
Ainsley berjalan sambil sesekali meloncat riang di atas trotoar berlapis paving block yang berderet rapi. Sementara Christian tak sedetik pun melepaskan genggaman tangannya. Sesekali, pria tampan yang hingga saat ini belum diketahui usianya tersebut tampak memamerkan senyuman, saat melihat tingkah menggemaskan dari sang anak.
Sedangkan Ainsley tak henti-henti mengoceh. Jarang sekali dia bisa keluar pada malam hari, sehingga moment ini akan menjadi pengalaman yang teramat menakjubkan bagi anak berusia lima tahun tersebut. Dia tampak sangat antusias melihat sekeliling, sambil sesekali berbicara kepada Christian.
Lain halnya dengan Blaire. Ada perasaan yang begitu campur aduk dalam hati gadis tersebut. Di satu sisi, dia juga memang merasa tak enak terhadap Aaron. Namun, di sisi lain kebahagiaan itu teramat besar, menyapa dan membuat si pemilik mata hijau tadi terus saja menyunggingkan senyuman kecil. Kali ini, dia merasa seperti benar-benar telah memiliki keluarga sendiri.
Sepanjang jalan dengan penerangan lampu berwarna kuning temaram, mereka bertiga lalui dengan tanpa banyak mengeluarkan kata. Blaire ataupun Christian sepertinya larut dengan pikiran masing-masing. Akan tetapi, dapat dipastikan jika mereka merasakan kebahagiaan yang sama.
Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya Christian menghentikan langkah di depan sebuah restoran. Dia menoleh kepada Blaire untuk sejenak, sebelum akhirnya merengkuh tubuh mungil Ainsley dan membawa ke dalam gendongannya. Setelah itu, pria tampan bermata abu-abu tadi meraih pergelangan tangan Blaire. Dia menuntunnya masuk ke dalam sebuah tempat makan dengan suasana bagaikan di negeri dongeng.
Blaire tersenyum lembut, ketika Christian mengajaknya duduk pada sebuah meja dengan tiga kursi yang terletak di dekat jendela besar. Pada dinding yang terbuat dari batuan alam, tertempel lampu penerangan berwarna kuning. Cahaya temaram itu membuat kesan hangat yang menenangkan.
"Apa makanan kesukaanmu, Ains?" tanya Christian setelah mendudukkan putra semata wayangnya pada salah satu kursi.
"Ainsley menyukai segala jenis makanan," sahut Blaire mewakili sang anak untuk menjawab pertanyaan tadi.
"Baguslah. Kau memang anak yang hebat," balas Christian. Sesaat kemudian, pria itu mengalihkan pandangan kepada gadis cantik yang duduk berhadapan dengannya. "Apa kau sering mengunjungi tempat ini, Blaire?" tanyanya.
"Tidak juga," jawab Blaire. "Setelah melahirkan Ainsley, aku jarang sekali keluar rumah selain pergi ke kedai. Hari-hariku terasa jauh lebih melelahkan." Blaire tersenyum simpul.
"Apa kau sering mengganggu ibumu, Ains?" Christian mengalihkan perhatiannya kepada Ainsley.
Anak itu pun segera menggeleng. "Aku anak yang baik, Paman," sahutnya polos tapi penuh percaya diri.
"Jangan buat ibumu sedih. Kasihan dia sudah menangis terus saat aku ...." Christian tidak melanjutkan kata-katanya. Dia menatap kepada Blaire dengan sorot penuh arti. Ada perasaan aneh yang menyelimuti pria itu. Sulit dibayangkan, ketika seseorang seperti Christian merasa jatuh cinta. "Kau masih selalu menjadi yang tercantik, Blaire," sanjungnya.
Sedangkan Blaire tidak menanggapi. Dia balas menatap pria dengan t-shirt hitam panjang di hadapannya. "Aaron melamarku beberapa waktu yang lalu," ucap Blaire dengan berat.
"Apa kau menerimanya?" tanya Christian yang seakan ingin memastikan. Sorot mata yang tadinya terlihat penuh cinta, kini berubah seketika menjadi tampak khawatir. Ada keresahan mendalam yang tidak dia ungkapkan, tapi cukup terlihat oleh Blaire yang seakan sudah memiliki ikatan kuat dengan pria tersebut.
"Aku belum memberikan jawaban atau keputusan apapun, Chris. Aaron melamarku di saat kau datang dan menyatakan cinta. Kau pikir aku tidak merasa galau karenanya?" Blaire tertunduk beberapa saat, hingga seorang pelayan datang dan menyajikan menu yang sudah mereka pesan sebelumnya. Sementara Ainsley yang sepertinya sudah kelaparan, tampak begitu antusias. Anak itu makan dengan sangat lahap.
"Apakah itu artinya ...." Rona yang menunjukkan kegusaran dalam sorot mata Christian, perlahan memudar.
"Semenjak kau pergi, aku memang merasa tersiksa. Dunia ini rasanya akan berakhir dan tak pernah ada hari esok untukku. Aku meratap, bahkan tak jarang merutuki segala kebodohan karena telah jatuh cinta terhadap pria sepertimu." Blaire menatap Christian untuk beberapa saat. "Namun, saat itu Adam datang ke rumah. Dia menanyakan serta mencari keberadaanmu," ucap gadis itu lagi.
"Untuk apa?" tanya Christian.
"Dia ingin berterima kasih atas apa yang telah kau lakukan dalam kasus kematian misterius ayahnya. Entah mengapa, tiba-tiba aku teringat pada orang-orang yang menguntit dan menghadang kita waktu itu. Dari sanalah aku bertekad untuk menunggumu kembali. Namun, dalam perjalanannya ternyata aku hamil. Lalu, Aaron datang sebagai teman, sahabat, ... dia ... dia tetangga yang baik serta perhatian," tutur Blaire lagi.
"Dia juga sangat tampan," timpal Christian.
Sementara Christian tak tahu harus menanggapi apa. Pria itu memilih untuk segera mencicipi makanannya. Hingga beberapa saat berlalu, mereka bertiga tampak menikmati makan malam bersama untuk pertama kalinya.
Sesekali, Christian ataupun Blaire terlihat menyunggingkan senyuman lebar atas tingkah lucu Ainsley. Anak itu memang bukan tipe yang terlalu aktif. Namun, segala tingkah polahnya tetap saja begitu menggemaskan, dan tak jarang terlihat begitu menggelikan.
Setelah beberapa saat berlalu, acara makan malam pun usai. Ainsley yang kekenyangan, tak kuat berjalan sendiri. Pada akhirnya, Christian menggendong dia dengan posisi menghadap padanya. Saking terlalu nyaman berada dalam dekapan sang ayah, balita itu pun tertidur lelap sepanjang perjalanan pulang.
Ada beberapa obrolan ringan di antara Christian dan juga Blaire. Tak jarang gadis itu tersenyum lebar saat menanggapi ucapan si pria yang terlihat biasa saja. Ya, Christian memang tak pernah memasang ekspresi dengan terlalu berlebihan.
Sesekali, Blaire menoleh padanya. Gadis itu menikmati paras tampan yang masih terlihat jelas, meski dalam suasana malam yang begitu temaram. Sepanjang jalan, cahaya lampu berwarna kuning mengiringi langkah kedua insan yang telah dipisahkan oleh jarak dan waktu. Namun, takdir berkata lain dengan mempertemukan kembali, walau entah akan seperti apa ke depannya.
Setibanya di depan rumah, Christian pun ikut masuk. Dia bahkan menidurkan Ainsley di dalam kamar anak itu. Setelah memastikan bahwa putra semata wayangnya tidur dengan nyaman, barulah mereka berdua kembali ke pintu depan. Blaire bermaksud untuk mengantar Christian hingga ke halaman. Sedangkan Viktorija tak menampakkan diri sama sekali.
"Terima kasih untuk malam ini, Chris," ucap Blaire sebelum pria itu benar-benar berlalu dari hadapannya.
"Kuharap kita bisa melakukan hal seperti tadi, makin sering akan semakin baik. Itu juga jika kekasihmu tidak keberatan," sahut Christian yang berdiri berhadapan dengan Blaire.
"Ayolah, Chris." Blaire mengarahkan pandangan ke segala arah. Dia merasa tak nyaman ketika Christian berkata demikian. Kebisuan pun hadir di antara keduanya untuk sesaat. Blaire merasa bingung dengan apa yang akan dia katakan. Sementara Christian terlalu asyik memandangi ibu dari darah daging yang tengah berusaha untuk dia dekati lagi.
"Berapa usiamu sekarang, Chris?" tanya Blaire beberapa saat kemudian. Sebenarnya, ada banyak sekali hal yang ingin dia bahas dengan pria tersebut. Akan tetapi, semuanya tiba-tiba hilang dari dalam pikiran dan menguap bagaikan asap. Tak tersisa lagi karena tersapu oleh pesona luar biasa dari pria di hadapannya.
"Tiga puluh lima tahun," sahut Christian.
"Kupikir kau tak akan menjawabnya," ucap Blaire. Gadis itu pun mengempaskan napas pendek. Sungguh bodoh sekali. Blaire pun tertawa pelan.
"Apa kau juga ingin tahu berapa tinggi serta berat badanku?" tawar Christian. Walaupun pertanyaan tadi terdengar seperti sebuah candaan, tapi pria bermata abu-abu tersebut tak menunjukkan raut lucu atau semacamnya. Christian masih tampak biasa saja.
"Apa lagi yang boleh kutanyakan dan pasti akan kau jawab?" tanya Blaire. Perasaan canggung dalam dirinya sudah mulai terkikis sedikit demi sedikit.
"Apapun yang ingin kau ketahui," jawab Christian seraya tersenyum simpul. Sedangkan Blaire tertawa pelan. "Kuharap kau tidak bersedih lagi, Blaire," ucap Christian pelan.
"Kehadiran Ainsley telah memberiku banyak kebahagiaan. Setiap hari yang kujalani selalu terasa berbeda, meskipun dalam rutinitas yang sama. Apa kau akan seterusnya tinggal di kota ini, Chris?" Blaire menatap penuh arti kepada Christian.
"Aku menyukai kota ini. Edinburgh sangat tenang dan juga terasa cocok untuk seseorang sepertiku. Apalagi di sini ada kau dan juga Ainsley." Christian mengempaskan napas pelan. "Maafkan aku, Blaire," ucap pria itu kemudian.
"Chris ...." Belum sempat Blaire melanjutkan ucapannya, suara Aaron terlebih dulu menyela. Blaire dan Christian pun serempak menoleh.
Aaron melangkah ke dekat mereka berdua. "Apa aku mengganggu?" tanyanya dengan dingin.