
"Are you alright?" tanya Christian tanpa melepaskan dekapannya dari Blaire. Gadis itu segera mengangguk. Tak dapat dipungkiri bahwa debaran jantung Blaire menggila. Begitu pula dengan suhu tubuhnya yang mendadak panas, ketika paras tampan Christian berada begitu dekat dengan wajahnya.
Akan tetapi, akal sehat Blaire kembali saat ekor matanya menangkap Aaron yang berdiri membeku dengan raut wajah dan sorot mata yang sulit diartikan.
Begitu pula Christian yang segera tahu diri. Dia lalu melepaskan tangannya dari tubuh ramping yang dulu pernah dia miliki walau hanya beberapa saat. "Ayo, Ains. Sebaiknya kau bersamaku saja," ajak pria itu untuk menyembunyikan rasa tak enak yang tiba-tiba menyergap. Postur tinggi yang dimiliki oleh Christian, memudahkan dia untuk meraih tubuh sang buah hati dari atas pundak Aaron yang saat itu terlihat tidak suka kepadanya.
Ainsley pun menurut saja. Dia tak menolak ketika Christian menempatkannya di atas pundak. Christian lalu membawa sang buah hati berjalan ke dekat loket untuk membeli tiket, karena Christian tak membeli secara online.
Sementara Blaire menaiki anak tangga terakhir dengan hati-hati. Dia tak hendak ikut mengantri, sebab kakinya terasa sedikit tak nyaman akibat terkilir tadi. “Apa kau baik-baik saja, Blaire?” tanya Aaron. Nada bicaranya terdengar datar dan dingin. Tampak jelas jika pria itu sedang menahan gejolak rasa cemburu yang sejak tadi ditahan dengan sekuat tenaga.
“Sepertinya kakiku terkilir,” keluh Blaire seraya memijit pergelangan kaki sambil bersandar di tembok pagar.
“Astaga. Benarkah?” Raut dingin tadi seketika berubah menjadi ekspresi khawatir. Dengan segera Aaron berjongkok, lalu melepas sebelah sepatu Blaire. Dia memijit kaki gadis itu dengan pelan.
“Aaron, sudahlah. Jangan berlebihan. Orang-orang akan melihat kita,” protes Blaire setengah berbisik.
“Memangnya kenapa jika orang-orang melihat kita? Aku yakin mereka semua pasti sudah pernah melihat adegan sang pangeran yang memasangkan sepatu kaca di kaki Cinderella,” ujar Aaron sambil tertawa lebar.
Blaire pun ikut tertawa. “Ayolah, Aaron. Kita berdua tahu bahwa kau bukanlah pangeran dan aku bukan Cinderella,” balasnya.
“Namun, kau secantik Cinderella,” goda Aaron sembari mengerling nakal.
“Ya ampun. Kau ini norak sekali.” Blaire tak bersungguh-sungguh mencemooh Aaron, karena pada saat itu dia tertawa sambil mencubit pipi calon suaminya.
Dari tempat dia berdiri, Christian dapat melihat interaksi dua sejoli tadi dengan sangat jelas. Rasa cemburu kembali merasuki relung hati. Akan tetapi, tak ada yang dapat dilakukan olehnya selain memandang mereka dari kejauhan.
“Ayo, Yah!” Seruan Ainsley membuat Christian tersadar. Empat tiket kini sudah berada di genggaman. Beberapa saat lagi mereka semua akan dapat menikmati keindahan kastil yang terkenal dan menjadi landmark kota Edinburgh.
Berhubung saat itu sudah memasuki musim panas, maka suasana di sana pun tampak ramai oleh pengunjung. Ada banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang. Salah satu yang paling membuat mereka penasaran adalah kisah hantu di kastil tersebut.
Kastil Edinburgh adalah sebuah situs bersejarah yang menjadi salah satu ikon kota Edinburgh. Bangunan megah tersebut dibangun pada tahun 1103 dan berada di atas puncak bukit bernama Castle Rock. Di dalam sana terdapat beberapa bangunan, di antaranya adalah St. Margaret's Chapel, Governor's House, Royal Palace, Great Hall, Queen Anne Building, Scottish National Memorial, New Barracks, dan lain-lain.
Mereka berempat pun mulai menjelajah setiap sudut benteng bersejarah tadi. Ainsley bahkan sempat berpose di dekat Mons Meg, yaitu meriam yang berasal dari abad pertengahan dan menjadi salah satu aset bersejarah di Kastil Edinburgh. Hari itu mereka lewatkan dengan keseruan yang tak terlupakan, terutama bagi Christian dan juga Ainsley. Ayah dan anak tadi tampak jauh semakin akrab.
Satu kebahagiaan dalam diri seorang Blaire, menjelang hari pernikahannya yang tinggal beberapa waktu lagi. Dia begitu puas melihat Christian, dengan senyum lebar yang lebih sering menghiasi wajah tampannya. Sebuah pemandangan langka, yang akan selalu dirinya abadikan di dalam ingatan.
Hingga lewat tengah hari dan setelah merasa lelah, mereka pun memutuskan untuk pulang. "Bagaimana hari ini, Ains? Apa kau menyukainya?" tanya Christian sambil mengemudi dalam perjalanan pulang.
"Aku sangat menyukainya ayah. Bagaimana jika kapan-kapan kita pergi lagi bersama?" tawar Ainsley ceria.
“Tentu saja. Kapanpun kau ingin pergi, aku akan selalu siap,” jawab Christian dengan yakin.
“Baiklah, akan kukabulkan semuanya demi kau.” Untuk kesekian kalinya, dalam sehari Christian menampakkan senyuman yang terlihat amat menawan.
"Apa kau tidak lelah, Nak?" tanya Christian lagi. Sesekali, dia melihat ke arah putra semata wayangnya dari spion tengah.
“Tidak, Ayah. Malah rasanya aku tidak ingin pulang ke rumah. Aku ingin tidur di tokomu,” celoteh Ainsley dengan gaya bicara yang terdengar lucu dan menggemaskan.
“Kita harus meminta izin terlebih dahulu pada ibu dan nenekmu, Son,” sahut Christian, meskipun dia mengucapkan kalimatnya dengan perasaan penuh sesal.
Tak hanya Ainsley, Christian pun rasanya tak bisa berlama-lama menjauh dari bocah kecil nan tampan itu. Andaikan bisa, dia akan terus menemani Ainsley. Namun, dia cukup tahu diri dengan kondisi dan posisinya. Dapat bertemu dan bermain dengan Ainsley seperti saat ini pun, sudah teramat dia syukuri.
“Aku sangat menyayangimu, Ainsley. Mungkin kita baru saja bertemu, tapi yakinlah bahwa aku sudah jatuh cinta padamu saat pertama kali kita berjumpa. Kau dan aku, kita memiliki darah yang sama.” Christian tersenyum samar tanpa menoleh.
Christian dapat merasakan Ainsley yang tengah memperhatikannya dari belakang. Bocah itu mungkin masih belum memahami apa yang dia katakan. Akan tetapi, itu tak masalah. Christian sudah puas karena dirinya bisa mengungkapkan segala isi hati.
“Itu dia! Nenek sudah menunggu di depan,” seru Ainsley yang memecahkan lamunan pria Meksiko tadi. Tanpa sadar Christian berkendara dan sekarang sudah tiba di depan halaman rumah Blaire. Pria itu segera turun dari mobil, kemudian menggendong putra semata wayangnya. Christian sempat menoleh ke belakang. Dia melihat kendaraan Aaron yang terparkir di depan rumahnya sendiri.
“Selamat petang, Nyonya Sutherland,” sapa Christian sopan sambil menurunkan Ainsley dari gendongan.
“Di mana Blaire?” tanya Viktorija ketus.
“Sepertinya Aaron menurunkan putri Anda di depan rumahnya,” jawab Christian. Dia sama sekali tak terpengaruh dengan sikap ibunda Blaire yang sama sekali tak bersahabat.
“Nek, aku tadi berjoged di depan Piper Man!” sela Ainsley. Tubuh mungilnya melompat-lompat di depan sang nenek.
“Oh, ya? Apakah kau menyukainya, Ainsley? Apakah kau senang hari ini?” tanya Viktorija sambil menuntun tangan cucunya melintasi halaman, kemudian masuk ke dalam rumah. Wanita itu sama sekali tak menoleh, atau mengucapkan apapun saat meninggalkan Christian yang masih berdiri di depan pagar. Namun, Ainsley sempat berbalik. Dia tersenyum sambil melambaikan tangan padanya sebelum menghilang di balik pintu.
Christian mengempaskan napas pelan. Dia hendak berbalik menuju mobil, ketika dirinya berpapasan dengan Aaron yang tengah menuntun Blaire. “Apakah Ainsley sudah masuk ke dalam rumah?” tanya Aaron.
“Ya. Baru saja.” Christian mengangguk dan hendak berlalu.
“Kuharap besok kau tak mencari Ainsley di kedai, sebab aku akan mengajaknya bersama Blaire ke Glasgow untuk fitting baju pengantin,” terang Aaron.
Christian sempat melirik sesaat ke arah Blaire. Gadis cantik itu terlihat gugup dan salah tingkah. Tak berselang lama, dia kembali memusatkan perhatian kepada Aaron. “Apakah kalian akan menginap di sana?” tanya pria rupawan itu kemudian.
“Oh, tidak. Kami berangkat pagi dan akan kembali pada sore hari,” jawab Aaron dengan segera.
“Baiklah, kalau begitu,” ujar Christian sambil berbalik ke tempat di mana mobilnya terparkir. Sebisa mungkin dia tak akan menghapus Blaire dari ingatan. Tak lama lagi, gadis itu akan mengenakan gaun pengantin dan mengucapkan sumpah sehidup semati dengan pria yang bukan dirinya.