Edinburgh

Edinburgh
The Scent



Sekitar pukul delapan malam, Aaron mengantarkan Cathy ke pub tempat di mana gadis itu bekerja sebagai seorang bartender. Entah kegilaan macam apa yang sudah mereka lakukan tadi. Akan tetapi, nyatanya kedua sejoli itu menutup pertemuan dengan sebuah ciuman mesra di dalam mobil. “Terima kasih, Cathy,” ucap Aaron sebelum gadis itu keluar dan melambaikan tangan terhadapnya.


Selang beberapa saat, Aaron pun kembali melajukan kendaraan meningalkan pub tadi. Selama dalam perjalanan, pria bermata biru itu terus berpikir dengan dalam. Dia juga bertanya dalam hati. Apakah yang dilakukannya bersama Cathy hingga matahari terbenam tadi merupakan sebuah pelarian, atau membuktikan bahwa cintanya terhadap Blaire tak sebesar yang dia kira selama ini.


Ada satu titik, di mana Aaron merasa bahwa dirinya telah membuat suatu kesalahan yang teramat besar. Namun, pada sudut hatinya yang lain, dia merasa telah melepaskan diri dari sebuah ganjalan yang teramat besar dalam diri.


Aaron pun kemudian menepikan kendaraannya. Dia lalu merogoh ponsel dari saku bagian dalam blazer. Pria berambut pirang itu tampak mengirimkan pesan kepada seseorang.


Tak berselang lama, sebuah balasan pun masuk. Setelah itu, dia kembali menjalankan kendaraan, membelah suasana malam kota Glasgow untuk kembali ke Edinburgh.


......................


Keesokan harinya, Ainsley kembali diperiksa oleh dokter yang menangani anak itu. Sebuah berita bagus pun didapatkan Blaire dan Christian. Dokter tersebut memperbolehkan Ainsley untuk dipindahkan ke rumah sakit di Edinburgh, atau bahkan melakukan perawatan hingga masa pemulihan di rumah. Satu hal yang ditekankan adalah, agar dia tetap melakukan pemeriksaan rutin untuk mengecek kondisinya.


“Syukurlah. Kita bisa kembali ke Edinburgh dengan segera,” ucap Blaire setelah dokter keluar dari kamar perawatan Ainsley.


“Aku rasa, mungkin kau lanjutkan saja perawatannya di rumah. Ainsley pasti sudah bosan dengan suasana rumah sakit. Bukankah begitu, Ains?” Christian menoleh kepada sang anak. Akan tetapi, Ainsley justru membalasnya dengan sorot serta raut wajah tak mengerti, dengan apa yang kedua orang tuanya bicarakan.


“Christian benar. Cucuku pasti sudah merindukan suasana rumah. Lagi pula, dengan melakukan perawatan serta pemulihan di sana, maka segala aktivitas akan kembali berjalan dengan normal,” timpal Viktorija yang setuju atas usulan dari Christian.


“Oh ya, Chris. Dalam beberapa hari kemarin, ada banyak orang yang bertanya kenapa toko milikmu selalu tutup.” Viktorija mengarahkan pandangan kepada ayah dari cucu kesayangannya.


Sedangkan Christian hanya menanggapi ucapan Viktorija dengan sebuah senyuman kecil. Dia masih merasa canggung dan tak terbiasa, atas sikap berbeda yang ditunjukkan oleh Viktorija terhadap dirinya.


“Setelah ini, Christian bisa kembali membuka tokonya,” ujar Blaire seraya melirik pria itu.


“Ya, dan aku juga harus kembali ke kedai. Kupikir Aaron akan menjemputku kemari, tapi mungkin dia lupa dengan wanita tua ini.” Viktorija kemudian meraih tas beserta overcoat yang dia letakkan di atas sofa. Wanita paruh baya tersebut sudah bersiap untuk kembali ke Edinburgh.


“Aku lupa mengatakannya padamu, Bu. Semalam Aaron mengirimkan pesan bahwa dia ada urusan yang sangat mendadak. Lagi pula, Ibu tidur lebih cepat dari biasanya,” ujar Blaire seraya duduk di tepian ranjang. “Apa kau merindukan rumah, Sayang?” tanya gadis itu dengan raut ceria.


“Ya, Ibu. Aku rindu kamarku,” sahut Ainsley polos.


“Aku akan mempersiapkan semuanya. Kemungkinan nanti sore kita bisa meninggalkan rumah sakit,” Christian ikut menimpali. Dia langsung berdiri meninggalkan ruang perawatan Ainsley.


“Tunggu sebentar,” cegah Blaire. Gadis itu segera berdiri dan menyusul langkah Christian dengan terburu-buru. “Aku juga memiliki sedikit tabungan yang bisa digunakan untuk membayar biaya rumah sakit dan obat-obatan Ainsley," ucap Blaire.


Mendengar apa yang gadis itu ucapkan barusan, Christian langsung saja menghentikan langkah. Pria itu berbalik pada ibunda Ainsley tersebut dengan sorot tak percaya. “Sudah kukatakan bahwa kau tak perlu memikirkan masalah ini, Blaire. Aku adalah ayahnya. Sudah menjadi tanggung jawabku untuk mengatasi ini semua,,” tegas pria itu.


“Ya, aku tahu. Akan tetapi, Chris. Aku ….”


“Sudahlah, Blaire. Apakah kau mau kucium lagi?” ancam Christian memotong perkataan Blaire begitu saja.


“Astaga.” Gadis cantik berambut pirang itu berdecak pelan. Dia memilih untuk mengalah dan kembali ke kamar. Blaire pada akhirnya menyerahkan semua urusan kepada Christian.


Tepat pada saat beberapa perawat memindahkan Ainsley ke atas kursi roda, Aaron masuk ke dalam ruangan sambil membawa keranjang penuh dengan mainan baru yang tampak mahal. “Apakah aku terlambat?” tanyanya dengan raut biasa saja.


“Tidak sama sekali. Kami baru saja selesai bersiap-siap,” jawab Blaire. Dia sedikit heran tatkala melihat Aaron yang saat itu tampak ceria. Tak seperti kemarin, Aaron terlihat penuh dengan amarah.


“Oh syukurlah,” balas Aaron. senyuman pria berambut pirang itu tampak menawan, terkembang sempurna di paras tampannya yang memikat. “Lihatlah apa yang kubawakan untukmu, Boy.” Dia menyerahkan keranjang mainan tadi pada Ainsley.


“Wah, robot X seri terbaru!” seru Ainsley antusias.


“Ya. Ini sebagai hadiah kepulanganmu dari rumah sakit. Aku sangat bahagia karena kau akan segera kembali ke rumah. Kita akan bermain bersama setibanya di sana nanti,” ucap Aaron yang tak kalah antusias.


“Bisakah kita berangkat sekarang, Tuan-tuan?” sela salah seorang perawat.


“Oh ya. Tentu,” sahut Christian yang lebih banyak diam setelah Aaron datang ke sana. Dia berjalan lebih dulu ke tempat parkir, di mana dirinya sudah menyiapkan mobil untuk kepulangan mereka ke Edinburgh. Langkah tegap Christian tadi, diikuti oleh Viktorija. Wanita paruh baya itu berjalan di belakang perawat yang mendorong kursi roda Ainsley.


Sementara Aaron dan Blaire berjalan paling belakang. Pria rupawan berambut pirang itu membantu membawakan tas besar berisi perlengkapan Blaire, serta keranjang yang penuh mainan tadi.


“Baumu harum sekali, Aaron. Seperti bukan parfummu selama ini,” celetuk Blaire, ketika mereka melangkah keluar dari ruang perawatan yang kini telah kosong.


Seketika Aaron tertegun untuk sejenak. Sesaat kemudian, dia kembali berjalan dengan langkah yang terlihat kaku. “Benarkah?” sahutnya sambil tertawa pelan untuk menutupi rasa gugup.


“Ya. Aku seperti pernah mencium bau ini, tapi entah di mana,” jawab Blaire dengan wajah seperti tengah berpikir.


“Ah, kurasa mungkin hanya parfum orang yang tak sengaja bersenggolan denganku di kantor tadi,” kilah Aaron.


“Bisa jadi,” sahut Blaire tersenyum manis. Dia sempat memperhatikan calon suaminya itu dengan lekat, sebelum kembali melanjutkan langkah.


“Kenapa?” tanya Aaron seraya mengernyit keheranan.


“Tidak apa-apa. Aku hanya bersyukur mendapatkan seseorang sebaik dirimu,” ujar Blaire sambil mengarahkan pandangan ke depan, mengikuti lorong panjang menuju tempat parkir.


“Aneh sekali. Kenapa kau tiba-tiba berbicara seperti itu?” Perasaan Aaron semakin tak karuan. Tenggorokannya tiba-tiba terasa begitu kering, sehingga dia harus menelan ludahnya berkali-kali.


“Setelah kau tak sengaja membaca pesanku bersama ibu, kau masih bersedia kembali dan menjenguk Ainsley,” sahut Blaire melirik sejenak kepada calon suaminya.


Lagi-lagi, Aaron menghentikan langkah. Dia menatap Blaire dengan sorot aneh. “Katakan padaku, apakah kalian sudah berbuat lebih jauh dari sekadar berciuman?” tanya Aaron penuh selidik.


Blaire yang merasa terusik dengan pertanyaan tadi, kembali menoleh, lalu melotot tajam. “Aku bukanlah seorang wanita murahan, Aaron. Kuakui kami sedikit kelewatan saat itu. Akan tetapi, aku sangat menghargai hubungan kita. Sebagai calon istri dari Aaron Walsh, aku sadar akan batasanku!” tegas Blaire.


“Terakhir kali aku berhubungan dengan begitu dalam bersama seseorang adalah beberapa tahun yang lalu, sampai aku hamil dan melahirkan Ainsley. Sejak saat itu, aku tak pernah lagi berpikir untuk mengulanginya” sambung Blaire dengan sorot mata yang terlihat sendu, membuat Aaron semakin membeku.