
“Apakah kau benar-benar mencintainya, Blaire?” tanya Christian dengan sorot mata sayu. Sesekali dia melirik ke arah Ainsley yang kembali tertidur setelah dokter menginjeksinya dengan obat melalui selang infus beberapa saat yang lalu, dan pengaruhnya mungkin baru terasa.
“Ini bukan lagi tentang cinta, Chris. Kau sudah mengetahui dengan jelas bahwa aku hanya mencintai ….” Blaire terbelalak ketika menyadari bahwa dia sudah berbicara terlalu banyak. “Ainsley … aku hanya mencintai Ainsley. Maksudku … aku teramat menyayanginya. Ya, tentu saja karena dia adalah putraku," racau Blaire. Gadis itu tampak salah tingkah, karena dia hampir saja kelepasan bicara. Blaire menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
Sementara tatapan tajam dan lekat Christian masih terus terarah pada wajah cantik berhiaskan mata berwarna hijau. “Lihat padaku, Blaire,” pinta Christian pelan, tetapi penuh penekanan. “Apakah kau benar-benar mencintai Aaron?” tanyanya sekali lagi.
Blaire yang tak pernah sanggup menolak keinginan ayah kandung Ainsley tersebut, segera saja menoleh kepadanya dan menatap lekat iris mata abu-abu yang terlihat sangat indah . Namun, dia tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
“Aku bertanya padamu, Blaire. Apakah kau benar-benar mencintai Aaron?” Christian mengulang pertanyaannya sekali lagi dengan penekanan yang jauh lebih tegas.
“Tidak,” jawab Blaire dengan segera. “Bagiku, Aaron adalah seorang sahabat sejati. Dia tak pernah sedetik pun meninggalkanku, bahkan di saat-saat paling buruk dalam hidupku. Aaron selalu setia dan tak pernah lelah membantu serta menemaniku.”
“Kau tidak mencintai pria itu, tapi memilih untuk menikah dengannya?” Tak seperti tadi, kali ini nada bicara Christian jauh lebih lembut dia tujukan pada Blaire.
“Seperti yang kukatakan tadi, Chris. Cinta bukan lagi yang utama. Ada hal-hal lain yang menjadi pertimbangan bagiku untuk menikah dengan Aaron,” ujar Blaire lirih.
“Hal lain apa? Bisakah kau sebutkan?” Pria rupawan itu terus menghujaninya dengan pertanyaan.
“Aku tidak bisa meninggalkan Aaron!” jawab Blaire dengan nada cukup tinggi “Dia sudah berbuat banyak untukku dan juga Ainsley. Kami berutang budi padanya dan semua itu tak bisa digantikan dengan materi seberapa pun jumlahnya. Ya, Tuhan. Andai dulu kau tak pernah meninggalkanku, Chris." Suara Blaire kembali terdengar lirih.
“Hm,” Christian mengangguk sambil tersenyum samar. “Kau mengorbankan cinta dan perasaanmu hanya demi rasa utang budi, Blaire?”
“Aaron adalah sahabatku. Perasaannya sudah seringkali tersakiti. Aku tak sanggup lagi jika harus mematahkan hati pria sebaik dia.” Blaire menunduk lesu. Gadis itu menutupi wajah cantiknya dengan kedua telapak tangan, agar Christian tak dapat melihat air mata yang mulai membasahi pipi.
“Sekarang jawablah satu pertanyaan terakhirku." Christian menarik tangan Blaire dengan paksa, agar dia dapat melihat dengan jelas wajah dari wanita yang teramat dirinya cintai. “Apakah kau mencintaiku, Blaire?” tanya pria asal Meksiko tersebut setelah berhasil menggenggam kedua tangan ibunda Ainsley dengan erat.
“Jawabanku saat ini sudah tak penting lagi,” sahut Blaire pilu.
“Jawab saja! Apakah kau mencintaiku?” ulang Christian dengan intonasi meninggi.
“Ya, Chris! Aku sangat mencintaimu! Tak ada yang berubah sejak dulu, bahkan saat kau meninggalkanku hingga detik ini pun hanya kau yang ada di hati dan pikiranku! Akan tetapi, itu semua tak penting lagi, karena aku tetap akan menikah dengan Aaron!” sentak Blaire dengan air mata yang semakin deras mengalir.
“Baiklah.” Christian melepas genggamannya dari tangan Blaire. Sebuah senyuman kecil tersungging di sudut bibir pria tampan itu.
“Pada awalnya, aku mengira bahwa kau akan menjawab jika kau mencintai Aaron. Aku sudah berniat mundur dan merelakanmu, Blaire. Namun, setelah aku mengetahui kenyataan bahwa kita memiliki perasaan yang sama, sepertinya aku akan mengurungkan niat tersebut.”
“Chris, tolonglah. Jangan membuat hidupku semakin berat,” pinta Blaire dengan raut memohon.
“Justru aku tengah berusaha mencegahmu melakukan hal bodoh seperti ini, Blaire. Pernikahan bukanlah permainan,” ujar Christian tegas.
“Aku tak pernah menganggap pernikahan sebagai permainan. Kupikir, cinta itu bisa tumbuh seiring waktu,” sahut Blaire.
“Jika memang begitu, apakah selama lima tahun kebersamaan kalian, cinta itu ada dan tumbuh di dalam hatimu?” Christian memegang dagu Blaire dan mengangkatnya sehingga pandangan mereka saling bertemu.
Akan tetapi, Blaire tak menjawab. Dia malah menangis tersedu-sedu. Sedangkan Christian sama sekali tak ingin melepaskan tatapannya dari hidung dan pipi yang memerah serta bulu mata yang basah milik gadis cantik itu.
Dia justru semakin mendekatkan wajah dan memberanikan diri untuk mencium bibir indah Blaire.
Dirasa tak mendapat penolakan, Christian semakin memperdalam ciumannya, membuat Blaire sejenak lupa akan segala beban dan permasalahan hidup. Pertautan yang indah itu terus berlangsung, hingga pintu ruang perawatan Ainsley terbuka. Viktorija masuk ke dalam sana sambil membawa dua cup kopi panas.
Viktorija yang tadi sempat melihat adegan itu, tak berkata apapun. Dia tidak ingin berkomentar sama sekali. "Kubawakan kopi untuk kalian berdua," ucapnya berusaha terlihat biasa saja. Sementara Christian dan Blaire yang tampak salah tingkah, menerima kopi yang disodorkan oleh Viktorija secara bersamaan.
"Terima kasih, Nyonya," ucap Christian. Dia melirik ke arah Blaire untuk sesaat, sebelum akhirnya memutuskan membuka pintu belakang dan menikmati kopi di atas balkon. Christian mencondongkan tubuh tegapnya. Dia menggunakan kedua lengan sebagai tumpuan. Christian pun mulai meneguk kopi yang dibawakan oleh Viktorija, sambil menatap hamparan pemandangan luas kota Glasgow.
Sementara Blaire memilih untuk duduk di sofa bersama sang ibu. Ada perasaan tak nyaman dalam hati gadis itu, karena Viktorija harus melihatnya berciuman dengan Christian. Tak berselang lama, sebuah pesan masuk ke ponsel milik Blaire.
Dengan segera, gadis itu memeriksanya. Namun, Blaire langsung menautkan alis, saat melihat nama sang ibu yang ternyata mengirimkan pesan tersebut. Blaire menoleh dan seakan meminta penjelasan. Sedangkan Viktorika hanya memberi isyarat, agar Blaire segera membaca pesan yang dia kirimkan tadi.
Apa yang kulihat tadi? Apakah itu pilihanmu?
Blaire tak segera membalas pesan itu. Dia tampak berpikir untuk beberapa saat, sampai akhirnya mengetikkan sesuatu pada layar ponsel.
Aku tetap akan melanjutkan rencana pernikahan dengan Aaron.
Viktorija yang telah siap menunggu balasan, langsung membaca pesan itu. Wanita paruh baya tersebut terlihat membelalakan matanya ke arah Blaire. Dia seperti tak percaya dengan jawaban dari sang putri.
Kau gila, Blaire! Jangan katakan jika kau akan menikahi Aaron tapi tetap menjalin cinta bersama Christian!
Blaire yang langsung membaca balasan dari Viktorija, segera saja membalas pesan tadi.
Tentu saja tidak, bu. Aku bukan wanita seperti itu. Aku tidak tahu jika Christian akan menciumku seperti tadi.
Blaire meletakkan ponselnya sejenak, kemudian meneguk kopi yang tadi Viktorija bawakan dari cafetaria. Dia melakukan itu hingga pesan balasan kembali masuk ke ponselnya.
Kau terlihat sangat menyukainya.
Blaire sudah bermaksud untuk kembali membalas, tetapi saat itu tiba-tiba Aaron datang tanpa diduga. Dia pun membiarkan ponselnya di atas meja, dengan aplikasi pesan yang belum dirinya keluarkan. Gadis itu juga meletakkan kopi yang masih tersisa setengah, di samping ponsel. Dia segera menyambut Aaron yang ternyata datang jauh lebih awal.
"Bukankah kau baru akan pulang sore hari ... um maksudku sekarang baru menjelang tengah hari." Blaire meringis kecil, saat menyadari ucapan bodohnya.
"Ya, Blaire. Urusanku ternyata selesai jauh lebih cepat. Jadi, kuputuskan untuk pulang dan segera kemari," sahut Aaron yang telah sepenuhnya kembali pada karakter manis dan ramah seperti biasa. "Lihatlah apa yang kubawakan untukmu dan juga Ainsley." Dia mengangkat kotak pizza berukuran jumbo.
"Wow! Aku akan menunggu Ainsley bangun, baru menyantapnya," ucap Blaire sambil tersenyum riang.
"Ini untuk Anda, Nyonya Shuterland." Aaron juga membelikan makanan bagi Viktorija.
"Ah, kau baik sekali." Viktorija pun ikut tersenyum riang seperti Blaire.
Sementara Christian hanya menoleh sesaat, lalu kembali mengarahkan pandangan ke depan hingga kopinya benar-benar habis. Setelah itu, barulah dia memutuskan untuk masuk.
"Hai, Chris. Maaf aku tidak membawakan kau apa-apa. Aku tak tahu apa makanan kesukaanmu," ucap Aaron dengan raut tak enak.
"Tidak apa-apa. Lagi pula, aku sudah cukup kenyang dengan kopi yang dibawakan oleh nyonya Shuterland," balas Christian dengan gaya bicaranya yang seperti biasa. Dia lalu mengalihkan perhatian kepada Ainsley yang mulai terbangun dan memanggil Blaire.
Gadis itu pun meletakkan kotak pizza tadi dengan terburu-buru di atas meja, sehingga tanpa sengaja menyenggol gelas kopi yang dia letakkan di dekat ponsel. Isi dari gelas tadi tertumpah ke atas telepon genggamnya. "Astaga!" pekik Blaire terkejut setengah mati.
"Ya ampun, kenapa kau ceroboh sekali," tegur Aaron yang segera membantu Blaire meraih ponsel tadi. Sementara Ainsley terus merengek memanggil sang ibu. "Kau urusi saja Ainlsey saja terlebih dulu. Biar aku yang membersihkan ponselmu. Untungnya kopi tadi tidak tumpah terlalu banyak." Aaron berdecak pelan. Dia lalu mengambil kotak tisu dan mulai membersihkan layar serta semua bagian telepon seluler milik Blaire yang tidak terkunci. Tanpa sengaja, Aaron menyalakan ponsel itu, dan membaca isi pesan Blaire bersama Viktorija.