
Helaan napas berat serta aroma yang menguar dari tubuh Christian, ternyata masih sama seperti lima tahun lalu. Tentu saja semua itu sudah berhasil membangkitkan segala kenangan yang berusaha untuk Blaire lupakan, bahkan dia buang jauh. Gadis cantik tersebut mencoba untuk maju ke dekat pintu pagar. Akan tetapi, dengan segera Christian mencegahnya. "Kenapa kau tidak menjawabku?" tanya pria itu.
Sedangkan Blaire sama sekali tak memperhatikan hal lain. Gadis bermata hijau tersebut tengah sibuk mengatur detak jantung, serta debaran dalam dada yang mulai tak beraturan. Astaga, sebesar itukah pengaruh seorang Christian terhadap Blaire?
"Katakan sesuatu, Nona Shuterland," pinta Christian lagi.
"Mengapa kau kembali kemari, Christian?" Bukannya menjawab, Blaire justru malah balik bertanya.
"Aku kembali untuk melakukan sesuatu yang terlupa," sahut Christian dengan suaranya yang begitu dalam. "Ada satu hal yang kuabaikan, sehingga membuatku merasa harus datang lagi ke Edinburgh," jelasnya.
"Baiklah. Namun, tolong menjauhlah dariku. Sama seperti ketika kau pergi dengan tiba-tiba, tanpa pamit dan ... Pandora." Nama itu akhirnya meluncur dari bibir ibunda Ainsley, dengan suaranya yang bergetar. "Di mana istrimu?" tanya Blaire menahan percikan kepedihan yang mulai muncul kembali, dan sebentar lagi tampaknya akan menjadi sebuah kobaran yang membakar diri.
"Pandora sudah berada di tempat yang aman. Dia bersama seseorang yang mampu untuk melindunginya. Karena itulah aku bisa datang lagi kemari," jawab Christian menjelaskan.
Seketika, Blaire membalikkan badan. Gadis itu menatap lekat ke arah Christian dengan mata menyipit. Dia menunjukkan raut tak mengerti atas ucapan pria yang merupakan ayah dari Ainsley, anak laki-laki yang selama ini dirinya besarkan seorang diri. "Apa maksudmu?" tanya Blaire seraya menautkan alis.
"Seperti yang kau dengar tadi ... sudahlah, Blaire. Aku menemuimu hanya untuk bertanya tentang status Ainsley." Christian kembali pada permasalahan awal yang membuatnya penasaran, sehingga membawa pria tampan tersebut nekat menemui Blaire pada malam itu. "Katakan," pintanya lagi dengan setengah mendesak.
"Kau tak harus peduli dengan status Ainsley. Meskipun dia adalah darah dagingmu, tapi aku masih sanggup merawat serta membesarkannya seorang diri seperti selama ini ...." Itulah Blaire. Mulutnya selalu saja tak memiliki kendali jika sudah mengatakan sebuah kejujuran. Gadis itu pun tertunduk lesu."Ya. Dia anakmu, Christian," ucapnya lagi dengan suara yang terdengar lemah.
Sedangkan Christian berdiri terpaku. Sorot matanya menyiratkan banyak hal setelah mendengar jawaban dari Blaire. Tak bisa dipercaya jika dirinya telah menjadi seorang ayah. "Ainsley putraku?" gumam Christian pelan. Pria itu pun tersenyum simpul. "Baiklah. Terima kasih, Blaire," ucap Christian lagi.
Tanpa membalas ucapan terima kasih dari Christian, Blaire kemudian membalikkan badan. Dia bermaksud hendak masuk ke dalam pekarangan. Akan tetapi, suara berat Christian lagi-lagi berhasil menahan langkahnya. Gadis cantik berambut pirang itu pun tertegun. Namun, dia tak menoleh ketika Christian kembali mendekat padanya.
"Berbaliklah sebentar," pinta Christian.
Entah mengapa, Blaire menurut saja. Gadis cantik yang telah menjadi ibu tunggal selama lima tahun tersebut, memandang aneh kepada pria dengan topi baseball di hadapannya. Blaire mengernyitkan kening, ketika melihat Christian mengeluarkan sebuah bungkusan plastik berwarna hitam dari saku jaket bagian dalam.
"Ambilah," ucap Christian sembari menyodorkan bungkusan hitam tadi kepada Blaire.
"Apa ini?" tanya gadis itu saat menerima apa yang Christian berikan padanya. Blaire tak dapat menerka isi yang ada di dalam bungkusan tersebut.
"Bukalah di dalam," ucap Christian lagi.
Akan tetapi, Christian tak menjawab. Pria itu hanya tersenyum simpul. Sebuah lengkungan kecil yang terlihat sangat langka bagi seorang Christian. "Masuklah. Ini sudah terlalu malam," ucapnya lagi. Dia kembali memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaket. Christian lalu membalikkan badan. Dia bermaksud untuk beranjak dari hadapan Blaire. Namun, baru saja sekitar dua langkah, Christian kembali menoleh. "Bisakah kau mewakiliku memberikan ciuman selamat tidur untuk Ainsley?"
Bergetar tubuh Blaire saat mendengar hal itu. Dia tidak menjawab. Blaire hanya mengangguk pelan.
"Terima kasih, Blaire. Selamat malam." Seusai berkata demikian, Christian kembali melanjutkan langkah. Dia berjalan dengan gagah dan terlihat sangat maskulin, walaupun hanya tampak dari belakang. Pria itu sangat luar biasa. Dia yang telah mengguncangkan dunia seorang Blaire Shuterland, hingga porak-poranda dan tak berbentuk sama sekali.
Susah payah Blaire membangun kembali setiap puing-puing kekuatan yang tersisa dalam dirinya. Dia bermaksud untuk melangkah pada jalan yang baru dengan tujuan berbeda. Akan tetapi, kini dirinya kembali berada di persimpangan yang membingungkan.
Gadis itu tersenyum nanar, sesaat setelah membuka bungkusan yang Christian berikan padanya. Setitik air mata menetes dengan begitu saja dan membasahi sudut bibir, ketika dia memegangi isi dari bungkusan tadi. Adalah sebuah celana legging hitam, yang sama persis seperti miliknya dulu. Celana yang telah Christian robek paksa, ketika mereka melewati malam yang indah di kaki bukit pada musim gugur beberapa tahun yang lalu.
"Christian ...." Rintihan pelan Blaire terdengar saat dirinya mendekap celana legging tadi. Christian ternyata tidak melupakan hal itu. Dia benar-benar mengganti apa yang telah dirusaknya. Apakah kedatangan dia kali ini juga untuk memperbaiki semua yang telah dia hancurkan?
"Kenapa kau selalu saja membuatku berada dalam kegalauan?" Blaire berbicara sendiri seperti orang tak waras. Resah dan juga gelisah. Hati serta pikirannya benar-benar tak menentu.
Entah mendapat dorongan dari mana, Blaire berdiri dari tepian ranjang. Dia lalu berlari keluar kamar. Dengan langkah terburu-buru, gadis itu menuruni anak tangga dan kembali membuka pintu depan. Langkah kakinya begitu cepat melintasi halaman.
Blaire membuka pagar rumah sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Akan tetapi, Christian sudah tak berada di sana. Satu-satunya yang gadis itu lihat hanya gelap, berbalut dinginnya udara malam serta suasana sepi. “Astaga.” Blaire tertawa pelan atas kebodohannya sendiri.
Bertahun-tahun lamanya Christian meninggalkan dia dengan begitu saja, lalu tiba-tiba pria itu datang sambil membawakan sesuatu yang tak penting. Namun, hal kecil dan remeh tersebut telah mampu membuat Blaire goyah sehingga hendak mengejarnya kembali.
“Apa yang kulakukan?” Blaire merutuki dirinya yang mudah takluk pada setiap perlakuan pria itu. Dia menggeleng pelan dan berniat untuk kembali masuk ke dalam rumah. Akan tetapi, suara berat seseorang lagi-lagi harus menghentikan langkah Blaire dan membuatnya menoleh.
“Aku mencintaimu, Blaire. Untuk itulah aku kembali. Dulu aku belum sempat menyatakannya padamu dan sekarang aku memiliki kesempatan untuk menyatakan ini.” Pelan dan dalam suara Christian. Tatap mata yang biasanya tampak datar dan dingin, kini terlihat sayu.
Blaire terbelalak dan membeku. Pria yang baru saja hendak dia kejar, ternyata sudah berdiri gagah di belakangnya. Tubuh tegap Christian samar tertutup oleh gelapnya malam. Di sana hanya ada cahaya yang berasal dari penerangan lampu jalan, serta lampu halaman milik Blaire yang sedikit membantu memperlihatkan sosok gagah dan tampan tersebut.
“Chris.” Blaire tak mampu berkata-kata. Tenggorokannya serasa kering sehingga dia harus menelan ludah berkali-kali.
Sementara Christian bergerak maju beberapa langkah, untuk memangkas jarak antara dirinya dengan Blaire. Namun, sebelum pria itu semakin mendekat, Blaire terlebih dulu mengulurkan tangan sebagai isyarat agar Christian segera berhenti. “Cukup, Chris. Tetaplah di tempatmu!” cegahnya dengan penuh penekanan. Untuk beberapa saat, keduanya saling bertatapan. Sorot mata Christian begitu tajam dan juga terarah dengan tepat. Seketika, seluruh tulang dalam tubuh Blaire seperti tak lagi sekokoh biasanya. Namun, Blaire harus tetap berdiri.
“Terima kasih atas pernyataan cintamu, Christian. Aku sangat menghargai itu. Seharusnya, kau mengatakan hal tersebut sejak dulu, sebelum diriku merasa kecewa. Untuk saat ini, semua pernyataan cintamu tak berarti lagi. Kau sudah terlambat,” tegas Blaire sebelum berbalik dan meninggalkan pria rupawan itu di depan rumahnya. Kini, giliran Christian lah yang kini berdiri membeku seraya menatap Blaire hingga sosoknya menghilang di balik pintu.