
Christian mere•mas lembut rambut panjang Blaire yang tergerai menutupi punggung. Lima tahun berlalu, selama itu pula keduanya hanya bisa saling mengingat dan merindukan saat-saat seperti yang tengah berlangsung saat ini. Sementara Ainsley masih tertidur dengan lelap dan tak terganggu sama sekali.
Angan Blaire kemudian tertuju pada beberapa tahun silam. Kilasan masa lalu tentang kebersamaan mereka yang indah kembali hadir dalam ingatan. Semuanya terekam jelas dan begitu detail. Blaire bahkan masih dapat merasakan, dan seakan kembali pada saat di mana dirinya pertama kali mendapat perlakuan seperti itu.
Ya, Christian memperlakukannya dengan sama. Pria itu tetap bersikap lembut dan masih menjadi seorang pencium yang hebat. Tak ada yang sebanding dengan ayah kandung Ainsley tersebut. Tidak juga Aaron si pria tampan nan ramah yang baik hati.
Beberapa saat berlalu. Akan tetapi, Christian tak juga hendak melepaskan bibir gadis yang dulu pernah menjadi kekasihnya walau hanya sesaat. Pria itu bahkan terasa jauh lebih menakjubkan kini. Dia berhasil membuat Blaire terengah dan semakin terbuai, ketika si gadis merasakan isapan lembut dan penuh perasaan yang Christian lakukan.
Akan tetapi, segala keindahan yang tengah mereka rasakan harus segera sirna, ketika suara tegas Viktorija terdengar di dalam toko. "Nona Shuterland! Apakah kau akan berpindah profesi menjadi seorang penjual barang antik?"
Blaire dan Christian pun segera menghentikan pertautan di antara keduanya, meskipun mereka tampak masih ingin melakukan hal itu. Blaire bergegas merapikan diri, lalu keluar dari ruangan kecil di bagian belakang toko yang disekat oleh dinding pemisah. Dia menghampiri sang ibu yang ternyata hanya berdiri di ambang pintu.
"Ainsley sedang tidur, Bu," ucap gadis itu dengan suara dan nada bicara yang dibuat setenang mungkin.
"Ainsley tidur dan kau lama sekali di sini. Memangnya apa yang kau lakukan? Apa kau sedang menyuapi Christian makan siang?" sindir Viktorija. Sekilas, dia melihat ke arah di mana pria yang baru dia sebutkan berada. Sang pemilik toko tersebut muncul dari dalam ruangan yang sama dengan Blaire tadi.
"Selamat siang, Nyonya Shuterland," sapa Christian biasa saja. Dia tak ingin menanggapi sikap ketus yang ditunjukkan oleh Viktorija. Pria tampan asal Meksiko tersebut menyadari sepenuhnya, bahwa ada alasan kuat yang mendasari ibunda Blaire bersikap demikian terhadap dirinya.
"Cepatlah kembali ke kedai. Aku kerepotan jika harus mengurus pesanan sendirian." Tanpa menanggapi sapaan dari Christian, Viktorija pun berlalu dari sana. Masih untung karena wanita itu tidak membanting pintu saat menutupnya.
"Maafkan sikap ibuku, Chris. Dia ...." Blaire tampak serba salah dan juga merasa tak nyaman atas apa yang Viktorija perlihatkan di hadapan Christian. "Ibuku tidak mengetahui alasan kenapa kau harus pergi dengan diam-diam dari kota ini," ucap Blaire lagi mencoba meminta pengertian dari Christian.
"Biarkan saja. Lagi pula, semakin sedikit orang yang tahu maka itu akan jauh lebih baik. Cukup kau saja, Blaire. Aku tak ingin jika suatu saat nanti Ainsley mengetahui bahwa ayahnya adalah mantan seorang ...."
"Chris ...." Blaire segera memotong ucapan Christian. "Kau sudah meninggalkan pekerjaan itu. Jadi, tak perlu diungkit lagi. Aku berjanji bahwa tak akan ada siapa pun yang tahu tentang hal ini."
"Terima kasih, Blaire," balas Christian. Mereka saling berpandangan untuk sejenak, sebelum akhirnya Blaire tersadar untuk segera kembali ke kedai.
“Aku titip Ainsley.” Blaire tersenyum lembut sebelum melangkah keluar dari toko.
“Jangan khawatir. Dia juga putraku,” sahut Christian.
Blaire menoleh, kemudian mengangguk. Dia membuka pintu kedai dengan sejuta perasaan indah yang memenuhi dada. Walaupun sikap Viktorija tampak tidak bersahabat, tapi entah mengapa Blaire merasa begitu tenang. Kehadiran kembali Christian di dekatnya, seakan memberikan sebuah tempat berlindung yang membuat dia merasa aman.
“Biar aku yang mengatakan pada Aaron bahwa kau sudah menerima lamarannya,” ujar Viktorija begitu saja, ketika Blaire baru memasuki kedai.
“Bu!” Gadis itu melotot sebagai tanda protes. “Tolonglah jangan membuat masalahku menjadi semakin runyam,” pintanya setengah memohon.
“Jadi, apa yang kau inginkan, Bu?” tanya Blaire dengan suara bergetar. Dipandangnya sang ibu lekat-lekat dengan air mata meleleh.
“Aku hanya ingin agar kau mengambil keputusan yang tepat! Lihatlah apa jadinya saat aku membebaskanmu mengambil keputusan sendiri! Kau harus menghadapi situasi yang berat, hamil tanpa pasangan,” geram Viktorija.
“Bu ....” Begitu banyak kata yang ingin Blaire ungkapkan. Akan tetapi, semuanya seperti tercekat di tenggorokan. Gadis itu tak menyangka jika sang ibu akan melontarkan kalimat yang terasa begitu menyakitkan baginya. “Aku tidak ingin berbicara lagi.” Blaire pun mengalah dan memilih untuk tidak menanggapi apapun perkataan Viktorija hingga sore menjelang.
Dua wanita berbeda generasi itu bersiap menutup kedai saat pelanggan terakhir sudah meninggalkan meja dan melangkah keluar.
Bersamaan dengan itu, Christian masuk sambil menuntun tangan Ainsley. Wajah bocah kecil itu tampak begitu segar dengan rambut yang tersisir rapi. “Bolehkah aku mengajaknya pergi keluar sebentar, Blaire?” tanyanya ragu.
“Ibu, aku akan jalan-jalan dengan paman tampan!” timpal Ainsley yang terlihat sangat ceria.
“Akan kau bawa ke mana cucuku? Ini sudah terlalu sore!” tegas Viktorija yang tengah sibuk membenahi meja dan kursi.
“Aku akan mengajak Ainsley makan malam di suatu tempat yang nyaman dan hangat tentunya, Nyonya Sutherland,” jawab Christian tenang.
“Bagaimana aku tahu jika kau tidak akan menculik Ainsley, lalu membawanya pergi?” sahut Viktorija dengan ketus.
“Bu!” sergah Blaire. Sesaat kemudian, gadis itu menyesali sikapnya.
“Jika Anda khawatir, maka biarlah nona Sutherland bergabung dengan kami. Dia yang akan ikut menjaga Ainsley agar Anda tenang,” ujar Christian.
“Jangan katakan jika ini hanya bagian dari rencana licikmu,” tuding Viktorija dengan satu telunjuk mengarah pada Christian.
Akan tetapi, pria itu hanya tersenyum simpul dengan sikapnya yang terlihat tenang. “Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama Ainsley. Dia putraku,” ucap Christian yang membuat Viktorija tak berkutik.
“Apakah kau mengerti istilah ‘sudah terlambat’?” cibir Viktorija beberapa saat kemudian dengan sinis.
“Sepertinya istilah itu tak bisa disematkan padaku, yang sama sekali tak mengetahui keadaan sebenarnya. Andai waktu itu aku tahu jika putri Anda hamil, maka aku tak akan pernah meninggalkannya sendirian,” ujar Christian mencoba untuk membela diri.
“Alasan saja!” Viktorija membuang muka. Dia telah selesai dengan pekerjaannya. Begitu pula Blaire yang sudah merapikan semua barang-barang.
“Aku tak ingin menjadi sosok jahat di sini. Lakukan apapun yang ingin kalian lakukan. Namun, Ainsley harus sudah ada di rumah sebelum pukul sembilan malam!” tegas Viktorija. “Blaire masih tinggal di rumahku, sehingga mau tidak mau dia harus mengikuti peraturan yang kubuat!” sambungnya. Selesai berkata demikian, Viktorija beranjak keluar dari dalam kedai dengan langkah cepat. Sesampainya di depan pintu, dia lalu menoleh kepada Blaire. “Jangan lupa kunci pintu dan tutuplah rolling doornya!”