Edinburgh

Edinburgh
Eagle Eye



Pertautan panas terus berlangsung di atas meja. Sentuhan demi sentuhan penuh godaan, Blaire rasakan di seluruh tubuhnya. Pertama kali dalam hidup gadis itu, ketika dia membiarkan tangan nakal seorang pria menjamah raga indah yang masih tertutup pakaian lengkap.


Tak pernah Blaire kira jika Christian dapat bersikap demikian pada dirinya. Namun, gadis cantik berambut pirang tersebut tak hendak melarang apalagi menolak, untuk setiap perlakuan yang membawanya semakin tersesat dalam sebuah lorong panjang nan pengap. Blaire pun merasa kewalahan dan terengah dalam lautan keringat yang kian menenggelamkannya.


Panas, itulah yang kedua insan tersebut rasakan. Cuaca dingin pada musim gugur tak berpengaruh sama sekali bagi mereka yang berada dalam toko itu, di antara barang-barang antik yang indah dan memiliki nilai artistik. Christian tak merasa ragu lagi untuk melakukan hal yang lebih. Di antara deru napas yang kian memburu, diiringi hasrat dalam diri yang tak mampu untuk dibendung, sang pemilik mata abu-abu tersebut mengikuti nalurinya sebagai seorang pria dalam menghadapi lawan jenis.


Rintihan pelan berbaur menjadi satu dalam irama melenakan. Alam semesta pun seakan ikut merestui keduanya, dengan menghadirkan suasana yang tak dapat dilukiskan dalam bentuk karya seni apapun. Blaire menyerahkan diri, membiarkan apa yang dulu hanya menjadi miliknya untuk dinikmati oleh seorang Christian.


Dalam dekapan lengan kekar pria misterius itu, Blaire merasakan sesuatu yang baru. Sebuah pengalaman yang selama ini hanya ada dalam angannya. Gadis cantik bermata hijau tersebut tak mengalihkan pandangan sedikit pun, dari paras tampan Christian yang terlihat berbeda. Dia begitu seksi dengan titik-titik keringat di keningnya.


Beberapa saat telah berlalu, ketika pria itu menunjukkan ringisan kecil dengan napas berat tertahan. Christian terengah sambil menatap gadis yang masih berada dalam kungkungannya. Sementara Blaire pun demikian. Dia tak percaya bahwa dirinya baru saja bercinta dengan seorang pria yang bahkan tak diketahui asal-usulnya dengan jelas.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Christian sambil mengatur napas agar jauh lebih teratur.


"Ya, tapi rasanya begitu perih. Sakit sekali," jawab Blaire. Dia lalu bangkit dan terduduk di tepian meja, setelah Christian membantu dirinya untuk bangun. Sesaat kemudian, gadis itu pun tertawa renyah.


"Kenapa? Apanya yang lucu?" tanya Christian yang baru selesai menaikkan resleting celana jeans-nya. Pria itu kemudian semakin mendekat, lalu menangkup paras cantik Blaire. Kembali diciumnya gadis tersebut dengan mesra.


"Jadi, sekarang aku bukan seorang perawan lagi," ujar Blaire.


"Apa bedanya? Kau tetap terlihat cantik," sahut Christian menatap gadis yang baru saja membantu dirinya melepaskan kepenatan, dari apa yang sudah lama tidak dia lakukan.


"Apa menurutmu aku cantik?" Sebuah pertanyaan yang terdengar begitu polos, meluncur dari bibir yang entah telah berapa kali dinikmati oleh pria itu.


"Kau cantik dan memiliki mata yang sangat indah," jawab Christian. Dia lalu mengambil tisu dan membantu Blaire membersihkan noda darah di paha. "Setelah ini kita akan pulang," ucapnya. Christian membuang tisu kotor tersebut ke dalam keranjang sampah.


"Aku tadi berpamitan untuk ke perpustakaan. Namun, sekarang harus pulang tanpa membawa buku apapun," sahut Blaire sembari merapikan dress, kemudian mengenakan celana legging hitam serta sepatunya.


"Jika kau mau, ambil saja buku punyaku. Bisa kau tunjukkan sebagai barang bukti," cetus Christian enteng. Dia meraih mantel milik Blaire, kemudian membantu gadis itu untuk mengenakannya. Setelah Blaire selesai bersiap, mereka berdiri berhadapan dan saling pandang.


"Apa yang akan terjadi setelah ini? Apakah itu artinya kau memiliki perasaan istimewa padaku atau .... aku terlalu berharap." Blaire menatap lembut pria tampan di hadapannya.


"Apapun yang kuinginkan darimu, nyatanya tak dapat kau penuhi. Karena itulah aku tak akan banyak meminta, meski harus kuakui bahwa kau telah membuat diriku tertarik padamu," ungkap Blaire dengan sejujurnya.


Sementara Christian tak segera menjawab. Dia masih melayangkan tatapannya kepada Blaire. Paras cantik gadis itu tetap terlihat dengan jelas, meski dalam keremangan suasana toko tanpa adanya cahaya lampu. Sesaat kemudian, pria itu lalu beranjak ke dekat meja yang menjadi tempat di mana dirinya merasakan keperawanan Blaire Shuterland.


Christian mengambil sebuah buku filsafat kuno yang menjadi kesukaannya dari dalam laci. Dia lalu memberikan buku itu kepada Blaire. "Ayo pulang. Ini sudah terlalu sore," ajaknya. Dia lalu meraih pergelangan tangan gadis dengan chesterfield coat cokelat tadi, kemudian menuntunnya keluar dari dalam toko. Setelah selesai mengunci pintu, keduanya pun berjalan berdampingan.


Akan tetapi, selang beberapa langkah saja mereka kembali tertegun. Di hadapan keduanya telah berdiri tiga orang pria dengan mantel panjang. Salah satu dari ketiga pria tersebut merupakan orang yang tadi datang ke kedai.


Christian yang tengah menggenggam pergelangan tangan Blaire, kemudian menggeser tubuh ramping gadis itu ke belakangnya. Dia seakan hendak menjadi perisai bagi si gadis yang tampak memasang raut tagang. Namun, pria itu sendiri masih terlihat tenang dan tak memperlihatkan ekspresi yang berlebihan.


"Eagle Eye. Lama tidak bertemu," sapa pria bertopi yang berdiri sedikit di depan kedua rekannya. Pria itu kemudian memiringkan kepala, agar dapat melihat wajah Blaire yang bersembunyi di balik tubuh tegap Christian. "Hallo, Nona Manis. Aku suka gadis berambut pirang dengan mata hijau sepertimu," ucapnya.


"Jangan ganggu dia," ucap Christian pelan tapi penuh penekanan.


Sementara pria tadi menanggapinya dengan sebuah tawa yang terdengar penuh cibiran. "Kau benar-benar serakah Christian," ucapnya kemudian. "Berikan dia padaku, maka aku tak akan pernah mengganggu nona berambut pirang ini lagi. Black Rifle tak suka ingkar janji," ucapnya lagi dengan menggunakan bahasa yang tak Blaire pahami sama sekali.


"Siapa yang kau maksud?" tanya Christian seraya menaikkan sebelah alisnya.


"Ayolah, Christian. Aku tahu jika dia bersamamu," ucap pria yang menamakan dirinya Black Rifle. Dia menghela napas pelan, kemudian mengempaskannya perlahan. "Kami sudah berkelana ke berbagai negara untuk bisa menemukan keberadaanmu. Lihatlah sekarang. Kami ada ada di sini. Itu artinya bahwa kau tak bisa melarikan diri ke manapun, Christian. Pikirkanlah." Nada bicara pria bertopi tersebut begitu tenang, tapi terdengar sangat menakutkan di telinga Blaire meski dia tak mengerti apa yang tengah mereka bicarakan.


Black Rifle kembali memiringkan kepalanya, demi melihat sosok Blaire yang masih berada di belakang tubuh tegap Christian. Pria itu kemudian menyeringai kecil. "Kenapa kau bersembunyi, Nona? Kopi dari kedaimu sangat nikmat. Apa karena itu pula sahabat kami ini menjadi terpesona kepada dirimu? Ah, kisah cinta yang ...." Dia lalu menoleh pada kedua rekannya. "Apa namanya?"


"Romantis," sahut salah seorang dari dua pria yang berada sedikit di belakang.


"Ya romantis. Aku tak mengenal kata itu," ujar si pria seraya tertawa pelan. "Kita lihat apa yang akan terjadi, andai kau mengetahui siapakah sebenarnya si tampan yang kau cintai ini, Nona. Aku akan tetap mengawasi kalian." Pria aneh itu kembali memiringkan kepala. "Blaire Shuterland. Ibumu pun sangat cantik. Aku selalu melihatnya lari pagi dengan pakaian ketat." Seusai berkata demikian, ketiga pria tadi pun segera membalikkan badan. Mereka pergi begitu saja meninggalkan Christian dan Blaire yang masih berdiri mematung di tempatnya.


"Aku harus segera pulang. Ibu sendirian di rumah." Blaire bergegas mendahului Christian yang masih berdiri mematung. Namun, langkah cepat gadis itu kembali terhenti karena Christian segera mencekal pergelangan tangannya. Tanpa banyak bicara, pria itu melanjutkan langkah sambil menuntun si gadis. Dia bersikap seolah tak terjadi apapun.


Lain halnya dengan Blaire yang merasa tak nyaman. Pikiran gadis itu kian kacau. Sejuta pertanyaan tentang Christian kembali hadir. Ingin sekali dia mengutarakan salah satu dari sekian banyak pertanyaan tersebut. Namun, dengan melihat ekspresi datar Christian saja seketika mood-nya menjadi hilang. Blaire pun memilih untuk diam dan terus melangkah.