
Hari masih terlalu pagi, ketika Blaire membuka matanya. Gadis itu melihat jam digital yang berada di atas laci sebelah tempat tidur. Waktu sudah menunjukkan pukul lima. Namun, matahari sudah terbit. Blaire pun tersenyum, meski tubuhnya masih terasa lelah. Malas rasanya untuk bangkit dari pembaringan, andai dia tak ingat bahwa Ainsley bisa saja terbangun sewaktu-waktu, kemudian mencari dirinya. Mau tak mau, Blaire harus memaksakan diri untuk bangun.
Akan tetapi, baru saja gadis itu hendak menyibakkan selimut, tangan Christian lebih dulu mencegahnya. “Kau mau ke mana?” Suara parau pria asal Meksiko tersebut begitu seksi di telinga Blaire. Menggoda gadis cantik itu untuk kembali berbaring dan merasakan hangat dekapan lengan kokoh si pemilik kulit eksotis sang pujaan hati.
“Aku harus pulang, Chris. Sebentar lagi Ainsley akan bangun dan mencariku ke mana-mana,” ucap Blaire seraya memandang wajah Christian, yang masih terlihat sangat memesona meskipun dengan rambut yang sedikit acak-acakan.
“Biakan saja. Nyonya Shuterland tahu harus mengantarkan anak itu ke mana,” sahut Christian enteng sambil terus memejamkan mata. Namun, meski begitu dekapannya masih terasa begitu kuat, sehingga Blaire tak bisa bergerak ke manapun.
Blaire kembali tersenyum. Rasanya seperti mimpi, ketika dia bisa menghabiskan malam bersama Christian. Kali ini benar-benar mereka habiskan berdua. Bercinta hingga beberapa kali, sampai tubuhnya terasa seperti tak memiliki tulang. Blaire begitu lelah. Tentu saja, ini adalah pertama kali baginya setelah sekian lama tak melakoni aktivitas panas seperti semalam.
Dengan tatapan penuh cinta, Blaire memandang lekat paras tampan Christian. Pria asal Meksiko tersebut begitu menarik perhatiannya. Membuat dia tak mampu berpaling kepada siapa pun, meski telah terhalang waktu sekian lama. Blaire bahkan hampir dipersunting pria lain, andai Christian tak kembali muncul dan menggoyahkan keyakinan dalam hati gadis itu.
“Kau sangat tampan, Chris,” sanjung Blaire dengan setengah berbisik. “Kau memiliki bulu mata yang indah. Sama seperti Ainsley,” ucap gadis itu lagi sambil memainkan jemari lentiknya pada permukaan dagu Christian yang dihiasi janggut tipis.
“Apa kau sedang merayuku, Nona Shuterland?” Christian yang sedari tadi terpejam, tampak membuka mata.
“Apa kau tidak suka jika ada seorang wanita merayumu?” Blaire mulai menggoda pria itu dengan cara menyentuh dada, kemudian menjalarkan ujung jemarinya pada perut.
“Kau ingin mengulang apa yang kita lakukan semalam? Apa itu masih kurang untukmu?” bisik Christian mengeratkan dekapannya. Dia lalu mengecup kening Blaire. Helaan napas berat pria tampan itu terdengar begitu jelas di telinga Blaire, membuat gadis cantik berambut pirang tersebut merasa tergoda.
Blaire pun menyentuh paras tampan pria yang akan segera menjadi suaminya. Tak berselang lama, dia segera naik dan duduk di atas tubuh Christian yang masih tertutupi selimut, sehingga mereka pun kembali bersentuhan secara langsung. Rasanya begitu hangat.
Apa yang Blaire lakukan, telah berhasil mengusik sesuatu dalam diri Christian. Pria tampan bermata abu-abu itu pun mengembuskan napas dalam-dalam, sambil mere•mas lembut pinggul Blaire. Di bawah selimut berwarna putih tadi, mereka kembali mengulang percintaan panas sisa semalam, yang entah untuk keberapa kalinya.
Selang beberapa saat, terdengar suara ketukan di pintu depan. Christian yang masih malas-malasan di tempat tidur, segera menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Dengan cepat dia menyambar celana panjang yang tergeletak begitu saja di lantai, kemudian bergegas menuju pintu saat dirinya mendengar suara Ainsley di luar sana.
“Selamat pagi, Nyonya Shuterland,” sapa Christian dengan wajah berseri. Dia tak merasa risi, meskipun saat itu dirinya dalam keadaan bertelanjang dada di hadapan Viktorija. “Selamat pagi, Son.” Christian lalu menurunkan tubuh di hadapan Ainsley yang masih mengenakan piyama, sambil memegangi mainan kesayangan pemberian Aaron.
“Selamat pagi, Chris. Maaf mengganggumu pada jam seperti ini, tapi Ainsley terbangun dan mencari Blaire. Apa dia ….”
“Apa kau menculik ibuku, Ayah?” celoteh Ainsley yang menyela ucapan sang nenek.
“Aku tidak menculik ibumu, Nak. Aku hanya meminjamnya sebentar selagi kau tertidur,” sahut Christian tanpa rasa bersalah sama sekali. Pria itu justru menyunggingkan senyum lebar sambil merengkuh tubuh mungil Ainsley.
“Masuklah, Nyonya.” Perhatian Christian kini berpindah pada calon mertuanya.
Namun, Viktorija segera menggeleng.
“Aku harus menyiapkan segala hal sebelum berangkat ke kedai,” tolak wanita paruh baya itu dengan halus. “Kutitipkan Ainsley pada kalian,” imbuhnya sebelum berlalu dari kediaman Aaron yang kini telah menjadi milik Christian.
“Sampai jumpa di toko, Nyonya,” ucap Christian sebelum menutup pintu depan. Dia kembali beralih pada Ainsley yang masih tampak mengantuk. “Kenapa kau sudah bangun sepagi ini, Ains?” tanyanya lembut seraya mengulum senyum.
“Aku tidak bisa tidur jika tidak ada ibu di dekatku,” jawab Ainsley lirih.
Mata bulat nan menggemaskan milik Ainsley langsung terbelalak sempurna setelah mendengar ucapan sang ayah. “Apakah itu artinya, Ayah? Apa aku akan memiliki adik bayi? Adik bayi yang lucu?” tanyanya antusias sambil menggerak-gerakkan tubuh mungilnya dengan lucu
“Mungkin saja, Ains. Setelah ini, kau dan ibumu akan tinggal bersamaku di rumah ini,” sahut Christian seraya menaiki anak tangga menuju kamarnya. Dia membuka pintu ruangan itu, bertepatan dengan Blaire yang telah selesai merapikan diri.
“Selamat pagi, Sayang,” sapa Blaire. Dia segera merentangkan tangan dan merengkuh tubuh mungil Ainsley. Gadis cantik itu memeluk dan mencium pipi putranya yang telah bergelayut nyaman dalam gendongan.
“Bu, ayah mengatakan bahwa sebentar lagi aku akan memiliki adik kecil yang lucu. Benarkah itu?” tanya Ainsley polos beberapa saat kemudian.
“Astaga.” Sepasang mata hijau milik Blaire langsung melotot, saat memandang ke arah Christian dengan sorot keberatan.
“Ainsley harus tahu bahwa sebentar lagi kita akan segera menikah dan memulai hidup baru bersama-sama. Kau, aku, dan anak kita, Blaire,” tutur Christian lembut. Seperti biasa, tatap mata penuh cinta dia layangkan pada ibu dari putranya tersebut.
“Apakah ibu akan memakai gaun putih seperti yang dipakai waktu bersama paman Aaron?” celetuk Ainsley yang membuat senyuman Blaire seketika memudar. Dia kembali teringat pada Aaron. Sejak pria tampan berambut pirang itu meninggalkan Edinburgh dan pindah rumah ke Glasgow, tak sekalipun Aaron menghubungi Blaire maupun Ainsley. Rasa kehilangan kembali menyeruak. Membuat kepedihan yang sempat sembuh ketika Christian membasuhnya dengan cinta dan sentuhan, kembali muncul dalam hati ibu satu anak tersebut.
“Apa menurutmu rencana pernikahan kita ini tidak terlalu cepat, Chris? Belum genap seminggu Aaron ….”
“Apa kau mulai merindukannya, Blaire?” tanya Christian yang memotong kalimat Blaire begitu saja. “Apa kau akan menunda untuk menerima lamaranku?” Tampak jelas ekspresi kecewa pada wajah rupawan pria asli Meksiko itu.
“Tentu saja tidak. Akan tetapi, sepertinya baru kemarin aku ... entahlah apakah ini adil atau tidak untuk Aaron,” jawab Blaire dengan raut agak masam.
“Kau masih saja memikirkan dia yang telah menyakitimu dengan begitu dalam, Blaire. Ada apa denganmu?” Christian berdecak pelan, lalu duduk dengan posisi membungkuk di tepian ranjang. Sesekali dia mengacak-acak rambut gelapnya. “Padahal tadi malam sampai pagi ini kita ….” Pria itu segera menghentikan kata-katanya. Dia lupa bahwa Ainsley ada di antara mereka berdua. “Aku yakin jika saat ini Aaron juga tengah menyiapkan pesta pernikahan bersama kekasihnya,” ucap Christian lagi seraya tertawa getir, kemudian menggeleng pelan.
“Oh, Chris ….” Dengan segera, Blaire mendudukkan putranya di atas ranjang yang masih berantakan. Setelah itu, dia memeluk calon suaminya erat-erat. “Maafkan aku. Aku hanya merasa bingung, Chris. Beberapa hari yang lalu, perasaanku terhempaskan dengan begitu dalam di saat diriku sudah mengenakan gaun pengantin. Rasanya teramat menyakitkan. Lalu, kini tiba-tiba saja aku sudah dilamar olehmu. Sebentar lagi, aku akan kembali mengenakan gaun pengantin. Aku hanya takut ….”
“Apa yang kau takutkan, Blaire?” tanya Christian. Suara pria itu terdengar lembut, sembari membalas pelukan ibunda Ainsley tersebut. Sesekali, dia mengecup pucuk kepala wanita pujaan hatinya.
“Aku takut hal-hal buruk seperti kemarin akan terjadi lagi,” jawab Blaire lirih. “Perasaan cemas itu membuatku berpikir yang tidak-tidak. Sangat mengerikan jika di saat aku merasa bahagia, tiba-tiba saja terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Aku tak dapat membayangkan, seandainya kau pun meninggalkanku seperti yang Aaron lakukan kemarin." Blaire mulai terisak pelan. Dia membenamkan wajah di dada bidang Christian yang tertegun oleh kata-katanya.
“Kau tahu bahwa aku tak mungkin melakukan hal sekeji itu, Sayang,” bujuk Christian lembut sambil mempererat pelukannya di tubuh ramping Blaire. Begitu pula Ainsley yang gelisah melihat ibunya menangis. Bocah itu ikut beringsut mendekat dan turut memeluk Blaire.
“Ibu, kenapa menangis? Apa ayah nakal?” tanya Ainsley lucu.
“Tidak, Nak. Ibumu hanya takut jika aku meninggalkan kalian,” jawab Christian sambil tersenyum kalem.
“Apakah ayah akan meninggalkan kami?” tanya Ainsley was-was.
“Tentu saja tidak akan,” jawab Christian yakin. "Sudah cukup diriku membuat kesalahan besar dengan meninggalkan kalian selama bertahun-tahun. Mulai detik ini, aku tidak akan pernah pergi lagi, meskipun ibumu menolak.” tegasnya, meski dia tak yakin apakah Ainsley memahami ucapannya atau tidak.
“Kau tahu, Blaire?" Christian kembali mengalihkan perhatian kepada calon istrinya. "Sejak menjauh darimu, aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Tidak juga terlintas dalam benakku untuk mengganti sosokmu dengan yang lain. Sama seperti Aaron, selama lima tahun itu aku terikat kuat oleh bayanganmu. Itulah yang membuatku mengambil keputusan untuk kembali ke kota ini,” ungkap Christian panjang lebar.
“Setelah aku mendapatkanmu melalui jalan yang sulit dan berliku, rasanya sangat tidak mungkin jika aku akan meninggalkanmu begitu saja,” tegas Christian mencoba meyakinkan Blaire. Christian lalu menurunkan tubuh di hadapan gadis berambut pirang tadi. "Aku mencintaimu. Jangan meragukanku," pintanya dengan serius.