Edinburgh

Edinburgh
Glass Flakes



"Memangnya kenapa?" Viktorija balik bertanya.


"Tidak apa-apa. Tadi Blaire mengatakan bahwa dia tidak menyukai pria bermata biru," sahut Aaron yang masih terlihat tenang dengan senyumannya.


"Jangan menghiraukan apa yang Blaire katakan. Putriku memang terkadang asal bicara," ujar Viktorija menanggapi. Dia lalu mengangguk seraya kembali tersenyum. Setelah itu, janda cantik tersebut melanjutkan langkah menuju rumahnya.


Sementara Blaire langsung masuk ke kamar. Dia berdiri di dekat jendela kaca yang tertutup. Ada titik air yang masih tersisa pada permukaan kaca itu. Sesuatu yang ditinggalkan oleh hujan, dan akan segera mengering seiring berjalannya waktu. Tak lama. Ya, tak membutuhkan waktu yang lama bagi air untuk mengering dan menguap ke udara. Sesaat lagi, ia akan hilang tak berbekas, hingga semua orang lupa bahwa air tersebut pernah menempel pada kaca jendela rumah mereka.


Blaire mende•sah pelan. Luka hatinya pun pasti akan sirna setelah beberapa waktu berlalu. Sama seperti saat dia melupakan Kenneth, David, Taylor, dan semua mantan kekasihnya yang tak berguna. "Ah ... Christian juga," ucap gadis itu teramat lirih. Apakah Christian yang terlihat jauh lebih mapan dari segi usia, serta dewasa dalam bersikap akan menjadi sama tak bergunanya seperti mantan kekasih Blaire yang lain?


"Aku tak ingin lagi memikirkanmu, Christian." Lirih suara Blaire saat kembali menyebutkan nama tersebut. Namun, pada kenyataannya gadis itu tetap saja meneteskan air mata. Jauh di sudut hati yang terdalam, Blaire sangat menyesalkan apa yang telah terjadi kini.


Cinta itu masih ada. Entah sampai kapan, tapi perasaannya terhadap pria yang telah menipu dengan terang-terangan tersebut, seakan telah melekat kuat dalam dinding hati. Walau tak sehangat beberapa waktu yang lalu, saat Christian mendekap serta menggenggam erat jemarinya. Namun, sisa-sisa dari percikan indah tersebut masih tertinggal.


"Pergilah sejauh mungkin, Christian. Jangan pernah menunjukkan lagi wajahmu di hadapanku." Blaire kembali berbicara pada diri sendiri.


Sesaat kemudian, gadis itu mengarahkan pandangannya pada langit yang masih terlihat muram. Ia seakan tahu bahwa hati seorang Blaire kini tengah dipenuhi kabut hitam yang menyesakkan. Namun, musim akan terus berganti. Langit pun tak selamanya mendung. Cahaya mentari pasti datang untuk kembali menghangatkan bumi. Akan tetapi, bumi yang mana? Apakah yang tengah Blaire pijak saat ini? Akankah hidupnya kembali merasa hangat?


"Blaire! Apa kau ingin membantuku menyiapkan makan malam?" Terdengar seruan Viktorija dari lantai bawah.


Dengan segera, Blaire menyeka air mata yang membasahi pipi. Dia lalu mengambil ikatan rambut, kemudian memakainya. Mahkota indah berwarna pirang itu kini kembali seperti dulu. Tak lagi tergerai bebas seperti kemarin-kemarin, di saat masih mendapatkan belaian lembut dari seorang Christian.


"Aku akan segera turun, Bu!" Blaire membalas seruan dari Viktorija. Namun, gadis itu malah berdiri mematung di depan cermin sembari memandangi diri. Blaire menatap bayangannya dari ujung rambut hingga ke pinggang. Di dalam cermin itu, dia seakan tengah menonton kembali adegan percintaan panas antara dirinya dengan Christian.


Pria berambut gelap tersebut adalah seseorang yang pertama kali menyentuhnya. Harus Blaire akui bahwa semua yang dilakukan bersama Christian terasa begitu indah dan sulit untuk dilupakan.


Blaire kembali memejamkan mata, ketika dia merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Begitu hangat dan ... aroma tubuh itu sangat dia kenal. "Christian ...." desah Blaire lirih. Gadis itu pun kemudian membuka mata. Namun, tak ada seorang pun di sana selain dirinya. Tak ada Christian, tak ada ciuman lembut menghanyutkan, tak ada pelukan hangat yang menenangkan dan membuatnya merasa nyaman.


Christian telah pergi. Ya, pria itu pergi meninggalkannya tanpa pamit bersama wanita bernama Pandora. Rasa marah dalam diri Blaire pun kembali hadir, saat dirinya teringat akan wajah cantik berambut gelap yang dengan bangga mengatakan bahwa dia adalah istri dari pria yang dicintainya.


Air mata kembali terjatuh. Wajah cantik Pandora muncul dalam permukaan cermin di hadapan Blaire. Dia tersenyum dan ... prang! Cermin itu pun pecah, hancur berkeping-keping terkena lemparan botol parfume milik Blaire.


Sementara Viktorija yang tengah menyiapkan makanan di dapur, langsung terkejut mendengar suara nyaring dari lantai atas. Wanita itu meninggalkan semua pekerjaannya dan bergegas naik menuju kamar sang putri.


Viktorija membelalakan mata, saat melihat Blaire tengah berdiri di depan cermin rias yang telah hancur. "Apa yang terjadi, Blaire?" tanyanya seraya berjalan masuk. Dia menghampiri gadis itu kemudian merengkuhnya dengan penuh kasih. "Menangislah," ucap wanita paruh baya tersebut kemudian.


Itulah yang Blaire inginkan. Dia harus meluapkan segala perasaan yang mengganjal dalam hatinya. Blaire tak bisa menahan keresahan yang membuat dia terus berada dalam kegalauan. Pelukan sang ibu memang akan selalu menjadi tempat yang tepat bagi dirinya, untuk menumpahkan segala kepedihan dan keluh-kesah. Tak ada tempat yang paling nyaman selain itu.


"Aku membencinya, Bu. Aku sangat membencinya," isak Blaire. "Andai saja aku mendengarkanmu untuk tidak jatuh cinta dengan terlalu dalam ...." Blaire tak mampu melanjutkan kata-katanya. Saat itu dia hanya ingin menangis.


“Tidak apa-apa, Blaire. Dalam hidup pasti akan ada atau satu dua hal yang tidak sesuai dengan yang apa kau inginkan, bahkan tak jarang terlihat begitu menyakitkan. Namun, hal itulah yang akan membuatmu tumbuh semakin kuat." Viktorija mengusap-usap punggung Blaire dengan lembut. Hal itu terus berlangsung beberapa saat, sampai terdengar ketukan pelan dari arah pintu depan.


“Sepertinya ada tamu. Tunggulah di sini sebentar.” Viktorija mengurai pelukannya, lalu berjalan keluar kamar, kemudian turun ke lantai satu. Dia membuka pintu ruang tamunya lebar-lebar, setelah melihat terlebih dulu siapa yang datang dari balik tirai yang menutupi kaca pada pintu tersebut.


“Selamat malam, Nyonya Sutherland,” sapa seseorang yang tiada lain adalah Adam.


“Hei, Adam. Selamat malam. Bagaimana kabarmu, Nak? Maaf karena aku belum sempat berkunjung ke rumahmu lagi,” ucap Viktorija penuh sesal.


"Tidak apa-apa, Nyonya. Aku bisa mengerti dengan kesibukan Anda,” ucap pemuda itu sopan.


“Terima kasih atas pengertianmu, Adam.” Viktorija menepuk-nepuk pundak sahabat dekat putrinya dengan pelan. “Masuklah. Apa kau ingin bertemu dengan Blaire?” tanyanya seraya mengulurkan tangan ke arah sofa sebagai isyarat agar Adam segera duduk.


“Sebenarnya iya, Nyonya. Akan tetapi, tak apa jika dia sedang sibuk," sahut Adam yang sudah duduk nyaman di atas sofa.


“Dia tidak sedang sibuk,” balas Viktorija, “Blaire hanya sedikit tidak enak badan,” dalih wanita cantik tersebut. “Coba kutanyakan padanya sebentar. Siapa tahu dia bersedia untuk menemuimu." Viktorija mengangguk sebelum meninggalkan Adam di ruang tamu.


“Jika Blaire tidak dapat keluar kamar, jangan dipaksakan, Nyonya. Aku hanya ingin menanyakan keberadaan Christian. Saat tadi mendatangi kediamannya, ternyata rumah itu sudah dihuni oleh keluarga lain,” ujar Adam sedikit berseru, sebab saat itu jaraknya dengan Viktorija sudah sedikit lebih jauh.


Janda cantik yang tadinya hendak menaiki tangga itu segera tertegun, lalu berbalik menghadapkan badannya ke arah Adam. “Christian? Ada kepentingan apa kau dengan pria itu?" tanya Viktorija penasaran.


"Aku hanya ingin berterima kasih karena tuan Christian telah banyak membantu kemarin, saat ayahku tiada," sahut Adam.


Viktorija terpaku untuk sejenak, kemudian tersenyum dan berusaha bersikap biasa saja. “Oh Baiklah. Akan kutanyakan kepada Blaire,” ucapnya seraya kembali melanjutkan langkah untuk meniti satu per satu anak tangga, hingga dirinya tiba di depan kamar sang putri.


Viktorija membuka pintu kamar Blaire perlahan. Putri cantiknya itu tampak sedang memunguti pecahan kaca yang berserakan di lantai sambil sesekali terisak pelan.


“Blaire? Adam datang dan ingin bertemu denganmu. Katanya dia hendak berterima kasih kepada Christian tentang sesuatu. Namun, dia tak berhasil menemukan pria itu di bekas kediamannya. Mungkin dia hendak menanyakan sesuatu padamu,” tutur Viktorija hati-hati.


Mendengar nama Christian kembali disebut, Blaire seketika membeku. “Berterima kasih untuk apa?” Suara gadis itu terdengar bergetar.


“Entahlah, katanya berkaitan dengan kepergian ayahnya beberapa waktu yang lalu," sahut Viktorija menggerakkan kedua bahu secara bersamaan. "Apakah kau ingin menemuinya?” tanya Viktorija memastikan.


Blaire menoleh pada sang ibu. Dia berpikir untuk sesaat sebelum akhirnya mengangguk. Blaire juga merapikan penampilan serta membasuh wajah terlebih dahulu. Setelah merasa siap, barulah dia memutuskan untuk keluar kamar. Dengan langkah gontai, gadis itu mengikuti Viktorija dari belakang.


Blaire memaksakan tersenyum, ketika melihat Adam yang tengah duduk di ruang tamu. Pemuda itu segera berdiri, saat gadis yang telah membuat dia tergila-gila sudah hadir di depan matanya.


“Apa kabarmu, Blaire?” sapa Adam seraya mengulurkan tangan, yang segera disambut oleh gadis cantik berambut pirang tersebut.


“Mencoba untuk tetap terlihat baik, Adam," sahut Blaire lesu sembari duduk tak jauh dari tempat di mana pemuda itu berada. "Kenapa kau mencari Christian?” tanyanya. Blaire lebih sering menyembunyikan wajah, karena dia tak ingin pemuda itu melihat sepasang matanya yang tampak sembap.


“Ah iya. Aku ingin berterima kasih padanya. Berkat bantuan Christian, kasus ayahku akhirnya dapat terpecahkan,” jawab Adam dengan antusias.


“Apa maksudmu?” Viktorija dan Blaire melontarkan pertanyaan yang sama secara bersamaan.


“Christian telah membantu menyelidiki kasus kematian ayahku yang dirasa janggal. Pada akhirnya terungkap bahwa ayahku memang meninggal karena dibunuh. Christian berhasil mengumpulkan bukti-bukti dengan lengkap. Lusa, tuan Sheldon akan mendapatkan balasannya. Pengacara keluargaku berhasil menuntut dan menjebloskan dia ke dalam penjara. Senin depan akan digelar persidangan pertama dengan terdakwa utama politikus itu,” tutur Adam, yang seketika membuat bola mata hijau nan indah milik Blaire terbelalak sempurna.


"Sungguh?" tanya Blaire tak percaya.


"Ya. Sudah kuduga jika pria itu bukanlah orang sembarangan, Blaire. Semua terlihat dari bahasa tubuhnya yang berbeda dari orang kebanyakan. Aku ingin berterima kasih secara langsung padanya, tapi ...."


"Christian sudah pergi dari sini. Dia menjual rumah dan mungkin juga tokonya. Beberapa hari yang lalu ... astaga!"