
"Aaron?" Blaire terpaku memandang calon suaminya, bukan karena pria itu baru keluar dari dalam kamar dalam kondisi bertelanjang dada. Namun,, luka lebam yang menghiasi paras tampan pria berambut pirang tersebut tampak sangat jelas pada kulit yang putih Aaron. "Apa yang terjadi padamu?" tanya Blaire sambil berjalan mendekat.
"Bagaimana kau bisa menyusulku hingga kemari?" Bukannya menjawab pertanyaan dari Blaire, Aaron justru malah balik bertanya. Tatap matanya pun terlihat aneh dia layangkan kepada calon istri yang telah membuat dia cemburu tak menentu.
"Nona Catriona McKay yang sudah memberitahuku tentang keadaanmu," sahut Blaire seraya menoleh kepada wanita muda seusia dirinya.
"Panggil saja Cathy," ralat bartender cantik itu dengan akrab.
"Ah ya, Cathy. Kuucapkan terima kasih untuk semua bantuanmu," ucap Blaire melayangkan senyuman hangatnya. Setelah itu, dia kembali mengalihkan perhatian kepada Aaron yang tengah mengenakan kemeja. "Apa kau akan ikut pulang denganku, Aaron?"
tanya ibu satu anak tersebut. "Jika iya maka bergegaslah, karena aku meninggalkan Ainsley hanya berdua dengan Christian di rumah sakit."
Mendengar nama Christian yang disebut oleh Blaire, suasana hati Aaron pun kian tak menentu. Namun, pria bermata biru itu terlalu malas untuk menanggapi. Dia tak bicara apapun, bahkan setelah dirinya selesai merapikan diri.
Sementara Blaire menunggu sambil berbincang ringan bersama Cathy. Kedua gadis berambut pirang tersebut, baru berhenti bercakap-cakap setelah Aaron keluar dari dalam kamar. Pria itu tampaknya sudah siap untuk pergi.
"Apa kau sudah siap, Aaron?" tanya Blaire sambil berdiri dari duduknya. Sementara Aaron hanya mengangguk pelan.
"Kuharap kau tak mabuk berat lagi seperti semalam, Aaron," ujar Cathy dengan bernada candaan. Namun, Aaron lagi-lagi tak menanggapi lewat sebuah jawaban. Pria itu hanya tersenyum simpul. Setelah berpamitan kepada Cathy, mereka pun bergegas menuju tempat di mana Aaron memarkir kendaraannya. Dia lalu membukakan pintu samping untuk Blaire. Aaron mempersilakan calon istrinya agar masuk.
"Bagaimana jika aku saja yang menyetir?" tawar Blaire.
"Tidak usah. Aku masih sanggup melakukan itu sendiri," tolak Aaron. Sikap serta nada bicaranya begitu datar. Tanpa banyak bicara, dia menutup pintu setelah memastikan Blaire duduk dengan nyaman.
Blaire yang dapat merasakan sikap aneh calon suaminya tersebut, tampak menjadi salah tingkah. Dia merasa tak nyaman saat melihat Aaron yang tak sehangat biasanya. Sesekali, gadis cantik bermata hijau itu menoleh kepada pria yang tampak fokus mengemudikan kendaraan, di jalanan Kota Glasgow yang sudah cukup ramai.
Pertengahan musim panas akan segera tiba. Namun, persiapan pernikahan yang sudah digadang-gadang sebelumnya, menjadi terganggu akibat kecelakaan yang menimpa Ainsley. Blaire bahkan tak memikirkan lagi nasib gaun pengantin, yang kini tengah berada di salah satu laundry Kota Edinburgh.
Rasa ragu mulai menghinggapi pikiran ibu satu anak itu, saat melihat sikap Aaron. Haruskah Blaire mengatakan niatnya yang hendak menunda rencana pernikahan? Namun, hal itu harus dia lakukan agar dirinya bisa jauh lebih fokus merawat Ainsley.
"Aaron, apa kau baik-baik saja?" tanya Blaire. Pada akhirnya, dia memberanikan diri untuk bertanya.
"Kurasa Cathy sudah memberitahumu tentang bagaimana keadaanku, Blaire," sahut Aaron datar da tanpa menoleh sedikit pun.
"Ya dia menceritakan semuanya, tapi aku masih merasa heran karena kau harus mabuk ...."
"Apa masalahmu jika aku mabuk, Blaire?" Aaron kemudian menepi dan menginjak pedal rem dengan tiba-tiba. Apa yang dilakukannya, membuat Blaire hampir terantuk andai dia tak mengenakan sabuk pengaman. Aaron lalu memandang tajam ke arah Blaire yang merasa semakin aneh atas sikap calon suaminya. "Kau tak harus memikirkan dengan apapun yang kulakukan, karena memang selama ini kau tak pernah memedulikannya, Blaire!" Nada bicara Aaron tiba-tiba meninggi, membuat Blaire sangat terkejut. Akan tetapi, dia tidak mengatakan apapun. Gadis itu hanya menautkan alisnya.
"Ya, Blaire. Kau tak pernah peduli. Entah itu dengan apa yang kulakukan atau perasaanku. Kau hanya menikmati kebahagiaanmu karena dapat menghabiskan waktu berduaan dengan Christian," tukas Aaron.
"Apa maksudmu, Aaron? Kenapa kau berkata seperti itu?" Blaire mengenyitkan kening. Dia semakin tak mengerti dengan sikap Aaron.
"Memangnya apa yang kau lihat?" Nada pertanyaan Blaire terdengar bernada protes.
Mendengar pertanyaan tadi, Aaron tertawa lebar. Namun, dia melakukannya dengan sangat terpaksa dan terkesan dibuat-buat. Pria berambut pirang tadi kemudian menggeleng seraya berdecak pelan. "Blaire Shuterland. Apa kau bahagia saat ini?" Sebuah pertanyaan yang terdengar sangat aneh dilontarkan oleh Aaron.
"Kenapa aku harus merasa bahagia? Anakku masih terbaring di rumah sakit. Kondisinya belum pulih dan ...."
"Aku rasa itu tak masalah bagimu selama Christian menemani di sana," sela Aaron dengan raut dan nada bicara penuh cibiran.
"Apa maksudmu, Aaron? Kau pikir aku berbuat macam-macam dengan Christian?" protes Blaire dengan tegas.
"Memang itulah yang terjadi! Aku melihatnya sendiri, ketika kalian duduk saling berdekatan dan terlihat begitu akrab! Oh astaga! Betapa bodohnya diriku karena selama ini terus bertahan saat harus diperbudak oleh perasaan cinta terhadapmu! Kau, Blaire Shuterland! Kau sangat mengecewakan!" Aaron berkali-kali bicara dengan nada tinggi di hadapan Blaire. Jari telunjuknya pun tak jua dia singkirkan dari depan wajah cantik si gadis. Blaire bahkan sampai harus menepiskan tangan pria itu karena merasa terganggu.
"Kau sangat keterlaluan, Aaron! Kau mabuk, membuat onar, lalu berpikiran buruk tentang diriku! Sekarang kau mengajakku bertengkar, membentakku berkali-kali dan menuduh sesuatu yang tidak kulakukan!" Blaire yang tak terima dengan sikap Aaron, segera melepas sabuk pengamannya. Dia memaksa untuk membuka pintu mobil yang masih terkunci.
"Aku tak akan membiarkanmu pergi ke manapun, Blaire!" Aaron masih berkata dengan nada bicaranya yang semakin berani.
"Buka kuncinya atau aku akan berteriak agar semua orang datang kemari!" ancam Blaire. Dia membuktikan ucapannya. Gadis itu menggedor kaca jendela mobil dengan keras, sehingga beberapa pejalan kaki di trotoar tampak menoleh.
"Hentikan, Blaire!" cegah Aaron tegas. Dia menarik lengan ibunda Ainsley tersebut dengan kasar, sehingga Blaire jadi menghadap padanya.
"Kalau begitu buka kuncinya!" Blaire yang sudah dikuasai amarah, tak ingin mengalah. Dia menatap tajam kepada pria tampan berambut pirang itu. Napas gadis cantik tersebut pun mulai tak beraturan.
Dengan terpaksa, Aaron membiarkan Blaire keluar. Namun, dia segera mengikuti gadis itu. "Kau mau ke mana?" cegahnya pada Blaire yang hendak berjalan menjauh. Calon ayah sambung Ainsley tadi meraih lengan putri dari Viktorija dengan kasar kemudian mencekalnya kuat-kuat. "Kau tidak bisa pergi begitu saja, Blaire!" ucap Aaron penuh penekanan. Tatap mata yang biasa terlihat lembut serta penuh cinta, kini tak ada lagi dalam sepasang iris berwarna biru miliknya. Aaron benar-benar dikuasai amarah karena cemburu buta.
"Aku sudah lama menahan rasa sakit atas cintamu yang begitu besar untuk Christian. Kau pikir aku akan terus mengalah? Tidak, Nona Shuterland! Ada kalanya aku harus bersikap tegas agar kau bisa berpikir dengan baik atas segala sikapmu padaku!" Cengkeraman tangan Aaron semakin kencang dirasakan Blaire, sehingga gadis itu meringis kesakitan.
"Kau menyakitiku, Aaron," ucap Blaire dengan pelupuk mata yang mulai basah.
"Kau jauh lebih menyakitiku, Blaire. Selama ini aku sudah cukup sabar dalam menghadapimu!" balas Aaron dengan nada bicara serta sorot penuh kemarahan. Sikap pria itu tak juga melunak di hadapan Blaire.
"Inikah dirimu yang sebenarnya, Aaron?" Suara gadis itu terdengar bergetar.
"Kau yang memaksaku. Kau yang telah membuatku menjadi gila. Jadi, jangan salahkan aku jika dirimu melihat sisi lain dari Aaron Walsh." Nada bicara Aaron semakin dirasa penuh ancaman.
"Singkirkan tanganmu!" Blaire berusaha menepiskan cengkeraman tangan Aaron, hingga terlepas.
"Kembali ke mobil!" suruh Aaron.
"Tidak mau! Aku akan naik taksi. Satu lagi, Aaron. Aku ingin mengundur jadwal rencana pernikahan kita!" tegas Blaire sambil berlalu.