
“Chris!” Blaire segera bangkit dan terduduk di tepian ranjang. “Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau menelepon?” tanyanya khawatir.
“Aku baru saja berganti pakaian,” sahut Christian yang sebenarnya bukan jawaban dari apa yang Blaire tanyakan.
“Lalu?” Gadis bermata hijau itu menautkan alisnya karena keheranan.
“Lalu, tiba-tiba aku teringat bahwa aku belum mengajakmu ke satu tempat lain. Tempat yang tak kalah indah dari sungai tadi,” ujar Christian.
“Di mana? Siapa yang warga asli Edinburgh?” Blaire menggerakkan bola matanya dengan tak beraturan.
Sementara Christian terdengar menggumam pelan. "Baiklah, aku lupa. Kau tuan rumahnya," sahut pria tampan itu dengan enteng. "Besok kuberitahu sepulang dari toko.” Tanpa aba-aba, Christian menutup teleponnya begitu saja, membuat Blaire makin terheran-heran. Dia tak habis pikir dengan tingkah unik si tetangga tampan yang selalu misterius, tapi penuh pesona tersebut.
“Blaire! Apakah kau masih lama?” Viktorija kembali memanggil namanya, membuat gadis itu tergagap dan segera berlalu ke kamar ganti. Tak lama kemudian, dia meraih ponsel yang tergeletak di atas ranjang, lalu keluar dengan terburu-buru menuruni anak tangga.
“Maafkan aku, Bu. Aku tadi harus menerima telepon lebih dulu,” ujarnya sambil menarik satu kursi, lalu duduk berhadapan dengan sang ibu.
“Apakah tuan Alvarez lagi?” Viktorija mengangkat satu alisnya.
“Begitulah,” jawab Blaire dengan wajah bersemu merah. Dia pura-pura sibuk dengan memindahkan sepotong daging steak dan beberapa sendok saus kacang polong ke atas piring.
“Hm, sepertinya kau sudah tak tertolong, Blaire,” goda Viktorija terkekeh sambil mengiris daging steaknya.
“Ayolah, Bu. Ini bukanlah penyakit berbahaya yang bisa menghilangkan nyawa penderitanya,” ujar Blaire dengan santai sambil meneguk segelas air, sebelum memulai santap malamnya.
“Kata siapa, Blaire? Banyak orang yang mati bunuh diri atas nama cinta,” sanggah Viktorija.
“Aku bukanlah salah satunya. Ibu keliru jika aku akan bertindak sebodoh itu,” tegas Blaire penuh keyakinan.
“Benarkah?” Viktorija tampak ingin sedikit menggoda putri semata wayangnya itu.
“Bu.” Blaire meletakkan garpu dan pisau steak begitu saja, lalu menatap wajah sang ibu yang masih terlihat awet muda. “Aku tak pernah merasakan yang seperti ini sebelumnya. Katakan padaku, Bu. Apakah rasanya sama seperti saat kau berjumpa dengan ayah untuk pertama kali?”
“Well.” Viktorija juga turut meletakkan peralatan makan, kemudian menopang dagu dengan wajah setengah mendongak. “Kami dulu adalah teman sejak kecil. Rumahnya tak jauh dari tempat tinggalku. Kami selalu berangkat dan pulang sekolah bersama-sama. Awalnya, aku tak merasakan sesuatu yang istimewa. Bagiku, dia adalah salah satu dari sekian banyak teman yang kumiliki,” tuturnya.
“Namun, segalanya berubah pada saat hari terakhir liburan musim panas. Saat itu kami akan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. Dia mengatakan padaku bahwa dirinya akan berpindah rumah dan bersekolah di London. Saat itu pula aku merasakan sakit yang teramat sangat menghujam dadaku. Semuanya tak lagi sama, ketika dia tak berada di dekatku. Keresahan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Rasa kosong yang hanya bisa diisi olehnya,” tutur Viktorija lagi seraya tersenyum saat mengakhiri ceritanya.
“Jadi, saat itulah Ibu baru sadar bahwa kau telah jatuh cinta?” tanya Blaire.
“Tidak juga. Aku masih terlalu bodoh untuk memahami perasaanku sendiri. Hingga saat dia kembali dari London dan memulai usahanya di Edinburgh. Tak terkira betapa bahagianya aku ketika itu, karena dapat melihat wajahnya lagi.” Sepasang mata Viktorija mulai berkaca-kaca. Namun, dengan segera dia mengusapnya menggunakan punggung tangan.
“Setiap kali kami bicara berdua, aku merasakan bahwa dia adalah yang selama ini kucari. Aku tidak menginginkan yang lain lagi. Sampai ketika ayahmu tiada, rasa itu masih tetap tertinggal. Tak akan ada yang bisa menggantikan sosoknya,” lanjut Viktorija pelan. Nada bicaranya terdengar begitu pilu.
“Kenapa harus kesepian jika ada kau, Blaire? Kau begitu cerewet dan serba ingin tahu.” Viktorija kembali tertawa sembari menepuk-nepuk lengan sang putri yang masih melingkar nyaman di pundaknya.
“Kalau begitu, aku akan tetap berada di sampingmu, Bu,” ucap Blaire penuh keyakinan.
“Itu tidak mungkin, Sayang. Bagaimanapun juga, kau memiliki kehidupan sendiri. Rasanya tidak adil jika aku terus menahanmu agar tetap di sini,” sahut Viktorija lembut. "Dengan melihatmu bahagia, maka itu merupakan sebuah anugerah yang tak ternilai sama sekali bagiku."
“Akan tetapi, aku tidak ingin ibu kesepian.” Blaire semakin mengeratkan rengkuhannya.
“Aku terlalu tangguh jika hanya untuk menaklukkan kesepian,” sahut Viktorija jumawa. “Sudah sana, habiskan makananmu,” suruhnya kemudian.
“Aku sangat menyayangimu,” ucap Blaire seraya mengecup pucuk kepala Viktorija berkali-kali, sebelum kembali ke kursinya. Bersamaan dengan itu, masuklah sebuah pesan ke ponsel milik gadis itu. Balire segera membuka pesan tadi, ketika dia melihat nama Christian sebagai pengirimnya. Sesaat kemudian, si pemilik rambut pirang tersebut menyunggingkan sebuah senyuman dengan pipi merona.
Jangan lupa besok.
Sebuah pesan yang teramat singkat dari pria misterius itu.
Kau ini pengganggu juga rupanya.
Blaire tak berhenti tersenyum setelah mengirimkan pesan balasan.
Sementara Viktorija yang melihat tingkah putrinya, hanya menggeleng pelan.
"Bu." Blaire kembali bersuara setelah meletakkan telepon genggamnya. "Christian mengajakku keluar besok setelah dari kedai," ucap gadis itu seakan hendak meminta izin secara tak langsung.
"Memangnya kalian hendak ke mana?" tanya Viktorija penasaran.
"Entahlah. Aku rasa mungkin dia akan mengajakku makan atau sekadar berjalan-jalan. Ibu tahu sendiri bahwa Chris tak menyukai keramaian ... ah maksudku ... kami hanya ingin lebih mengakrabkan diri," jelas Blaire. Tentu saja dia tak akan memberitahu sang ibu, bahwa dirinya telah bercinta dengan Christian di dalam toko milik pria itu.
"Oh baiklah. Tak masalah," sahut Viktorija. "Selama kau merasa nyaman, maka aku tak akan mengekangmu sama sekali. Christian memang terlihat sangat misterius dan menurutku sedikit aneh, tapi aku rasa dia pria yang baik. Apa kau tahu berapa usianya, Blaire?" Tiba-tiba Viktorija menanyakan hal demikian.
"Apakah sopan jika aku bertanya tentang hal itu?" pikir Blaire seraya menaikkan sepasang alisnya.
"Aku rasa wajar untuk sepasang kekasih saling mengetahui usia masing-masing. Setidaknya, ada beberapa hal dari pria itu yang kau ketahui. Jika dia memang mencintaimu, maka tak mungkin juga dirinya menyembunyikan terlalu banyak rahasia. Dia pasti bersedia untuk membagi satu atau dua hal terpenting dalam hidupnya," jelas Viktorija. Sebagai seorang ibu dan juga yang telah jauh lebih berpengalaman, tentu saja dia harus menuntun Blaire agar lebih memahami makna dari sebuah hubungan yang sesungguhnya.
"Kalau begitu, aku akan menyiapkan daftar pertanyaan untuknya. Kita lihat, seberapa banyak yang bersedia Christian jawab," pikir Blaire sambil kembali mengiris daging di dalam piring.
"Ah." Viktorija tertawa pelan. "Jangan sampai kau bertanya tentang mantan kekasih, atau kapan pertama kali dia melepas keperjakaannya," kelakar wanita berambut pirang sebahu itu sambil terus tertawa.
Sementara Blaire hampir tersedak saat mendengar candaan sang ibu. Dia baru teringat akan hal itu. Rasa penasaran gadis cantik tersebut pun kembali hadir.