Edinburgh

Edinburgh
Uncomfortable



Christian melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Dia berkali-kali melirik Ainsley dari kaca spion tengah. Buah hatinya bersama Blaire tersebut tampak sangat menikmati perjalanan pagi itu. “Sebenarnya nenekku juga ingin ikut, Ayah. Akan tetapi, dia mengurungkannya. Nenek mengatakan padaku bahwa nanti tidak ada yang menjaga kedai,” celoteh bocah tampan tadi dengan tiba-tiba.


“Sayang sekali, Ains. Seandainya nenekmu ikut, pasti akan lebih menyenangkan,” sahut Christian sambil terus mengemudi.


“Ah, tidak juga. Kalau nenekku ikut, granny Anette pasti akan turut serta. Aku tidak akan menyukainya, karena dia suka sekali mengacak-acak rambutku,” keluh Ainsley sambil memasang raut yang begitu menggemaskan.


“Siapa granny Anette?” tanya Christian seraya mengerutkan dahi.


“Dia ibu dari paman Aaron. Namun, granny sering mengatakan padaku jika aku seperti cucu kandungnya sendiri,” jawab Ainsley seperti orang dewasa. Dia menirukan kata-kata yang selalu diucapkan oleh Anette. Satu tangannya bergerak memainkan clay dinosaurus buatan Christian dulu.


“Oh,” ucap Christian. Hanya satu kata yang terucap dari bibir Christian saat itu, sebelum dirinya terdiam hingga tiba di area parkir sebuah restoran Meksiko yang terletak tak jauh dari kawasan wisata kastil Edinburgh.


“Di mana ini, Ayah? Kenapa aku belum melihat kastilnya?” tanya Ainsley keheranan.


“Kita harus mengisi perutmu dulu sebelum menaiki ratusan anak tangga menuju kastil,” sahut Christian seraya tersenyum lembut. Dia lalu keluar dari dalam mobil, kemudian membukakan pintu untuk putra semata wayang dan membantunya turun. Ekor mata Christian juga sempat menangkap mobil Aaron yang mengikuti dari belakang. Mobil itu berhenti tepat di samping mobil sewaannya.


Tak berselang lama, sang pemilik mobil beserta Blaire keluar dari sana. “Apa kita akan mencari sarapan di sini?” tanya Aaron.


“Ya. Lagi pula, ini masih terlalu pagi. Aku yakin loket juga belum dibuka,” jawab Christian sembari mengarahkan mereka semua masuk ke dalam bangunan restoran yang buka selama dua puluh empat jam.


Seorang pelayan datang menghampiri mereka dengan wajah ramah, setelah Christian memilih meja besar yang terletak di dekat jendela. Pelayan itu memberikan beberapa buku menu kepada masing-masing orang, termasuk juga Ainsley.


“Apa kau pernah memakan masakan Meksiko, Ains?” tanya Christian yang menempatkan sang putra tepat di sebelahnya.


“Dia tidak pernah mengonsumsi masakan yang terlalu aneh. Aku tidak yakin apakah makanan Meksiko yang pedas akan sesuai dengan perut balita,” celetuk Aaron sambil melirik ke samping kanan, tempat di mana calon istrinya tengah duduk dan memerhatikan buku menu.


“Tidak semua masakan Meksiko itu bercita rasa pedas. Kau bisa memesan enchilada tanpa tambahan cabai ataupun merica, dan itu aman untuk dikonsumsi,” balas Christian. “Seperti ini contohnya.” Pria tampan berambut gelap itu membalikkan buku menunya agar


Aaron dan Blaire dapat melihat dengan jelas.


Christian menempelkan telunjuk berhiaskan tato pada sebuah gambar yang menggugah selera. Namun, hal itu membuat Blaire seketika kehilangan konsentrasi. Telunjuk bertato pria itu, mengingatkan dia pada masa di mana Christian menuntun dirinya menyusuri jalan setapak menuju puncak bukit. Jemari itu pula yang telah menggenggam tangan gadis itu, ketika Christian dan Blaire menikmati matahari terbenam di dekat sungai.


“Nama menu ini adalah Chilaquiles. Makanan itu terbuat dari tortilla jagung dan dipotong menjadi empat bagian kemudian ditaburi berbagai macam topping. Contohnya seperti salsa merah atau hijau, telur orak arik atau telur goreng, ayam suwir, dan tentu saja sour cream serta keju,” jelas Christian membuyarkan angan-angan Blaire.


“Sepertinya lezat.” Aaron manggut-manggut seraya mengusap dagunya yang belah. “Baiklah. Aku akan memesan itu. Bagaimana denganmu, Jagoan? Apa yang akan kau pesan?” Dia mengarahkan mata birunya pada Ainsley yang tampak kebingungan.


Akan tetapi, Ainsley tak segera menjawab. Dia malah menoleh pada Christian sambil menyodorkan buku menu yang dirinya pegang. “Kalau ini gambar apa, Ayah?” tanyanya dengan nada bicara yang terdengar begitu menggemaskan.


“Itu namanya Elote, Son. Terbuat dari jagung pipil yang ditambah dengan mayonaise keju, garam, mentega, dan sour cream. Kau bisa menambahkan sosis di atasnya,” jelas Christian. “Putra kita tidak memiliki alergi apapun ‘kan, Blaire?” Tanpa sengaja pria rupawan itu bertanya demikian di hadapan Aaron dan Blaire.


Wajah dua anak manusia yang sama-sama berambut pirang itu bersemu merah. Bedanya, pipi Blaire merona karena tersipu, sedangkan muka Aaron memerah menahan cemburu.


“Ah, maaf … a-aku ….” Gadis itu terbata sambil menggeleng pelan, lalu menunduk. “Maksudku … aku tidak ….” Blaire tampak gugup. Berkali-kali dia menyelipkan rambutnya yang indah ke belakang telinga.


“Sudahlah. Tidak apa-apa, Blaire. Aku mengerti.” Aaron tersenyum lembut, lalu menyentuh tangan Blaire dan menggenggamnya erat.


Semua itu tak luput dari penglihatan Christian. Dia juga mulai merasa tak nyaman, atas semua yang berlangsung di hadapannya. “Baiklah. Kalau begitu silakan putuskan pesanan kalian,” sela pria tampan asal Meksiko tersebut untuk mengalihkan pembicaraan.


“Aku tetap pada pilihanku yang pertama,” sahut Aaron. “Bagaimana denganmu, Sayang?” Dia kemudian menoleh pada Blaire tanpa melepaskan genggaman tangannya.


“Aku memilih yang sama denganmu,” jawab Blaire.


"Lalu kau, Little boy?” Christian mendekatkan wajahnya pada Ainsley sambil menyentuh ujung hidung mancung bocah itu.


“Itu tadi, Ayah! Jagung kecil-kecil!” serunya penuh semangat. Sontak semuanya tertawa mendengar jawaban lucu dari Ainsley.


“Oke ” Christian mengangkat satu tangan untuk memanggil pelayan. Tak berselang lama, seorang wanita muda yang tadi menyerahkan buku menu, datang lagi ke meja Christian sambil membawa buku kecil dan alat tulis. Dia mencatat seluruh pesanan, lalu berbalik.


Beberapa saat berlalu, keluarga kecil dan Aaron itu menghabiskan waktu dengan percakapan ringan sampai pesanan mereka tiba. Ainsley tampak begitu bersemangat mencicipi makanan yang baru pertama kali dia konsumsi. “Enak sekali!” Mata biru bocah itu membulat dan berbinar indah karena terlalu bahagia. Dia juga makan dengan lahap sampai tak tersisa sedikit pun di atas piringnya.


“Kau hebat sekali, Ains,” ucap Aaron sambil bertepuk tangan dengan bangga. “Aku akan memberimu hadiah nanti,” ujarnya yang segera mendapat cubitan pelan dari Blaire.


“No more fancy toys, Aaron. Please.” Blaire melotot lucu. Akan tetapi, bukannya takut Aaron justru malah terbahak. Tanpa berpikir panjang, dia langsung mengecup bibir Blaire di depan Christian.


“Ah, paman Aaron mulai nakal,” celoteh Ainsley sambil tertawa. Lain halnya dengan Blaire yang langsung membuang muka. Serba salah rasanya ketika Aaron melakukan sesuatu yang romantis di depan Christian.


"Ayolah, Ains. Kau akan lebih sering melihatku memanjakan ibumu nanti setelah kami menikah," celetuk Aaron sambil tertawa renyah.


"Aaron!" Lagi-lagi, Blaire melakukan protes sambil melotot kepada calon suaminya.


Namun, itu tak membuat Aaron merasa bersalah. Pria itu masih tetap tertawa. "Aku hanya terlalu bahagia, Sayang," ujarnya


Sementara Christian hanya tersenyum samar. Dia setengah menunduk sambil mengusap tengkuknya sendiri. Tak dapat dipungkiri, rasa cemburu mulai hadir dan memenuhi dadanya saat itu. Jangankan berciuman, melihat Blaire berdekatan dengan Aaron saja sudah membuat dia terbakar hebat. Namun, bukan Christian namanya jika tidak dapat menyembunyikan segala perasaan di hadapan orang lain.


Tak berselang lama, pria bermata abu-abu itu kembali mengangkat tangan dan memanggil pelayan. Dia meminta tagihan untuk segera dibayar. Sang pelayan, segera menunjukkan nota yang berada di dalam sebuah buku kecil bersampul tebal dengan warna hitam.


Christian pun segera membuka dompet dan mengeluarkan sebuah black card. Dia meletakkan kartu kredit eksklusif itu ke atas buku kecil yang berada di tangan si pelayan. Sontak hal itu menarik perhatian Aaron.


“Siapa sebenarnya kau, Chris?” tanya Aaron tanpa sadar.