
“Hai,” sapa Blaire mencoba tetap terlihat tenang, meskipun detak jantungnya sudah mulai tak beraturan.
“Hai,” balas gadis muda dengan rentang usia tak jauh berbeda dengan Blaire. Gadis itu memiliki bola mata berwarna biru dengan rambut gelap yang terurai indah menutupi punggung.
“Siapa kau?” tanya Blaire dengan perasaan harap-harap cemas dalam hatinya.
“Kau sendiri siapa?” Gadis berambut gelap tadi balik bertanya.
Blaire terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan gadis cantik di hadapannya. Sesaat kemudian, gadis berambut pirang itu pun menyunggingkan sebuah senyuman. “Namaku Blaire Shuterland. Aku adalah kekasih Christian Alvarez Teixeira,” jawab Blaire dengan bangga dan penuh percaya diri.
Si gadis yang tadi hanya menyembulkan kepala dari balik pintu, kini menggeser sedikit tubuhnya yang sintal dan berkulit eksotis. Dia lalu mengulurkan tangan dengan maksud mengajak Blaire untuk bersalaman. “Hai, namaku Pandora. Aku adalah istri dari Christian,” balasnya dengan senyuman manis, tapi terasa begitu pahit bagi Blaire.
“Istri?” ulang putri Viktorija tersebut. Blaire menggerakkan bola matanya ke kiri dan kanan secara teratur, mencoba mencerna apa yang baru saja dia dengar.
“Ya. Akulah istri dari pria yang selama ini kau anggap sebagai kekasih,” jelas gadis bernama Pandora tersebut.
“Pandora? Baiklah.” Blaire manggut-manggut perlahan. “Maaf telah mengganggumu. Permisi.” Gadis itu bergegas membalikkan badan. Blaire kembali memasukkan kedua tangan dalam saku mantel. Dia berjalan dengan tubuh menggigil. Udara yang berada di sekitarnya terasa jauh lebih dingin hingga dia ingin segera tiba di rumah.
Dengan tangan gemetaran, Blaire membuka kunci pintu rumahnya. Di dalam sana tak ada siapa pun, berhubung Viktorija tengah pergi ke Glasgow untuk membeli beberapa barang yang tidak dia dapatkan di Edinburgh.
Setelah kembali mengunci pintu, Blaire melanjutkan langkah menuju kamarnya. Lunglai kaki itu menaiki satu per satu undakan anak tangga, hingga tiba di bagian paling atas. Masih dengan tubuh yang menggigil, Blaire masuk ke kamar dan segera melepas sepatu. Dia merebahkan tubuh di atas kasur dengan posisi menyamping.
Sesaat kemudian, gadis itu menarik kedua lutut hingga dirinya kini tampak seperti seorang bayi di dalam kandungan ibunya.
Air mata yang sejak tadi dia tahan, ternyata tak mampu untuk dirinya bendung lagi. Bulir-bulir bening pun berjatuhan di atas sprei bermotif floral dengan warna kuning gading.
“Chris ....” Lirih suara Blaire tertahan, saat menyebutkan nama pria yang selama ini telah berhasil membuat dirinya merasa jauh lebih dewasa. Akan tetapi, kenyataan yang baru saja Blaire dapati sama sekali tak menyenangkan. Itu seribu kali jauh lebih menyakitkan daripada mendapat luka tusuk di pinggang yang pernah dia derita. Blaire sampai tak tahu harus berkata apa. Hingga beberapa saat berlalu, dia masih dalam posisinya seperti tadi. Sementara di luar hujan kembali turun.
Tepat saat jarum jam menunjukkan pukul delapan belas tiga puluh, Viktorija baru kembali. Namun, dia merasa heran karena lampu-lampu di dalam rumah belum ada yang dinyalakan satu pun. “Blaire! Apa kau sudah pulang?” serunya setelah menyalakan lampu.
Wanita paruh baya itu mengarahkan pandangan ke lantai atas rumahnya.
Karena tak mendapat jawaban, Viktorija pun memutuskan untuk naik. Dia melangkah tenang menuju kamar Blaire, kemudian memutar pegangan pintu yang ternyata tidak terkunci. Untuk sejenak, janda cantik berambut pendek tersebut kembali merasa heran karena keadaan kamar Blaire pun sama gelapnya. Tirai jendela juga belum ditutup.
Mendapat sentuhan menenangkan dari sang ibu, perlahan Blaire mengubah posisi. Dia berbalik menghadap kepada wanita paruh baya tersebut. Rintihan pilunya pun kembali terdengar.
Mendapati Blaire dalam kondisi seperti itu, perasaan Viktorija menjadi kian khawatir. Namun, pikirannya langsung tertuju kepada Christian. “Sudah kukatakan agar kau menjauhinya,” ucap Viktorija pelan tanpa menghentikan belaian pada rambut Blaire. “Inilah yang aku takutkan, Blaire. Kemarilah.” Wanita paruh baya berambut pirang sebahu itu membantu sang putri agar bangkit dari tidurnya. Setelah itu, mereka pun bepelukan.
Sementara Blaire langsung saja menumpahkan air mata, yang sejak tadi telah membasahi pipi meski tak terlalu deras. Sejuta rasa sesal mendera dan menertawakannya kini. Blaire baru menyadari bahwa tak ada yang lebih baik dari cinta seorang ibu terhadap anaknya.
“Maafkan aku, Bu,” pinta gadis itu di sela isakan yang sulit untuk dia hentikan. “Aku jatuh cinta dan sangat mengaguminya,” ucap Blaire lagi agak parau karena sambil menangis.
“Aku tak akan pernah melarangmu untuk jatuh cinta atau mengagumi siapa pun. Namun, aku hanya ingin agar kau bisa memilih pria yang tepat. Aku tak akan tega melihatmu merasakan sakit karena cinta, meskipun perjuangan atas nama cinta sejati memang berat dan terkadang menyakitkan.” Lembut tutur kata Viktorija begitu menenangkan bagi Blaire. Gadis itu pun semakin mengeratkan pelukannya.
Sementara itu, terhalang dua bangunan dari kediaman Blaire. Christian tengah berdiri menatap deraian air hujan yang turun dan membasahi pekarangannya, yang tak seasri seperti halaman di depan rumah Viktorija. Tatap mata pria tampan tersebut lekat dan tak teralihkan sama sekali, dari kaca yang berembun kerena cuaca lembap.
“Chris.” Suara lembut Pandora menyebut nama pria itu. Namun, Christian tak menyahut atau sekadar menoleh padanya. Pandora pun mendekat dan berdiri sedikit di belakang. “Kau harus menerimanya. Ini akan jauh lebih baik bagi kalian berdua,” ucap gadis bermata biru itu pelan. Akan tetapi, lagi-lagi Christian tak menanggapi apa yang gadis itu katakan.
“Mereka sudah mengetahui keberadaanku di sini. Edinburgh bukan lagi tempat yang aman,” ucap Pandora lagi meski dia tak yakin bahwa Christian akan menanggapi perkataannya.
“Aku sudah menghubungi jasa ekspedisi yang akan membawa barang-barang di rumah ini ke alamat acak. Hal itu mungkin bisa mengecoh mereka. Black rifle pasti akan mencari alamat tujuan pengiriman ekspedisi, sementara kita sudah berputar menjauh." Pada akhirnya Christian membuka suara, meskipun nada bicaranya terdengar dingin.
“Jadi, kau sudah menyiapkan segalanya untuk hari ini?” tanya Pandora pelan dan hati-hati.
“Ya. Aku sudah menyiapkan segala kemungkinan terburuk sejak pertama kali pindah ke tempat ini,” jawab Christian yang sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari rintik hujan.
“Termasuk gadis berambut pirang itu?” tanya Pandora terdengar ragu.
“Dia akan jauh lebih aman jika tidak berada di dekatku,” sahut Christian. Pria itu kini menunduk. Tatap matanya tak lagi terfokus ke luar jendela, melainkan terpaku pada lantai kayu rumah yang sebentar lagi akan dirinya tinggalkan.
“Dia masih muda dan juga sangat cantik. Blaire akan menemukan seseorang yang tepat suatu saat nanti, lalu kau pun akan terlupakan. Jalan gadis itu masih panjang dan cerah. Tak sepertimu yang sudah digariskan untuk selalu dekat dengan kematian.” Pandora tersenyum getir, sebelum berbalik meninggalkan Christian yang masih membeku di dekat jendela.
Banyak negara telah Christian datangi. Bertemu dan mengenal seorang Blaire Shuterland, memang tak pernah ada di dalam rencananya. Namun, ternyata kini takdir berkata lain. Haruskah dia terikat pada kota Edinburgh?