
“Oh ya? Memangnya apa yang bisa kau lakukan hah!” sentak Aaron. Aroma alkohol menguar tajam dari mulut pria tampan itu. Sikapnya juga semakin tak terkendali, sehingga Christian terpaksa mendorong tubuh pria itu. Kurangnya keseimbangan akibat mabuk, membuat kekasih Blaire tersebut jatuh terjengkang.
“Aaron!”
“Chris!”
Viktorija dan Blaire berseru secara bersamaan, tetapi meneriakkan nama yang berbeda. Viktorija menghampiri Aaron lalu membantunya bangkit. Sedangkan Blaire segera berdiri di depan Christian untuk menahan pria itu agar tak bertindak lebih jauh lagi. “Chris, tenanglah,” pinta Blaire lirih dengan mata berkaca-kaca.
Setelah mendengar keributan tadi, para tetangga yang bertempat tinggal paling dekat dengan kediaman Blaire, mulai keluar dari rumah masing-masing untuk mencari tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi.
“Apa kau puas, Tuan Alvarez! Apa kalian berdua puas?” Viktorija tak dapat lagi bersikap tenang. Amarah yang dia simpan sekian lama, akhirnya meledak juga. Sembari membantu Aaron berdiri, janda cantik itu menatap tajam ke arah Christian.
“Hidup putriku pada awalnya baik-baik saja, sebelum kau datang dan menghancurkan semuanya!” geram Viktorija dengan suara yang bergetar. “Setelah sekian lama, pada akhirnya Blaire mendapatkan seseorang yang tulus menyayangi dia. Namun, kau justru hadir kembali dan mengacaukan hubungan mereka berdua!” Setitik air mata lolos di pipi wanita yang tak lagi muda tersebut. Dia tak peduli meskipun semua tetangga yang tadi keluar, memusatkan perhatian mereka pada ke arah rumahnya.
“Kau boleh mencurahkan seluruh perhatian pada putramu. Namun, cukuplah pada Ainsley saja. Biarkan Blaire melanjutkan hidupnya dengan Aaron,” pinta Viktorija. “Aku berjanji tak akan menghalang-halangimu untuk dapat bertemu dan menemani Ainsley.”
“Bu!” Blaire sudah bersiap untuk melakukan protes keras.
Akan tetapi, Christian mencegahnya. “Ibumu benar, Blaire. Dia sepenuhnya tepat.” Sorot mata yang biasanya dingin itu berubah sayu dan tampak begitu menyedihkan. “Aku bukanlah pria yang baik untukmu. Kau tahu sendiri seperti apa masa laluku,” bisik Christian teramat lirih. Dia tak ingin siapa pun mendengarnya. “Aaron yang lebih pantas untuk mendampingimu. Berbahagialah bersamanya.”
Seusai berkata demikian, Christian mengusap pipi Blaire pelan. Dia bermaksud untuk berlalu dari sana, ketika ekor matanya menangkap sosok Ainsley sudah berdiri di depan pintu rumah. Bocah itu tampak ketakutan. “Ains.” Christian bergegas menghampiri putra semata wayangnya. Sementara Blaire hanya berdiri membeku. “Kau tidak apa-apa?” tanya Christian lembut.
“Ke-kenapa kalian bertengkar ?” tanya bocah itu terbata.
“Oh tidak, Ains. Kami tidak bertengkar. Kami hanya bercanda saja. Kau lihat?” Christian segera menghampiri Aaron, lalu melingkarkan tangan di pundak pria itu sambil memapahnya. Melihat hal tersebut, Viktorija segera melepas pegangannya dari Aaron.
“Lihatlah, Ains. Kami berteman akrab. Aku akan mengantarkan paman Aaron pulang.” Christian tersenyum lebar seraya menepuk punggung pria yang telah menjadi kekasih Blaire tersebut.
“Ayo, Aaron. Kau masih sanggup berjalan, ‘kan?” bisik Christian pelan.
“Tentu saja!” sentak Aaron dengan suara tertahan. “Aku bukan pria lemah!”
“Baguslah.” Christian kembali memapah pria itu. Dia sempat menoleh ke belakang untuk melambaikan tangan kepada Ainsley, lalu tersenyum lembut kepada Blaire. Tak dipedulikannya tatapan ingin tahu dari para tetangga, yang tengah berdiri di depan pintu rumah mereka masih dengan raut keheranan.
Di dalam benak Christian saat itu, yang ada hanyalah sosok cantik si pencuri hati. Gadis itu tengah berdiri membeku sambil terus menatap kepergiannya.
Tampak jelas sorot penuh kasih bercampur dengan kesedihan, dari mata hijau milik Blaire. Christian dapat merasakan cinta yang teramat besar untuk dirinya dari gadis itu. Namun, tak semua hal di dunia ini bisa didapatkan. Kadang semesta tak selalu mempersatukan dua cinta.
“Aku mencintai Blaire,” racau Aaron tiba-tiba, saat mereka sudah berada di depan halaman rumah pria berambut pirang tersebut. “Selama lima tahun terakhir ini aku selalu menunggunya, meskipun dia terus menunggumu.”
Christian tercenung mendengar ucapan Aaron. Dia terdiam sejenak sambil terus memperhatikan wajah lusuh si pria. Mata birunya tampak kemerahan akibat menenggak terlalu banyak minuman beralkohol.
“Istirahatlah,” ucap Christian sebelum meninggalkan pria itu begitu saja.
“Aku tidak akan menyerah semudah itu, Christian!” Aaron kembali berseru nyaring, walaupun pria Meksiko tadi masih berada tak begitu jauh dari tempatnya berdiri.
“Ya, aku tahu itu. Akulah yang akan menyerah,” sahut Christian dengan senyuman samar. Dia mengangguk, lalu pergi begitu saja dari hadapan Aaron.
Malam kian larut, Blaire tergesa-gesa membawa Ainsley masuk ke dalam kamar. Dengan penuh kasih sayang, dia mengecup kening putra semata wayangnya.
“Dia bukan paman tampan, Sayang. Dia adalah ayahmu. Maaf karena selama ini aku telah berbohong,” sesal Blaire seraya mengempaskan napas pelan.
“Jadi, dia benar-benar ayahku, Bu? Aku memiliki ayah?” Mata bulat menggemaskan itu terbelalak sempurna.
“Ya, Ainsley. Kau memiliki seorang ayah. Dia sangat menyayangimu,” jawab Blaire sambil menahan rasa sesak di dada.
“Lalu kenapa dia baru muncul sekarang, Bu?” tanya Ainsley lagi.
“Ayahmu harus bekerja, agar dia bisa membelikanmu banyak mainan, Sayang,” dalih Blaire. Dia menyeka air mata yang mulai terjatuh di pipi.
“Lalu, kenapa kau dan nenek berbohong?” Pertanyaan demi pertanyaan terus saja dilontarkan dari bibir mungil Ainsley.
“Kami berbohong supaya kau tidak bersedih menunggu kedatangannya,” jawab Blaire singkat. “Sekarang tidurlah. Ini sudah terlalu malam.”
“Aku ingin ibu berbaring di sampingku. Barulah aku mau tidur,” pinta Ainsley.
“Baiklah.” Blaire tertawa geli. Tingkah lucu Ainsley ternyata bisa mengurangi sedikit beban kesedihan yang dia rasakan saat itu.
Sementara itu, Viktorija mendengarkan dengan jelas setiap perkataan putrinya. Dia yang sedang menyandarkan tubuh pada dinding luar kamar Ainsley. Wanita paruh baya tersebut menarik napas panjang, lalu mengempaskannya perlahan. Entah apa yang harus Viktorija lakukan selanjutnya. Namun, yang pasti dia tak akan membiarkan Blaire kembali pada Christian. Selesai berpikir demikian, Viktorija menegakkan badan, kemudian berjalan lunglai ke kamarnya.
Blaire sendiri sudah hampir terlelap, saat ponsel yang dia letakkan di atas nakas kamar putranya berbunyi. Sebuah pesan masuk yang berasal dari nomor tak dikenal. Gadis itu tersenyum samar, ketika membuka pesan tadi. Dia yakin jika itu berasal dari Christian.
Apa kau sudah tidur?
Apakah ini kau, Chris?
Ya, aku sudah sampai di toko. Apakah Ainsley baik-baik saja? Apakah dia merajuk?
Ternyata kau masih menyimpan nomorku.
Balasan dari Blaire jauh menyimpang dari apa yang Christian tanyakan.
Aku selalu menyimpan nomormu dalam ingatanku.
Jawaban Christian singkat, tetapi dapat menggetarkan sanubari seorang Blaire.
Gadis itu sempat tercenung untuk beberapa saat, sampai ponselnya berdering. Panggilan masuk dari nomor yang sama dengan nomor yang telah mengiriminya pesan.
“Halo,” sapa Blaire pelan. Dia segera menjawab panggilan itu, karena tak ingin Ainsley yang sudah terlelap menjadi terganggu.
“Apakah Ainsley baik-baik saja?” tanya Christian tanpa basa-basi.
“Ya, Chris. Dia baik-baik saja. Dia sudah tertidur nyenyak, setelah aku menceritakan bahwa kau adalah ayahnya,” sahut Blaire menuturkan. Suasana pun hening untuk beberapa saat. Tak ada jawaban yang terdengar dari seberang sana, membuat Blaire merasa resah.
“Terima kasih, Blaire. Terima kasih karena telah mengatakan yang sebenarnya pada anak kita,” jawab Christian dengan nada yang terdengar begitu pilu.