
"Apa? Ayolah, Blaire. Ini bukan April Mop. Candaanmu tidak lucu sama sekali." Viktorija menuangkan teh yang telah dibuat oleh Blaire ke dalam cangkir porselen kesayangannya.
"Ini memang bukan lelucon, Bu. Aku benar-benar hamil. Anak dari Christian," sahut Blaire menegaskan.
"Christian?" Viktorija tak jadi mencicipi teh yang tadinya akan dia nikmati pada sore yang dingin itu. Perbincangannya dengan Blaire, ternyata jauh lebih panas dari secangkir teh hangat tersebut. Viktorija menatap tajam kepada Blaire yang tampak tengah mencoba untuk tetap terlihat tenang.
"Ya, Bu. Christian," sahut Blaire. "Aku tak pernah bercinta dengan pria selain dirinya."
"Astaga!" Viktorija berdiri tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari Blaire. Helaan napas berat wanita berambut pirang sebahu itu terdengar sangat jelas. Dia seperti tengah berusaha untuk mengendalikan amarah yang teramat besar dalam dirinya.
"Berapa lama kau mengenal pria itu, Blaire?" Nada bicara Viktorija tiba-tiba meninggi.
Dalam hitungan detik saja, cangkir dan segala macam yang ada di atas meja makan, telah berhamburan dan jatuh berkeping di atas lantai.
Blaire begitu terkejut atas sikap tak terkendali dari sang ibu. Viktorija memang orang yang kritis, tapi dia bukanlah wanita yang temperamen. Viktorija, biasanya selalu dapat mengendalikan emosi dalam segala keadaan. Akan tetapi, kali ini situasinya memang sangat berbeda. Blaire pun tak akan menyalahkan sang ibu karena bersikap demikian.
"Di mana otakmu, Blaire?" tunjuk wanita yang telah sekian lama menjanda tersebut. "Kau gadis yang cerdas dan juga selalu berpikir rasional! Kau memiliki ibu yang sangat cerewet dan juga kritis dalam segala hal! Apakah itu tak cukup untuk menjadi benteng bagimu? Sudah berapa lama kau mengenal seorang Christian, sehingga ... astaga, Blaire!" Nada bicara Viktorija masih tinggi. Amarah dalam diri wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu belum mereda, meskipun dia telah menghancurkan cangkir set kesayangannya.
"Aku mencintai pria itu, Bu." Blaire tertunduk dengan dalam. Dia tak berani melawan kemarahan sang ibu yang hampir tak pernah seperti saat ini.
Viktorija adalah sosok yang selalu tenang. Biasanya dia selalu menghadapi segala hal dengan kepala dingin. Akan tetapi, tidak lagi saat dia mengetahui bahwa anak gadis yang teramat dia sayangi, mengandung benih dari seorang pria yang bahkan tak diketahui asal-usul, identitas, serta keberadaannya kini.
"Kau mencintainya, tapi lihat apa yang dia lakukan padamu sebagai balasan dari cinta terbodoh yang telah menutupi logikamu!" Keras, tegas, dan begitu menusuk perkataan yang dilontarkan oleh Viktorija kepada Blaire. Sementara gadis itu tak berani membantah sedikit pun. Dia hanya tertunduk dan tetap membisu.
"Apa yang harus kukatakan pada ayahmu? Kau telah membuatku terlihat bodoh dan merasa jadi ibu yang paling buruk!" Viktorija mendengus kesal. Dia pun berlalu meninggalkan Blaire yang masih terpekur seorang diri.
"Christian ... kau ...." Lirih suara Blaire bergetar tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Deraian air mata yang dulu tak pernah menyapanya, kini justru telah berkali-kali menghampiri. Entah berapa banyak tetesan yang terjatuh dari pelupuk si gadis berambut pirang tersebut.
Apakah semua ini merupakan sepenuhnya kesalahan seorang Christian? Blaire pun menggeleng pelan. Dia lalu bangkit dari duduk dan menurunkan tubuh. Gadis itu memunguti pecahan beling yang berserakan di atas lantai dapur sambil terus terisak.
Makin lama, isakan pelan Blaire berubah menjadi sebuah tangisan pilu. Dia terduduk di lantai sambil bersandar pada kursi kayu dekat meja makan. Lama-kelamaan, ratapan memilukan pun terdengar dengan jelas.
Sementara sore telah berganti senja, lalu merayap menjemput sang malam. Blaire baru selesai membersihkan dapur dari segala kekacauan akibat murkanya seorang Viktorija. Dia bahkan telah menyiapkan makan malam, meski hanya sebuah menu sederhana. Gadis itu tak peduli apakah sang ibu akan menyantapnya atau tidak.
Tepat ketika Blaire sudah menyelesaikan semua pekerjaannya, Viktorija kembali menghampiri dia. Wanita paruh baya tersebut melayangkan tatapan tajam, yang lama-kelamaan berubah menjadi begitu sayu. "Istirahatlah. Tidak baik bagi wanita yang sedang mengandung untuk terlalu lelah," ucapnya pelan.
"Bu ...." Blaire tak tahu harus berkata apa, selain menghambur ke dalam pelukan Viktorija.
“Maafkan aku yang lepas kendali, Blaire. Aku hanya tak mengira ….” Viktorija menjeda kalimatnya, sementara tangan wanita itu mengusap lembut punggung putri semata wayangnya tersebut.
“Sebentar lagi aku akan menjadi seorang nenek,” gumam Viktorija pelan sambil tertawa lirih, membuat tangis Blaire semakin menjadi.
“Apa yang harus kulakukan, Bu? Harus kuapakan janin ini?” isaknya.
Isak tangis Blaire tak kunjung mereda, apalagi setelah sang ibu berkata demikian. Sungguh berat yang dia rasakan dan alami saat ini. Berbadan dua dalam kondisi sendiri, tanpa pasangan yang mungkin setidaknya dapat mengurangi beban psikologis yang akan dia hadapi.
“Beristirahatlah. Tak perlu lagi menyesali semua yang telah terjadi,” ujar Viktorija lembut. Sesaat, tatap matanya mengarah pada jemari Blaire yang sedikit mengeluarkan darah terkena serpihan cangkir. Janda cantik itu mengembuskan napas perlahan. Sorot matanya mengikuti gerak langkah kaki Blaire yang meniti anak tangga hingga sampai ke depan kamarnya.
Blaire berjalan gontai, lalu mengempaskan diri ke atas ranjang. “Hamil? Menjadi ibu?” gumamnya lirih pada diri sendiri. Blaire terus saja berpikir, hingga tanpa terasa dia pun tertidur.
Blaire baru terbangun ketika Viktorija membuka pintu kamar dan membawakannya segelas susu. “Minumlah. Kau harus banyak mengonsumsi makanan dan minuman bergizi,” ucapnya sambil meletakkan gelas di atas nakas. Wanita itu lalu keluar dari sana tanpa banyak bicara lagi.
“Mengingat kondisimu yang harus banyak beristirahat, sepertinya aku akan mencari seorang pegawai untuk menggantikan kau di kedai,” ujar Viktorija tiba-tiba sebelum menutup pintu kamar Blaire.
Blaire sendiri tak sempat menanggapi perkataan ibunya. Namun, dia juga tak berani membantah. Blaire sudah tak memiliki keberanian untuk mendebat sang ibu, setelah semua yang dia lakukan.
Hingga tanpa terasa, seminggu telah berlalu. Viktorija menepati ucapannya dengan menyewa seorang pegawai di kedai. Pegawai itu tak lain adalah adik kandung dari Aaron yang berusia sama dengan Blaire. Ibunya bahkan mengajak gadis bernama Natalie itu untuk berkunjung ke rumah di hari pertamanya bekerja.
“Beberapa hari ini aku tak melihat Blaire ke luar rumah sama sekali, Nyonya Sutherland. Ke mana dia?” tanya gadis itu.
“Putriku sedang berada di kamarnya. Dia harus banyak istirahat, menenangkan pikiran dan tidak boleh lelah sama sekali,” jawab Viktorija enteng sambil meneguk teh di teras depan rumah.
“Apakah Blaire sedang sakit, Nyonya?” tanya Natalie lagi. Gadis itu meletakkan cangkir tehnya yang sudah kosong ke atas meja teras berbentuk bulat dengan hati-hati.
“Tidak. Dia hanya sedang hamil,” jawab Viktorija. Raut wajahnya terlihat begitu datar ketika mengatakan hal tersebut.
Lain halnya dengan Natalie yang begitu terkejut. “Ha-hamil?” ulangnya.
“Ya, seperti yang baru saja kau dengar.” Viktorija terkekeh pelan sambil pura-pura sibuk menggoyang-goyangkan cangkirnya.
“Um, baiklah kalau begitu. Aku permisi dulu, Nyonya Sutherland. Hari sudah semakin petang. Aku harus membantu menyiapkan makan malam,” pamit Natalie yang tampak sedikit tergesa-gesa.
“Ya, tentu. Sampaikan salamku untuk ibumu.” Viktorija tersenyum hangat sambil melambaikan tangan. Dia terus memperhatikan Natalie yang setengah berlari menuju rumahnya, lalu masuk ke dalam.
Di ruang tamu, ternyata Blaire sudah menunggunya dengan wajah masam.
“Untuk apa ibu menceritakan perihal kehamilanku pada tetangga baru itu?” protesnya.
“Tidak apa-apa Blaire. Cepat atau lambat juga semua orang pasti akan mengetahui seperti apa keadaanmu. Apalagi di perumahan sepi pinggiran kota seperti lingkungan tempat tinggal kita ini,” jawab Viktorija seraya berlalu dari hadapan putrinya.
🍒🍒🍒
Yuk pantengin novel keren ini.