
"Apa-apaan ini, Mate? Letakkan pisau itu! Berbahaya sekali," hardik Adam. Pemuda itu segera menarik Blaire agar bersembunyi di belakang tubuhnya.
Akan tetapi, Kenneth seakan tak peduli. Dia malah memutar dan memainkan pisau yang digenggamnya. Pria itu seolah hendak menunjukkan bahwa dia sangat lihai dalam menggunakan benda tajam tersebut. "Jangan sok pahlawan kau, Bocah! Minggirlah!" bentak Kenneth membalas ucapan Adam.
"Kau sudah kehilangan akal sehatmu karena terlalu banyak meminum alkohol! Dasar pemabuk gila!" caci Blaire dari balik tubuh jangkung Adam.
"Mundurlah, Blaire. Biar kutangani dia," suruh Adam setengah berbisik.
"Aku tak ada urusan denganmu. Aku hanya ingin berbicara dengan gadis cantik di belakangmu itu," desis Kenneth sambil terus memutar-mutar gagang belati yang dipegangnya.
"Kalau kau memang ingin berbicara, maka letakkanlah dulu pisaunya," suruh Adam mengangkat dua tangan ke depan dada, berusaha untuk menenangkan pria yang berusia beberapa tahun lebih tua dari dirinya.
"Oh, jadi kau ingin menantangku?" Fokus Kenneth kini beralih kepada Adam sepenuhnya. Dia memperhatikan pemuda tampan itu dengan sorot meremehkan. Kenneth berjalan mendekat sampai benar-benar berhadapan dengan Adam sambil mengangkat pisau belatinya.
"Hati-hati, Adam. Dia tidak bisa dianggap remeh. Kenny adalah salah satu atlit kickboxing terkenal di kota Dundee," bisik Blaire sambil sesekali mengintip ke arah Kenneth yang nyalang memperhatikan kebersamaan mereka.
"Tenang saja, Blaire. Aku bisa mengatasi ini," Adam merasa cukup percaya diri, sebab sedikit banyak dia juga memiliki kemampuan ilmu bela diri. Dulu sewaktu masih berkuliah, dia sempat mengikutii kegiatan ekstra kurikuler karate di kampus. Walaupun dirinya hanya memahami dasar-dasar ilmu bela diri tadi, tetapi Adam tak ingin mundur. Baginya, ini adalah kesempatan bagi dia untuk menunjukkan kebolehan di hadapan Blaire.
Kenneth yang mulai tak sabar, langsung mengayunkan pisau belatinya ke arah pemuda berambut pirang itu. Namun, pemuda tampan tadi dengan lihai mengelak. Dia bergerak ke arah samping dan berusaha menangkis tangan Kenneth yang memegang pisau.
Akan tetapi, pria itu terlalu kuat mencengkeram benda tajam tersebut. Kenneth malah berhasil menggores pergelangan tangan Adam. Tak ingin dipermalukan, Adam bermaksud membalas. Dengan segenap kekuatan, dia melayangkan kaki ke arah tangan Kenneth. Usahanya itu pun berhasil. Belati tajam berhasil terlepas dan jatuh di atas jalanan yang mereka pijak.
Merasa memiliki kesempatan emas, Adam segera mendaratkan serangan berikutnya. Sebuah pukulan kencang yang hendak dia arahkan pada rahang Kenneth. Tanpa diduga, pria yang tengah berada dalam pengaruh minuman keras itu sanggup menghindar dan balas memukul Adam.
Pemuda bermata biru itu jatuh tersungkur tepat di depan kaki Blaire. Melihat hal terebut, buru-buru Kenneth meraih pisaunya kembali dan hendak menusuk Adam. Beruntung, Adam bergerak secepat kilat. Dia berguling ke samping, sehingga pisau itu hanya mengenai permukaan jalan.
Adam tak ingin terlalu cepat menyerah. Dia segera berdiri dan kembali berusaha menendang pinggang Kenneth. Kali ini usahanya berhasil, pria mabuk itu terhuyung ke belakang dan menabrak tubuh Blaire.
Gadis itu memekik ketakutan tatkala Kenneth terjatuh dan menabrak dirinya. Apalagi pria itu tampak menyeringai dengan sorot mata yang menakutkan. Kenneth tak berpikir panjang saat menghunus pisaunya tinggi-tinggi untuk dia hujamkan ke tubuh Blaire, gadis yang telah membuatnya patah hati.
"Jangan!" cegah Adam. Namun, suaranya kalah jauh dengan kecepatan tangan Kenneth yang sudah menyarangkan belati itu ke bagian perut. Gadis cantik itu masih sempat menghindar, sehingga pisau tadi menancap di pinggang.
"Aduh!" Blaire memekik kesakitan. Dia tertegun untuk beberapa saat, saat menyadari bahwa belati itu sudah menembus kulitnya. Darah mulai merembes keluar. Blaire yang ketakutan, hanya bisa terbelalak sambil memegangi pinggangnya.
"Astaga! Kau memang gila!" Adam menghambur ke arah Kenneth dan melingkarkan tangannya pada leher pria yang tengah kesetanan itu. Dia mencekik Kenneth sekuat tenaga, sambil merebut belati dari cengkeraman pria itu. Namun, ternyata usaha melumpuhkan pria itu tak semudah yang dia duga.
Beruntung karena saat itu sesosok pria jangkung yang berukuran lebih tinggi dibandingkan Adam, muncul dari arah belakang. Pria itu segera mencengkeram tangan Kenneth yang tengah memegang belati, lalu merebut benda tajam tadi dengan begitu saja. Pria itu juga memelintir pergelangan tangan Kenneth sampai tulangnya bergeser, lalu melayangkan dua pukulan di ulu hati Kenneth sampai pria tersebut jatuh dan tak sadarkan diri.
Blaire menurut. Dia meletakkan tangan ke samping tubuh, sementara tangan kekar si pria menekan di sekitar luka tusukan. "Chris-tian," desah Blaire terbata.
"A-aku akan menelepon polisi!" seru Adam dengan mata yang tak lepas dari Blaire yang merintih pelan.
Pria yang ternyata adalah Christian itu, mengangkat kepala Blaire dengan satu tangan lalu meletakkannya di pangkuan. Sedangkan tangan kanan terus menekan area di sekitar pisau yang masih tertancap.
"A-apakah aku akan mati? Di mana ibu? Aku harus bertemu dengan ibuku," racau Blaire dengan suara lemah dan parau.
Christian tertegun memperhatikan kondisi gadis yang berada di pangkuannya itu. "Kau tidak akan mati. Bertahanlah. Terus bernapas," ucapnya lembut. Tak ada lagi kesan dingin yang menjadi ciri khas pria itu.
"Sakit sekali." Blaire meringis saat mencoba menarik napas dalam-dalam.
"Jangan banyak bergerak," cegah Christian. Perlahan, tangan kirinya bergerak, mengusap puncak kepala Blaire.
Tak lama kemudian, dengung sirine mobil polisi dan ambulans terdengar saling bersahutan. Adam segera meringkus Kenneth yang masih tak sadarkan diri, saat dua orang polisi turun dari kendaraan dan berjalan ke arahnya. "Angakt tangan Anda, Sir!" titah polisi tersebut.
"Dia pelakunya, Officer! Dia yang menusuk teman wanitaku!" seru Adam.
"Anda mundurlah. Biar kami yang memeriksanya," tegas salah satu polisi sambil menghampiri Kenneth, sambil membalikkan tubuhnya yang tak berdaya. polisi itu lalu mengeluarkan borgol dan menahan Kenneth.
Sementara satu polisi lainnya menghampiri Blaire yang mulai tak sadar, bersamaan dengan petugas medis yang menurunkan brankar dan memeriksa kondisinya. "Apakah Anda pasangannya?" tanya polisi itu pada Christian.
"Kami bertetangga. Rumahnya di sana, cukup dekat dengan rumahku," terang Christian.
Polisi tersebut hendak bertanya lagi, ketika petugas medis mengangkat tubuh Blaire dan memindahkan gadis itu ke atas brankar. Akan tetapi, saat mereka hendak mendorong brankar tersebut, mereka menyadari bahwa tangan Blaire masih mencengkeram kuat telapak tangan Christian.
"Jangan tinggalkan aku sendirian, Bu. Aku takut," racau Blaire. Kesadaran yang mulai berkurang, membuat gadis itu berhalusinasi dan menganggap sosok Christian sebagai sang ibu.
"Sepertinya Anda harus ikut masuk ke dalam kendadraan, Sir. Kita tidak boleh berlama-lama atau nona ini akan semakin kehilangan banyak darah," ujar salah seorang petugas medis itu.
Christian sempat menoleh ke arah polisi yang hendak menanyainya, seakan meminta persetujuan.
"Anda pergilah, saya bisa menanyai teman Anda yang satu lagi," tunjuk polisi itu pada Adam, yang juga tengah serius menjawab pertanyaan dari rekan sesama polisi.
"Baiklah." Christian mengangguk. Dia tak punya pilihan selain masuk ke dalam mobil ambulans, mengikuti genggaman tangan Blaire.