
Melihat keberadaan Christian di sana, Blaire segera terdiam. Dia menoleh sejenak kepada pria itu, kemudian segera berlalu ke arah meja pemesanan. Sementara Christian pun tak banyak bicara. Dia melanjutkan langkah menuju pintu keluar. Dari sana dirinya mendengar percakapan Blaire dengan Viktorija yang bertanya tentang alasan putrinya merasa kesal. Gadis itu menjawab bahwa lagi-lagi Ainsley buang air besar di celana, karena keasyikan bermain.
Christian tersenyum samar mendengar hal itu. Dia terus melangkah hingga keluar dari kedai, dan kembali ke dalam toko untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
Hari itu tak ada yang berbeda, selain kedatangan Aaron. Seperti yang telah pria tampan tersebut katakan sebelumnya, bahwa dia akan pulang jauh lebih awal dari biasa. Viktorija pun menunggu hingga pelanggan terakhir selesai, barulah menutup kedai.
"Memangnya kau akan mengajak kami ke mana, Aaron?" tanya Viktorija dengan wajah yang berkali-kali lipat lebih ramah dan berseri, dibandingkan dengan sikap yang tadi dia tunjukkan terhadap Christian.
"Seperti yang Anda tahu, Nyonya Shuterland. Kurang dari tiga hari lagi adikku akan menikah. Jadi, aku ingin membelikan beberapa gaun pesta untuk Anda dan juga Blaire. Serta tentunya jagoan kecil ini." Dengan gemas, Aaron mengangkat tubuh mungil Ainsley, kemudian menggendongnya. Anak itu pun tertawa riang, saat Aaron mengajak dia bercanda.
"Astaga, kau tidak perlu melakukan hal itu," tolak Viktorija dengan halus.
"Sayangnya hari ini aku sedang tidak menerima penolakan, Nyonya," sahut Aaron seraya tertawa renyah.
“Ah baiklah. Mungkin aku bisa menitipkan Ainsley padamu, sementara aku dan Blaire akan membereskan kedai lebih dulu,” pinta Viktorija.
“Tentu saja, Nyonya Sutherland,” sahut Aaron. Wajah pria itu selalu saja sumringah tiap kali melakukan segala sesuatu yang berhubungan Ainsley. Selain Blaire, bocah kecil tampan itu juga telah berhasil merebut hatinya. Dia akan selalu teringat pada kejadian saat harus mendampingi Blaire melahirkan bayi mungil, yang kini telah tumbuh menjadi bocah lima tahun aktif dan juga cerdas.
“Ayo, ikut denganku, Jagoan. Aku akan mengajakmu ke rumah granny Anette. Sepertinya beliau tadi tengah memanggang kue." Perhatian Aaron beralih pada Ainsley dalam gendongan, yang tengah asyik memperhatikan clay dinosaurus tanpa ekor buatan Christian.
“Baiklah, Paman,” sahut Ainsley dengan tak acuh. Tampaknya dia terlalu asyik dengan mainannya. Sikapnya membuat Aaron begitu gemas, sehingga dia mencium pipi tembem bocah itu berkali-kali sembari berjalan keluar kedai. Kebetulan Aaron memarkir mobilnya tepat di depan toko barang antik yang kini telah buka. Bukan hanya plakat yang bertuliskan ‘open’, bahkan sang pemiliknya itu tengah sibuk mengelap kaca depan.
“Paman,” sapa Ainsley yang baru saja diturunkan dari gendongan, sedangkan Aaron sibuk mencari remote yang biasa digunakan untuk membuka kunci mobilnya. Saat itu, baik Aaron maupun Christian sama-sama menoleh pada bocah tampan tadi.
“Ada apa, Mate?” tanya Aaron. Namun, Ainsley tak menghiraukannya. Dia malah berjalan mendekat ke arah pria yang memiliki warna mata sama dengan dirinya.
“Paman, tolong pasangkan ekor dinosaurusnya. Dari kemarin aku tidak berhasil memasangnya,” pinta Ainsley dengan gaya bicara yang masih agak cadel.
“Oh, itu mudah sekali,” sahut Christian yang segera menurunkan tubuh di hadapan Ainsley. Dengan cekatan dia memasang ulang mainan clay tersebut sehingga membentuk dinosaurus baru.
Aaron sempat tertegun untuk sesaat sebelum menghampiri Ainsley dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. “Ayo, Mate. Granny Anette sudah menunggu,” ajak pria itu.
“Baiklah,” sahut Ainsley menoleh kepada kekasih sang ibu, lalu kembali memandang Christian. “Sampai jumpa lagi, Paman! Terima kasih!” serunya sambil melambaikan tangan.
“Sampai jumpa,” balas Christian seraya bangkit. Dia membalas lambaian tangan Ainsley. Begitu pula dengan Aaron yang mengangguk sopan. “Putramu sungguh tampan,” ucap Christian. Tak biasanya pria rupawan bermata abu-abu itu berbasa-basi. Hal tersebut dia lakukan ketika Aaron sudah hendak duduk di belakang kemudi.
“Oh, dia bukan putraku. Mungkin jika ibunya bersedia menerima lamaranku, barulah aku bisa menjadi ayah yang sebenarnya bagi Ainsley,” jawab Aaron sembari tergelak dengan wajah yang terlihat ceria.
Akan tetapi, tidak demikian dengan Christian. Pria itu seketika membeku. Sorot matanya tetap mengarah pada Aaron yang telah berada di dalam mobil. Tatapannya bahkan terus mengikuti kendaraan itu hingga tak terlihat lagi.
Tanpa berpikir panjang, Christian setengah berlari ke arah Blaire dan membantunya menarik rolling door. Tak sulit bagi pria itu untuk menggapai tepian pintu berputar yang terbuat dari baja ringan tersebut, karena postur tubuhnya yang tegap dan jangkung.
Posisi Christian yang berada tepat di sisi Blaire, tiba-tiba membuat jantung gadis itu seakan berhenti berdetak. Bagi gadis cantik berambut pirang tersebut, waktu seolah berhenti berputar.
Lain halnya dengan Viktorija yang sampai-sampai hampir menjatuhkan ponselnya. “Blaire! Cepatlah! Kekasihmu sudah menunggu!” seru wanita yang masih terlihat sangat cantik di usia yang tak lagi muda tersebut. Dengan sengaja Viktorija memberi penekanan pada kata ‘kekasih’.
Akan tetapi, Blaire tak segera menanggapi. Sepasang mata hijaunya masih terikat pada sosok yang senantiasa dia tunggu selama bertahun-tahun.
“Blaire!” Viktorija sampai harus berseru sebanyak dua kali, saat memanggil nama putrinya.
“Permisi,” ucap Blaire pelan sambil berjalan melewati Christian begitu saja. Namun, seketika gerak kaki Blaire terhenti, ketika Christian memegang lengannya secara tiba-tiba. Dada gadis itu berdebar semakin kencang. Dia memberanikan diri untuk menoleh dan memandang penuh tanda tanya pada pria tampan yang telah mencampakkan dirinya selama bertahun-tahun.
“Jangan ganggu putriku lagi, Tuan Alvarez. Sudah cukup kau membuatnya sengsara selama beberapa tahun terakhir. Lebih baik kau menganggap tak pernah mengenal kami sebelumnya,” tegur Viktorija sebelum Blaire sempat membuka mulut.
“Bisakah aku bicara berdua saja dengan putri Anda, Nyonya? Sebentar saja,” pinta Christian. Suaranya yang terdengar penuh harap, tak sesuai dengan raut wajah yang terlihat datar dan dingin.
“Tidak ada yang perlu dibicarakan!” Lagi-lagi, Viktorija yang menjawab. Dia menarik pergelangan tangan Blaire dan setengah memaksanya agar berjalan menjauh dari Christian.
Blaire sendiri lebih memilih untuk menuruti sang ibu. Dia berbalik meninggalkan Christian dan tak menoleh lagi. Sepanjang perjalanan pulang, ibu dan anak itu larut dalam keheningan. Tak ada satu pun dari mereka yang berniat untuk mengawali perbincangan.
“Kuingatkan agar kau sebaiknya menghindari Christian setiap kali bertemu dengannya, Blaire,” ujar Viktorija. “Jangan sekalipun mendekati pria itu. Jangan beri dia celah untuk masuk ke dalam hidupmu lagi, apalagi mendekat pada Ainsley,” ujarnya setelah beberapa saat berlalu.
Blaire hanya bisa menarik napas panjang. Apalagi kata ‘jangan’ sudah dua kali dilontarkan oleh Viktorija, yang berarti bahwa gadis itu tak boleh membantah. Dua wanita berbeda generasi tersebut kembali terdiam sampai tiba di depan rumah keluarga Walsh.
Dari halaman depan, terdengar jelas suara gelak tawa Ainsley yang tengah bercanda dengan Anette dan Aaron. “Kau dengar itu, Blaire? Ainsley terdengar begitu gembira. Dia sudah mendapatkan lingkungan yang nyaman. Aaron adalah pria yang tepat untuk cucuku dan juga untuk dirimu. Tak perlu lagi memikirkan pria lain yang jelas-jelas hanya bisa menorehkan luka di hatimu,” saran Viktorija dengan cukup tegas.
Sementara Blaire masih tak banyak bicara. Terlebih karena mereka kini sudah berada tepat di depan rumah Aaron.
“Kuharap kau bisa belajar dari pengalaman masa lalu. Ingatlah bahwa cinta yang terasa manis dan indah tak selamanya akan berakhir bahagia,” pungkas Viktorija, bersamaan dengan pintu yang terbuka.
Aaron muncul dari baliknya dengan senyum yang tak juga sirna. Paras tampan pria itu begitu memesona, dalam balutan sikap ramah yang terlihat tulus. "Silakan masuk."
Viktorija tersenyum seraya mengangguk pelan. Sementara Blaire masih mematung.
"Kau tak apa-apa?" tanya Aaron khawatir.