
Dengan setengah menyeret, Christian membawa Blaire menuju pintu keluar dari dalam pub tadi. Sebelum melanjutkan langkah ke tempat di mana dia memarkirkan kendaraan, pria tampan itu tertegun beberapa saat. Sorot mata setajam elang, awas menyapu setiap sudut yang dapat dia tangkap dengan indera penglihatannya. Sesaat kemudian, Christian kembali menuntun Blaire. Dia tak peduli meskipun gadis itu melihat ke arahnya dengan tatapan protes.
Setelah tiba di dekat mobil mini cooper yang dia gunakan kemarin saat melayat ke rumah keluarga Fraser, Christian segera membukakan pintu untuk Blaire. Kembali dengan sikapnya yang setengah memaksa, dia mengisyaratkan agar gadis itu segera masuk. Bodohnya, Blaire pun menurut saja. Padahal ada sejuta pertanyaan yang ingin dia layangkan sebagai bentuk protes.
"Pasang sabuk pengamanmu!" titah Christian yang sudah siap di belakang kemudi. Tanpa banyak bicara, pria itu segera melajukan mobilnya.
"Kau keterlaluan, Chris!" protes Blaire pada akhirnya. "Kau ...." Telunjuk gadis itu mengarah lurus kepada pria yang tak menggubrisnya sama sekali. Blaire hendak mengeluarkan segala unek-unek dalam hati, tapi semua kata-katanya tertahan oleh suara dering ponsel. Blaire pun mendengus kesal, seraya merogoh ke dalam sling bag kecil tempat di mana dia menyimpan telepon genggamnya. Nama Eileen tertera di layar sebagai pemanggil.
"Blaire, apa yang terjadi?" tanya Eileen yang terdengar khawatir. "Apa kau dan Christian ada masalah pribadi yang tidak kami ketahui?" selidiknya.
"Entahlah, Lee. Aku bahkan masih belum mengetahui alasan tuan ini ...."
"Tutup teleponnya!" Perintah dari Christian terdengar sangat tegas, hingga membuat Eileen terbelalak tak percaya.
"Astaga, Blaire. Haruskah kupanggikan layanan 999 untuk memeriksa keadaanmu di sana? Kau di mana sekarang? Ya, Tuhan. Apakah pria itu seorang psikopat berbahaya?" celoteh Elieen tanpa henti.
"Hentikan, Lee. Aku tidak apa-apa. Bersikaplah yang wajar. Aku rasa ... dia tidak akan berani bertindak macam-macam terhadapku," ujar Blaire seraya menoleh kepada Christian yang masih mengemudi.
Christian balas menoleh, tapi dia tak mengatakan apapun. Pria tadi hanya mengisyaratkan agar Blaire segera menutup sambungan teleponnya. Dengan terpaksa, gadis cantik berambut pirang itu pun menurut. Entah mendapat keyakinan dari mana, tapi dia merasa bahwa Christian tak akan pernah berbuat sesuatu yang tidak diinginkan terhadap dirinya.
Namun, pemikiran tadi seketika sirna dan menguap begitu saja. Kali ini, Blaire patut merasa was-was, pasalnya Christian ternyata melajukan mobil yang dia kendarai ke arah jalur yang bukan menuju tempat tinggal mereka. Entah akan pergi ke mana pria itu dengan membawa serta Blaire. "Jangan katakan jika kau hendak menculik dan meminta uang tebusan kepada ibuku! Kuberitahukan bahwa itu akan menjadi ide paling konyol untuk menjadi kaya!" protes Blaire lagi dengan tegas.
Namun, lagi-lagi Christian tak menggubris segala ucapan gadis itu. Dia justru menghentikan laju kendaraannya di depan sebuah motel. Masih dengan sikap yang dingin dan irit bicara, Christian yang telah selesai memarkirkan kendaraan segera melepas sabuk pengaman. Dia bahkan membantu Blaire melepas sabuk pengamannya, karena gadis itu hanya diam terpaku.
Beberapa saat kemudian, mereka telah masuk dan melakukan reservasi kamar yang berada di lantai dua. Blaire yang masih merasa terkejut, tak dapat berkata apa-apa. Gadis itu bahkan masih berkutat dengan pikirannya atas apa yang Christian lakukan.
"Apa kau tergoda saat melihat Bridget yang seksi dan hendak melampiaskannya padaku?" tanya gadis itu polos, saat mereka telah berada di dalam kamar dengan single bed yang berukuran tidak terlalu besar.
Namun, Christian lagi-lagi tak menjawab. Pria itu berdiri di dekat jendela sambil mengawasi keluar. Tatap matanya terlihat begitu serius, menembus kaca dengan ukuran yang tidak seberapa lebarnya.
"Ada apa, Chris? Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku?" tanya Blaire lagi penuh rasa penasaran.
"Kemarilah." Setelah sekian lama hanya membisu, akhirnya Christian bersuara juga. Dia menunjukkan sesuatu kepada Blaire yang sudah berdiri di dekatnya. "Kau lihat mobil sedan hitam itu?" telunjuk Christian mengarah pada sebuah kendaraan yang terparkir di seberang motel.
"Memangnya itu mobil milik siapa?" tanya Blaire.
"Apa kau dan teman-temanmu tidak menyadari, bahwa mobil itu mengikuti kalian sejak dari awal berangkat tadi?" Christian melirik gadis di dekatnya untuk sejenak. Dari jarak sedekat itu, dia dapat menghirup wangi aroma parfume serta rambut Blaire.
"Benarkah?" Blaire segera mengalihkan pandangan kepada Christian yang ternyata sedang memperhatikannya. Pria itu terkejut dan segera memalingkan muka ke arah jendela. "Itu artinya ... artinya kau juga mengikuti kami." Blaire menggerakkan bola matanya yang indah.
"Sudah kukatakan bahwa aku harus pergi ke pesta. Kau tahu jika rencana itu telah disusun jauh-jauh hari. Aku senang karena kau datang ke sana, tapi sekaligus merasa tak suka sebab kau ... kau ... astaga, apa-apaan ini?" Blaire kembali ke dekat tempat tidur, kemudian duduk di ujungnya. Dia meletakkan kedua tangan di sisi kiri dan kanan tubuh. "Kau merusak acara perpisahanku dengan Eileen," sesalnya dengan kepala tertunduk.
Melihat sikap Blaire yang tidak seperti biasa, Christian hanya dapat mengempaskan napas pendek. Dia lalu menghadapkan tubuh kepada gadis itu. "Aku ingin sekali menjelaskannya padamu, tapi ... aku tidak bisa," ujarnya pelan dan dalam.
"Kau tidak bisa menjelaskan apa-apa padaku, karena memang tidak pernah ada sesuatu yang serius!" sergah Blaire yang seketika mengangkat wajahnya. "Entah pria seperti apa dirimu, Chris. Aku sama sekali tidak mengerti dan tidak dapat menelaahnya dengan baik." Blaire kembali berdiri dan menghampiri pria berjaket kulit itu. Dengan berani, gadis cantik tersebut melayangkan tatapan tajam yang seakan menantang pria di hadapannya.
"Kau hidup dalam duniamu sendiri dan membuat segala hal seolah-olah nyata!" Satu telunjuk Blaire mendorong pundak tegap Christian. "Kau pria yang aneh dan sulit untuk dipahami. Seharusnya kau tinggal di Mars. Edinburgh terlalu indah untukmu!" Gadis itu melampiaskan segala kekesalan, atas sikap semena-mena Christian yang menurutnya tak beralasan.
"Suatu saat kau akan mengetahuinya tanpa harus kujelaskan," balas Christian.
"Ya. Kau tak perlu menjelaskan apapun karena itu memang keahlianmu!" Blaire membalikkan badan. Gadis itu bermaksud untuk keluar dari dalam kamar. Dia berjalan cepat menuju pintu.
Akan tetapi, gerakan Christian akan selalu jauh lebih cepat. Dia mencegah Blaire, serta menahannya agar tidak memutar pegangan pintu. Pria tampan tersebut menggeleng pelan saat Blaire menatap tajam ke arahnya. "Jangan pergi," pinta Christian. Nada bicara serta tatap mata abu-abu itu terlihat jauh lebih lembut dari biasanya.
Blaire yang tadi diliputi rasa kesal teramat besar kepada pria berambut gelap itu perlahan mulai luluh. Dia melepaskan genggamannya dari pegangan pintu, lalu kembali ke dekat tempat tidur. Gadis cantik tersebut memilih untuk duduk lagi di sana. Namun, kali ini dia tak berkata apapun. Sedangkan Christian kembali ke dekat jendela. Dia mengawasi sedan hitam yang masih terparkir di seberang motel.
"Siapa pria itu?" tanya Blaire tiba-tiba, membuat Christian segera menoleh padanya.
"Pria yang mana?" Christian balik bertanya.
"Pria yang menghadang mobil Eileen saat kami hendak pergi ke pub. Dia terlihat sangat aneh dan juga asing. Menurutku, pria itu bukanlah berasal dari Inggris atau sekitarnya," tutur Blaire menerangkan.
"Apa dia melakukan sesuatu terhadap kalian?" Christian meraih kursi kayu dari sudut ruangan, kemudian meletakkannya tepat di hadapan Blaire. Pria itu pun duduk di sana.
"Kenapa kau bertanya? Bukankah kau juga mengikuti kami?" Blaire mengernyitkan keningnya.
"Aku memang mengikuti kalian, tapi karena ada satu hal sehingga aku harus kembali ke rumah," jelas Christian ragu.
Blaire terdiam sejenak sebelum menceritakan apa yang terjadi dalam perjalanan tadi. Dia menuturkan dengan sangat detail tanpa ada yang terlewat. Christian pun menyimaknya. Pria itu tampak sangat serius. Dia seperti sedang memikirkan apa yang baru saja Blaire tuturkan kepada dirinya.
🍒🍒🍒
Hai, ceuceu bawakan lagi rekomendasi judul novel keren. Ramaikan yuk😉