
Sepanjang jalan pulang, Christian tak sedikit pun melepaskan genggaman tangannya. Sesekali, pria tampan bermata abu-abu itu melirik ke arah Blaire yang masih terdiam seribu bahasa. Christian dapat memahami apa yang gadis cantik itu pikirkan. Namun, dia sama sekali tak ingin membahasnya. Christian memang tak berniat menjelaskan apapun kepada Blaire.
Petang yang mendung, dengan hembusan angin serta udara yang terasa begitu menusuk. Blaire mengempaskan napas pelan, demi menahan hawa dingin yang menerpa dirinya. “Pergi ke mana para pria tadi? Apa kau yakin saat ini kita tidak diikuti?” tanya Blaire memecah kebisuan di antara mereka berdua.
“Tidak. Aku tahu jika mereka hanya menggertak,” sahut Christian dengan nada bicaranya yang datar.
“Untuk apa mereka melakukan itu padamu?” tanya Blaire lagi semakin penasaran. “Apa yang sebenarnya mereka inginkan? Astaga, kenapa rasa penasaranku tak ada yang kau jawab satu pun,” keluh gadis berambut pirang itu lagi. Namun, seperti yang sudah Blaire kira. Christian tak akan menanggapinya meski dia telah mengiba sampai duduk bersimpuh di atas trotoar jalan.
Christian malah semakin mengeratkan genggaman tangannya. Mungkin itu sebagai isyarat bahwa pria tersebut masih dan akan tetap berada di dekat Blaire, meski dirinya tak berniat untuk menceritakan apapun. Akan tetapi, ketika mereka tiba di sebuah jalan yang tidak terlalu ramai, Christian menghentikan langkah.
Secara otomatis, Blaire pun ikut tertegun. “Kenapa?” tanya gadis itu heran seraya mengalihkan pandangan kepada pria tampan di sebelahnya.
“Dengarkan aku, Blaire.” Christian menghadapkan tubuh tegapnya kepada gadis itu. “Mereka mungkin akan membuatmu merasa tak nyaman dan seakan diawasi, tapi kupastikan bahwa tak satu pun dari ketiga pria tadi yang akan berani menyentuh atau melakukan sesuatu padamu. Aku dapat menjamin hal itu,” ucap pria dengan jaket kulit hitam tersebut.
“Sungguh? Bagaimana kau bisa begitu yakin bahwa mereka tak akan pernah menyakitiku atau ibuku?” Blaire terdengar meragukan ucapan Christian.
“Karena aku mengenal mereka dengan baik. Itu saja yang perlu kau tahu,” jawab Christian dengan yakin.
“Lalu kenapa malam itu kau terlihat sangat mencemaskanku? Kau juga bersikap bahwa mereka seolah-olah akan melakukan sesuatu yang berbahaya. Apa menurutmu itu tidak berlebihan?” Blaire menaikkan sepasang alisnya yang indah.
“Awalnya kupikir mereka akan berbuat nekat dengan menguntitmu. Namun, ternyata perkiraanku salah. Seharusnya hal itu membuat diriku merasa jauh lebih tenang,” jelas Christian.
“Ya kau bisa bersikap tak peduli mulai saat ini,” ujar Blaire. Dia bermaksud untuk melanjutkan langkah dan mendahului Christian. Namun, lagi-lagi pria tampan tersebut berhasil menahannya. Christian tak membiarkan gadis itu berjalan lebih dulu dari dirinya.
“Kau sangat aneh, Chris,” keluh Blaire. “Pada satu sisi, aku merasa bahwa diriku sangat berarti bagimu. Namun, di sisi lain rasanya kau jauh lebih ... entahlah. Aku merasa seperti ada jarak yang terasa begitu membentang luas dan sangat sulit untuk digapai.”
“Mungkin untuk saat ini, aku hanya bisa mengatakan satu hal padamu. Aku seharusnya tidak boleh dekat dengan siapa pun. Namun, di sinilah aku ....” Christian menjeda kalimatnya dengan ucapan yang menggantung.
“Apa kau menyesal telah mengenalku?” tanya Blaire lirih. Raut kecewa jelas terlihat dari paras cantik gadis berkulit putih itu.
“Sangat jauh dari kata menyesal. Kau ….” Christian semakin mendekatkan bibirnya. Sedikit lagi dia dapat menikmati bibir ranum Blaire. Akan tetapi, Christian tak jadi melakukannya. Pria tampan nan dingin tadi malah bergerak mundur dengan tangan masih menggenggam jemari gadis cantik berambut pirang itu. “Ayo,” ajaknya tiba-tiba.
“Ke mana? Ini sudah petang. Ibu pasti sudah menungguku,” tolak Blaire ragu.
“Sebentar saja,” ucap Christian sedikit memaksa.
Seperti biasa, Blaire tak pernah bisa menolak keinginan tetangga tampannya tersebut. “Baiklah, tapi kau harus berjanji bahwa kita tidak akan lama,” tegas gadis itu pada akhirnya.
“Untuk apa kita kemari?” Blaire mulai was-was. Pikiran liarnya seketika bekerja. Gadis itu membayangkan jika Christian mungkin saja akan membenamkan kepalanya ke dalam air sungai yang dingin untuk menghilangkan jejak.
Namun, ternyata yang dilakukan oleh pria rupawan itu hanya menuntun Blaire untuk duduk di atas rerumputan pada tepi sungai. Sebelum itu, Christian sudah meletakkan jaket kulitnya sebagai alas duduk Blaire.
“Menikmati matahari terbenam. Di sini, kau bisa melihat fenomena alam ini dengan sangat jelas, tanpa terhalang bangunan maupun gedung-gedung tinggi,” jelasnya.
Blaire memandang ke arah Christian dengan tatapan terpana sekaligus tak percaya. “Apakah ini termasuk kencan?” tanyanya begitu saja.
“Terserah kau menganggap ini apa.” Christian menoleh, lalu memandang Blaire dengan sorot yang amat lembut. Jauh berbeda dengan tatapan mata dingin yang selama ini menjadi ciri khasnya. “Aku ingin menciummu lagi,” ujar pria itu yang seakan meminta izin pada Blaire.
Namun pada kenyataannya, dia tak memberi kesempatan pada Blaire untuk menjawab. Segera saja dia melu•mat bibir manis itu untuk beberapa saat lamanya. Blaire pun tak hendak menolak, sebab dia teramat menyukai setiap perlakuan dari Christian.
Ciuman lembut tadi berakhir, manakala dering ponsel berbunyi nyaring. Blaire segera melepas tautannya dan merogoh ponsel dari saku mantel. “Hello, bu?” sapa Blaire was-was. “Ya, aku akan pulang sebentar lagi.”
Blaire mengakhiri panggilannya, lalu menatap Christian penuh arti, hingga pria itu tersenyum.
“Ayo, kita pulang.” Tubuh jangkung Christian berdiri menjulang di depan gadis cantik itu sembari mengulurkan tangan.
Blaire menyambut uluran tangan Christian dan memegangnya erat, seolah tak ingin lagi dia lepaskan. Hal itu terus berlangsung sampai si tetangga tampan mengantar dirinya hingga ke depan pintu rumah.
“Beristirahatlah, Blaire. Sampai jumpa besok pagi.” Christian meraih tangan gadis itu dan mengecupnya. Setelah itu, dia menyerahkan buku filfasat miliknya kepada Blaire.
“Katakan aku tidak sedang bermimpi.” Blaire masih juga tidak percaya atas apa yang baru saja dia alami. Bukannya menjawab, Christian hanya tersenyum samar, lalu berbalik meninggalkannya begitu saja.
“Jadi, sekarang kalian berkencan di perpustakaan, bukan di motel lagi,” seloroh seseorang yang tak lain adalah Viktorija. Janda cantik itu ternyata sudah berdiri di balik pintu, entah sejak kapan.
“Selamat malam, Bu.” Blaire maju, lalu mengecup pipi ibunya sebelum bergegas masuk dan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
“Jangan lupa, makan malam sudah siap, Blaire! Cinta tak akan membuatmu kenyang!” seru Viktorija dari lantai bawah.
“Aku tahu, Bu. Aku hanya hendak berganti pakaian sebentar,” sahut Blaire sambil tertawa geli. Dia lalu menutup pintu kamar dan melepas mantel. Niat awal yang hendak berganti pakaian, sepertinya harus terjeda. Gadis itu malah mengempaskan tubuh rampingnya ke atas ranjang dengan tatapan menerawang pada langit-langit kamar.
Terbayang kembali adegan panas yang telah dia lakukan bersama Christian. Blaire tak tahu apa arti dirinya bagi pria itu. Namun, rasanya tak terlalu berlebihan jika sekarang dia ingin berharap lebih dari pria tampan tersebut.
Dalam khayalan yang semakin dalam itu, lagi-lagi ponselnya berbunyi. Blaire mengira bahwa Viktorija yang iseng menelepon. Akan tetapi, ternyata dugaannya salah. Nama Christian tertera jelas pada layar ponsel gadis cantik itu.