
“Blaire,” ucap Aaron lirih. Sejuta sesal memenuhi dada pria bermata biru itu, membuat dirinya menjadi sesak dan seakan begitu sulit untuk bernapas. Namun, bayangan indah dan segala kenikmatan yang telah dia reguk bersama Cathy tadi siang sebelum dirinya datang ke rumah sakit, tak bisa dipungkiri pengaruhnya bagi Aaron. Hal itu sudah menjadi candu tersendiri yang membuat dirinya ingin kembali mengulang hal serupa.
“Sudahlah. Ayo cepat! Ainsley pasti sudah menunggu kita,” ajak Blaire sembari mempercepat langkahnya. Dia kini berada sedikit di depan Aaron. Pria yang berjalan sedikit di belakangnya itu, tak tahu jika Blaire tengah menitikkan air mata yang segera dia hapus.
Segala perasaan bersalah berkecamuk dalam hati dan pikiran Aaron. Namun, dia berusaha memendamnya sekuat tenaga. Langkah yang awalnya penuh keyakinan untuk menyongsong masa depan bersama Blaire, kini mulai goyah terbentur oleh perasaan berdosa yang demikian besar. Aaron pun berada di persimpangan jalan yang membuat dirinya merasa ragu untuk melangkah.
Setibanya di tempat parkir, Ainsley telah berada di dalam mobil khusus yang sudah disewa oleh Christian. Bocah lima tahun tersebut ditemani seorang perawat dan juga Viktorija tentunya.
Sementara Christian telah bersiap dengan mobil hitam, yang dulu pernah dibawa ketika berjalan-jalan ke Kastil Edinburgh. Lagi-lagi, hal itu membuat Blaire merasa bimbang, dalam memilih mobil siapa yang akan dia tumpangi. Namun, pada akhirnya gadis itu memutuskan untuk menaiki mobil Aaron dan membiarkan Christian berkendara seorang diri, meskipun dalam hati dirinya begitu menginginkan untuk duduk di samping ayah kandung dari putranya tersebut.
“Apa kau yakin, Blaire?” tanya Aaron saat calon istrinya itu sudah duduk dengan nyaman, di kursi samping pengemudi kendaraan miliknya.
“Apa maksudmu, Aaron? Kenapa sejak tadi kau bersikap aneh?” tanya Blaire keheranan.
“Aneh bagaimana? Itu hanya perasaanmu saja, Blaire,” sanggah Aaron sambil tertawa pelan. Pria tampan tersebut segera menyalakan mesin mobil, lalu menjalankannya mengikuti kendaraan yang dikemudikan oleh Christian. Tiga kendaraan tadi melaju beriringan, hingga tiba di kota Edinburgh satu jam kemudian. Semua kendaraan itu berhenti tepat di depan rumah Viktorija.
Anette yang sudah lebih dulu dihubungi oleh Viktorija, telah bersiap di depan rumah sambil membawa nampan berisi makanan. Begitu pula dengan Sabrina yang membawa beberapa kotak besar kue dan empat buah balon warna-warni.
“Ainsley!” sambut Anette ceria. “Aku sangat merindukanmu, Sayang. Syukurlah kau sudah semakin membaik,” ujarnya seraya memeluk Ainsley yang berada di atas kursi roda. Kaki bocah tampan itu juga masih dibalut gips keras dengan posisi lurus ke depan.
“Granny! Aku senang melihatmu!” balas Ainsley tak kalah ceria.
“Ayo, kita masuk dulu,” ajak Viktorija.
Suasana rumah dua lantai yang biasanya sepi, kini mulai ramai oleh kunjungan para tetangga dan teman-teman Ainsley yang bertempat tinggal di sekitar rumahnya. Ainsley pun terlihat amat senang.
Tanpa terasa, waktu terus merangkak hingga malam menjelang. Perawat dan mobil khusus dari rumah sakit yang telah disewa oleh Christian pun sudah meninggalkan Edinburgh, untuk kembali ke Glasgow. Begitu pula para tetangga yang mulai berpamitan satu per satu. Kini tinggalah keluarga Aaron dan Christian yang masih betah berada di rumah Viktorija.
“Kau akan tidur di sini ‘kan, Yah?” tanya Ainsley penuh harap.
“Ains, aku … ” Christian tak segera menjawab. Dia terlihat serba salah sambil sesekali melirik ke arah Blaire yang juga memandang kepadanya.
“Selama di rumah sakit, ayah terus menemaniku, Bu. Sekarang aku masih belum sembuh. Aku akan sangat bersedih jika ayah tidak bersedia ….”
“Ayahmu harus bekerja, Sayang,” potong Blaire. Dia berusaha untuk menghindarkan Aaron dari rasa tak nyaman, akibat ucapan putranya barusan. Terlebih, karena Anette dan Sabrina juga berada di sana.
“Memangnya ayah juga bekerja di malam hari? Aku hanya membutuhkannya saat malam,” sanggah Ainsley.
“Ya ampun. Semenjak menjalani perawatan di rumah sakit, kau menjadi semakin pintar,” sanjung Viktorija gemas sambil tergelak.
“Memang sudah seharusnya seorang anak ingin selalu dekat dengan ayahnya,” celetuk Aaron, membuat suasana menjadi canggung. “Menurutku, tak ada salahnya untuk menuruti keinginan putramu, Blaire,” imbuhnya.
Apa yang Aaron ucapkan barusan, telah membuat Blaire dan Christian saling pandang selama beberapa saat. Setelah itu, Blaire ganti memperhatikan Aaron, kemudian beralih kepada Anette dan juga Sabrina.
“Masih ada satu kamar kosong di rumah ini. Letaknya ada di lantai bawah dekat dapur,” sambung Viktorija dengan tenang. “Namun, semua terserah Christian. Lagi pula, Aaron juga sudah memberi izin.”
“Apa kau benar-benar tak masalah, Aaron?” tanya Christian setengah tak percaya.
“Apa kau melihat raut keberatan pada wajahku?” Aaron malah balik bertanya.
“Baiklah. Kalau begitu, aku akan pulang sebentar untuk membawa baju ganti,” pamit Christian setelah berpikir sejenak.
“Yes!” seru Ainsley sambil mengepalkan dan mengangkat kedua tangannya ke udara.
Akan tetapi, sikap dan rasa bahagia yang ditunjukkan oleh Ainsley, berbanding terbalik dengan perasaan aneh dalam diri Blaire. Gadis itu berpikir bahwa ada sesuatu yang tak beres dengan calon suaminya tersebut. Namun, Blaire belum bisa menerka apa yang telah terjadi pada pria berambut pirang itu.
Selang beberapa saat kemudian, Anette dan Sabrina pun akhirnya memutuskan untuk berpamitan. Begitu juga dengan Aaron yang tadi sempat menemani Ainsley dengan mainan barunya, selagi para wanita berbincang seru.
Blaire yang merasa penasaran ingin sekali bertanya kepada pria itu. Namun, situasi dan kondisinya benar-benar tak memungkinkan. Blaire pun menahan rasa penasaran yang memenuhi pikirannya tadi, bahkan hingga Aaron pamit dan berganti dengan kehadiran Christian.
"Aku ingin ayah tidur di kamarku," ujar Ainsley.
"Untuk sementara, kau tidur di kamar lantai bawah. Kondisi kakimu tak memungkinkan untuk terlalu banyak bergerak," ujar Blaire.
"Ayah bisa menggendongku saat menaiki tangga," bantah Ainsley.
"Kumohon, Ains. Ini hanya sementara sampai gips itu dilepas. Bukankah kau selalu mengatakan, bahwa dirimu tak ingin membuat ayah kerepotan?" bujuk Blaire lagi.
"Bagaimana jika kita pindahkan semua mainan kesayanganmu, ke dalam kamar baru yang akan kau tempati?" tawar Christian.
Ainsley pun menoleh dan memandang kagum pada sang ayah. "Ayah memang hebat!" serunya sambil bertepuk tangan. Dia setuju dengan usulan dari Christian tadi.
Di lantai bawah terdapat dua kamar. Salah satunya adalah milik Viktorija. Namun, wanita paruh baya tersebut sudah memberikan izin, sehingga sang cucu bisa menempati ruangan itu hingga kondisinya memungkinkan. Akan tetapi, nyatanya Ainsley lebih memilih untuk tidur bersama sang ayah di kamar dekat dapur.
Malam kian larut. Seperti biasa, Blaire membuka jendela kamarnya dan termenung di sana untuk beberapa saat. Ditatapnya langit malam yang menyelimuti kota Edinburgh.
Pertengahan musim panas akan segera tiba. Rencana pernikahan yang tertunda pun sepertinya bisa dilanjutkan, sesuai dengan yang telah ditentukan dan disetujui oleh kedua belah pihak. Namun, entah mengapa Blaire merasakan suatu kejanggalan dalam diri calon suaminya.
Merasa tak mendapat jawaban dari renungannya tadi, Blaire pun kembali menutup jendela kamar. Dia lalu memutuskan untuk turun dan melihat keadaan Ainsley. Blaire melangkah dengan hati-hati di atas lantai berlapis kayu itu. Dia bahkan menuruni anak tangga dengan tanpa menimbulkan suara sedikit pun, hingga dirinya tiba di depan kamar yang ditempati oleh Christian.
Namun, belum sempat gadis itu membuka pintu, tiba-tiba seseorang sudah membukanya terlebih dulu. Paras tampan Christian pun muncul dengan rambut yang sedikit acak-acakan. "Blaire?" Dia menyebutkan nama gadis cantik di hadapannya dengan agak parau.
"Maaf, Chris. Aku hanya ingin melihat kondisi Ainsley," ujar Blaire mengemukakan alasannya.
"Dia sudah tidur sejak beberapa saat yang lalu. Aku bahkan ikut tertidur, padahal belum sempat membasuh wajah." Christian tersenyum kecil, kemudian memandang lekat kepada Blaire. "Apa kau sedang ada masalah?" tanyanya kemudian