Edinburgh

Edinburgh
Grey Eyes



Blaire segera mengusap air mata yang terus menetes, terlebih ketika tiba-tiba Ainsley menghambur dan memeluk pahanya dengan erat. "Ibu." Manja suara anak itu memanggil Blaire dengan gaya bicaranya yang masih agak cadel. Sementara si pemilik suara yang tadi menyebut nama Blaire, mulai bergerak maju beberapa langkah. Jaraknya dengan ibu dan anak itu pun menjadi cukup dekat.


"Ayo pergi," ajak Blaire. Pada akhirnya, dia dapat mengeluarkan suara meskipun pelan. Sekuat tenaga, gadis itu menggerakkan kaki dan mulai mundur sedikit demi sedikit.


"Aku suka di sini, Bu," tolak Ainsley ketika Blaire hendak membawanya keluar dari dalam toko.


"Tidak, Nak. Kita harus ke kedai," sahut Blaire dengan suara bergetar. Dia mendekap putranya yang tadi mendongak dan seakan memohon agar tetap diizinkan untuk tinggal di sana.


"Ibu ke kedai, dan aku akan di sini dengan paman berambut gelap itu." Telunjuk mungil Ainsley mengarah kepada pria yang berdiri tak jauh dari mereka, dengan tatapan tajam dan tak sehangat milik Aaron. Namun, itu adalah sepasang mata yang teramat Blaire rindukan selama ini. Mata abu-abu milik seorang Christian.


"Apa kabar, Blaire?" sapa pria yang selama ini menghilang bak ditelan bumi. Kini, tiba-tiba dia muncul begitu saja bagaikan sebuah ledakan bom tak tertuduga.


"K-ka-kau ...." Blaire tergagap. Dia tak tahu harus berkata apa. Tak pernah disangka bahwa dirinya akan kembali melihat sosok tampan penuh misteri tersebut, setelah sekian tahun berlalu.


Musim demi musim. Penantian dan harapan dari seorang Blaire akhirnya terjawab. Christian memang kembali. Pria itu saat ini tengah berdiri di hadapannya. Dia memandang dan juga masih terlihat sangat tampan, penuh pesona serta kharisma.


"Blaire." Suara berat nan dalam itu kembali menyebut nama gadis cantik berambut pirang tadi yang masih terlihat sangat terkejut.


"Ayo, Ainsley." Dengan segera, Blaire meraih pergelangan tangan putranya. Dia lalu menuntun anak itu untuk segera keluar dari dalam toko. Langkah Blaire begitu terburu-buru. Dia tak peduli meskipun Ainsley terus melihat ke belakang, pada sosok yang masih berdiri mematung sambill menatap ke arah mereka berdua.


"Bu, aku ingin di sana," tunjuk Ainsley setengah merengek kepada Blaire, saat gadis itu terus menuntunnya masuk ke dalam kedai.


"Tidak boleh! Kau tidak mengenal orang itu, Ainsley," tolak Blaire dengan tegas, membuat bocah lima tahun tadi tampak merengut.


"Paman tadi sangat baik," bantah Ainsley tetap bersikeras.


"Kukatakan tidak boleh!" tegas Blaire lagi. Dia lalu mendudukkan putra semata wayangnya di atas kursi lengkap dengan meja kecil. Blaire juga meletakkan beberapa mainan kesukaan Ainsley, di antaranya adalah clay berwarna-warni.


"Lebih baik duduk dan bermainlah di sini. Berada dekat dengan ibumu akan jauh lebih aman dari pada harus bersama seseorang yang ...." Blaire tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena sosok yang tengah dia bicarakan muncul di dalam kedai.


Christian berjalan mendekat, lalu berdiri di depan meja pemesanan. Dia menatap Blaire dengan sorot aneh, kemudian beralih kepada Ainsley. Anak itu tengah asyik bersama mainanya.


"Apa kau sudah buka?" tanya Christian datar.


Ya, pria tadi merupakan kebalikan dari Aaron yang hangat dan begitu ramah. Namun, ternyata sikap datar dan dingin pria dengan rambut gelap dan mata abu-abu itulah, yang justru telah membuat seorang Blaire Shuterland begitu terbuai dengan jantung berdebar kencang.


"Sudah," jawab Blaire pelan, dengan hanya sedikit saja gerakan pada bibirnya.


"Plakat di depan masih bertuliskan 'close'. Kupikir kau memang belum buka," ujar Christian lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari seorang Blaire.


"Ya. Like usual. Kau masih ingat?" Nada bicara Christian semakin pelan dan bahkan terdengar setengah berbisik.


"Aku ingat semuanya, Christian," jawab Blaire berusaha untuk terlihat tegar dan kuat. Gadis itu kemudian berlalu ke dalam dapur kedai. Beberapa saat lamanya dia berada di sana untuk menyiapkan kopi pesanan dari Christian.


Namun, tiba-tiba air mata itu kembali terjatuh, ketika sosok cantik Pandora muncul dalam ingatan.


Dengan segera, Blaire menepisnya. Dia tak ingin lagi terlarut dalam bayang-bayang masa lalu, yang telah dirinya coba tinggalkan jauh. Saat ini, Blaire hanya akan terus fokus pada perkembangan putra semata wayangnya, Ainsley.


Beberapa saat kemudian, Blaire keluar dari dapur dengan membawa kopi dalam wadah plastik khusus berlabel kedainya. Dia kembali terkejut, karena lagi-lagi Ainsley tak ada di mana, dirinya mendudukkan anak kecil itu. Namun, seketika tatapan Blaire terpaku pada salah satu meja tempat duduk pengunjung. Di sana, dia melihat Ainsley tengah fokus dan begitu serius memperhatikan Christian yang tengah membuatkan dia sesuatu dari mainan clay tadi.


Blaire terpaku. Itu merupakan sebuah pemandangan yang teramat indah. Ingin rasanya dia mengatakan yang sesungguhnya. Namun, hati kecil gadis cantik yang terlihat semakin dewasa tersebut, menolak dan melarang agar dia tak melakukan hal itu.


"Kopimu, Chris," ucap Blaire.


Christian tak menyahut atau sekadar menoleh. Pria itu begitu fokus pada apa yang tengah dia kerjakan. Beberapa saat kemudian, benda yang dibuatnya pun selesai. Christian meletakkannya di atas meja. Sedangkan Ainsley bersorak karena merasa gembira. Christian telah membuatkan anak itu seekor dinosaurus dari clay.


Setelah membuatkan Ainsley sesuatu, Christian pun segera berdiri. Dia lalu melangkah ke dekat meja di mana Blaire berada. Sambil menyodorkan sejumlah uang pas, pria tampan yang hingga kini masih menyimpan banyak misteri itu meraih kopi yang dia pesan. "Putramu sangat tampan, Blaire," ucapnya. Dia memandang gadis cantik yang juga tengah melakukan hal sama terhadap dirinya.


"Terima kasih," balas Blaire dengan sejuta gejolak yang begitu kuat dalam dada, terus menghentak dan memaksa agar dirinya mengatakan lebih dari itu. Namun, satu sisi hati melarang keras. Biarlah Christian hidup dengan dengan segala misteri yang dia sembunyikan. Blaire tak harus memikirkannya.


Blaire hanya terpaku menatap langkah gagah ayah dari anak semata wayangnya, yang kini telah melewati pintu kedai. Sebelum benar-benar keluar, pria itu sempat membalikkan plakat pada tulisan 'open'. Namun, Christian tak menoleh lagi. Dia terus berjalan menuju toko yang selama ini tertutup rapat.


Hari itu Blaire lalui dengan perasaan tak karuan. Hingga sore menjelang, tibalah dirinya untuk menutup kedai. Sementara Viktorija mengabarkan bahwa dia sudah kembali. Akan tetapi, janda cantik tersebut mengeluh sakit kepala, sehingga dia langsung ke rumah untuk beristirahat.


"Apa kita akan pulang sekarang, Bu?" tanya Ainsley ketika Blaire tengah sibuk mengunci pintu kedai.


"Iya, Sayang. Jangan ke mana-mana," pesan Blaire cukup tegas. Anak itu pun menurut. Dia hanya berdiri sambil memegangi mainan clay berbentuk dinosaurus yang tadi Christian buatkan untuknya.


Tepat di saat Blaire selesai mengunci pintu kedai dan akan melangkah pulang, sebuah mobil sedan hitam berhenti di dekat trotoar. Seraut wajah tampan dengan mata biru yang tampak bercahaya, muncul dari dalamnya. Aaron tersenyum lembut sambil melangkah ke arah ibu dan anak tadi. "Apa kalian akan pulang sekarang?" tanyanya.


"Ya, Aaron," sahut Blaire.


"Ayo," ajak pria tadi. Dia segera menggendong Ainsley, kemudian mendudukkan anak itu di jok belakang. Tak lupa, Aaron juga memasangkan sabuk pengaman untuknya. Setelah siap, dia menyentuh pucuk kepala Ainsley dan mengacak-acak rambutnya dengan gemas. Aaron lalu mengecup kening putra semata wayang Blaire tersebut.


Puas dengan bocah lima tahun tadi, Aaron ssgera menutup pintu rapat-rapat. Dia lalu beralih kepada Blaire. Pria tampan berambut pirang itu segera membukakan pintu samping untuk si gadis, sembari melayangkan tatapan yang disertai senyuman penuh cinta Isyarat matanya mengatakan agar Blaire segera masuk ke dalam mobil.


"Terima kasih," balas gadis itu. Dia pun masuk dan duduk. Tak berselang lama, mobil sedan tadi melaju dengan anggun diiringi tatapan dingin seorang Christian.