
Blaire dan Christian menunggu di sudut ruangan. Hal itu mereka lakukan cukup lama, hingga waktu menunjukkan pukul delapan malam. Blaire pun harus menghubungi sang ibu, dan memberitahukan bahwa dirinya akan pulang sedikit terlambat. Beruntung, Viktorija memahami keadaannya.
Christian sendiri sedari tadi juga tampak sibuk mengoperasikan ponselnya. Pria itu seakan tak peduli, ketika Blaire berkali-kali melirik ke arah di mana dia berada. Pada akhirnya, Blaire menyerah dan hanya terdiam sambil bersandar di sofa. Dia teramat sadar, bahwa tidak mungkin untuk dapat membuat sang tetangga yang tampan itu tertarik keapda dirinya.
“Aduh,” desis Blaire lirih ketika dia mulai merasakan nyeri pada area sekitar luka di pinggang. Pada jam seperti itu, seharusnya Blaire sudah kembali meminum obat. Akan tetapi, dia bertekad untuk tidak pulang sebelum selesai berbincang dengan Adam.
Beruntung, tak lama kemudian ibu dan kedua adik Adam datang. Wajah-wajah sayu dari keluarga Fraser, sama-sama menyiratkan kepedihan yang teramat dalam. Mereka sempat menyapa Blaire sebelum naik ke kamar masing-masing. Sedangkan Adam masih mengantarkan tamu terakhir pulang hingga ke depan pintu.
Setelah itu, barulah Adam menghampiri Christian dan juga Blaire. Gadis itu sempat meringis kala Adam berjalan mendekat. Namun, dia berusaha untuk menahan serta menyembunyikan rasa nyerinya, demi mendengarkan apa yang akan Adam sampaikan. “Sepertinya kematian ayahku tidaklah wajar,” ujar Adam membuka perbincangan itu.
“Kenapa kau berpikir seperti itu?” tanya Christian penasaran.
“Karena ….” Adam menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan keadaan aman, lalu duduk di hadapan pria tampan berwajah dingin tersebut. “Karena ayahku tidak pernah memiliki riwayat sakit jantung. Sesaat sebelum dilarikan ke rumah sakit, dia hanya mengeluh sakit perut dan muntah. Ayahku sama sekali tak merasakan dada sesak atau semacamnya,” tutur Adam.
“Lalu, apa kata dokter?” tanya Christian lagi.
“Dokter juga tidak mengatakan bahwa ayahku terkena serangan jantung. Namun, semua saluran berita mengatakan bahwa ayahku meninggal akibat penyakit itu. Tidakkah menurut kalian hal itu aneh?” Adam menggeser kursi, mendekatkan dirinya pada Christian dan juga Blaire yang duduk bersebelahan.
“Jam berapa ayahmu dinyatakan meninggal dunia?” cecar Christian.
“Sore tadi aku berniat pulang sebentar, setelah menjaganya di ruang perawatan sejak siang. Aku bergantian dengan adikku. Tak berselang lama, aku mendapat telepon bahwa ayah meninggal dunia.” Adam menggeleng pelan. Setitik air mata menetes di pipinya.
“Apakah ayahmu pernah menceritakan sesuatu padamu? Mungkin sebuah wasiat atau semacamnya?” gaya Christian bak seorang detektif, membuat Blaire menjadi semakin semangat mendengarkan.
“Tidak pernah. Ayahku hanya bercerita, betapa sulitnya menegakkan sebuah keadilan di lingkungan yang penuh dengan kejahatan yang terlihat,” jawab Adam. Dia lalu terdiam sejenak, kemudian tiba-tiba melotot tajam pada Christian. “Apakah mungkin … kematian ayahku berhubungan dengan kasus yang sedang dia tangani?”
“Kasus apa yang tengah ditangani oleh ayahmu?” Christian semakin serius mendengarkan penuturan Adam.
“Ayahku disewa oleh keluarga Robinson, salah satu keluarga terpandang di kota ini untuk menangani kasus kematian putri mereka yang bernama Allison. Gadis itu tewas. Terduga pembunuhnya adalah seorang putra anggota parlemen. Keluarga Allison pernah menyewa detektif swasta dan menemukan bukti keterlibatan Frederick Sheldon. Akan tetapi, kasus ini mendapat penolakan saat diangkat ke pengadilan,” jelas Adam. “Oleh karena itulah, mereka menyewa ayahku untuk mengajukan ulang kasus ini agar diproses ke pengadilan,” sambungnya.
“Hm. Begitu rupanya.” Christian mengangguk-angguk seraya mengusap dagu. “Tidak menutup kemungkinan, alasan yang sama juga menimpa sahabat ayahmu yang lebih dulu meninggal. Siapa pun pelakunya, dia ingin agar ayahmu dan rekan-rekannya berhenti menangani kasus ini."
“Kini pendiri firma Frasers and Co. hanya tersisa satu orang, yaitu tuan Bill Carpenter,” sahut Adam.
“Aku mengenal nama itu,” gumam Christian.
“Siapa yang kau maksud?” Blaire berusaha ikut dalam pembicaraan meskipun dengan menahan perih di pinggang.
“Frederick Sheldon. Aku yakin jika ayahnya bernama Daryl Sheldon, anggota parlemen selama dua periode berturut-turut,” jawab Christian dengan pandangan yang tak lepas dari Adam.
“Ya, kau benar sekali. Bertahun-tahun yang lalu, kasus Allison dan Frederick cukup ramai dibicarakan. Namun, karena ayah si pria sangat berpengaruh dan kaya raya, lambat laun berita itu tenggelam. Kasihan Allison,” ucap Adam.
“Lalu, kau ingin aku membantumu dalam hal apa?” tanya Christian kemudian.
Christian terdiam sejenak, lalu menyandarkan punggung sembari menyugar rambutnya. “Jujur aku tak ingin mencari masalah dengan terjun ke dalam hal-hal semacam ini. Akan tetapi, akan kucoba.” Kata-kata Christian terdengar pelan, tapi cukup meyakinkan.
“Terima kasih, Tuan Christian. Aku akan membayarmu berapapun yang kau mau.” Adam tampak begitu lega. Dia bahkan meraih tangan pria tampan itu dengan begitu saja, lalu menggenggamnya erat-erat.
“Aku bukan detektif swasta. Aku tidak memasang tarif,” tolak Christian seraya berdiri. “Akan kucoba membantumu semampuku. Namun, jika ke depannya ada hal-hal yang dapat membahayakan diriku, maka aku harus mundur dan menolak untuk terlibat."
“Itu sudah lebih dari cukup. Terima kasih banyak.” Tanpa permisi, Adam memeluk tubuh tegap itu erat-erat.
Sementara Christian hanya berdiri kaku, seakan tak memiliki keinginan untuk membalas sikap hangat Adam.
“Jangan berlebihan. Kau membuatku risih.” Christian melepaskan tangan Adam yang melingkar di badannya. “Aku harus pulang. Ini sudah terlalu malam,” pamitnya.
“Oh, tentu. Sekali lagi kuucapkan terima kasih karena sudah hadir di sini. Kau juga, Blaire. Terima kasih dan berhati-hatilah,” ucap Adam tulus dengan mata yang masih terlihat sembap.
“Tidak masalah, Adam. Beristirahatlah.” Blaire tersenyum kecil sambil melambaikan tangan. Dia memang tak banyak bicara karena menahan rasa sakit yang semakin mendera. Begitu pula saat dirinya masuk ke dalam kendaraan Christian, gadis itu tak banyak bicara maupun bergerak.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Christian. Dia merasakan sesuatu yang aneh pada diri tetangganya itu.
“Aku terlambat meminum obat pereda nyeriku.” Blaire meringis kecil seraya mencengkeram tali sabuk pengaman.
“Apa kau mau minum? Ada beberapa botol air mineral di jok belakang.” Christian segera membalikkan badan dan meraih sebotol air dari tempat duduk di belakangnya. Dia lalu memberikan botol itu pada Blaire. “Minum dan bertahanlah sebentar. Aku akan mengantarmu pulang.” Selesai berkata demikian, dia langsung menyalakan mesin mobil dan melajukannya.
Mobil mini cooper itu berhenti di depan rumah Blaire. Christian segera melepas sabuk pengamannya dan membantu Blaire turun. “Apa kau masih kuat berjalan?”
“Ya. Aku bisa melakukannya,” jawab Blaire dengan segera. Hati-hati, Christian menuntun tubuh ramping Blaire hingga berada di depan pintu. “Terima kasih,” ucap gadis itu saat hendak membuka pintu.
Akan tetapi, ketika Christian hendak kembali ke mobil, Blaire mencekal lengannya dengan tiba-tiba. “Kenapa lagi?” tanya pria itu ketus.
“Apa tujuanmu, Chris?” Blaire malah balik bertanya.
“Maksudmu?”
“Kenapa kau tiba-tiba bersedia membantu Adam? Bukankah kau adalah pria misterius yang tak ingin berurusan dengan siapa pun juga?”
🍒🍒🍒
Wah, ini novel yang rekomended sekali. Dijamin seru untuk diikuti 😉