron. Akan tetapi, andai kau bersedia, maka aku akan membawamu dan Ainsley detik ini juga dari Edinburgh. Kita bisa menjauhi semuanya dan hanya menjalani kehidupan bertiga. Aku, kau, dan anak kita." Christian masih menangkupkan kedua tangan pada wajah cantik Blaire.


Sementara gadis itu menggeleng pelan. Tentunya Blaire tak setuju dengan hal itu. "Tidak, Chris. Aku tak mungkin pergi dari kota ini dan meninggalkan ibu seorang diri. Dia sudah semakin tua dan ... aku tak ingin membiarkannya begitu saja. Aku mencintaimu, tapi aku juga menyayangi ibuku." Air mata kembali menetes di sudut bibir ibunda Ainsley.


Christian kembali menyeka bulir-bulir kepedihan dari gadis yang teramat dia cintai. "Kalau begitu, izinkan aku melakukan satu hal," pintanya.


"Apa?" tanya Blaire sambil menautkan alis.


"Sudahlah. Jangan bersikap seperti ini. Lihat, Ainsley memperhatikanmu sejak tadi." Christian mencoba untuk menenangkan Blaire. Mereka berdua pun menoleh kepada si kecil berambut pirang yang sejak tadi berdiri dengan raut keheranan. "Sebaiknya kau segera ke kedai, sebelum ibumu memanggil kemari sambil berteriak," saran pria itu seraya mengelus lembut rambut panjang Blaire.


Blaire pun mengangguk setuju. Dia lalu merapikan diri serta menyeka air matanya. "Ini bekal makan siang Ainsley. Tadi pagi dia sarapan cukup banyak." Blaire tersenyum sembari menoleh kepada putra semata wayangnya. Dia juga menyodorkan kotak makan siang untuk anak itu kepada Christian yang segera menerima benda tadi. Setelah memberikan beberapa pesan kepada Ainsley, Blaire pun keluar dari dalam toko. Dengan langkah yang tanpa semangat sama sekali, gadis itu berjalan masuk ke kedai.


Di dalam sana, Viktorija sudah menyambutnya sambil tersenyum lebar. Wanita paruh baya tersebut tampak sangat bahagia, ketika melihat kehadiran Blaire di sana. Dia bahkan tak menanyakan keberadaan Ainsley, karena dirinya sudah dapat menebak bahwa anak itu pasti tengah bersama Christian. "Aaron tadi menghubungiku. Dia mengatakan bahwa kau sudah menerima dan bersedia untuk menikah dengannya," ucap janda cantik berambut pirang sebahu itu.


Namun, kebahagiaan Viktorija berbanding terbalik dengan sikap yang ditunjukkan oleh Blaire. Dia tak merespon sama sekali. Blaire langsung meraih apron, kemudian memakainya. Dia pun berdiri di belakang meja pemesanan sambil mempersiapkan segala hal, sebelum pengunjung kedai berdatangan ke sana.


"Kau tidak mendengarku, Blaire?" Viktorija mendekat kepada putrinya yang menyibukkan diri dengan sesuatu tak penting, seakan tidak ingin menanggapi perkataan sang ibu. Viktorija pun berjalan mendekat, kemudian berdiri di sebelah Blaire. Dia menyandarkan sebagian tubuh pada pingiran meja yang jauh lebih rendah, daripada bagian depannya. Wanita paruh baya tersebut menatap lekat sang anak yang terlihat tak berseri sama sekali.


"Apa dia memengaruhimu dengan ungkapan cinta dan rayuan manis?" tukas Viktorija sedikit ketus.


"Siapa yang Ibu maksud?" tanya Blaire tanpa mengalihkan pandangan kepada sang ibu yang masih memperhatikannya.


"Siapa lagi kalau bukan Christian. Pria pujaan hatimu," sahut Viktorija dengan nada setengah mencibir. Dia menunjukkan rasa tak sukanya terhadap Christian secara terang-terangan.


"Christian tidak pernah merayuku. Bukankah ibu pernah mengatakan bahwa untuk bicara saja dia seperti mengalami kesulitan," sahut Blaire dengan ucapannya yang sengaja menyentil Viktorija.


"Baiklah. Lalu, kenapa kau bersikap seperti ini?Kupikir kau akan tersenyum bahagia atas keputusanmu. Kau yang menentukan semuanya, Blaire." Nenek dari si kecil Ainsley tadi masih dengan tangan yang terlipat di dada. Tatapannya pun kian lekat terhadap gadis cantik yang tak ingin menoleh padanya.


Hari itu, Blaire lewati dengan tanpa semangat sama sekali. Dia lalu melihat ke arah jam kecil yang menempel pada dinding bagian belakangnya. Saat itu sudah lewat tengah hari, tapi Christian belum juga mengantarkan Ainsley ke kedai. Blaire kemudian mengirimkan sebuah pesan singkat kepada ayah dari putranya tersebut.


Ainsley sedang tidur siang.


Christian bahkan menambahkan sebuah foto, yang memperlihatkan bahwa Ainsley memang sedang tidur dalam posisi tak beraturan. Seutas senyuman pun muncul di sudut bibir gadis itu. Sedikit hiburan saat melihat kelucuan sang anak yang menjadi pengikat hubungannya dengan Christian, meski tanpa ikrar suci pernikahan.


Sekitar pukul enam belas lebih tiga puluh, Viktorija telah bersiap untuk menutup kedai. Saat itulah Christian datang dengan membawa Ainsley yang telah dia mandikan, meski masih mengenakan pakaian yang sama. Namun, anak itu terlihat sangat antusias dan juga ceria. Dia berlari ke arah Blaire yang telah siap menyambutnya.


"Ayah membuatkanku burung dari kertas," ucap Ainsley sambil menunjukkan apa yang dia bawa dari toko.


"Wah, ini sangat bagus. Apa kau sudah mengucapkan terima kasih?" tanya Blaire berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja di hadapan putra tercintanya.


"Aku tadi sudah memeluk dan mencium pipi ayah, Bu. Dia senang karena aku melakukan itu," sahut Ainsley sambil memandang wajah Blaire. "Ibu tidak menangis lagi, kan?" tanya anak itu polos, tapi telah berhasil membuat Viktorija menghentikan aktivitasnya. Wanita paruh baya tersebut diam untuk beberapa saat, sebelum kembali melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.


Sementara Christian masih berdiri mematung sambil memperhatikan dari dekat pintu masuk. Perlahan, dia melangkah ke dekat Viktorija yang tengah membereskan bangku ke atas meja. Tanpa diminta, pria itu pun membantu. Dia bahkan melakukannya dengan jauh lebih cepat, hingga membuat Viktorija terdiam kemudian menatapnya heran. "Aku tak akan tiba-tiba menjadikanmu sebagai menantuku, hanya karena kau membantu menaikkan bangku ke atas meja," ujarnya ketus.


"Aku membantu dengan sukarela. Anda tak perlu memberikan timbal balik dalam bentuk apapun. Namun, jika Anda merasa tak enak hati, maka berikan kebaikan itu untuk Blaire," sahut Christian datar tanpa menoleh kepada ibu dari wanita yang sangat dia cintai.


"Apa maksudmu?" tanya Viktorija tak mengerti.


Christian tak langsung menjawab. Dia mengarahkan pandangan sejenak kepada Blaire yang tengah melakukan tugasnya di bagian lain kedai. Sedangkan Ainsley asyik bermain dengan burung dari kertas yang Christian buatkan tadi saat bermain di toko.


"Putriku akan segera menikah dengan Aaron. Kutekankan sekali lagi padamu agar tak mengusiknya sama sekali," ujar Viktorija dengan begitu jelas, hingga Christian seketika menoleh padanya. Pria itu pun tersenyum simpul, lalu kembali mengarahkan padangan kepada Ainsley. Tak ada beban sama sekali dalam diri anak itu. Dia begitu menikmati hari-harinya.


"Aku mencoba untuk merelakannya. Kuyakin dan sangat menyadari bahwa semua yang Anda lakukan adalah demi kebaikan serta kebahagiaan Blaire. Namun, apakah Anda mengetahui bahwa pagi ini dia datang padaku sambil menangis?" Christian kembali mengarahkan pandangan kepada Viktorija yang tak menanggapi ucapannya. Wanita paruh baya tersebut bahkan tak menoleh sama sekali. "Jika aku mau, maka diriku bisa membawa mereka berdua pergi jauh dari Edinburgh. Namun, Blaire menolak. Alasannya karena dia sangat mengkhawatirkan Anda."