
Pagi yang cerah dengan cahaya mentari sehangat senyuman dari seorang Aaron, ketika dia melihat Blaire serta Ainsley keluar dari dalam rumah. Dengan segera, pria tampan berambut pirang tersebut membukakan pintu untuk ibu dan anak tadi. Pertama, Aaron mendudukkan Ainsley di jok belakang. Tak lupa, dia juga memasangkan sabuk keselamatan bagi anak itu. Setelah selesai dengan Ainsley, barulah Aaron membukakan pintu untuk Blaire.
"Bagaimana kabarmu pagi ini, Nona Shuterland?" sapa Aaron saat mereka telah duduk nyaman di dalam mobil.
"Ini hari yang cerah, Aaron. Bukankah begitu?" Blaire menoleh kemudian tersenyum lembut.
"Ya, kau benar. Ini adalah hari yang indah dan kau juga terlihat sangat cantik," sanjung Aaron setengah merayu.
"Sejak kapan kau menjadi seperti ini, Tuan Walsh?" Blaire tertawa renyah, mencoba menyingkirkan segenap keresahan atas pernyataan cinta dari Christian semalam. Meskipun itu hanya beberapa kata, tapi memberi efek yang sangat besar bagi gadis cantik tersebut. Hampir semalaman, Blaire tak dapat tidur karena memikirkannya.
Gadis cantik berambut pirang itu terus termenung, bahkan hingga Aaron memarkirkan mobilnya di depan toko milik Christian. Blaire baru tersadar, ketika sang kekasih menyentuh punggung tangannya. Dia pun sontak menoleh. Tanpa diduga, Aaron langsung saja mencium dengan tiba-tiba. “Apa yang kau pikirkan?” tanya pria tampan tersebut dengan lembut.
“Um, tidak ada. Aku hanya berpikiran untuk menyekolahkan Ainsley,” kilah Blaire. Dia menyelipkan beberapa helai rambut pirang indahnya ke belakang telinga. Sebisa mungkin Blaire menyembunyikan sikap gugup yang tengah mendera saat itu.
“Ide yang sangat bagus, Blaire. Kurasa memang sudah waktunya Ainsley bersekolah. Hal itu akan sangat bagus untuk tumbuh kembang dan kemampuan bersosialisasinya,” sahur Aaron menanggapi dengan antusias. Sejenak, pria bermata biru tersebut menoleh kepada Ainsley yang duduk tenang di jok belakang.
“Begitukah?” Blaire tersenyum samar. Terbayang oleh gadis itu, ketika putra kecilnya berjalan menuju sekolah sambil membawa tas dan bekal sambil dituntun oleh Christian. “Apa?” serunya tertahan, ketika tanpa sadar sosok rupawan itu menyelinap masuk ke dalam angan-angan indah tadi.
“Apanya yang apa, Blaire?” tanya Aaron keheranan. Dia mengira bahwa sang kekasih tengah berbicara kepadanya.
“Ah, tidak. Tidak apa-apa. Aku tiba-tiba teringat akan sesuatu,” kilah Blaire seraya tertawa pelan. Sesuatu yang sangat dibuat-buat dengan pipi yang bersemu merah.
Untung saja karena Aaron tak bertanya lagi. Dia bergegas melepas sabuk pengaman, lalu keluar dari dalam mobil. Sebelumnya, Aaron membukakan pintu untuk Blaire, barulah dia membantu Ainsley untuk melepas sabuk pengaman dan turun.
Sementara Blaire, sudah menjadi kebiasaan gadis itu untuk menoleh ke arah toko barang antik yang tepat berada di samping kedainya. Dia melihat bahwa toko tersebut sudah buka. Plakat bertuliskan ‘open’ telah tertempel di kaca pintu. Akan tetapi, tak terlihat sosok sang pemiliknya di dalam sana.
“Ada apa, Blaire? Apakah ada yang tertinggal?” Aaron menyentuh pundak ibunda Ainsley tersebut dengan lembut.
“Ah, Aaron. Tidak ada, aku hanya ….” Blaire tampak menimbang-nimbang dengan apa yang akan dirinya ucapkan. “Sudahlah." Dia lalu meraih tangan Ainsley dan segera menuntunnya masuk ke dalam kedai.
“Akan kucarikan informasi tentang sekolah kanak-kanak yang terbaik di sekitar sini,” ucap Aaron setelah mengantar hingga ke dalam kedai.
“Terima kasih, Aaron. Aku sangat menghargainya, tapi maaf karena aku tidak ingin merepotkanmu terus-menerus. Aku bisa mencarinya sendiri. Sudah terlalu banyak pekerjaan yang harus kau urusi,” tolak Blaire dengan halus. Sebisa mungkin dia menata kalimatnya agar tak menyakiti perasaan pria yang selama ini telah berbuat banyak bagi dia dan Ainsley.
“Tidak apa-apa, Blaire. Ini semua demi Ainsley.” Aaron tersenyum lembut sambil memandang kepada kekasihnya dengan tatapan penuh cinta.
Tanpa mereka berdua sadari, Ainsley tengah asyik melambaikan tangan pada seseorang. Bersamaan dengan itu, pintu kedai tiba-tiba dibuka dari luar oleh sosok pria yang tak lain adalah Christian. Sontak Blaire maupun Aaron menoleh ke arah suara. “Maaf, apakah sudah buka?” tanya Christian ragu.
“Paman!” Ainsley segera melepaskan tangannya dari genggaman Blaire, kemudian menghambur ke arah pria rupawan tersebut.
“Kata ibu dan paman Aaron, aku akan pergi ke sekolah,” ucapnya polos.
“Oh ya?” Christian menurunkan tubuh hingga sejajar dengan anak itu. “Kedengarannya sangat bagus. Kau akan mendapatkan banyak teman,” ujar pria itu sambil tersenyum.
Dari semenjak pertama kali bertemu dengan pria misterius tersebut, tak sekalipun Christian tersenyum selebar itu.
Sementara Aaron ikut tertawa melihatnya.
“Baiklah, aku harus ke kantor. Ada satu urusan yang telah menungguku di sana sepagi ini,” ujar Aaron mencoba berkelakar. Dia menyempatkan diri untuk mencium bibir Blaire sebelum meninggalkan kedai.
Hal itu tentu saja tak lepas dari pengamatan Christian. Raut hangat yang dia persembahkan untuk bocah tampan di hadapannya tadi, berubah seketika menjadi mimik datar dan dingin khas pria itu. Tatapan lekatnya tak berpindah dari ibunda Ainsley.
“Semoga harimu menyenangkan, Tuan.” Aaron menepuk pundak Christian sambil berjalan melewatinya, pada saat pria itu menegakkan kembali tubuh, Sedangkan Christian membalasnya dengan sebuah anggukan serta senyuman samar.
“Sampai jumpa nanti sore, Paman!” seru Ainsley antusias. Anak itu melambaikan tangan. Aaron pun tertawa pelan saat menanggapinya. Dia melambaikan tangan sebelum membuka pintu kedai dan berjalan menuju mobil.
Kini, yang ada tinggal Blaire, Christian, dan juga Ainsley di dalam kedai. Gadis itu mulai gugup. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling mencari sosok sang ibu yang kemungkinan besar berada di belakang. “Apakah kau hendak memesan kopi seperti biasanya?” tanya Blaire yang berusaha untuk mengurangi rasa canggung.
“Paman, apakah kau bisa menggambar?” Ainsley lebih dulu menyela, sebelum Christian sempat menjawab pertanyaan Blaire.
“Tidak. Jari-jariku terlalu kaku untuk membentuk garis lengkung,” jawab Christian. Lagi-lagi, dia tersenyum lebar kepada Ainsley. Setelah itu, Christian beralih kepada Blaire yang sudah berdiri di belakang meja pemesanan sambil memakai apron. “Ya. Kopi seperti biasa,” ucap pria tampan tersebut
“Baiklah. Tunggu sebentar,” sahut Blaire singkat. Dia menulis pesanan, kemudian meletakkannya pada jendela kecil di antara tempat pemesanan dan dapur. Setelah itu, dia kembali pada meja tadi.
"Silakan tunggu dulu," ucapnya pada Christian yang masih berdiri di balik meja sebelah luar.
"Apa hubungan kalian sudah lama?" tanya pria itu dengan tiba-tiba.
"Kau tidak perlu mengetahui urusan pribadiku," sahut Blaire sambil berbalik. Dia mengambil pesanan Christian dari jendela kecil tadi. Blaire meletakkan satu cup plastik kopi panas dan menggesernya ke arah Christian. “Pesananmu sudah siap,” ucapnya dingin.
Christian terdiam sejenak. Pria itu menatap gadis cantik yang merupakan ibu dari anak laki-lakinya. Tak berselang lama, dia lalu merogoh sesuatu dari dalam saku celana belakang. Pria itu mengambil dompet kulit dari sana.
Pada awalnya, Blaire mengira bahwa pria itu akan mengeluarkan uang untuk membayar kopi tadi. Namun, perkiraannya salah. Christian menyodorkan sebuah kartu kredit eksklusif.
“Black card?” gumam Blaire. “Maaf, tapi mesin EDC kami masih rusak dan belum diperbaiki,” tolaknya.
“Kartu ini bukan untuk membayar kopi,” sahut Christian seraya kembali merogoh saku celana, kemudian mengeluarkan beberapa koin penny.
“Lalu, untuk apa benda ini?” Blaire mengernyitkan kening. Sekilas ekor mata gadis itu melirik kepada Ainsley yang mulai asyik bermain di meja kecil, tempat biasa ketika menunggu Blaire bekerja.
“Ini untuk biaya hidup Ainsley,” jawab Christian kalem.
“Astaga!” Blaire mendengus kesal, lalu mengembalikan kartu itu pada pemiliknya. “Ambillah kembali karena aku tidak membutuhkannya! Selama ini aku sanggup mengurus putraku sendirian!” sahut Blaire dengan ketus. "Aku tidak butuh bantuan atau perhatian dalam bentuk apapun darimu, Christian!" Blaire memasang wajah jengkel di hadapan ayah dari anaknya.
“Kau boleh saja menolak cintaku, Blaire. Akan tetapi jangan pernah mencoba untuk mencegahku memberikan nafkah dan perhatian kepada Ainsley."