
Hampir dua jam lamanya, Blaire dan Adam berada di dalam rumah dua lantai tadi. Samar dari bayangan yang muncul di jendela bangunan tersebut, tampak beberapa orang di sana. Mereka semua terlihat begitu bahagia dan bersuka-cita dalam tawa riang, bahkan ada juga yang terlihat sedang menari.
Lain halnya dengan Blaire. Gadis itu hanya duduk sambil menopang dagu, memperhatikan semua yang ada di sana satu per satu. Bagaimana tidak, gadis cantik tersebut tak bisa menikmati pesta dengan sepenuhnya. Dia tak mengenal siapa pun selain Adam dan juga Mark si tuan rumah, yang merupakan teman kuliahnya dulu.
"Kenapa kau diam saja, Blaire?" tanya Adam heran. Dia menyodorkan segelas minuman kepada gadis itu.
Sementara Blaire sendiri hanya tersenyum simpul saat menanggapinya. Dia tidak menjawab dengan kata-kata, terlebih karena saat itu ponsel yang berada dalam saku mantel terasa bergetar. "Sebentar. Aku harus menjawab panggilan telepon dulu." Si pemilik rambut pirang itu beranjak dari duduknya, kemudian berpindah ke tempat yang jauh lebih sepi. Dia tak ingin jika Viktorija sampai mengetahui bahwa dirinya sedang tidak di rumah pada jam seperti itu.
"Hello," sapa Blaire.
"Hai, Blaire. Apa kau sudah berada di rumah?" Terdengar suara sang ibu dari seberang sana. Viktorija memang seorang ibu yang sangat perhatian, mengingat Blaire merupakan putri semata wayangnya.
"Ya, bu. Aku ... aku sedang membaca di kamar," jawab Blaire berbohong. Gadis itu kemudian menggaruk kening. "Ibu di mana?" tanyanya dengan sepasang bola mata yang bergerak dengan tak beraturan. Blaire merasa bahwa dia sudah memberikan jawaban yang sangat bodoh. Dia tak tahu di mana posisi sang ibu, yang bisa saja sudah berada di rumah. Blaire pun menjadi gelisah.
"Aku masih di Glasgow, sayang. Sepertinya aku tidak bisa pulang malam ini, karena kebetulan tadi bertemu dengan salah seorang rekan kerjaku dulu. Ada pembahasan penting dan sangat panjang yang harus kami bicarakan. Aku akan pulang terlalu larut jika sampai memaksakan untuk kembali," tutur Viktorija menjelaskan.
Blaire tersenyum mendengar penuturan sang ibu. Setidaknya itu akan menjadi jauh lebih baik. Dia tak harus pulang ke rumah dengan terburu-buru, meskipun dirinya tidak terlalu menikmati pesta tadi. "Oh baiklah. Tak masalah. Aku akan mengunci pintu serta jendela dengan rapat," sahut gadis itu. "Bersenang-senanglah, bu," celetuknya yang terdengar mengandung makna lain di telinga Viktorija.
"Apa maksudmu, Blaire?" tanya janda satu anak itu.
"Um ... maksudku ... ibu tidak perlu khawatir. Silakan lanjutkan perbincangan panjang ibu dengan sahabat lama itu dan ...."
"Dia seorang wanita," potong Viktorija yang telah dapat menangkap maksud dari ucapan putrinya.
Sementara Blaire hanya tertawa geli. Dia tahu jika sang ibu selalu menjaga kesetiaan terhadap mendiang ayahnya, Albert Shuterland yang telah lama tiada. Sebuah contoh yang menyentuh hati gadis berambut pirang tersebut, bahwa menjaga kesetiaan terhadap orang yang dicintai bukanlah sebuah hukuman apalagi penyiksaan yang menyakitkan. Viktorija telah membuktikan bahwa dia masih menikmati hidup hanya berdua saja.
"Baiklah. Aku menyayangimu, bu," tutup Blaire dengan seutas senyuman di sudut bibirnya.
"Aku juga menyayangimu, Blaire. Aku akan pulang besok pagi. Kuharap kau tidak bangun kesiangan," balas Viktorija dengan diakhiri sebuah pesan tersirat. Dia sangat mengetahui bahwa Blaire merupakan tipe orang yang tidak suka bangun pagi, jika bukan karena terpaksa dan tentu saja harus dipaksa. Perbincangan itu pun berakhir. Blaire terdiam sejenak di dalam dapur itu. Dia tak juga menyadari bahwa di luar sana ada seseorang yang sedari tadi terus memperhatikannya.
Terdengar helaan napas berat seorang pria yang sejak tadi berdiri di bawah pohon. Dia begitu asyik mengawasi keadaan rumah, dan juga sosok semampai yang terlihat tak begitu jelas dari kaca jendela. Namun, pria itu dapat meyakinkan dirinya bahwa gadis yang sedang berdiri di sana, dan kini telah kembali ke ruangan sebelumnya adalah Blaire.
Sekali lagi, terdengar kembali dirinya mengempaskan napas di antara kepulan asap tipis yang keluar dari dalam mulut. Selama berada di sana, entah berapa batang rokok yang sudah dia habiskan. Namun, sepertinya itu akan menjadi rokok terakhir, setelah dia melihat Blaire dan Adam keluar dari dalam rumah.
Pria itu kemudian menjatuhkan sisa rokok yang tinggal sedikit. Dia lalu mematikannya dengan menggunakan kaki, hingga benda yang masih mengepulkan asap tadi benar-benar padam. Pria itu terus mengawasi Blaire yang tengah berpamitan kepada Mark dari jarak tidak terlalu jauh. Akan tetapi, tak seorang pun dari mereka yang baru keluar dari rumah tersebut, dapat menyadari keberadaannya yang tersamarkan oleh pepohonan.
Entah mengapa, si pria harus membuang waktu untuk mengikuti dan mengawasi Blaire di sana. Namun, tak sedikit pun gerak-gerik dari gadis cantik bertubuh semampai tersebut luput dari pengamatannya. "Blaire Shuterland." Terdengar suara berat pria dengan jaket hitam itu menyebutkan nama si gadis dengan dalam. Dia lalu bergerak ketika melihat Blaire dan Adam mulai meninggalkan rumah yang menjadi tempat berlangsungnya pesta kecil-kecilan tadi.
"Ya, kebanyakan dari mereka merupakan teman-teman Mark. Aku juga hanya mengenal sebagian. Namun, itu bukan pesta yang terlalu buruk, kan?" Adam melirik Blaire yang selalu terlihat cantik dan sangat memesona di matanya.
"Ya, lumayan. Aku suka makanannya," sahut Blaire seraya tergelak dan segera disambut hal yang sama oleh Adam. "Bagaimana Mark bisa mengadakan pesta di sana? Setahuku kedua orang tuanya tidak menyukai acara-acara seperti itu," pikir Blaire.
"Memang. Akan tetapi, kedua orang tua Mark sedang pergi ke St. Andrews untuk satu minggu lamanya. Lihat saja, apakah sahabat kita itu akan mengadakan pesta dalam waktu tersebut selama berturut-turut," terang Adam kembali tertawa meskipun terdengar pelan, berhubung mereka telah tiba di kawasan perumahan tempat tinggal Blaire.
"Ya, dan kita tak tahu apa yang akan terjadi andai kedua orang tuanya pulang dengan mendadak," sahut Blaire tak acuh. Dia menoleh sejenak pada bangunan yang berada di sebelah kanan, yaitu rumah milik Christian. Entah apa yang tengah pria misterius itu lakukan saat ini.
Blaire menggeleng pelan, saat menyadari bahwa dia mulai memikirkan pria dengan tatapan tajam tersebut. Namun, tak berselang lama terdengar suara seorang pria yang memanggil namanya. Langkah kaki Blaire dan Adam pun seketika terhenti. Mereka berdua serentak menoleh.
Beberapa langkah di belakang keduanya, telah berdiri seorang pria yang sedang berjalan mendekat. Pria dengan jaket berwarna hitam yang membalut tubuh tegap itu, tampak menyeringai dalam sorotan lampu jalan berwarna kuning.
"Kenneth?" Blaire menyebutkan nama pria yang kini telah berdiri di hadapannya dan Adam.
"Apa kabar, Cantik?" balas pria bernama Kenneth tadi. Dia lalu mengalihkan pandangannya kepada Adam, kemudian tersenyum sinis. "Jadi, pria seperti ini yang membuatmu tak bersedia untuk kembali padaku?" cibirnya.
"Kita tahu bukan itu alasannya," sanggah Blaire dengan segera. "Pergilah. Jangan membuat keributan di sini!" usir gadis itu dengan tegas, meskipun suaranya cukup pelan. Kawasan tempat tinggal Blaire, merupakan tempat yang hening dan penuh ketenangan. Sebagian dari penghuninya rata-rata telah berusia lanjut atau pasangan-pasangan yang tak lagi memiiki anak kecil.
"Kenapa aku harus pergi? Aku sengaja ingin menemuimu," tolak Kenneth, yang merupakan mantan kekasih Blaire sekitar setengah tahun yang lalu.
"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan!" Blaire pun menolak tegas keinginan pria yang berusia beberapa tahun di atasnya tersebut.
"Kau boleh menolak, tapi aku akan tetap memaksa," ujar Kenneth dengan seringainya. Dari sikap yang ditunjukkan oleh pria itu, Blaire dapat memperkirakan bahwa dia sedang dalam pengaruh minuman.
"Inilah yang tidak kusukai darimu. Karena itu, jangan berharap jika aku akan bersedia untuk kembali menjalin hubungan dengan ...."
"Kau tidak ingin menjadi milikku lagi, maka kupastikan tak ada pria manapun yang akan memilikimu," ucap Kenneth dengan nada bicara yang terdengar aneh. Dia lalu merogoh ke dalam jaket yang dikenakannya. Kenneth tampak mengeluarkan sesuatu dari sana.
Adalah sebuah belati dengan ujung runcing dan bergerigi yang tampak mengkilap terkena lampu sorot jalan. Kenneth kembali menyeringai sambil mengacungkan benda tadi ke hadapan Adam. Sikapnya yang dirasa sebagai sebuah intimidasi, membuat pemuda berambut pirang itu harus mundur beberapa langkah sambil memegangi pergelangan tangan Blaire.
"Blaire, masuklah," bisiknya khawatir.
"Kenneth, jangan gila!" sergah Blaire. Dia tahu bahwa mantan kekasihnya itu tak segan untuk berbuat nekat, saat mengarahkan belati tadi kepada Adam.