Edinburgh

Edinburgh
The Man of a Million Mysteries



Ainsley berlari ke dalam pekarangan, sesaat setelah Aaron membukakan pintu serta melepas sabuk pengamannya. Anak itu terlihat sangat ceria sambil membawa mainan clay berbentuk dinosaurus tadi. Sedangkan Blaire hanya menanggapi dengan sebuah senyuman. Bagaimanapun juga, hati kecil gadis itu masih memikirkan pria yang tadi dia temui.


"Dia terlihat sangat ceria," ujar Aaron yang berdiri di samping Blaire.


"Ya. Setidaknya hari ini dia tidak menggangguku di kedai," balas Blaire. Padahal, hari ini pikirannya sama sekali tak dapat berkonsentrasi dengan penuh.


"Baguslah. Dia makin besar dan akan semakin mengerti dengan kesibukan ibunya." Aaron tersenyum, kemudian mengalihkan pandangan kepada Blaire. "Terima kasih, Blaire," ucapnya kemudian.


"Terima kasih untuk apa?" tanya gadis bermata hijau itu membalas tatapan Aaron.


"Terima kasih karena ... karena telah memberi kesempatan untuk menunjukkan segenap perasaanku padamu," jawab Aaron dengan rasa bahagia yang teramat sulit untuk dia ungkapkan. Aaron merasa beruntung. Penantian panjangnya telah tiba pada satu jawaban yang dia harapkan.


Sama halnya seperti Blaire. Selama ini, dia juga menantikan kembalinya seorang Christian. Keyakinan dalam hati yang begitu kuat, terjawab sudah dengan pertemuan hari ini. Namun, kenapa pria yang merupakan ayah biologis dari putranya tersebut, justru kembali pada saat dia baru saja menerima cinta seorang Aaron Walsh.


"Apa itu sangat istimewa bagimu, Aaron?" tanya Blaire pelan.


"Kau tahu bahwa aku sudah menantikan ini sejak lama," jawab sulung dari tiga bersaudara itu. "Oh ya. Persiapan pesta pernikahan Natalie sudah sepenuhnya dirampungkan. Kuharap semua berjalan sesuai dengan harapan." Pria itu mulai mengajak Blaire berbincang santai, karena dia tahu bahwa ibunda Ainsley tersebut merasa tak nyaman jika membahas masalah perasaan.


"Syukurlah. Tadinya aku ingin sekali membantu, tapi kau tahu sendiri aku begitu sibuk akhir-akhir ini." Blaire mengempaskan keluhan pendek.


"Tidak apa-apa. Lagi pula, kami sudah menyewa jasa wedding organizer yang terpercaya di sini." Aaron kemudian meraih kedua tangan Blaire, lalu menggenggamnya dengan erat. "Aku sudah menandatangani kontrak kerja sama dengan sebuah perusahaan besar di Glasgow. Doakan aku agar semuanya lancar. Setelah ini semua berhasil, aku ingin melamarnu. Kita menikah dan mungkin pindah ke sana. Aku akan membelikan rumah yang sangat layak untukmu dan juga Ainsley."


Sepasang mata biru milik Aaron tampak begitu bercahaya. Binar indahnya bahkan mengalahkan mentari di musim semi. Namun, keadaan berbeda yang Blaire tunjukkan sebagai tanggapan dari harapan sempurna seorang Aaron. Gadis itu tidak memperlihatkan antusiasme yang seharusnya.


"Apa ini tidak terlalu cepat?" Blaire tak tahu harus berkata apa selain pertanyaan demikian.


"Tentu saja tidak. Maksudku, itu merupakan rencana jangka panjang. Aku juga harus menyelesaikan beberapa urusan terlebih dahulu. Namun, setidaknya ada satu titik yang menjadi tujuan kita, sehingga perjalanan ini akan menjadi jauh lebih terarah. Itu juga pastinya bisa lebih memacu diriku dalam membangun bisnis," jelas Aaron masih dengan semangat yang menggebu.


"Dengarlah, Blaire. Sebenarnya aku sudah tak sabar untuk bisa tiba di titik itu. Aku ingin segera dapat membahagiakanmu dan juga Ainsley. Kalian berdua." Aaron mencium kedua tangan Blaire yang masih dia genggam dengan erat.


Sementara Blaire sendiri semakin merasa bingung, selain hanya mengangguk dengan diiringi sebuah senyuman. "Kau sudah memberikan banyak hal untuk kami berdua, bahkan terlampau banyak hingga aku tak tahu harus berterima kasih dengan cara bagaimana," balas Blaire pelan.


"Kau tidak harus berterima kasih, Blaire. Dengan melihatmu selalu tersenyum saja, itu sudah merupakan balasan yang setimpal bagiku. Aku mencintaimu dengan tulus. Aku menyayangi Ainsley sepenuh hati, meskipun dia bukanlah darah dagingku." Aaron kembali mencium kedua tangan Blaire. "Masuklah sebelum jagoan kecil itu berteriak dan mengira bahwa aku telah menculikmu." Aaron tertawa pelan.


"Baiklah." Blaire tersenyum lembut. Setelah itu, dia pun melangkah ke dekat pintu pagar yang sudah terbuka. Sebelum masuk, gadis cantik tersebut sempat menoleh terlebih dahulu. Dia kembali tersenyum lalu melambaikan tangannya.


Sementara di dalam rumah, Ainsley tengah asyik bermain bersama Viktorija. Wanita paruh baya itu terlihat lelah. Di usianya yang tak lagi muda, dia masih begitu aktif dalam berbagai kegiatan.


"Bagaimana keadaan Ibu?" tanya Blaire setelah mencium kening Viktorija yang sedang duduk di sofa.


"Aku sudah tidur sebentar," sahut Viktorija tenang.


"Sudah berkurang. Kau tidak perlu khawatir. Aku rasa mungkin karena semalam kurang tidur. Banyak hal yang harus kusiapkan sebelum berangkat hari ini," jelas Viktorija.


"Mungkin sudah waktunya bagi Ibu untuk beristirahat," saran Blaire.


"Ah tidak. Aku mencintai pekerjaan ini. Rasanya sangat menyenangkan masih bisa bergerak aktif di usiaku yang sekarang. Aku tak ingin berakhir seperti nyonya Clarkson, yang hanya menyirami rumput sambil menyulam dekat jendela."


"Kau memang yang terbaik, Bu. Itulah mengapa aku sangat mengagumimu." Blaire menggeser posisi duduknya, kemudian merengkuh pundak sang ibu dengan hangat.


"Aduh!" Tiba-tiba Ainsley merengek pelan.


"Ada apa, Sayang?" tanya Viktorija. Dia segera mendekat kepada sang cucu yang tengah duduk di atas karpet sambil bermain.


"Ekor dinosaurusku lepas, Nek," sahut Ainsley dengan wajah merengut.


"Astaga, kupikir ada apa." Viktorija mengempaskan napas pelan. Dia kembali duduk di sofa.


"Tak apa. Aku bisa meminta paman di toko untuk membuatnya lagi besok," ujar anak itu seraya meraih mainan lain dan kembali bersikap biasa.


"Paman siapa?" tanya Viktorija penasaran. Sementara Blaire sudah tampak gelisah.


"Paman di toko dekat kedai, Nek," jawab Ainsley tanpa menoleh kepada sang nenek.


Jawaban anak itu membuat Viktorija seketika memasang raut serius. Dia lalu menoleh kepada Blaire yang tampaknya ingin segera menghindar. Namun, sorot mata janda paruh baya tersebut telah mengunci Blaire untuk tetap berada di tempatnya.


"Siapa yang Ainsley maksud, Blaire?' tanya Viktorija penuh selidik. "Jangan katakan jika ...." Wanita paruh baya itu tak melanjutkan kata-katanya. Entah kenapa, tiba-tiba pikiran nenek dari seorang cucu tadi langsung tertuju kepada Christian. "Kuharap bukan dia," ucap Viktorija lagi sambil beranjak dari duduknya. Dia berlalu begitu saja dari ruang keluarga. Viktorija memilih masuk ke dapur dan menyiapkan makan malam.


Sementara Christian membaringkan tubuh tegapnya, pada selembar kasur tipis yang berada di bagian belakang ruangan toko. Dia melipat tangan kiri dan dijadikan sebagai penyangga kepala. Tatapan dari sepasang mata abu-abunya, menerawang pada ke langit-langit ruangan berhiaskan jaring laba-laba. Christian memang belum sempat membersihkan ruangan itu dengan benar.


Dalam diam, pria asal Meksiko tadi terus berpikir. Bayangannya tertuju pada paras cantik Blaire. Sekian lama dia pergi meninggalkan gadis itu, dan kini si pemilik mata hijau tersebut telah dimiliki oleh pria lain. Blaire bahkan sudah mempunyai seorang anak.


Christian kemudian memutuskan untuk bangkit dari tidurnya. Dia meraih jaket serta topi baseball yang tergantung di dinding. Pria berpostur tegap tadi lalu keluar dari dalam toko. Dengan kedua tangan yang berada di dalam saku jaket, Christian berjalan menyusuri trotoar seorang diri.


Suasana jalanan telah cukup sepi, karena sebagian besar pertokoan di sepanjang jalan sudah tutup. Saat itu, waktu menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Namun, Christian seakan tak takut sama sekali. Dia terus melangkah dengan sorot mata yang tajam tertuju ke depan.


Tak pernah terbayang dalam benak pria sejuta misteri itu, untuk kembali ke Edinburgh yang telah lama dia tinggalkan. Entah magnet sebesar apa, sehingga mampu menariknya dengan begitu kuat. Dia pun memutuskan datang lagi ke sana. Padahal, Christian yang memang selalu berpindah-pindah tempat, tak pernah kembali pada lokasi sama. Namun, kali ini dia meninggalkan sebuah jejak sangat besar di kota tersebut.


Akan tetapi, Christian sudah mengetahui alasannya. Perasaan aneh yang membuat dia tak dapat hidup tenang selama ini. Bukan apa, melainkan siapa. Jawabannya adalah dia yang tengah memandang dari jendela.