
Cinta memang buta. Baru saja semalam Blaire berbincang serius dengan sang ibu, tetapi nyatanya saat ini gadis cantik tersebut tengah duduk berdampingan dengan pria yang sebenarnya sangat ingin dia hindari. Itu merupakan sesuatu yang tak mungkin bagi seorang Blaire. Betapa tidak, rona kekaguman dalam tatap mata untuk pria asal Meksiko di sebelahnya teramat besar.
Ya, pesona seorang Christian Alvarez Teixeira memang sungguh luar biasa. Tak ada hal lain yang Blaire inginkan, selain bersandar di pundaknya yang kokoh dan nyaman sambil menghirup aroma tubuh maskulin si pria.
"Bagaimana tidurmu semalam?" tanya Christian sembari mengecup jemari lentik Blaire dengan mesra.
"Entahlah. Aku mencoba untuk tidak membawa segala keresahan ke atas tempat tidur, karena jika sampai diriku melakukan hal itu maka ... maka sampai pagi datang mataku akan tetap terjaga," sahut Blaire seraya mengarahkan pandangannya pada hamparan luas kota Edinburgh, yang terlihat jelas dari atas bukit di mana dirinya dan Christian berada.
Sayang sekali karena mereka datang ke sana pada musim gugur, sehingga langit tak secerah seharusnya yang mereka bisa nikmati. Namun, hal itu tak penting bagi Blaire, selama dia bisa menghabiskan waktu bersama Christian.
"Apa lagi yang mengganggumu, Blaire? Kuharap bukan tentang pertanyaan-pertanyaan yang selama ini selalu kau ajukan padaku," ujar Christian.
"Jika kenyataannya memang begitu?" Blaire menanggapi. Dia menatap lembut pria tampan di sebelahnya.
"Apa aku sangat mengganggumu?" tanya Christian dengan setengah berbisik. Suaranya terdengar berat dan begitu dalam.
"Apakah kau tidak menyadarinya, Chris?" Blaire mengempaskan sebuah keluhan pendek. Dia kembali mengarahkan pandangan ke depan. "Kota Edinburgh tidak seluas London. Kenapa kau justru memilih untuk tinggal di kawasan tempat tinggalku, dan juga membeli toko barang antik milik tuan MacKenzie. Astaga, aku belum pernah berada dalam posisi seperti ini," keluh Blaire pelan. Dia menyibakkan rambutnya yang menghalangi kening karena terkena angin.
"Kenapa kau merasa begitu resah?" tanya Christian masih terlihat tenang. Pria tampan tersebut mengikuti arah tatapan Blaire.
"Kau tahu, Chris?" Blaire kembali menoleh kepada pria dengan jaket kulit hitam di sebelahnya. "Semalam aku berbicara dengan ibu. Dia ingin agar diriku menjauhimu. Hampir setiap orang di lingkungan tempat tinggal kita, berpikir bahwa kau adalah pria yang aneh, Chris." Setelah berkata demikian, gadis itu menyandarkan kepalanya pada bahu Christian.
"Apa kau juga berpikir sama seperti mereka, Blaire?" tanya Christian. Sejak tadi, dia tak melepaskan genggaman tangannya dari gadis berambut pirang itu. Sesekali, Christian mengecup lembut kening si gadis.
"Aku rasa tidak salah jika mereka berpikir demikian tentang dirimu. Kau memang aneh dan tidak menyenangkan. Christian adalah pria dingin, ketus, dan juga banyak menyembunyikam rahasia bahkan dari gadis yang telah dia tiduri dan ...." Blaire menjeda kata-katanya.
Seperti biasa, gadis itu akan menjadi seperti sebuah patung di mana segala isi kepala menjadi berhamburan, sehingga membuatnya terasa begitu kosong. Blaire tak dapat memikirkan apapun, setiap kali harus melawan tatapan sepasang mata abu-abu milik pria pujaan hatinya.
"Ah ...." Suara ******* pelan tertahan, ketika untuk kesekian kalinya Blaire kembali merasakan sentuhan lembut penuh kehangatan dari si pemilik rambut gelap itu. Ciuman lembut seorang Christian memang akan selalu menjadi yang terbaik, yang pernah dia nikmati.
"Aku bukanlah tipe orang yang suka banyak bicara terhadap siapa pun," ujar Christian. Dia membelai lembut pipi Blaire yang masih menghadap ke arahnya.
"Kukira kau akan memberikan pengecualian padaku." Sayu tatap mata Blaire menyiratkan sebuah kekecewaan.
"Kau sudah mendapatkannya, Blaire. Namun, entah bagaimana cara untuk menunjukkan hal itu padamu. Satu yang pasti, denganmu aku melakukan banyak kegilaan di luar kebiasaanku." Christian kembali mengecup lembut bibir gadis itu meski hanya sekilas.
"Kau gadis yang sangat cantik dan memiliki mata hijau yang indah. Aku tak bisa menahan diri saat berdekatan seperti ini denganmu. Lalu kita bercinta ...." Christian tertawa pelan. Sesuatu yang belum pernah Blaire lihat sebelumnya. Hal itu membuat si gadis begitu takjub karenanya.
"Apa yang membuatmu tertawa, Chris?" tanya Blaire penasaran.
"Kau dan aku," jawab Christian membuat Blaire mengenyitkan keningnya, "maksudku ... aku belum pernah bercinta di atas bangku taman atau di bawah pohon. Astaga, ini benar-benar suatu kegilaan yang hanya kulakukan denganmu." Pria bermata abu-abu itu menggeleng pelan.
"Aku tahu itu. Aku sangat menghargainya," sahut Christian lagi. Sorot matanya terlihat serius saat berkata demikian. "Kuharap kau bisa selalu menjadi gadis yang kuat dan dapat menjaga diri serta keluargamu, Blaire." Christian mencium tangan gadis yang telah memberi warna baru, dalam kesehariannya belakangan ini. Dia terlihat begitu tulus.
Namun, lain halnya dengan Blaire. Gadis itu memicingkan sepasang matanya yang indah. Dia merasakan ada sesuatu yang lain dari apa yang Christian ucapkan barusan. "Apa kau akan meninggalkanku, Chris?" tanyanya beberapa saat kemudian.
Akan tetapi, Christian tidak menjawab. Pria tampan tersebut hanya menoleh sesaat, lalu tersenyum simpul. Setelah itu, Christian kembali mengarahkan pandangan pada hamparan kota Edinburgh yang terlihat indah meski dalam suasana mendung.
Rintik-rintik hujan turun dan membasahi trotoar yang menjadi tempat berpijak Blaire serta Christian. Kedua sejoli itu tengah dalam perjalanan pulang. Dengan baik hati, Christian menjadikan jaketnya sebagai pelindung kepala bagi mereka berdua.
"Bagaimana jika kita makan siang dulu, Blaire?" tawarnya.
"Bukan ide buruk. Apa kau akan menraktirku?" tanya Blaire sambil tertawa penuh canda.
"Tentu saja. Aku masih memiliki beberapa lembar poundsterling di dalam dompet. Kau tidak perlu khawatir," sahut Christian menanggapi candaan si gadis.
Keduanya pun memasuki sebuah restoran sederhana yang mereka lewati. Setelah masuk dan mengambil meja dekat jendela, Christian lalu memilih menu. Sedangkan Blaire mengikuti apa yang pria itu pesan. Kembali, dua sejoli tadi merajut kebersamaan yang manis di sana.
Tak seperti biasa, Christian hari itu menjadi lebih banyak bicara meskipun tetap tak sebanyak Blaire tentunya. Namun, itu sesuatu yang sangat luar biasa. Pria tampan tersebut mendengarkan segala hal yang Blaire ceritakan, kemudian menanggapinya.
"Aku tidak tahu jika pria Amerika Latin ternyata sangat menyenangkan," ucap Blaire sambil menopang dagu. Sementara tatapannya lembut tertuju kepada Christian, yang juga tengah melakukan hal yang sama.
"Baru kali ini aku dekat dengan gadis berambut pirang. Kau sangat cantik, Blaire," balas Christian. Mereka saling pandang untuk beberapa saat, hingga seorang pelayan datang dan menyajikan menu yang tadi dipesan. "Hanya dengan memandangiku tak akan membuatmu kenyang," ujar pria itu mengingatkan Blaire agar segera menyantap makanannya.
Sementara Blaire hanya tertawa renyah saat menanggapinya. Gadis cantik tersebut tampak sangat ceria, meskipun hujan turun membasahi kota. Namun, setidaknya hal itu dapat menahan mereka berdua, untuk menambah waktu kebersamaan hingga beberapa saat lagi.
Setelah lewat tengah hari, hujan mulai mereda. Namun, genangan air pada permukaan trotoar jalan, masih tampak di beberapa sudut yang mereka lalui dalam perjalanan pulang.
"Aku akan mampir dulu ke toko. Ada sesuatu yang harus kuambil," ucap Christian setelah mereka hampir tiba di dekat toko dan kedai.
"Kedaiku hari ini tutup. Jadi, aku tidak akan mampir ke sana," ujar Blaire menanggapi. "Apa kau ingin kutemani, Chris?" tawar gadis itu.
"Tidak usah, Nona Shuterland. Sepertinya aku akan sedikit lama. Kau pulang saja duluan. Nanti kuhubungi lagi." Christian menghentikan langkah tepat di depan pintu toko barang antik miliknya. Sebelum membiarkan Blaire pergi dari sana, pria itu menyempatkan diri untuk kembali menciumnya dengan teramat mesra.
"Aku menyukainya, Chris," ucap Blaire seraya tersenyum lembut. Setelah itu, dia melambai sambil berjalan mundur. Sedangkan Christian menatapnya lekat hingga Blaire membalikan badan dan melanjutkan langkah menuju arah pulang.
Selama dalam perjalanan, Blaire tak henti-henti tersenyum sendiri. Saran dari sang ibu yang mengatakan agar dirinya menjauhi pria itu, telah dia langgar. Blaire tak kuasa untuk melakukan hal tersebut.
Dengan sepasang sepatu brogue merah hati kesayangan, Blaire melangkah penuh percaya diri. Gadis itu memasukkan kedua tangan ke dalam saku mantel demi menghalau udara dingin. Namun, ketika dirinya melewati jalan depan rumah Christian, Blaire pun tertegun beberapa saat. Dia memandang ke arah kediaman pria yang baru saja berkencan dengannya.
Rasa penasaran yang besar, telah mendorong gadis itu untuk melangkah masuk dan melewati pekarangan. Blaire bahkan telah berdiri di depan pintu. Setelah mengumpulkan segenap keberanian, dia pun mengetuknya beberapa kali. Tak berselang lama, seseorang terdengar membuka pintu dari dalam. Tampaklah seraut wajah cantik berambut gelap.