Edinburgh

Edinburgh
Between Two Lines



"Selamat malam, Blaire," sapa Aaron dengan nada bicara yang terdengar tak sehangat biasanya. Tatapan pria itu juga teramat dingin serta tajam dirasakan oleh Blaire.


Namun, ibunda Ainsley tersebut tetap berusaha untuk terlihat biasa saja. "Selamat malam, Aaron. Kau sudah kembali dari London?" Blaire berbasa-basi, sekadar menghangatkan suasana yang tiba-tiba terasa kaku dan menjadi tak nyaman setelah kehadiran Aaron di sana.


"Aku pulang lebih cepat. Tadi aku kemari, tapi nyonya Shuterland mengatakan bahwa kau dan Ainsley sedang keluar ...." Aaron tak melanjutkan kata-katanya. Dia lalu menoleh kepada Christian yang berdiri tegap tak jauh dari tempat di mana Blaire berada.


"Apa kabar, Christian ...."


"Alvarez," sahut Christian datar dengan tatapan lekat, kepada pria berambut pirang yang berdiri kurang lebih sekitar dua langkah di hadapannya. Christian seakan tengah menelisik pria tampan tersebut dengan teliti dan juga saksama.


Aaron pun manggut-manggut. Entah apa yang tengah pria itu pikirkan, karena Blaire sama sekali tak dapat menebaknya. Namun, firasat gadis cantik bermata hijau tadi mulai tak enak. Bahasa tubuh Aaron terlihat tak seperti biasa. "Apa kau baik-baik saja, Aaron?" tanya Blaire kemudian.


Seketika, sulung dari tiga bersaudara itu menoleh kepada ibunda Ainsley. Dia lalu berjalan mendekat, kemudian berdiri tepat di hadapan Blaire. "Menurutmu bagaimana? Apa aku terlihat baik-baik saja?" Aaron balik bertanya.


"Apa maksudmu, Aaron? Aku sama sekali tidak mengerti." Blaire menautkan alis karena tak memahami, atau gadis itu memang mengesampingkan segala pengertian yang dimilikinya untuk Aaron.


"Kau pikir aku akan baik-baik saja setelah menantimu selama lima tahun lebih, tapi pada akhirnya kau menggantungkan harapan indah yang telah lama kupersiapkan untukmu dan juga Ainsley! Jangan berpura-pura bodoh, Nona Shuterland! Kau tahu bagaimana perasaanku selama ini! Tidak mungkin jika kau tak dapat memahaminya!" Nada bicara Aaron terdengar begitu tegas serta penuh penekanan, meskipun suara pria itu tidak terlalu keras.


"Jaga bicaramu!" sergah Christian dengan suaranya yang cukup pelan, berhubung saat itu sudah lewat dari pukul sembilan malam. Dia tak ingin menimbulkan keributan di sana.


"Jangan ikut campur dengan sesuatu yang bukan merupakan urusanmu!" balas Aaron. Telunjuk pria bermata biru itu mengarah lurus kepada Christian. Dari sana, Blaire menyadari bahwa Aaron dalam pengaruh minuman beralkohol.


"Apa kau habis minum, Aaron?" tanya Blaire seraya menarik lengan pria yang tengah berhadapan dengan Christian.


Aaron pun berbalik jadi menghadap kepada Blaire. "Memangnya kenapa? Aku hanya ingin menghangatkan tubuh dengan dua atau tiga gelas ... ah sudahlah! Apa pedulimu, Blaire? Saat ini kau sudah menemukan kebahagiaan yang hilang. Lalu aku? Kau tak membutuhkanku lagi," racau Aaron terdengar sangat kecewa.


"Aaron pulanglah. Kau sedang mabuk. Kita bicara lagi besok saat kondisimu sudah jauh lebih baik," suruh Blaire mencoba menyentuh lengan pria itu.


Akan tetapi, dengan segera Aaron menepiskan tangan Blaire. "Aku tidak mabuk, Blaire! Aku masih sepenuhnya sadar. Lihatlah, kau masih tampak sangat cantik dan selalu menjadi yang paling cantik untukku. Akan tetapi, sayangnya kau tak tahu berterima kasih!" Nada bicara Aaron tiba-tiba meninggi. Dia membentak Blaire, sehingga membuat gadis itu seketika tersentak kaget. Aaron tak pernah bersikap seperti itu sebelumnya. Semua orang tahu bahwa putra sulung Anette Walsh tersebut merupakan pria ramah yang lembut serta penyayang


"Jaga sikapmu!" Christian yang tak tahan melihat sikap Aaron terhadap Blaire, segera saja menarik lengan pria berambut pirang tadi agar menjauh dari ibunda Ainsley tersebut. Saking kuatnya tenaga yang dipakai oleh Christian, Aaron bahkan sampai hampir terjengkang ke belakang. Dia tampak akan jatuh di atas aspal jalanan, andai dirinya tak segera menguasai keseimbangan. Itu merupakan sesuatu yang luar biasa, mengingat Aaron dalam kondisi setengah mabuk.


"Aaron!" pekik Blaire. Dia bermaksud hendak menolong pria itu, tapi dengan segera Christian menahannya. Pria bermata abu-abu tersebut menggeleng pelan.


"Lihatlah, Blaire. Kau memang tak tahu terima kasih! Selama ini aku sudah memberikan segenap waktu serta perhatian untukmu dan juga Ainsley! Kuberikan segalanya tanpa memikirkan untung-rugi! Lalu, seperti inikah balasanmu padaku?" Aaron kembali meracau.


"Hitunglah berapa banyak nominal yang telah kau keluarkan selama ini untuk Blaire dan juga putraku! Aku akan mengganti semuanya saat ini juga!" tegas Christian membuat Blaire begitu terkejut.


Akan tetapi, Christian tak menggubrisnya. Pria itu masih melayangkan tatapan tajam, seakan hendak segera menghabisi Aaron yang juga tak ingin terlihat lemah di hadapan Blaire. Amarah seorang Christian ternyata tak seperti orang kebanyakan. Kemarahan pria itu tidak tampak atau meluap-luap. Akan tetapi, Blaire dapat merasakan sebuah kekuatan yang sangat besar dalam setiap helaan napas tertahan pria tersebut.


"Kembalilah ke toko, Chris," ucap Blaire lagi yang mencoba melerai perang urat syaraf di antara kedua pria itu.


"Kau pikir aku akan membiarkanmu berdua dengan pria yang sedang berada di bawah pengaruh minuman?" Christian berkata tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari Aaron.


"Aku bisa menjaga diriku, Chris. Kau tidak perlu berpikir terlalu jauh. Aku tidak ingin ada keributan di sini. Lagi pula, ini sudah terlalu malam ...."


"Masuk, Blaire," sela Christian tanpa membiarkan Blaire menyelesaikan kalimatnya.


"Tidak!" tolak Blaire dengan tegas. Sebenarnya, saat itu Blaire pun sudah berpikir sangat jauh, mengingat masa lalu seorang Christian. Dia takut jika ayah kandung Ainsley tersebut bertindak melebihi batas.


"Aku tahu apa yang kulakukan. Kau tidak perlu khawatir," ucap Christian. Pria itu seakan dapat menebak apa yang ada di dalam pikiran Blaire. Christian menoleh sejenak kepada gadis cantik di sebelahnya. Tatapan tajam yang tadi dia layangkan kepada Aaron pun tiba-tiba berubah dan melunak dengan cepat.


“Oh, jadi kau merasa tahu dengan apa yang kau lakukan? Apakah kau tahu bagaimana menderita dan kesakitannya Blaire saat berjuang melahirkan Ainsley? Apakah kau ada di sampingnya waktu itu? Tidak! Akulah yang selalu berada di sampingnya!” Kedua tangan Aaron terkepal. Nada bicaranya pun nyaring tak terkontrol, membuat Viktorija bergegas keluar rumah dan melihat apa yang terjadi di sana.


“Ada apa ini, Blaire?” tanya wanita cantik itu merasa penasaran melihat Christian yang tengah berhadapan dengan Aaron.


“Hai, Nyonya Sutherland!” Tiba-tiba saja Aaron mengubah intonasinya menjadi sedikit lebih ramah. “Lihatlah apa yang sudah dilakukan oleh putri Anda padaku. Dia menyakitiku.” Selesai berkata demikian, Aaron tertawa lebar, membuat Viktorija memandangnya dengan tatapan aneh.


“Jangan hiraukan dia, Bu. Aaron sedang dalam pengaruh alkohol.” Blaire mendekat ke arah Viktorija berada, lalu mengarahkan wanita itu agar kembali masuk ke dalam rumah.


“Tetap di tempat Anda, Nyonya Shuterland! Lalu lihatlah saat aku menghajar pria tidak tahu malu ini!” Tangan kanan Aaron yang sedari tadi terkepal, kini melayang cepat ke wajah tampan Christian.


Sayangnya, energi Aaron terbuang sia-sia saat itu. Pukulannya hanya mengenai angin, sebab Christian dapat dengan mudah membaca gerakan kekasih dari Blaire dan mengelak secepat kilat.


Tak ingin menyerah dan merasa dipermalukan, Aaron kembali berusaha menyarangkan pukulan. Namun, lagi-lagi dirinya gagal. Christian cukup memiringkan badannya tanpa beranjak dari tempat dia berdiri. Bukan hal sulit untuk menghadapi orang yang tengah mabuk seperti itu.


“Hentikan, Tuan Walsh,” desis Christian datar dan dingin.


“In your dream!” seru Aaron nyaring. Segala emosi dan amarahnya tercurah dalam satu gerakan tangan yang kuat menerjang ulu hati Christian. Namun, gerakan itu dengan mudah terpatahkan. Christian menangkap kepalan tangan Aaron, lalu mencengkeramnya kuat-kuat.


“Berhentilah atau aku akan melakukan yang lebih dari ini,” ancam Christian dengan sorot mata mengerikan.